
PERTEMPURAN DARAT
SEPERTI yang pernah aku ceritakan sebelumnya, sejak tinggal di kota Mojokerto aku sudah berkenalan dengan suasana perang. Aku pernah menyaksikan serangan udara, penembakan canon Belanda ke wilayah tentara Republik, dan gempuran mortir tentara Indonesia ke kota yang sudah diduduki Belanda. Tetapi satu hal yang belum pernah aku lihat, yakni pertempuran darat langsung, seperti dalam film-film perang.
Perang membuat aku terpaksa mengungsi. Mulai dari Mojokerto, Jombang, Solo, lalu ke Wonogiri. Di kota terakhir ini Pak Mojo memutuskan untuk tidak akan mengungsi lagi. Semula aku juga berpikir begitu, karena mana mungkin tentara Belanda tertarik untuk menduduki kota ini. Toh Wonogiri hanya sebuah kota kecil.
Tetapi, kenyataan berkata lain. Sejak kemarin malam, aku sudah mendengar suara dentuman-dentuman, semakin lama semakin dekat. Tetapi saat siang hari suara dentuman sudah tidak terdengar lagi. Jadi aku mengira bahwa tentara Belanda hanya ingin menakut-nakuti saja.
Namun, suara dentuman tadi malam terdengar semakin lebih mendekat. Apalagi suara itu terdengar seperti hujan peluru canon yang jatuh di kota Wonogiri. Aku lantas berpikir, sepertinya keadaan akan semakin serius.
Benar saja, tidak lama kemudian aku mendengar ada dua jenis suara tembakan. Yang satu suara rentetan tembakan dengan dentuman besar, sedangkan yang satunya terdengar lebih ringan dan letusannya hanya satu-dua kali, jarang-jarang. Aku langsung berpikir, mengacu pada sebuah film yang pernah aku tonton, bahwa ini seperti pertempuran darat.
Dua jenis suara tembakan itu semakin lama semakin mendekat. Sepertinya dari arah kota melalui Jalan Jurang Gempal di depan rumah kami. Aku pun semakin bersemangat menempelkan mataku ke dekat kaca jendela, mengintip. Sedangkan Pak Mojo dan Bu Mojo duduk di lantai pojok ruangan. Pak Mojo menyuruhku untuk segera turun dari jendela, agar tidak kelihatan dari luar. Tetapi aku tetap bandel, mengintip ke luar sambil berdiri di atas kursi dekat kaca jendela.
Tidak lama kemudian, terlihat beberapa tentara yang lewat sambil melepaskan tembakan, bergerak mundur ke arah Timur, ke arah jembatan sungai Bengawan Solo. Sedangkan dari arah kota, terdengar rentetan suara letusan senjata berat.
Lama kelamaan suara-suara itu seperti semakin mendekati jalan depan rumah. Dari dalam rumah terdengar derap sepatu tentara yang semakin lama semakin mendekat. Aku mendadak menjadi tegang dan takut, tetapi aku sungguh ingin melihatnya langsung. Benarkah itu suara derap sepatu tentara Belanda. Belum lama aku berpikir, muncul barisan tentara berbaju loreng yang masing-masing memegang senjata laras panjang. Aku sungguh terkejut dengan apa yang kulihat. Ternyata mereka bukan tentara yang berkulit putih, tapi berkulit gelap!
Aku jadi ingat, rupanya merekalah yang disebut tentara KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger). KNIL adalah pasukan yang biasa dipakai oleh Belanda untuk lebih dulu menyerbu ke daerah yang akan didudukinya. Anggota tentara KNIL kebanyakan adalah orang pribumi
Di jalanan depan rumahku, para tentara yang berbaju loreng itu berteriak-teriak sambil sesekali melepaskan tembakan. Mereka memerintahkan semua laki-laki dewasa agar segera keluar dari dalam rumah sambil mengangkat tangan.
Aku kemudian menyaksikan rumah tetangga di seberang jalan didobrak. Dengan sepatunya yang kuat, tentara itu menendang pintu rumahnya, karena terlalu lama tidak dibuka dari dalam. Aku menjadi semakin ketakutan.
Dan tiba-tiba saja aku melihat sudah ada seorang tentara di halaman rumah kami. Tanpa berpikir panjang aku langsung membuka pintu depan dan keluar. Aku tidak mau pintu rumahku dirusak. Baik digedor atau didobrak seperti rumah tetangga itu.
Tentara itu bertanya sambil berteriak, apakah ada laki-laki dewasa di rumah kami. Sambil gemetar hebat tidak mampu bicara, aku hanya mengacungkan jari telunjukku. Yang ingin aku katakan adalah bahwa di rumah kami hanya ada satu lelaki dewasa.
Kemudian aku menjerit memanggil Pak Mojo agar segera keluar. Dengan ketakutan Pak Mojo keluar sambil mengangkat kedua tangannya. Tentara itu masih tidak percaya, bahwa memang hanya ada satu orang laki-laki di dalam rumah kami. Ia lalu memeriksa masuk ke dalam rumah. Setelah yakin tidak ada orang yang dicarinya, tentara itu menggelandang Pak Mojo keluar, ke tepi jalan.
Semua laki-laki itu diperintahkan untuk duduk berjejer di tepi jalan, sambil meletakkan kedua tangan mereka di belakang kepala masing-masing. Aku melihat, beberapa pemuda mendapat tendangan sepatu lars tentara. Aku melihat Pak Mojo tidak dipukul, hanya kepalanya saja yang digoyang-goyang.
Akhirnya, semua laki-laki itu digiring menuju ke arah kota dengan todongan senjata laras panjang. Saat hari telah menjelang sore, akhirnya Pak Mojo pulang kembali ke rumah dengan tidak kurang suatu apapun. Syukurlah…
Setelah kota Wonogiri mereka anggap aman, saat hari menjelang gelap baru tampak iring-iringan kendaraan militer berwarna loreng yang membawa tentara Belanda, berkulit putih, memasuki kota Wonogiri. Suasana malam itu sungguh mencekam. Kami tidak bisa tidur karena harus selalu waspada. Suara dentuman dan letusan senjata sesekali terdengar di kejauhan, di seberang Sungai Bengawan solo. Akhirnya kota Wonogiri juga diduduki oleh tentara Belanda, batinku.
Sepanjang malam kami berdoa agar tidak terjadi apa-apa malam itu, juga esok harinya dan hari-hari setelahnya. Aku juga berdoa agar kami tidak harus pergi mengungsi lagi. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan
Ilustrasi: Mbah Google

Tinggalkan komentar