GUNUNG GANDUL

HARI ini, cita-citaku untuk mendaki Gunung Gandul akan segera tercapai. Bukit ini menjulang tinggi di sisi barat kota Wonogiri. Aku bersama empat orang temanku di SDN 3 Wonogiri sudah berkumpul di stasiun kereta api kota Wonogiri.

Stasiun ini letaknya tepat di kaki Gunung Gandul. Kami sudah siap, hanya tinggal menunggu kedatangan dua anak perempuan lagi yang sudah berjanji akan ikut mendaki bersama.

Sambil menunggu, iseng-iseng aku bertanya kepada teman-temanku, “Siapa yang pernah melihat Gunung Gandul ini dari seberang bukit, dari sisi barat?”. Mereka hanya melongo mendengar pertanyaanku itu, mungkin mereka tidak menduga ada pertanyaan semacam itu. Maka aku menjadi paham, bahwa mereka memang belum pernah melihat bukit ini dari sisi sebaliknya. Maklum, mereka semua dilahirkan di kota ini, yang terletak di sisi timur dari Gunung Gandul, sejak lahir mereka hanya melihat bukit ini dari sisi timur,

Sangat berbeda dengan diriku, justru pertama kali aku melihat Gunung Gandul ini adalah dari sisi sebelah barat. Begini ceritanya.

***

Akibat dari perang yang terjadi, beberapa tahun lalu aku dan keluargaku mengungsi dari kota Solo ke kota Wonogiri ini dengan menggunakan kendaraan truk besar. Sepanjang perjalanan itu aku  berdiri di pinggir bak truk bagian depan yang membuatku bisa dengan jelas menikmati pemandangan selama perjalanan.

Dengan truk besar ini, dari kota Solo kami menuju ke arah selatan, melewati jalanan yang datar dengan pemandangan yang indah. Kami melewati banyak persawahan, desa-desa. Semakin ke selatan aku bisa melihat dengan jelas bahwa kondisi tanahnya terlihat semakin gersang dan kering.

Setelah truk kami berbelok menuju ke arah timur, aku dikejutkan oleh pemandangan yang menarik. Jauh di hadapanku terlihat sebuah perbukitan yang tinggi, yang membujur dari utara ke selatan. Bukit-bukit ini bagaikan sebuah barisan, ada yang rendah dan ada yang tinggi. Deretan perbukitan ini semakin lama semakin dekat, membuat diriku semakin bersemangat dan bergairah.

Ketika aku menoleh ke kanan aku melihat, di atas salah satu puncak bukit yang tertinggi, ada  bukit lagi berwana kehitaman. Ini sangat berbeda dengan deretan bukit lainnya yang berwarna coklat tanah. Pemandangan ini sangat menarik perhatianku.

“Pak, itu batu atau bukit?” tanyaku pada seorang bapak yang duduk dibelakangku. Bapak itu menjawab sambil matanya hampir terpejam menahan kantuk, “Itu bukit batu,” katanya lirih. Wah ini luar biasa, pikirku, mungkin ini adalah keajaiban dunia! Ada sebuah batu raksasa yang tumbuh di puncak bukit! Aku kemudian berpikir keras tentang hal ini, sambil tetap menatap kagum kepada bukit batu ajaib itu.

“Itu namanya Gunung Gandul nak, ” kata si bapak itu kemudian tanpa aku harus bertanya. Rupanya dia tahu bahwa aku sedang memperhatikan bukit batu tersebut, Gunung Gandul.    Mendengar nama itu spontan aku melihat ke arah langit diatas batu itu. Batu sebesar itu nggandul  (menggantung) kemana? Aku sudah berusaha mencari-cari tetapi tidak kutemukan seutas talipun yang menggantung batu itu.

Kemudian aku memberanikan diri untuk bertanya lagi ke bapak tadi, “Pak, mengapa namanya Gunung Gandul?”. Dijawabnya singkat, “Yo embuh! – Entah ya!” Mendengar jawaban itu, aku menjadi paham, artinya titik. No more question, ia tidak mau aku bertanya lagi. Tapi bukankah aku tidak boleh mudah menyerah? Aku harus mencari akal. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya aku menemukan pertanyaan lain, yang bukan tentang Gunung Gandul.

Aku bertanya, “Pak, Wonogiri masih jauh ya?”. Eh, bapak itu menjawab juga, “Nggak jauh lagi, setelah kita melewati bukit di depan ini, belok kanan, di situlah Wonogiri, dibawah Gandul.”

Wah, kota Wonogiri letaknya ada di bawah Gunung Gandul?  Jawaban itu membuatku semakin bersemangat dan penasaran tentang kota Wonogiri beserta Gunung Gandulnya ini.

Tiba-tiba truk kami berhenti di pinggir jalan, hanya sebentar, rupanya ada beberapa orang  yang akan turun di sini. Sewaktu aku melihat ke keatas tebing di sisi kanan jalan di lereng perbukitan itu, aku dikejutkan lagi oleh sebuah pemandangan yang  juga sangat menarik. Aku melihat ada sebuah batu yang sangat besar, sebesar gedung bertingkat tiga.

Batu yang bentuknya lonjong seperti telur itu bertengger di pinggir tebing curam tersebut. Yang aneh dan menarik adalah, batu besar itu di bersandar pada sebuah pohon.

Pohon itu terlihat sudah sangat tua umurnya. Kulitnya terkelupas, mungkin karena kelelahan memangku batu raksasa itu. Bagiku, terus terang ini agak mengerikan. Kalau tebing curam itu longsor atau pohon itu tumbang karena tidak kuat lagi menahan batu, maka batu sebesar itu akan jatuh dan menutupi seluruh jalan raya. Aku tak berani membayangkannya.

“Batu itu namanya Plintheng Semar, sudah seperti itu sejak ratusan atau mungkin malah ribuan tahun yang lalu,” kata bapak yang tadi duduk di belakangku sambil bangkit berdiri. Plintheng Semar?

Lagi-lagi aku mulai berpikir keras, sambil membayangkan. Kalau batunya saja sebesar itu, lalu sebesar apa plintheng (ketapel) nya? Dan sebesar apa pula pak Semar nya? (Semar adalah nama seorang tokoh dalam dunia pewayangan).

Belum selesai aku mencoba mengkalkulasinya, truk kami sudah mulai bergerak lagi menuruni jalan memasuki kota Wonogiri. Kini di hadapanku terhamparlah pemandangan kota Wonogiri yang mempesona.

Tetapi kemudian kepalaku kembali dipenuhi dengan berbagai pertanyaan menarik yang belum juga terjawab. Gunung Gandul, menggantung dimana? Plintheng Semar, sebesar apa plinthengnya dan sebesar apa Semarnya? Semua pertanyaan itu harus kutemukan jawabannya. Menurutku ini sungguh menantang.

***

            Akhirnya, kedua anak perempuan yang kami tunggu-tunggu, yang mau ikut mendaki, tiba juga di stasiun tempat mereka berkumpul. Kedua anak perempuan ini terlambat cukup lama.

Hal ini membuat aku agak jengkel sambil kemudian berpikir, maklum, salah satu dari mereka adalah si Vinny. Seorang anak perempuan yang merasa, paling cantik di kelasku. Tetapi kenyataan sebenarnya Vinny memang cantik, berbeda dengan anak-anak perempuan lainnya. Kulitnya kuning langsat, seperti anak orang Belanda, mungkin karena alasan itu dia suka sok merasa paling cantik. Dan mungkin karena alasan itu juga lah, dia suka bergaya acuh tak acuh terhadapku.

Akhirnya kami siap memulai pendakian ke puncak Gunung Gandul. Kami menyeberangi rel kereta api dan jalanan langsung menanjak. Awalnya kami melewati perkampungan, setelah itu melewati jalan setapak yang menanjak curam. Baru setengah perjalanan teman-temanku sudah tampak kelelahan, mereka minta beristirahat dibawah pohon.

Aku merasa sedikit jengkel berjalan bersama mereka. Sudah jalannya lambat, sering beristirahat pula. Sambil tertawa dalam hati aku berpikir, Mungkin di situlah bedanya, mereka itu kan anak rumahan yang “kurang gizi”, sedangkan Ompa anak berandalan, pemakan serangga, tapi “kelebihan gizi”.

Setelah beberapa jam berjalan akhirnya kami mencapai puncak, yaitu di kaki bukit batu itu. Pemandangan dari tempat itu sungguh indah. Kami bisa melihat kota Wonogiri dan sungai bengawan Solo dengan jelas. Tetapi aku berpikir dan mengamati sekitar, lokasi ini bukanlah puncak yang sebenarnya. Menurutku yang dinamakan puncak sebenarnya adalah puncak di atas Gunung Gandul, di atas bukit batu itu.

Kebanyakan orang kalau sudah tiba di bawah bukit batu, mereka anggap mereka telah mencapai puncak Gunung Gandul. Menurutku pendapat itu salah kaprah. Karena dari sisi timur, untuk mencapai puncak bukit batu itu harus memanjat sebuah tebing tegak lurus keatas.

Kemudian aku berkata kepada semua teman-temannya, “Ayo, siapa yang mau ikut saya ke puncak batu di atas sana?”. Mereka semua kaget. Ada yang memandangku dengan pandangan memelas yang seolah mengatakan, “Ampun…” Ada yang tiba-tiba lari ke belakang semak-semak, entah mau apa ke sana.

Karena tidak ada diantara mereka yang berani ikut, maka aku pun berjalan sendirian menuju ke bukit batu itu.

Aku tidak mendaki dari sisi timur, tetapi aku merayap dulu menuju ke sisi barat. Tentu saja aku berani melakukan ini karena aku pernah melihat batu ini dari sisi barat.

Aha… , ternyata perkiraanku benar. Seperti yang pernah kulihat dari sisi barat dulu, di sisi ini  ternyata tanahnya lebih tinggi, sehingga menjadi lebih mudah untuk mencapai puncak batu itu. Apalagi aku tinggal mengikuti bekas jejak-jejak kaki pendaki sebelumnya saja yang ada di bebatuan itu.

Namun mendekati puncak, ada kesulitan menghadang: batunya terbelah dua! Oh, oh, apa yang harus  kulakukan? Aku berpikir sejenak… Ya, ya, aku akan merayap naik melewati terowongan belahan batu itu. Keluar dari terowongan itu, aku tinggal memanjat dinding batu sekitar sepuluh meter lagi.

Setelah berjuang keras memanjat, sampailah aku di puncak sebenarnya dari Gunung Gandul ini. Aku juga menemukan ada dataran di puncak, tapi hanya sekitar lima meter saja lebarnya dan miring. Membuat aku harus ekstra hatihati.

Aku puas dan bangga. Dari puncak itu aku bisa melihat dengan jelas ke seluruh arah. Timur, barat dan seluruh perbukitan yang membujur dari utara ke selatan.

Selama perjalanan turun, Vinny, temanku anak perempuan yang (sok) Belanda itu, selalu berjalan di sampingku. Ia menyimak mendengarkan cerita ‘kepahlawanan’ku, kisah perjuanganku memanjat tebing tadi.

Tentu saja cerita itu telah kutambahkan dengan bumbu-bumbu, agar terlihat bahwa diriku lebih hebat dibanding teman-temannya yang lain. Sementara aku berjalan dan mengobrol berdua bersama Vinny, anak-anak lainnya mengikuti kami dari belakang, mereka diam saja. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan