KERA NGALAM

 

JIKA suatu hari tiba-tiba ada orang yang menghampiri, menunjukmu dan berkata: “Hei, kamu KERA NGALAM, ya..?” Hendaknya engkau jangan tersinggung atau gusar karena dianggap sejenis kera, monyet, gorila atau sejenis orang utan. Tenang saja, jangan salah paham. Ia sebenarnya hanya menyapa, sebab dikira kamu teman sekampungnya. KERA NGALAM berarti AREK MALANG, dibaca terbalik. Justru orang yang menyapamu itu bisa jadi adalah KERA NGALAM.

Salah satu yang khas dari kota Malang adalah Bahasa Walikan, atau Boso Walikan. Artinya berbicara atau mengatakan sesuatu dengan kata-kata yang dibaca terbalik. Setiap kata dibaca dari huruf belakang ke depan. Kalau yang dibalik hanya satu atau dua kata mungkin kelihatannya mudah, tapi kalau sudah banyak kata…?

Aku sendiri tidak menguasai Boso Walikan ini, maklum saat itu aku belum bisa baca tulis. Apalagi, aku sudah harus meninggalkan kota NGALAM sebelum tamat dari Sekolah TK (Taman Kanak Kanak).

Yang jago Boso Walikan di rumah Jalan Tanjung Gang Dua hanya Om No dan Om Nu. Biasanya jika mengobrol berdua, mereka menggunakan bahasa biasa. Tetapi kalau aku mendekat, mereka langsung berganti menggunakan bahasa rahasia, Boso Walikan. Tentu saja agar aku tidak mengerti yang mereka bicarakan. Apalagi mereka melakukannya sambil melirik-lirik ke arahku. Sangat menyebalkan!

Bagiku, itu termasuk bagian dari per-buli-an. Kalau mereka sudah menggunakan Boso Walikan, biasanya aku bertahan di dekat mereka sambil menguping dan berpura-pura melakukan sesuatu. Seringkali aku bisa menangkap beberapa kata, dan yang paling aku tangkap dengan cepat adalah kata… NAKAM!

Konon, Boso Walikan dahulu dipakai untuk mengelabui tentara atau mata-mata Belanda. Kalau mendengar orang yang sudah sangat ahli dan lancar bicaranya, akan sulit sekali untuk diikuti apalagi dimengerti. Rupanya, ada semacam tingkatan-tingkatan dalam keahlian menggunakan boso walikan ini, terutama dalam kecepatan bicara.

Begitulah tentang Boso Walikan gaya Ngalam. Bagi yang mau belajar Boso Walikan, perlu kuingatkan agar belajar nya dengan sabar. Sebab, jika belajarnya sambil emosi, nanti justru akan stres dan mandek. Jadi, santai saja…

Ada cerita yang lebih seru tentang Boso Walikan ini, sebab rupanya bukan hanya kata-kata saja yang dibolak-balik model Malang ini. Begini ceritanya:

Suatu pagi, Mbah Tanjung yang berwibawa dan disegani itu sedang duduk di ruang tamu sebelah depan sambil membaca koran pagi, NGALAM SOP. Kemudian datanglah serombongan anak muda. Mereka bergerombol, berdiri di luar pagar, di depan rumah, sambil berteriak memanggil-manggil: “Juung Tanjuuung, Juung Tanjuung”. Yang mengherankan, yang punya nama itu, Mbah Tanjung, tenang-tenang saja, tetap baca koran. Tetapi, anak-anak itu terus memanggil-manggil.

Akhirnya Mbah Tanjung terganggu juga. Ia berdiri, tapi tidak keluar untuk menghampiri anak-anak itu. Ia justru melongok ke dalam rumah. Dan dari dalam rumah keluarlah seorang anak muda, yang dengan tergopoh-gopoh berlari, menghampiri anak-anak itu sambil berkata, “Eeh, jok banter baanter, rek!” (Eh, jangan keras-keras, rek). Siapakah anak muda itu? Ia adalah Om No, anak Mbah Tanjung.

Mungkin itu juga termasuk “walikan”. Terbolak-balik. Memanggil seorang anak bukan dengan nama anak itu sendiri, melainkan menggunakan nama ayahnya!

Aku rasa, “walikan” jenis ini susah ditiru di daerah lain, bisa berbahaya mungkin. Atau, mungkin saja ini semua hanya terjadi di… NGALAM. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan