CACAK

CACAK adalah kata lain dari kakak. Cacak adalah nama panggilan seorang pemimpin yang sangat kukagumi saat diriku mulai sekolah di Taman Kanak-kanak. Waktu itu, Cacak dan gengnya sangat disegani oleh anak-anak di daerah Jalan Tanjung, Malang, Jawa Timur.

Walaupun Cacak masih kelas tiga Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar), tetapi badannya lebih besar untuk ukuran seorang anak laki-laki kelas tiga. Mungkin ia pernah tidak naik kelas karena kenakalannya. Bisa jadi.

Anak buah Cacak jumlahnya tidak pernah tetap, berubah-ubah terus, tetapi yang jelas tidak pernah lebih dari sepuluh anak. Tentu saja mereka semua berbadan lebih kecil daripada sang pemimpin. Baiklah, biar lebih keren, geng ini kuberi nama GATAN, singkatan dari Geng Anak Tanjung.

Pada suatu siang melintaslah gerombolan Gatan di depan rumah kami. Dari kejauhan sudah terdengar suara gaduh mereka. Mendengar itu, aku pun bersiap, menanti mereka di pagar depan rumah, sekedar untuk melihat mereka. Kali ini gerombolan Gatan yang melintas hanya sang pemimpin Cacak yang diikuti oleh lima anak, mereka ini adalah anggota inti geng. Sebagai anggota inti, mereka adalah yang paling setia dan tidak boleh absen dari semua kegiatan geng. Lalu, ke mana anggota yang lain? Mungkin sedang cuti, ada tugas lain, atau keluar dari keanggotaan geng karena dilarang oleh orang tuanya.

Gerombolan ini berjalan dan bergerak cepat sambil bercanda dengan suara yang lantang, bernyanyi-nyanyi, dan berteriak-teriak dengan kata-kata yang tidak jelas. Anak-anak Gang Dua yang sedang bermain di jalan gang bergegas menyingkir, menghindari pasukan anak bandel itu. Ada juga yang hanya menonton dari dalam pagar rumah mereka. Maklum, mereka adalah anak baik-baik, anak rumahan atau biasa disebut dengan “anak mama”.

Lain lagi dengan ibu-ibu, mereka melihat gerombolan itu dengan sebal dan marah. Mungkin mereka khawatir kalau-kalau anaknya nanti ikut bergaul dengan berandal-berandal kecil itu. Beruntung kali ini mereka hanya melintas saja, dan memang selalu begitu. Setelah itu, situasi menjadi normal kembali. Tenang dan sepi.

Tetapi, sejak itu, tiba-tiba aku punya perasaan yang aneh. Ada yang bergelora di dadaku. aku menemukan impian baru. Aku ingin bergabung dengan gengnya Cacak! Aku mulai membayangkan, bahwa kalau saja aku bisa bergabung Gatan, bakal bisa banyak melakukan petualangan-petualangan seru, hebat, dan mendebarkan atau nyerempet-nyerempet bahaya. Yang pastinya wow…

Perlu kalian ketahui, aku ini bukan jenis anak mama atau anak rumahan. Di rumah Mbah Tanjung, aku diberi kebebasan. Yang penting, pulang pada jam-jam absensi, yaitu sebelum maghrib dan waktu… makan!

Tidak perlu berpikir lama aku sudah berada di luar pagar, dan langsung berlari menyusul Cacak dan gengnya. Meski aku berhasil menyusul mereka, tetapi aku hanya berani menguntit dari jarak sekitar lima belas meter. Lumayan, pikirku, aku bisa mengamati Cacak, sang pemimpin, dan tanpa mengganggu mereka.

Acara penguntitan dan pengamatan ini kulakukan selama berhari-hari, dengan jarak pengamatan yang semakin lama semakin dekat. Yang membuat aku heran adalah mereka tidak tidak pernah mengusirku. Mungkin, karena aku masih terlalu kecil dan dianggap tidak mengganggu. Dan aku juga tahu diri, mereka anak-anak SD, sedangkan aku cuma anak TK, seakan beda kasta.

Hasil dari pengamatanku adalah: bahwa Cacak memang seorang pemimpin sejati. Dia selalu berjalan paling depan, gagah dan selalu membawa tongkat yang diambil sekenanya, entah dari mana asalnya. Yang membuat aku bingung ialah kenapa para pemimpin atau komandan suka bawa tongkat. Apa mungkin mereka meniru kewibawaan Nabi Musa. Sambil berjalan Cacak mengayun-ayunkan tongkatnya. Kadang dengan tongkat itu, ia menunjuk ke satu arah kepada anak buahnya.

Pernah suatu kali ia marah-marah kepada salah satu pengikutnya, entah sebab apa, mungkin saja waktu itu ada pengikutnya yang kurang loyal. ia memukulkan tongkatnya ke sebuah pematang sawah di belakang Jalan Tanjung Gang Dua. Begitu kerasnya hingga tongkatnya patah. Para pengikutnya terdiam, takut seakan-akan pukulan tongkat itu menghantam punggung mereka.

Cacak sangat sensitif untuk perkara loyalitas anggota gengnya. Ia sangat takut kalau ditinggalkan pengikutnya. Bisa jadi Cacak bersedia mati demi menjaga kepemimpinannya. Ini karena ia paham benar soal PDK (Prinsip Dasar Kepemimpinan). Seseorang baru bisa dinamakan pemimpin kalau ia punya pengikut. Tanpa adanya pengikut, maka ya seperti orang yang JJSSS (Jalan Jalan Sore Sore Sendirian). Dan makin hari aku semakin kagum saja kepada sosok Cacak.

Siang itu panas sangat terik, sang pemimpin dikelilingi anggota gengnya sedang duduk-duduk di pematang sawah. Sedangkan aku sudah berani mendekati mereka dalam jarak hanya tiga meter saja. Tiba-tiba Cacak mengarahkan tongkat saktinya kepadaku, sambil berkata, “Hei, kamu, bisa ndak cari pisau yang gede?” Aku sangat terkejut, dan langsung menengok ke belakang, mengira ada anak lain di belakangku, ternyata tidak ada. Maka, yakinlah aku bahwa perintah itu ditujukan kepada diriku. Saking kagetnya, aku hanya bisa mengangguk, lalu lari secepat kilat.

Sampai di rumah, aku langsung ke dapur mengambil sebuah pisau, yang tanpa ijin tentunya. Aku lalu lari terbirit-birit, kembali ke pematang sawah, dan menyerahkannya kepada sang baginda pemimpin Gatan. Cacak menerima pisau itu sambil tersenyum sumringah, sembari berkata kepadaku, “Kon ate melok tah? Ayo! (Kamu ingin ikut-kah? Ayo!).”

Tidak lama kemudian, iring-iringan pasukan pimpinan Cacak mulai bergerak. Cacak berjalan paling depan, dan aku paling belakang. Hari itu aku resmi menjadi anggota geng, Gatan. Sungguh aku bangga bukan kepalang.(*)

***

Intermezzo: Dua puluh tahun kemudian, aku yang kini dipanggil Ompa, anggota “Geng Anak Tanjung (Malang)” bertemu dengan Utie, anggota “Geng Anak Menteng (Jakarta)”. Akhirnya kami berdua menikah, sama persis seperti cerita dalam dongeng Cinderella…and they live together happily everafter

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan