PENYELUNDUPAN

SEJAK bayi aku tinggal di sebuah rumah di Jalan Tanjung Gang Dua, Malang, Jawa Timur. Bagiku, rumah itu adalah rumah yang luar biasa dan besar, meski letaknya hanya di dalam gang. Rumah itu bukan seperti rumah biasa yang dihuni oleh suami, istri, beserta anak-anaknya. Tetapi, rumah itu dihuni oleh belasan kepala, bahkan terkadang lebih. Penghuninya terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai manula. Mereka semua ditampung oleh Mbah Tanjung. Mereka semua menjadi keluarga besar Mbah Tanjung.

Aku adalah anggota keluarga yang paling kecil. Sebab itulah aku memiliki kesan khusus kepada dua sosok penghuni rumah itu. Kedua sosok itu adalah Om No dan Om Nu.

Mereka berdua adalah anak kandung dari Mbah Tanjung. Yang besar Om No, sedangkan Om Nu adalah adiknya. Ada perbedaan antara keduanya. Om No badannya cukup gempal tukang makan. Sedangkan adiknya, Om Nu, tampak lebih tinggi dan kurus karena paling susah makan. Tetapi, ada persamaan dari keduanya. Sama-sama suka mem-bully atau mengganggu alias menindas diriku. Meskipun begitu, aku tahu bahwa mereka sebenarnya menyayangiku. Dan rasa kasih sayang mereka kepadaku itu mereka ekspresikan dengan cara seperti itu, cara seumuran kanak-kanak.

Suatu pagi menjelang siang, aku dimandikan oleh seorang tante, keponakan om-om itu, lalu didandani dengan pakaian terbaik yang kumiliki. Aku bingung. Sambil menyisiri rambutku, tante itu berbisik, “Kamu mau diajak jalan-jalan sama Om No.” Kedua hal yang sepertinya di luar dugaanku. What?OMG! Jalan-jalan? Sama Om No? Mana mungkin, mustahil, pikirku.

Pertama, jalan-jalan, yang artinya ke kota naik delman atau becak. Kedua, bersama Om No yang hobinya kuliner, berarti nanti akan makan di restoran, atau setidaknya di warung. Maka sambil didandani, aku bernyanyi keras-keras, agar terdengar oleh Om No yang rupanya juga sedang bersiap-siap di ruang dalam.

Setelah itu, aku dan Om No mulai berjalan menyusuri Jalan Raya Tanjung. Kami sudah berjalan sejauh seratus meter dari gang, delman dan becak sudah banyak yang melintas, tapi tidak ada satupun yang dipanggil. Hmm… Jadi, benarlah apa kata Tante, bahwa secara arti harafiah jalan-jalan, bukan becak-becakan. Ya, kami jalan (-jalan) kaki sampai ke pusat kota.

Sepanjang perjalanan aku tidak pernah diam. Ada saja yang kuceritakan atau kutanyakan pada Om No. Begitu terus-menerus sembari aku berjalan atau meloncat-loncat di samping Om No. Sebab aku sudah tahu, tidak bakal ada jawaban atau reaksi apapun dari Om No, karena ia termasuk tipe orang yang “minim-kata”. Aku tidak peduli, bahkan tetap saja dan terus mengoceh, sebagai tanda bahwa aku senang dan berterima kasih. Begitu juga dengan Om No, tidak peduli, dan tetap berjalan lurus, tanpa ekspresi. Tetapi, bagiku diamnya Om No itu menjadi isyarat yang seakan-akan mengatakan:

“Terima kasih kembali.”

Ketika tiba di pusat kota, kami melintasi alun-alun kota Malang. Di seberang alun-alun kota ada sebuah gedung bioskop. Rupanya ke situlah tujuan Om No. Dadaku berdebar keras, karena aku belum pernah sekalipun menonton bioskop. Hatiku lebih ciut lagi ketika melihat sebuah tulisan besar-besar terpampang: 17 TAHUN KE ATAS.

Di depan gedung itu berkerumun orang-orang dewasa dan beberapa ABG yang berdandan sedemikian rupa agar dikira sudah berumur 17 tahun. Kerumunan orang semakin banyak, dan aku semakin tegang.

Aku melirik ke muka Om No. Ia tetap tenang, dingin memandang ke depan, fokus pada rencananya, yaitu menyelundupkan aku yang masih anak kecil ini ke dalam gedung bioskop itu. Bisa jadi, ini adalah pertaruhan hidup mati kejayaan Om No di hadapanku, bahwa ia memang seorang jagoan, yang bukan hanya mampu menindas anak kecil, tapi lebih dari itu.

Pintu gedung dibuka. Kejadian yang menegangkan pun dimulai. Orang-orang berhamburan masuk ke dalam gedung untuk mengantre di depan pintu teater. Sang jagoan Om No pun bergerak cepat, disambarnya tanganku, dipegangnya erat-erat dan diseret ke dalam antrian yang berjubel itu. Kami masuk ke tengah antrian.

Kepalaku dicengkeramnya erat-erat, lalu digeser ke kanan dan ke kiri. Tubuhku pun harus mengikuti kepalaku yang digeser-geser. Kalau aku digeser ke sebelah kiri Om No, itu artinya si penjaga gedung berada di sebelah kanan. Kepalaku bagaikan kepala tongkat persneling mobil manual yang dipindah-pindah di jalanan macet.

Akhirnya pintu teater dibuka. Bagaikan pintu air Katulampa, para penonton berhamburan ke dalamnya. Bersamaan dengan itu juga pindahlah cengkeraman tangan, dari kepala ke tanganku. Karena harus berebut tempat duduk, kami berlari cepat menuju tempat duduk di bagian tengah agar kehadiran diriku ini tidak mudah terlihat penjaga. Alhasil, proyek penyelundupan ini menuai sukses besar.

Kami mendapat kursi di tengah teater. Aku duduk di satu kursi sendiri, bukan dipangku. Aku merasa setara dengan orang orang dewasa lainnya. Sebagai ungakapan senang dan terimakasih, aku memberikan senyuman lebar kepada Om No. Sang Jagoan itu membalasnya dengan mengarahkan telunjuknya ke depan, ke arah layar lebar.

Lampu teater dipadamkan, maka mulailah film perdana yang aku tonton, film perang! Sebuah film yang kelak akan menjadi jenis film favoritku.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Bioskop Ria/Merdeka yang didirikan tahun 1928, telah rata tanah pada tahun 2015.
Bioskop Ria/Merdeka yang didirikan tahun 1928, telah rata tanah pada tahun 2015.