Duapuluh dua Agustus, seribu sembilan ratus enampuluh enam,
Duapuluh dua Agustus, seribu sembilan ratus enampuluh enam,

KEMBANG DAN KUMBANG

-Edisi Spesial. Edisi Anniversary Ompa & Utie ke 49-

AKU, si Ompa, dan juga isteriku yang biasa dipanggil Utie, merasa sering kerepotan ketika ditanya oleh anak cucuku mengenai kisah percintaan kami. Misalnya, pertanyaan yang sederhana ini. “Ompa sama Utie, siapa yang naksir lebih dulu?” Jawabannya bisa membuat keadaan heboh.

Aku merasa, Utie yang naksir lebih dulu. Sebaliknya, Utie merasa bahwa aku yang mendekatinya lebih dulu. Apalagi kalau ada permintaan agar menceritakan kisah pertemuan dan percintaan Ompa-Utie. Permintaan yang sulit bagiku dan Utie. Sulit, karena mau dimulainya dari mana, dan bagian mana yang mau diceritakan.

Mengapa? Karena banyak hal yang terlanjur menjadi rahasia, yang tidak boleh diketahui orang lain. Kami berdua, Ompa dan Utie, sering menggunakan istilah, isyarat, atau sejenis sandi, yang hanya bisa dimengerti oleh kami berdua. Kalau orang lain mendengarkan, pembicaraan itu akan terasa aneh dan lucu.

Bagi yang sudah menikah pasti maklum sebab adanya suatu rahasia. Tetapi, baiklah, akan aku coba untuk ceritakan.

Utie, dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta, di daerah elit yang bernama Menteng. Tepatnya di Jalan Cilacap No.1. Utie dibesarkan di dalam keluarga yang terhormat, sangat tertib dan memiliki disiplin yang ketat.

Sedangkan aku dilahirkan di daerah pinggiran kota Malang, di Jalan Tanjung Gang Dua. Sejak masa kanak-kanak, aku sudah memiliki kehidupan yang cukup bebas. Aku bisa bebas bermain dan bergaul dengan siapa saja, dan biasa melakukan banyak hal yang bersifat petualangan.

Utie kuliah di universitas negeri yang sangat kondang, Universitas Indonesia (UI) di Jalan Salemba Raya. Sedangkan aku saat itu sudah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, PNS, sambil melanjutkan kuliah di sebuah universitas swasta, yang tempat kuliahnya menumpang di kampus UI. Tepatnya, di ruangan belakang kampus, di ruangan yang biasa dipakai untuk nonton film bagi para mahasiswa UI.

Pada masa itu, di samping kuliah, kami juga ikut menjadi anggota sebuah organisasi mahasiswa yang sangat populer waktu itu. Utie lebih dulu menjadi anggota organisasi itu dari padaku. Aku baru bergabung belakangan. Melalui organisasi mahasiswa itulah, pertama kali aku bertemu dan berkenalan dengan Utie.

Tetapi mungkin waktu itu Utie belum memperhatikanku. Mengapa? Karena Utie orang yang sangat populer di situ. Cantik dan sangat aktif, sehingga dia bagaikan kembang yang dikerubungi oleh banyak kumbang. Ada kumbang yang berani mendekati si kembang. Ada yang hanya terbang berputar-putar dari jarak dekat sambil mencari kesempatan. Ada juga kumbang yang hanya berani terbang memutar dari jarak jauh. Tetapi, itu semua tergantung sang kembang, ia mau berpaling kemana. Atau, bisa juga tergantung pada nyali si kumbang. Aku sendiri termasuk kumbang yang terbangnya di kejauhan saja. Tahu diri. Bukan berarti kurang nyali!

Suatu malam organisasi mahasiswa kami mengadakan acara kumpul-kumpul di luar kota. Pada malam berikutnya dilanjutkan dengan camping, berkemah di sebuah lapangan yang luas. Di sekeliling lapangan itu didirikan tenda-tenda kecil untuk menginap.

Dalam acara tersebut aku ditugaskan sebagai orang yang bertanggung jawab atas keamanan seluruh acara perkemahan. Karena itu, aku rutin mengadakan patroli berkeliling di daerah perkemahan dan sekitarnya dengan menggunakan mobil Jeep milik kantorku. Aku ditemani oleh si Pance (bukan nama sebenarnya). Pance selalu duduk di sampingku selama berpatroli, sambil mengalungkan gitarnya. Maklum, ia memang dari seksi kesenian.

Tepat jam dua belas malam, aku mengadakan patroli rutin. Aku berkeliling lapangan sambil menyorotkan lampu mobil Jeep ke arah tenda-tenda, satu demi satu. Pada waktu Ompa menyorotkan lampu ke salah satu tenda, terlihat si Utie ada di dalam tenda tersebut. Aku lalu mematikan lampu dan mesin mobilku, agak jauh di depan tenda Utie. Entah ada angin apa malam itu, di tengah kesunyian berpatroli, si Pance yang duduk di sampingku tiba-tiba mulai curhat (mencurahkan isi hatinya).

Si Pance mengatakan bahwa sebenarnya ia jatuh cinta kepada Utie, tapi ia tidak berani lebih lanjut mendekati Utie karena sering dicuekin (tidak diacuhkan) Utie. Jadi, selama ini Pance hanya memendam rasa cintanya kepada Utie. Malam itu si Pance memetik gitarnya dan menyanyikan lagu, yang syairnya seperti ini: Why oh why, must I go on like this… dan seterusnya dan seterusnya.

Walaupun tahu Pance adalah kompetitorku, tetapi aku tidak mau patah semangat. Mendengar keluhannya membuatku menjadi kasihan kepada Pance. Kalau terhadap sikap Utie yang sok cuek (acuh tak acuh) itu, aku sih berpikirnya seperti ini: “Aaah, belum tahu dia, siapa Ompa ini!”

Sekitar dua bulan menjelang Natal, ada rapat pimpinan organisasi mahasiswa untuk membentuk Panitia Perayaan Hari Natal. Dalam keputusannya, aku yang ditunjuk sebagai Ketua Panitia. Aku berhak menyusun sendiri pengurus panitia itu, termasuk sekretaris panitia Natal. Dan siapakah yang aku tunjuk sebagai sekretaris? Tidak salah lagi, Utie!

Maka sejak saat itu aku harus sering bertemu dengan Utie demi mensukseskan acara Perayaan Natal yang akan diselenggarakan di Gedung Bank Indonesia di Jalan Thamrin Jakarta.

Aku sebenarnya ada kendaraan. Tetapi perjalanan dari Jalan Thamrin ke Jalan Cilacap nomor 1, Menteng tersebut tentu lebih enak dengan menggunakan becak. Di atas becak itulah aku dan Utie bisa punya waktu lebih lama untuk membicarakan masalah-masalah organisasi dan masalah kepanitiaan Natal, demi suksesnya Perayaan Natal tentunya.

Begitulah, hubungan aku dan Utie semakin hari semakin mulus saja. Rupanya Utie telah mengambil sebuah keputusan yang tepat untuk memilihku sebagai pasangan hidupnya. Dahulu kala, sebelum aku dilahirkan, ada sebuah lagu yang ujung syairnya berbunyi begini: Jangan percaya mulutnya lelaki, berani sumpah tapi takut mati.

Kumbang-kumbang yang mengerumuni Utie dulu itu, semua ternyata takut mati. Untung datanglah aku, si Ompa ini yang berani tampil beda: takut sumpah, tapi berani mati.

Tetapi ada satu hal yang sering membuat aku kurang percaya diri, yaitu keluarga Utie. Yang aku takuti bukan hanya Papinya Utie, tetapi juga Maminya Utie yang keturunan Belanda. Utie pernah ditegur oleh Maminya: “Awas ya, dia itu orang Jawa”. Lalu, Utie ngeles (berkilah): “Enggak kok Mam, dia cuma teman biasa”.

Perlu diketahui bahwa keluarga Utie itu berasal dari Maluku. Tapi aku yakin bahwa beliau-beliau itu orang baik. Mereka memang harus melindungi anak gadisnya. Cerita Utie tentang peringatan Maminya itu, terus terang membuat kumbang ini agak down dan pesimis, sehingga aku menjadi sangat kaku setiapkali berada di rumah Utie.

Sampai pada suatu sore, saat aku berkunjung ke rumah Utie di Jalan Cilacap untuk suatu urusan. Seperti biasa aku tidak mau terlalu lama di sana. Sungkan! Tetapi, saat aku mau pamit pulang, tiba-tiba keluarlah seorang tante dari dalam rumah, tantenya Utie, namanya Tante Bo, yang berkata dengan manis kepadaku, “Mas, mau minum kopi susu?”. Aku terkejut tetapi lalu dengan spontan dan gugup Ompa menjawab: “Ma.. ma… mau, Tante”.

Sore itu aku pulang dari rumah Jalan Cilacap Nomor Satu dengan perasaan sedikit lega. Aku merasa lebih optimis. Sikap Tante Bo itu membuat aku yakin dan percaya diri bahwa kisah percintaan ini akan berakhir mulus. Kejadian itu membuat aku berani mengalahkan rasa takut dan lebih percaya diri.

Singkat cerita, tentu dengan seijin Tuhan, aku berhasil mempersunting Utie, dan kami melangsungkan pesta pernikahan di Gedung Wanita, Menteng, pada tanggal 22 Agustus 1966. Empat puluh sembilan tahun yang lalu.

Akhirnya, Kembang mendapatkan Kumbang yang tepat. Seperti akhir cerita ala Cinderella, kisah percintaan Ompa dan Utie juga berakhir dengan… (*)

And they live happily everafter.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi