PEMIMPIN HEBAT DAN KOTORAN LUWAK

 

AKHIRNYA, setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, aku diterima sebagai anggota geng, Geng Anak Tanjung, Gatan. Status menjadi anggota Geng pimpinan CACAK yang sangat disegani oleh anak-anak sekitar Jalan Tanjung, Malang, tentu membuat diriku sangat bangga. Apalagi kalau kami sedang berjalan berombongan, bagaikan tentara sedang berpatroli atau pawai. Aku merasa sangat keren, meskipun aku selalu berada di posisi paling belakang.

Saat pawai, aku selalu berjalan dengan tegap, sedikit digagah-gagahin, apalagi kalau kami berjalan melewati anak-anak lain yang menonton di pinggir jalan atau dari dalam pagar rumah mereka. Aku ingin memperlihatkan kepada anak-anak rumahan itu, bahwa aku adalah anak yang tidak bisa dianggap cengeng. Meski toh kenyataannya, aku selalu berjalan di barisan paling belakang.

Karena aku masih sekolah TK sedang anak yang lain semua sudah SD, aku berjalan selalu berjarak dengan barisan utama. Kadang kala anak buah Cacak yang lain merasa kurang nyaman dekat-dekat denganku, dari kasta yang lebih rendah. Bahkan bila Cacak tidak melihat, mereka mencoba mengusirku. Tetapi, hal itu tidak aku hiraukan. Bukankah aku sudah menjadi anggota resmi yang diangkat sendiri oleh Cacak, sang pemimpin Gatan?

Kegiatan rutin Geng Anak Tanjung adalah berjalan menyusuri kampung-kampung di daerah Tanjung. Tetapi terkadang kami juga berani keluar dari daerah Tanjung, misalnya ke daerah Bareng. Bareng merupakan daerah yang ideal untuk berpatroli, karena jalanannya yang sempit dan berbatu-batu, apalagi ada sungai kecil yang melintas di situ. Tempat ideal untuk lokasi semacam outbound di masa sekarang.

Pernah suatu kali, di daerah Bareng itu kami berpapasan dengan geng lain. Selayaknya geng, mereka juga memiliki pemimpin dan anak buah. Geng mereka lebih besar daripada geng Gatan. Hal ini membuat jantungku berdebar-debar. Aku sudah bersiap-siap, kalau sampai nanti terjadi tawuran, aku akan menjadi orang pertama yang lari, pulang ke rumah. Aku bukannya takut, (baca: memang takut), tetapi aku akan melapor ke Om-Om dan kakak-kakak yang lebih besar di Tanjung, bahwa sedang terjadi tawuran. Tetapi kata orang bijak, apa yang kita takutkan, biasanya tidak terjadi.

Ketika kedua geng ini berpapasan lebih dekat, Cacak sang pemimpin yang kukagumi itu melakukan tindakan yang tidak diduga-duga. Kepada pemimpin geng lawan, Cacak mengangkat tongkat saktinya tinggi-tinggi sambil berteriak keras, “Hooo…!” Seketika itu juga, pemimpin geng lawan juga melakukan hal yang sama. “Hooo…!” Setelah itu, kedua geng itu pun melanjutkan perjalanannya masing-masing. Beruntung aku belum sempat lari. Sejak saat itu, aku mengerti bahwa hal itu adalah semacam “salam damai antar geng”.

Selain pemberani, Cacak juga seorang pemimpin hebat yang brilian, cerdas dan punya wawasan jauh ke depan, bahkan sampai lima puluh tahun ke depan. Ia juga menjalankan prinsip-prinsip dan fungsi-fungsi “Manajemen Modern”. Dia tahu bahwa seorang manajer adalah orang yang mendapatkan hasil dari pekerjaan orang lain. Hal itu terlihat sewaktu Cacak membawa gengnya ke kebun kopi yang luas, di belakang Jalan Tanjung Gang Dua. Seperti seorang manajer, Cacak duduk santai di bawah pohon kopi sambil memain-mainkan tongkat kebesarannya itu. Sedangkan aku dan anak buahnya yang lain disuruh menyebar ke seluruh penjuru kebun. Kami diberi tugas mengumpulkan biji-biji kopi yang jatuh di tanah, terutama biji kopi yang terbungkus oleh… kotoran luwak!

Semua anggota geng termasuk aku diharuskan melakukan tindakan yang paling menjijikan dan tidak senonoh! Kami harus mengkorek-korek kotoran binatang luwak itu, baik kotoran yang sudah kering, setengah basah, seperempat basah bahkan yang masih 100% basah dan bau. Semua hasil pekerjaan itu harus disetorkan ke Cacak.

Belakangan aku baru tahu, bahwa oleh Cacak biji-biji kopi itu dijual ke seorang penadah di kampung sebelah. Sungguh luar biasa cerdas! Ia seakan tahu bahwa kelak berpuluh-puluh tahun kemudian, kopi kotoran luwak itu akan menjadi kopi terkenal dan termahal di dunia. Aku semakin kagum kepada si Cacak.

Mengingat peristiwa itu, duh mendadak aku kepingin minum Kopi Luwak. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan