SEBUAH RAHASIA

 PADA awal bulan Desember terjadi kesibukan yang luar biasa di rumah Mbah Tanjung. Rumah yang semula sudah dipenuhi anak-anak itu semakin ramai dan heboh. Ada yang kami tunggu-tunggu saat itu, yakni SINTERKLAS.

Sinterklas adalah sosok seorang laki-laki tua berkulit putih, berkacamata, bertubuh tinggi dan selalu membawa tongkat. Sinterklas memiliki kumis dan jenggot berwarna putih yang lebat, berbaju jubah merah serta menggunakan topi tinggi yang juga berwarna merah. Cerita tentang Sinterklas ini diceritakan oleh Tante Jah. Ia adalah wanita yang berperan menjadi ibu asuh bagi kami, anak-anak di rumah itu.

Menurut Tante Jah, Sinterklas tinggal di Negeri Belanda, yang konon pada bulan Desember tahun itu, akan mengunjungi Indonesia. Jadi, ada kemungkinan Sinterklas juga akan mengunjungi kota Malang.

Sinterklas biasanya dengan kudanya melakukan perjalanan bersama seorang asisten yang bernama Pit Hitam (Zwarte Piet), seorang lelaki kurus berkulit hitam legam. Sinterklas akan berkeliling dari rumah ke rumah membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak yang berkelakuan baik. Sedangkan si Pit Hitam tugasnya menghukum anak-anak yang nakal.

Tante Jah menceritakan itu semua dengan muka serius, disertai gerakan-gerakan untuk memberi tekanan tertentu pada apa yang ia ceritakan. Anak-anak mendengarkan cerita Tante Jah dengan muka yang tegang, mata yang melotot, dan mulut yang agak melongo. Begitu pula diriku, sama ekspresinya seperti mereka. Kami semua terkagum-kagum akan kebaikan hati dan kehebatan Sinterklas.

Tante Jah meminta agar anak-anak mempersiapkan diri, karena mungkin sewaktu-waktu Sinterklas datang kemari, ke rumah Mbah Tanjung.

Sejak hari itu tingkah laku anak-anak menjadi berubah drastis. Ada yang tiba-tiba menjadi rajin menyapu rumah, membersihkan tempat tidur, dan membuka-buka buku pelajaran sekolah. Aku juga tidak ketinggalan. Aku mengambil kain lap dan mulai membersihkan meja, kursi dan lemari yang ada di ruang tengah. Tetapi dalam melakukannya aku lebih banyak beristirahat dari pada bekerjanya. Hanya kalau Tante Jah melewati ruang tamu saja, maka dengan sigap aku mulai membersihkan kursi-kursi, meja atau lemari. Tujuanku, agar nanti kalau ditanya oleh Sinterklas, Tante Jah akan melaporkan bahwa akulah yang terbaik diantara anak-anak lain.

Beberapa hari kemudian, anak-anak dikumpulkan lagi oleh Tante Jah. Katanya akan ada pengumuman penting. Dengan penuh harap, kami mengelilingi sang Tante yang berwibawa itu. “Ini serius. Sinterklas malam ini akan singgah di kota Malang,” kata Tante Jah. Anak-anakpun menjadi semakin tegang, terlebih lagi aku.

“Jadi, agar Sinterklas mau mampir ke rumah ini, kita harus memancing kudanya Sinterklas itu dengan menyediakan makanan yang disukai kuda. Kalian harus mengumpulkan rumput dan dimasukan ke dalam sepatu kalian masing-masing. Kemudian sepatu yang berisi rumput itu harus diletakkan di ruang tengah ini,” kata Tante Jah melanjutkan.

Maka berhamburanlah kami mencari rumput, dengan membawa sepatu masing-masing. Tetapi aku tidak mau mengambil rumput dari halaman rumah itu. Aku menyeberang ke halaman tetangga yang memiliki rumput lebih hijau dan lebat. Dengan rumput terbaik, maka pastilah kuda Sinterklas akan tertarik karena rumput di sepatuku lebih hijau dan panjang dari pada sepatu anak-anak lain. Dan dengan begitu, ia akan mendapatkan hadiah yang terbaik dan lebih besar.

Pada malam hari itu kami diharuskan untuk tidur lebih awal. Sehingga jika tengah malam Sinterklas singgah ke rumah kami, anak-anak sedang tidur lelap. Itulah perintah Tante Jah. Sebelum jam 9 malam, kami sudah bersiap tidur. Lampu kamar pun dimatikan.

Semua anak-anak sudah mulai “ngorok“. Hanya aku saja yang belum bisa tidur. Aku masih saja memikirkan bagaimana caranya nanti Sinterklas dan Pit Hitam masuk ke dalam rumah. Jika masuk melalui atap rumah, apakah Sinterklas tidak akan memecahkan genteng-genteng sehingga membuat bocor ketika hujan turun? Perkara ini agak mengganggu pikiranku.

Ketika Tante Jah membuka pintu kamar kami untuk memeriksa apakah kami sudah pada tidur, aku dengan cepat pura-pura sudah tidur nyenyak. Aku mengatur nafas panjang-panjang seperti orang yang sudah lelap tidur.

Dan benar saja, di tengah malam itu mulai terdengar suara-suara, “geletak-geletuk”. Aku menjadi semakin tegang. Suara itu tidak datang dari atas atap rumah, tetapi dari ruang tengah. Perlahan-lahan aku turun dari tempat tidurku dan mengintip apa yang terjadi di ruang tengah. Aku tidak berani mengintip dari pintu yang sedikit terbuka. Aku berdiri jauh dari pintu, menempel ke tembok sehingga tidak akan terlihat dari ruang tengah yang terang.

Hampir-hampir aku tidak percaya pada apa yang kulihat dari sela-sela pintu yang sedikit terbuka itu. Ada tangan-tangan yang bergerak-gerak dan menaruh kotak-kotak hadiah yang sudah dihias ke dalam sepatu-sepatu yang sebelumnya berisi rumput. Aku terkejut, tapi pada akhirnya aku mengerti, siapakah sebenarnya “Sinterklas” itu. Kemudian aku pun mengendap-endap kembali naik ke tempat tidur, lalu tidur pulas.

Pagi hari tiba, suasana menjadi meriah. Anak-anak termasuk aku mulai membuka bungkusan-bungkusan hadiah. Kami bersorak-sorak girang sambil memegang hadiah masing-masing. Tidak ketinggalan aku juga ikut berteriak-teriak senang. Kemudian kami diminta bernyanyi sebagai tanda terima kasih kepada Sinterklas. Seperti biasanya, aku bernyanyi paling keras dan paling merdu.

Tentu saja aku masih ingat apa yang kusaksikan semalam. Tetapi, di depan anak-anak-anak lain aku bersikap seakan-akan aku tidak tahu apa-apa. Aku melakukan semacam gerakan “tutup mulut”. Aku tidak mau membuat tante Jah kecewa. Ia yang sudah bekerja keras mempersiapkan kedatangan Sinterklas ke kota Malang setiap tahun. Aku berjanji tidak pernah membuka “rahasia” malam itu kepada anak-anak yang lain.

Biarlah suatu saat nanti, mereka akan tahu sendiri rahasia Sinterklas, mungkin kalau sudah dewasa, tetapi bukan dari aku. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan