RENANG GAYA BATU
SEMAKIN hari aku merasa semakin bangga menjadi anggota GAGAS, Geng Anak Gragas. Mengapa? Salah satunya adalah karena aku merasa beruntung bahwa tiga temanku anggota lainnya adalah putra daerah, Wonogiri. Mereka telah mengenal wilayah ini sejak lahir. Mereka mengetahui semua, sampai hal yang sekecil-kecilnya.
Apalagi yang namanya Yahmin, dia adalah anak yang paling tahu segala hal. Disamping itu Yahmin juga rajin mengajari aku, anak Malang ini. Sering kuceritakan pada Yahmin bahwa sewaktu aku masih tinggal di Malang, aku pernah menjadi anggota GATAN, Geng Anak Tanjung, Malang.
Kepada Yahmin aku ceritakan pula tentang kehebatan si Cacak, pemimpin GATAN di Malang, tentang penjelajahan kami dari kampung ke kampung, tentang Cacak yang selalu memimpin barisannya dengan tongkatnya, dan sebagainya. Yahmin mendengarkan semua itu hanya dengan senyum-senyum sambil diam saja.
Siang itu, setelah kami selesai menikmati pesta belalang dan burung bakar, Geng Anak Gragas melanjutkan perjalanan. Kali ini kami bergerak menuju ke sungai. Tiba-tiba Yahmin berteriak, “Le, ayo nglangi, leee.. – Ayo kita berenang”. Kemudian kami berlari kencang menuju ke tepi sungai Bengawan Solo yang besar itu. Dari atas tebing yang cukup tinggi di tepi sungai itu, anak-anak melepaskan baju dan celana, lalu mereka menceburkan diri ke sungai.
Demi solidaritas, aku pun melakukan hal yang sama. Tanpa pikir panjang aku cepat-cepat melepaskan baju, celana dan kemudian byuurr….., aku sudah terjun ke dalam sungai. Dan apa yang tidak aku duga-duga pun terjadi. Aku lupa bahwa sebenarnya aku tidak bisa berenang!
Yang terjadi berikutnya adalah peristiwa yang pasti sulit untuk kulupakan seumur hidupku. Tubuhku sudah berada di dalam air. Tadinya aku bermaksud ingin mencabut keputusanku untuk terjun ke air, tetapi itu tidak mungkin lagi karena aku merasa bahwa tubuhku sedang merosot terus ke bawah, di dalam air itu, semakin lama dalam. Kemudian aku sempat beharap agar kakiku akan segera sampai ke dasar sungai untuk kemudian aku akan mencoba melompat kembali ke atas, ke permukaan.
Tetapi yang terjadi adalah kakiku tidak juga menginjak sesuatu. Aku mendadak menjadi panik. Ini tidak boleh terjadi. Aku merasa badanku terus merosot ke bawah. Aku juga merasa sudah tidak tahan lagi menahan napas, air pun mulai masuk ke dalam mulutku. Tetapi kakiku belum mencapai ke tanah juga. Aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya pasrah membiarkan tubuhku tenggelam. Yang terakhir terlintas di pikiranku, sewaktu aku berada di dalam air sungai yang tanpa dasar itu, adalah muka si … Cacak.
Tiba-tiba aku sudah tergeletak di atas rerumputan di pinggir sungai. Aku merasa kepalaku sudah berada di atas tanah, sedangkan kakiku ada yang mengangkat ke atas. Lalu keluarlah banyak air dari dalam mulutku. Kemudian aku terduduk sendirian sambil masih terbatuk-batuk. Sedangkan teman-temanku anak-anak geng sudah kembali berenang.
Dalam kesendirianku itu, aku berpikir lagi mengenai Cacak. Mengapa dulu dia tidak mengajariku berenang? Apakah dia, sang pemimpin Geng Anak Tanjung, Malang, yang legendaris itu juga tidak bisa berenang? Padahal aku telah menyanjung-nyanjung dirinnya di depan si Yahmin. Aku jadi merasa malu pada Yahmin, yang telah mendengarkan tentang kehebatan Cacak sebagai pemimpin. Pantas saja Yahmin saat itu hanya diam sambil senyum-senyum saja. Mungkin begitulah gaya kearifan orang Wonogiri.
Tiba-tiba Yahmin keluar dari sungai lalu mendekatiku. Melihat bahwa aku telah sadarkan diri, ia pun duduk di sampingku.
Ia menasihatiku, “Kalau kamu belum bisa menyelam jangan berenang, itu berbahaya” katanya.
Yahmin lanjut menjelaskan mengenai sungai Bengawan Solo, bahwa kalau permukaan air sungai beriak, itu tandanya tidak dalam. Kalau permukaan air tenang, tidak bergelombang, itu tandanya sangat dalam. Bagian sungai yang dalam itu namanya, ‘kedung’. Kalau permukaan airnya berputar, itu harus dihindari. Karena bisa-bisa kita terhisap ke dalam. Pantas, rupanya tadi aku bersama anak-anak itu terjun di ‘kedung’.
Yahmin ini rupanya tidak suka banyak berteori. Aku langsung diajaknya ke sungai yang dangkal, yang airnya hanya setinggi lutut. Kemudian aku disuruhnya membenamkan kepala ke dalam air sambil menghitung sendiri, dalam berapa hitungan kepalaku dapat bertahan di dalam air. Lalu Yahmin meninggalkanku dan kembali berenang bersama teman-temannya.
Aku kemudian berlatih sendiri dengan serius. Semula diriku hanya bertahan di dalam air dalam lima hitungan saja, lama kelamaan meningkat terus.
Sewaktu Yahmin datang kembali, aku sudah mampu menyelam selama lima belas hitungan. Yahmin lalu membawaku ke atas tebing, dan tanpa ijinku aku kemudian didorongnya terjun ke kedung yang dalam itu.
Akupun terjun ke dalam air seperti tadi, tetapi kali ini aku tetap tenang sambil menahan napas. Aku lalu mencoba menggerak-gerakkan tangan dan kakiku seperti katak. Gerakan itu teratur dan tidak terburu-buru. Aku melihat warna air diatasku kelihatan semakin lama semakin terang, kemudian kepalaku pun muncul di atas permukaan air. Sambil menghisap udara cepat-cepat dan kemudian masuk kembali ke dalam air, aku mendengar jelas teman-temanku bertepuk tangan keras-keras dari atas tebing.
Aku kemudian berenang ke tepi sungai dan merasa sedikit haru. Hari ini aku sudah bisa berenang. Aku tersenyum kepada Yahmin dan kedua temannya. Mereka membalas dengan tertawa terbahak-bahak sambil terjun lagi ke kedung, bagian terdalam dari sungai Bengawan Solo.
Tak mau kalah aku pun ikut terjun lagi, kali ini dengan gaya “gado-gado”. Mungkin jika di dalam dunia olah raga renang, gaya ini disebut dengan “Gaya Punggung Katak Kupu Kupu Bebas”.
***
Seperempat abad setelah kejadian tesebut, 25 tahun kemudian, aku, si Ompa ini sudah menikah. Pernah suatu kali di kantor Utie, istriku, ada acara pekan olahraga. Salah satu perlombaan yang di lombakan adalah lomba renang. Aku baru semangat ingin mendaftar setelah mengetahui dalam lomba renang itu ada cabang: “Renang Gaya Batu” yaitu menyelam.
Pada akhir perlombaan, semua peserta sudah keluar dan sudah lama berada di atas air, mereka menungguku di tepi kolam. Tetapi aku masih tenang-tenang saja berada di dasar kolam, sambil merayap-rayap menghitung ubin lantai kolam renang itu. Beberapa peserta mulai terlihat panik saat menyadari aku belum juga keluar dari dalam air.
Hari itu aku mendapat piala, juara “Renang Gaya Batu”. Piala itu kuangkat tinggi-tinggi dan dalam imajinasiku aku membayangkan, aku, si Ompa, sedang menyerahkan piala itu kepada Yahmin. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan
Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi


Tinggalkan komentar