SETIWEL

 

AKHIR-akhir ini kita sering melupakan kata “anugerah”. Menurutku, arti anugerah adalah pemberian Tuhan kepada kita. Anugerah diberikan kepada manusia baik diminta atau tanpa diminta. Anugerah bisa berupa harta, pangkat, kesehatan, penyakit, otak yang encer, bakat, dan sebagainya. Selanjutnya, terserah kita yang mendapatkan anugerah itu. Apakah dengan anugerah itu kita menjadi gembira, bahagia, marah, menyesal atau bersyukur. Terserah, kita pilih yang mana?

Kembali ke Jalan Tanjung Gang Dua Malang, rumah yang legendaris itu. Aku tinggal di rumah itu sejak bayi tergeletak, duduk, merangkak, berdiri, berjalan dan seterusnya. Anak sekecilku, waktu itu, sudah diberi anugerah oleh Tuhan berupa… penyakit korengan!

Koreng yang bahasa kerennya “eksim” itu, menghiasi kedua kakiku. Pada kaki sebelah kiri, mulai dari betis ke bawah. Sedangkan pada kaki sebelah kanan lebih parah, dari lutut sampai mata kaki.

Jadi, sejak mulai merangkak, aku sudah harus menggunakan perban di kedua belah kaki. Orang-orang sering meledek diriku: Hei, kok kamu setiwelan. “Setiwel” itu kain yang dipakai sebagai bagian dari seragam tentara Jepang, yang berupa kain berwarna hijau selebar kurang lebih 5-7 sentimeter yang dililitkan mulai dari lutut sampai sepatu. Yang suka menonton film perang pasti tahu. Hanya saja, setiwel ku berwarna putih, namanya perban. Perban itu setiap pagi harus dibuka, karena kakiku harus dijemur.

Aku sebagai penerima anugerah itu tampak sih tenang-tenang saja (baca: tidak berdaya), tetapi orang lain banyak yang ribut dan sibuk membahas kedua kakiku ini. Pembahasan soal itu seakan tidak ada habisnya. Satu luka sudah hampir sembuh, tapi ‘kawah-kawah’ kecil seperti kawah gunung Bromo itu menyembul lagi di tempat lain.

Segala macam ramuan obat sudah dicoba. Ada yang diminum, dioleskan atau ditaburkan ke atas kawah- kawah kecil itu. Tergantung jenis obatnya. Jika ada informasi terbaru yang diterima, pasti langsung ditindak lanjuti oleh Mbah Putri beserta timnya, Tim Penanggulangan Kaki Korengan (TPKK). Di antara informasi jenis obat itu, termasuk obat tradisional yang unik, seperti belerang, minyak bekas gorengan, cicak, tokek dan binatang melata lainnya.

Cukuplah kita bicara tentang kedua kaki legendarisku. Singkat cerita, entah sejak sekolah TK atau SD, eksim itu berangsur-angsur sembuh dan lenyap! Aku sudah lupa, kapan tepatnya aku mengucapkan selamat tinggal kepada setiwel.

Yang jelas saat dewasa, kakiku sudah mulus, dan bebas dari setiwel. Bahkan dulu isteriku, yang sering dipanggil dengan “Utie”, naksir aku karena kakiku yang mulus dan indah. Serius! Pun, sampai sekarang, Utie masih sering mengelus-elus kaki-kakiku. Sekali lagi, ini serius!

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan