Sketsa ilustrasi oleh Tjatri Devi

PAK BENDE

Setelah perjalanan yang panjang, mulai dari Mojokerto, Jombang dan Solo, akhirnya pengungsian Ompa dan keluarga berakhir di Wonogiri. Di sanalah mereka akhirnya menetap, dan perlahan-lahan Ompa pun mulai berkenalan dengan kota yang indah ini, juga belajar bergaul dengan orang-orangnya.

Belum lama tinggal di Wonogiri, suatu hari Ompa melihat seorang lelaki yang sangat menarik. Setiap kali melihat laki-laki itu, Ompa selalu dibuat penasaran. Betapa tidak! Laki-laki itu sangat terkenal dan selalu hadir di tengah masyarakat kota Wonogiri. Ia bertubuh kurus, usianya sekitar lima puluh tahunan. Ia selalu mengenakan blangkon dan baju lurik lengan panjang. Tangan kirinya selalu memegang sebuah bende, gong kecil, yang tergantung pada seutas tali. Sedangkan tangan kanannya memegang tongkat pendek yang digunakan memukul bende.

Tak seorang pun tahu nama laki-laki itu. Ia hanya dikenal dengan nama Pak Bende, karena ke mana-mana selalu membawa bende.

Siapa sih Pak Bende ini sebenarnya? Mengapa ia selalu blusukan ke sudut-sudut kampung di seluruh Wonogiri? batin Ompa setiap kali melihat laki-laki kurus itu. Makin hari Ompa makin penasaran, tak lelah-lelah ia mencari tahu tentang jati diri Pak Bende. Semua orang ditanyainya. Tapi semua orang hanya dapat menggeleng. Mereka tahu siapa Pak Bende, tapi… siapa persisnya nama sesungguhnya, juga apa persisnya pekerjaan laki-laki itu, tidak seorang pun yang tahu.

Lalu pada suatu hari seseorang berkata pada Ompa, “Pak Bende? Oh… dia itu Juru Penerang.” Ompa kagum bukan buatan mendengar istilah itu. Juru Penerang? Apa itu?
“Juru Penerang tugasnya memberi penerangan dan informasi kepada seluruh rakyat kota Wonogiri, agar warga tahu apa yang akan terjadi pada hari itu.” Mendengar itu Ompa hanya bisa mengangguk-angguk. “Nah, sekarang, apakah kamu tahu apa itu Bende?” orang itu ganti bertanya. Ompa berpikir sebentar. Ia tahu, bende itu gong. Tapi apa persisnya, ia tidak tahu. Maka dengan enggan ia pun menggeleng. “Yah, aku sendiri juga tidak tahu jawabnya. Itu sebabnya aku tanya,” orang itu berkata lalu tertawa.

Tapi bukan Ompa jika ia tidak mencari jawabannya hingga jelas sejelas-jelasnya. Maka ia pun segera bertanya sana-sini dan mengumpulkan berbagai informasi. Dan sebelum hari itu berakhir, Ompa sudah tahu bende adalah gong kecil dalam perangkat gamelan Jawa, dan termasuk dalam kelompok gong.

Kelompok gong ini semua tergantung pada tali dan dikaitkan pada kayu panjang yang diukir dengan indah. Gong paling besar biasanya hanya dipukul sekali saja sebagai tanda penutup pada akhir lagu. Gong itu suaranya rendah, berat, dan gemanya berdengung sangat panjang. Namun jangkauan suara gong tidak terlalu jauh.“Guunngggg…,,” demikian bunyinya, mantap dan agung.

Tapi bende si gong kecil, suaranya lebih kecil dan nyaring: “ Dung, dung, dung…” Dan walaupun kecil, jangkauan suaranya bisa mencapai satu kilometer bahkan lebih, tergantung medannya, apakah tertutup atau terbuka. Itulah sebabnya Pak Bende selalu menggunakan bende.

Setiap hari Pak Bende menyusuri jalanan di seluruh kota. Pada setiap perempatan, Pak Bende berhenti dan memukul bende-nya beberapa kali: “Dung, dung, dung…” Kemudian ia akan berbicara dengan suara sangat nyaring, bagaikan menggunakan pengeras suara. Ucapannya pun sangat jelas. Mungkin karena itulah ia diangkat sebagai juru penerang. Pak Bende berbicara cukup panjang dan menggunakan bahasa Jawa Tinggi.

Ia berkata, “Woro woro, poro piyantun kakung miwah putri—pengumuman bagi para priyayi pria maupun wanita. Lanjutnya, “Ing dalu meniko bade wonten pagelaran ringgit wacucal—pada malam ini akan diadakan pertunjukan wayang kulit…”

Demikian seterusnya dan seterusnya. Semua orang di sekitarnya akan mendengarkan apa yang disampaikan Pak Bende dengan saksama. Mereka yang merasa kurang pendengarannya mulai mendekat supaya bisa menyimak lebih jelas apa yang dikatakan Pak Bende.

“Wah, informasi yang disampaikan Pak Bende selalu cukup banyak,” Ompa memperhatikan dengan penuh kekaguman. Misalnya tentang wayang kulit, tempat pertunjukan, mulainya jam berapa, siapa dalangnya, dan apa lakon yang akan dimainkan. Tetapi bukan itu yang membuat Ompa paling terkesan, melainkan karena Pak Bende selalu dapat menyampaikan semua itu tanpa menggunakan catatan.

“Hmmm… mungkinkah karena Pak Bende tidak bisa baca-tulis, maka ia hanya menggunakan ingatannya?” Dan bersama dengan setiap pertanyaannya yang tak terjawab itu, Ompa kecil pun semakin penasaran tentang kemampuan ingatan Pak Bende ini.

Maka suatu hari Ompa diam-diam sengaja mengikuti Pak Bende. Nah, benar juga, pada setiap pemberhentian selalu ada saja informasi yang terlewat untuk disampaikan. Kadang-kadang Pak Bende lupa menyebut nama dalangnya, tempat pertunjukan, atau yang lainnya. Pantas saja setiap selesai satu pengumuman, selalu ada saja orang yang mendekatinya untuk menanyakan tentang apa yang lupa diinformasikannya tadi. Dan Pak Bende dengan sabar dan bangga selalu melayani pertanyaan orang-orang itu.

Pernah suatu kali Ompa mengingatkan Pak Bende bahwa ada lagi yang kelupaan untuk disampaikan. Pak Bende kaget, memandang ke arah Ompa, dan menarik napas panjang. Lalu ia berjalan meninggalkan Ompa sambil berkata, ”Yo, wis ben wae—Ya, sudahlah, biarkan saja.” Setelah itu tanpa merasa bersalah ia pun melanjutkan perjalanannya sebagai juru penerang.

Kedatangan Pak Bende selalu dirindukan segenap warga kota Wonogiri. Satu minggu saja Pak Bende absen, seluruh lapisan warga pun langsung gelisah bertanya-tanya. Tak peduli tua, muda, anak-anak, apalagi ibu-ibu. Mungkin itu karena Pak Bende orangnya ramah dan terkadang senang menggoda ibu-ibu.

Setiap kali terdengar suara bende sayup-sayup di kejauhan, semua warga kota langsung penasaran dan bersiap mendengarkan berita yang ia sampaikan. Tapi kadang-kadang tiba-tiba suara bende menghilang, padahal orangnya belum lewat di tempat kami. Jika itu terjadi, orang-orang pun ribut, bertanya-tanya ke manakah laki-laki kurus itu. Ternyata Pak Bende sedang beristirahat sambil makan di warung.

Pak Bende selalu menjalankan tugasnya dengan setia dan tak kenal lelah. Ia menyusuri jalanan kota Wonogiri dari pagi hingga petang. Dengan hanya menggunakan bende dan suara nyaringnya, ia mampu mewartakan berbagai berita yang ditunggu-tunggu seluruh masyarakat kota Wonogiri.

Setiap kali matahari telah bersembunyi di balik Gunung Gandul, Pak Bende pun pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya. Ia merasa senang dan puas, tahu seluruh rakyat Wonogiri saat itu merasa senang setelah mendengar kabar malam itu akan ada pergelaran wayang kulit semalam suntuk di Pendopo Kabupaten, Wonogiri. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Rosi L Simamora

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi