SELEBRITI SEKOLAH
SAAT itu kota Wonogiri sudah mulai aman dan berangsur bebas dari suasana perang akibat pendudukan tentara Belanda. Kota Wonogiri kembali menjadi kota yang indah, aman dan nyaman. Gunung Gandul pun masih berdiri tegak dan gagah di sisi Barat kota Wonogiri.
Musim bersekolah dimulai kembali. Aku mulai masuk ke Sekolah Rakyat Negeri Tiga Wonogiri. Gedung sekolahnya tidak jauh dari rumah keluarga Pak Mojo di Jalan Jurang Gempal. Dari rumah, aku cukup berjalan kaki kurang lebih dua puluh menit untuk tiba sekolah.
Aku hanya tinggal menyusuri jalan raya di depan rumah, lalu belok ke kiri ke arah kota. Setelah mencapai ujung tanjakan, jalanan mulai agak rata. Di sisi kanan setelah tanjakan itu ada sebuah gedung penyimpanan garam, namanya Gudang Garam. Dari sana tinggal sedikit berjalan lurus, maka tibalah aku di sekolahku.
Di seberang gudang garam dan gedung sekolah tersebut terhampar luas sebuah tanah kosong yang banyak ditumbuhi pohon-pohon. Di situlah letaknya tempat pohon kenari yang biaa aku kunjungi.
Bagiku, sekolah bukan hanya sekedar tempat belajar saja, tetapi juga tempat berpetualang yang menggairahkan. Aku selalu berangkat ke sekolah dengan penuh semangat dan riang gembira, karena aku percaya bahwa setiap hari akan selalu saja terjadi banyak hal-hal yang baru.
Kedatanganku di sekolah selalu disambut dengan ramah oleh teman-teman dan juga para guru. Mengapa? Karena di sekolah itu aku memang agak berbeda dari anak-anak lain. Aku adalah seorang anak yang berasal dari Jawa Timur, setiap hari mereka tidak sabar untuk mendengarkan aku berbicara dengan dialek Jawa Timuran.
Bahasa dan dialeknya memang berbeda. Misalnya: ”Ini bagaimana sih bung”. Kalau bahasa Jawa Tengah: ”Iki piye to cah”. Sedangkan bahasa Jawa Timuran: ”Yok oopo se, rek”. Jauh berbeda kan? Disamping itu di Jawa Tengah orang-orang berbicara dengan nada suara yang halus. Sedangkan aku yang bergaya Jawa Timuran mempunyai suara yang keras dan nyaris meledak-ledak kalau berbicara.
Setiap hari seluruh anak selalu tidak sabar menunggu terdengarnya lonceng tanda waktu istirahat. Begitu jam istirahat tiba, anak-anak itu langsung berkerumun di pojok halaman sekolah. Mereka sudah siap menantikan kehadiranku, si Ompa.
Aku kadang-kadang tidak langsung juga mendatangi kerumunan itu. Biarlah mereka penasaran dulu. Saat akhirnya aku menghampiri kerumunan itu, aku selalu berjalan dengan pelan, berlagak seperti sang pengkhotbah yang datang dan mengharapkan sambutan dari para pendengarnya.
Sementara itu anak-anak perempuan hanya bergerombol dan melihat kami dari jauh. Setiap kali aku mencoba mendekati mereka, mereka selalu menghindar, sambil menutup mulut dan tertawa-tawa melihatku.
Tak lama kemudian aku pun sudah berada di tengah anak-anak tersebut dan mulai bercerita tentang pengalaman perangku. Kadang-kadang mereka terlihat kurang mengerti dengan apa yang aku katakan, karena aku memakai bahasa dialek Jawa Timuran, maka untuk memperjelas ceritaku, aku juga melakukan gerakan-gerakan tubuh dan tangan. Bukankah aku telah belajar itu dari si tukang obat, di pinggir alun-alun kota Malang, sewaktu aku masih TK dulu?
Sambil bercerita aku selalu sambil mengamati mata teman-temaku. Mata mereka melotot, terkagum-kagum padaku. Aku merasa senang dan sangat menikmati itu semua.
Pernah suatu hari, di saat jam istirahat sekolah, aku diminta datang ke kantor guru. Aku kaget dan khawatir kalau-kalau aku akan ditegur karena kebiasaanku suka berpidato di depan teman-teman. Di dalam ruangan kantor sudah berkumpul para guru. Aku diminta berdiri di depan mereka. Terus terang aku merasa tegang dan gugup.
Lalu para guru itu satu persatu mulai mewawancaraiku secara bergantian. Mereka memintaku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Persis seperti orang yang sedang diaudisi. Tetapi sesaat kemudan mereka mulai tertawa terbahak-bahak mendengarkan caraku menjawab dan bercerita.
Makin hari aku semakin merasa bagaikan seorang selebriti di sekolah itu. Setiap kali ada ibu atau bapak guru berpapasan jalan denganku, mereka tersenyum dan kemudian menepuk-nepuk bahuku. Aku merasa sangat bahagia.
Aku juga terkenal di sekolah karena aku suka menyanyi. Saat pelajaran menyanyi, anak-anak harus maju satu persatu. Seringkali aku sengaja dilewatkan dan tidak dipanggil. Setelah semua anak sudah mendapat giliran dan bernyanyi di depan kelas, baru kemdian aku diminta maju untuk menyanyi. Aku selalu menyanyi dengan lantang dan keras. Tak heran suaraku terdengar sampai ke seluruh sudut sekolah.
Siang hari, di saat bubaran sekolah, hanya teman-teman laki-laki yang pemberani lah yang mau berjalan bersamaku. Yang lain berjalan menjauh, apalagi anak-anak perempuan, mereka hanya tersenyum ke arahku dengan matanya, tetapi mulutnya ditutupi dengan tangannya. Mengapa? Karena mereka tahu di dalam ranselku seringkali ada seekor ular hidup melingkar. Aku memang sering membawa ular peliharaanku ke sekolah, untuk aksi-aksian saja, biar kelihatan keren.
Maka siang itu semua anak-anak pun bergegas pulang ke rumah masing-masing. Tetapi tidak denganku, aku masih akan ada pertemuan penting dengan para anggota GAGAS, Geng Anak Gragas, di kebon kosong di seberang sekolahan, di bawah pohon kenari. (*)
.
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Tinggalkan komentar