ANTARA WAYANG DAN TIMLO
INI sudah hari ketiga aku berada di kota Solo. Kota yang nyaman dan aman. Bahkan aku sampai lupa bahwa sebenarnya aku sedang mengungsi. Tentara Belanda kembali ke bumi Indonesia untuk mengganggu bangsa yang sudah merdeka.
Di kota Solo ini, kami, Pak Mojo, bu Mojo dan aku tinggal di rumah adik dari Pak Mojo. Panggil saja dengan nama Om So. Om So dan keluarganya tinggal di bagian selatan kota Solo. Mbak Tut, anaknya om So, kalau hendak naik becak biasanya bilang ke tukang becak, “ke Gading Ngidul (Gading ke Selatan).”
Sore itu Mbak Tut menyuruh aku untuk segera berganti pakaian. Dengan wajah berseri-seri dan cerah, secerah kota Solo saat itu, Mbak Tut mengatakan bahwa kita semua akan pergi jalan-jalan ke Taman Sriwedari. Mbak Tut terlihat sangat bersemangat. Pasti ini perjalanan istimewa, pikirku.
Kami pergi dengan menggunakan dua becak beriringan. Kami menuju ke arah utara melewati Gading, belok ke kiri, lalu ke kanan, lalu lurus, dan sampailah kami di jalan yang sangat lebar. Rupanya itu adalah jalan utama di kota Solo. Jalan yang sangat terkenal, dulu namanya Wilhelmina Straat, kemudian berganti Poerwosarie Weg, dan sekarang bernama Jalan Slamet Riyadi.
Kami terus menuju ke arah Barat menyusuri jalan besar itu. Di atas becak, kepalaku sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan. Aku sibuk menikmati pemandangan yang bisa kulihat. Di kiri-kanan jalan raya itu penuh dengan bangunan gedung-gedung dan toko-toko yang besar.
Tiba-tiba dari arah Barat datanglah sebuah benda berwarna hitam yang sangat aneh. Sungguh aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Benda itu datang semakin lama semakin mendekat, semakin dekat dan semakin jelas. Ternyata itu adalah…Sepur Kluthuk. Ini ajaib. Sepur Kluthuk berjalan di atas jalan raya, bukankah seharusnya berjalan di atas rel di sawah-sawah? Di atas becak aku mendadak menjadi gelisah bercampur heran.
Setelah kereta api itu berpapasan dengan becak kami, baru aku percaya 100%, bahwa apa yang aku lihat tadi adalah nyata. Itu Sepur Kluthuk yang di dalamnya berisi sahabat-sahabatku, orang-orang yang sederhana dan baik hatinya.
Belum hilang rasa heran melihat Sepur Kluthuk di jalan raya tadi, kami sudah memasuki area Taman Sriwedari. Sriwedari merupakan tempat rekreasi, taman hiburan yang sangat terkenal bagi warga kota Solo dan sekitarnya. Bahkan, tempat ini ramai pula dikunjungi oleh para wisatawan dari daerah lain.
Kami berjalan berkeliling di area rekreasi itu. Dari pintu masuk kami berjalan ke kiri untuk melihat ada beberapa macam binatang yang berada di dalam kerangkeng (jeruji yang dijadikan kandang). Kami hanya melihat-lihat. Lalu melanjutkan lagi, kami berjalan semakin masuk ke dalam area taman. Ada banyak kios yang menjual pakaian dan barang-barang kebutuhan lainnya. Juga ada tempat permainan untuk anak-anak. Tetapi aku kurang tertarik melihat semua itu.
Semangat dan gairahku baru muncul setelah melihat sesuatu yang ada di ujung depan, sebuah deretan panjang. Dari tempat aku berdiri aku bisa melihat banyak restoran dan warung makan yang menyediakan beraneka macam makanan. Melihat itu semua aku menjadi sangat gembira, gelisah, gugup, sekaligus penuh harap.
Tetapi, tiba-tiba perhatianku beralih ke arah lain, aku tertarik mendengar suara musik gamelan Jawa yang berbunyi nyaring bertalu-talu. Aku tersentak dan ingin berlari mendekati suara gamelan itu. Mbak Tut melihatku dan mengerti, mereka pun mengajakku menuju sumber suara itu.
Di sana aku melihat sebuah bangunan yang besar tapi sederhana. Rupanya itulah gedung pertunjukan yang terbesar di Sriwedari. Di dalamnya terdapat sebuah panggung besar, yang di depannya terdapat ratusan kursi berderet untuk para penonton.
Di gedung itu sedang berlangsung pertunjukan Wayang Orang. Sebelumnya aku memang pernah melihat wayang, tetapi hanya sebuah gambar yang dipajang pada dinding. Gambar wayang yang dibuat di atas kulit binatang.
Tetapi, rasanya ada yang aneh dari gedung pertunjukan ini. Gedung ini tidak berdinding rapat. Orang yang tidak memiliki uang untuk membeli karcis atau tiket untuk duduk di dalam gedung, masih bisa melihat pertunjukan dari luar gedung. Dinding gedung ini hanya berupa ram, yaitu jaringan kawat yang dirangkai jarang-jarang.
Aku mulai mengamati para pemain wayang orang itu. Mereka menggunakan kostum bermacam-macam sesuai peran masing-masing. Ada yang memakai topi tinggi keemasan, atau konde yang melengkung besar. Ada juga yang memakai sayap atau perisai di dadanya yang juga berwarna keemasan.
Mereka bernyanyi, bertengkar lalu berkelahi. Sayangnya mereka berbicara dengan menggunakan bahasa yang aku kurang mengerti. Kata mbak Tut, mereka menggunakan bahasa Jawa Tinggi dan bahasa Kawi yang biasa digunakan dalam dunia pewayangan.
Ada sebuah adegan yang membuatku sangat takjub. Di tengah panggung ada seorang tokoh wayang yang sedang berdiri, tapi tiba-tiba berubah menjadi tokoh lain, tanpa bergerak sedikitpun. Ini sungguh luar biasa!
Aku langsung teringat kecanggihan Mandrake, tokoh superhero yang bisa mengubah orang seketika. Mandrake adalah superhero pujaanku yang ada di serial komik yang dimuat di Koran Malang Post di Malang dulu.
Menonton adegan yang seru itu dari bagian luar gedung membuatku kemudian langsung menarik-narik tangan Mbak Tut untuk masuk ke dalam dan duduk di kursi. Tetapi, sayang sekali orang-orang tua kami ini bependapat lain. Mereka memberi penjelasan (baca: alasan). Supaya pulang tidak kemalaman, katanya, mereka mengajakku meninggalkan gedung pertunjukan Wayang Orang yang keren itu.
Untuk sesaat aku agak kecewa, tetapi untunglah setelah itu kami menuju ke deretan warung makan tadi. Kekecewaanku teralihkan, berganti dengan acara makan bersama.
Setelah pulang ke rumah, di atas tempat tidur, aku mengingat-ingat peristiwa yang luar biasa hari itu. Perjalanan naik becak beriringan, bertemu Sepur Kluthuk di tengah jalan raya, menonton Wayang Orang dari luar gedung, juga adegan sulap seorang tokoh wayang berganti peran dengan ajaib. Sungguh hari itu menjadi hari yang tidak terlupakan bagi diriku. Apalagi ini semua terjadi di masa pengungsian.
Tetapi, yang lebih tidak terlupakan dari semua itu, lebih dari segalanya, adalah rasa nyaman di perutku ini. Aku merasakan nikmatnya makan masakan asli Solo, Timlo. Rasa nyaman itulah yang membuat malam itu aku tertidur pulas, sangat pulas. (*)
.
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan
Ilustrasi: Mbah Google


Tinggalkan komentar