PASTOR BELANDA
SEMASA kanak-kanak di Malang, aku bergereja di Gereja Katolik Kayutangan. Letaknya tepat di hook, di pojokan antara Jalan Raya Kayutangan dan Jalan Mgr Sugiyopranoto. Di seberang Jalan Kayutangan ada sebuah restoran terkenal, namanya Toko Oen. Sedangkan di seberang Jalan Sugiyopranoto, ada sebuah gedung pertemuan yang tidak terlalu besar.
Pada suatu hari Minggu kami pergi ke gereja untuk misa pagi. Sebelum masuk gereja, aku melihat TOA yang besar di pintu depan gedung pertemuan itu. Aku mulai khawatir. Dugaanku benar. Di tengah misa yang dipimpin oleh seorang pastor Belanda itu, terdengar suara orang berpidato, cukup lama dan keras sekali suaranya menggema masuk ke dalam gereja.
Tiba-tiba pastor Belanda itu turun dari altar, masih menggunakan jubahnya yang berwarna krem mengkilat dan komplit dengan aksesoris-aksesorisnya. Ia berjalan dengan langkah cepat, keluar dari pintu depan gereja. Para jemaat pun menjadi tegang dan berdebar-debar.
Aku membayangkan bagaimana orang-orang di jalan akan terkejut melihat ada bule berjubah yang berkibar-kibar ala superhero berjalan menuju ke gedung pertemuan itu.
Kami semua terdiam menunggu. Ajaib, tak berapa lama kemudian suara keras itu lenyap. Dan sang pastor Belanda pun kembali memasuki gereja dengan langkah lebih tegap dibanding sebelumnya. Ditambah lagi, kali ini di wajahnya tersungging senyuman lebar, senyum kemenangan.
Upacara misa pun berjalan kembali dengan tenang dan tentu saja lebih khusuk karena terbebas dari gangguan berisik tadi.
Terimakasih Pastor Belanda… (*)
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan


Tinggalkan komentar