DEMAM PERANG

Beberapa hari terakhir ini aku merasa galau dan mudah marah. Ini semua karena aku dan teman-temanku telah dilarang bermain perang-perangan lagi.

Para orang tua kami mengeluarkan larangan itu karena mereka menganggap bahwa memang perang telah selesai. Apa lagi permainan perang  antar kampung yang biasa kami lakukan itu selalu meninggalkan bekas ‘kerusakan’ yang menurut mereka cukup parah.

Banyak tanaman di pinggir jalan dan di kebun jatuh terkapar bertumbangan. Di atas jalanan, halaman bahkan atap rumah dipenuhi bubuk warna putih bagaikan salju. Keadaan ini semua terjadi karena kami bermain perang-perangan dengan cara saling melempar ‘granat lontong’ yaitu kantong kertas yang bentuknya seperti lontong dan diisi dengan bubuk kapur, atau gamping.

Para orangtua di seluruh kota dengan tegas menganggap bahwa kota Wonogiri telah aman. Tetapi aku sungguh tidak setuju. Menurutku perang belum sepenuhnya selesai, karena aku masih merasakan adanya ‘demam perang’ yang melanda, baik bagi anggota Geng Anak Gragas dan juga bagi semua anak-anak di Wonogiri. Aku pun jujur mengakui bahwa level ‘demam’-ku lah yang paling tinggi dan parah. Karena itu aku tegas tidak setuju dengan adanya larangan permainan perang-perangan itu.

Kemudian aku kumpulkan semua anggota GAGAS, Geng Anak Gragas, di basecamp kami, di dekat kuburan di tepi sungai Bengawan Solo. Aku sampaikan gagasanku kepada mereka.

“Wahai teman-teman seperjuangan, sadarlah, kita tidak bisa tinggal diam saja menghadapi pelarangan atas kegiatan main perang-perangan ini!” Para anggota GAGAS duduk rapih menyimak pidatoku yang kali ini berapi-api. Aku lihat mereka menyetujui akan pandanganku ini, mereka mendengar sambil mengangguk-anggukan kepala.

“Teman-temanku, inilah saatnya, sudah tiba waktunya kita semua harus bergerak dan melakukan sebuah aksi. Ayo, sesegera mungkin kita akan mengadakan sebuah….. Sandiwara Perang!.

Kemudian kusampaikan garis besar dari rencana tersebut dan menyatakan bahwa Sandiwara Perang ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, pekan depan.

Yang akan menjadi tim inti dari pertunjukan ini adalah seluruh anggota GAGAS. Mendengar ini posisi duduk mereka semakin tegak, mengambil sikap sempurna, sambil mata mereka menatap ke arahku dan seakan berkata, “Siap, komandan!”.

Aku pun bergerak cepat. Tempat pertunjukan pun sudah kutetapkan, yaitu di teras depan rumah Pak Mojo, di Jalan Jurang Gempal. Teras depan rumah itu cukup luas, dan terbuka, hanya dibatasi dengan pagar tembok setinggi pinggang yang berlubang-lubang, sehingga bisa kelihatan juga dari luar. Sebagai panggung kami akan menggunakan kamar tamu depan yang pintunya cukup lebar.

Aku pun langsung menghadap ke pak Mojo, ayah angkatku, dan menyampaikan rencana besar tersebut yang akan menggunakan teras depan dan ruang tamu miliknya. Seperti biasanya, Pak Mojo, jika sudah melihat sikapku yang menggebu-gebu seperti itu, beliau hanya diam, itu tandanya ia tidak setuju dan tidak menolak. Dan aku pun dengan cepat langsung menganggap bahwa pak Mojo telah setuju.

Langkah berikutnya adalah mencari pemain. Aku akan melibatkan teman-teman SD-ku, termasuk kakak-kakak kelasku, yaitu kelas empat sampai kelas enam. Aku kemudian mulai menyebarkan berita, dari mulut ke mulut, bahwa aku akan mengadakan sebuah Sandiwara Perang.

Berita tersebut dengan cepat menyebar. Aku bisa merasakan hal itu, karena kemanapun aku berjalan, anak-anak memandang diriku dengan penuh kekaguman. Beberapa anak bahkan sengaja mendekatiku, bertanya tentang rencana sandiwara ini. Tentu saja aku tahu, bahwa mereka mendekatiku karena berharap akan terpilih menjadi salah satu pemain sandiwara ini.

Kemudian aku menunjuk empat orang anak yang akan memerankan tentara Belanda. Caraku memilih keempat orang anak ini cukup mudah. Asalkan mukanya cukup tampan, kulitnya tidak terlalu gelap, dan hidungnya tidak pesek.  Mereka semua aku kumpulkan di Posko, yaitu di kebon kosong di seberang sekolah, di bawah pohon kenari. Aku katakan kepada para calon ‘tentara belanda’ itu.

“Kalian semua harus bangga karena terpilih, ini bukti bahwa kalian itu cukup tampan.” Mereka kelihatan sangat senang dengan pujian dariku ini. “Kalian harus beritahukan kepada orang tua kalian akan rencana ini, ingat, beri tahu bukan minta ijin.” ujarku.

“Dan jika ada orang tua kalian yang tidak setuju, kalian akan aku ganti dengan anak lainnya. Rupanya caraku ini berhasil. Keesokan harinya mereka semua membawa kabar bahwa orang tua mereka mendukung, bahkan ada seorang ibu yang akan membuatkan seragam tentara Belanda untuk keempat anak itu. Mendengar itu aku hanya senyum-senyum kecil sambil mengangguk-angguk. Padahal di dalam hati aku bersorak keras kegirangan.

Dengan cara yang sama aku pun menunjuk pemeran-pemeran lainnya: tentara kita, juru rawat, rakyat, dan lain-lainnya. Bantuan dari para orang tua pun mulai banyak mengalir. Mungkin para orang tua itu juga sudah tertular penyakit “demam perang”, terkena demam perjuangan para pahlawan kita. Atau mungkin kalau tidak mendukung mereka takut nanti dikira pro Belanda.

Begitulah caraku mempersiapkan sandiwara perang ini. Semua hal aku urus dan aku atur sendiri. Aku hanya mempercayakan kesuksesan proyek besar tersebut kepada anggota gengku, geng GAGAS.

Dengan rutin aku sering mengumpulkan mereka di posko, dibawah pohon kenari. Karena mereka inilah yang nantinya akan mempersiapkan panggung dan latar belakangnya.

Latar belakang panggung kami akan berupa hutan yang rimbun dan ada sedikit atap rumah dan sebuah bangku panjang di tengahnya. Untuk mempersiapkan itu semua, bagi anak GAGAS, bukanlah menjadi masalah.

“Darah!” kataku tiba-tiba. Mendadak aku baru teringat, bahwa darah sangat diperlukan untuk nanti dioleskan pada pemeran tentara kita yang luka-luka. Aku kemudian berpikir bahwa kita harus segera menghubungi rumah sakit.

Tetapi tiba-tiba Yahmin berkata, “Kalau perkara darah, biar aku yang urus.” Aku terbengong dan membatin, bagaimana caranya Yahmin akan mendapatkan darah?. Tetapi, seperti biasa, Yahmin berdiri sambil tersenyum dan lalu pergi memetik daun jati yang lebar dan kasar seperti amplas itu. Kemudian daun jati tersebut di remas-remasnya, dan ajaib, daun jati itu berubah menjadi berwarna merah seperti darah. Hebat kau Yahmin!

Maka, hari H yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sandiwara Perang sore ini akan dipentaskan. Aku mengambil keputusan bahwa tidak perlu gladi resik, aku berkata, “Ini adalah sandiwara perang, sandiwara ini minim dialog.”

Untuk setiap adegan, aku hanya memberikan garis besarnya saja kepada para pemain. Kuberikan arahan bahwa yang utama adalah adegan perang, saling menyerang. Tentara Belanda menyerang tentara kita, lalu kita balas dengan serangan gerilya. Lalu ada adegan seorang tentara kita yang luka dan ditolong oleh seorang suster cantik, berlanjut dengan adegan perpisahan antara suster cantik itu dengan tentara yang akan maju berperang.

Adegan terakhir adalah tentara Belanda diusir pergi oleh tentara kita. Jadi kebanyakan adalah suara tembakan dan bom, suara-suara ini akan dibuat menggunakan mesiu dari peluru sungguhan yang kami temukan dari sisa bekas perang yang lalu.

***

Sore itu para penonton mulai memenuhi teras depan rumah Pak Mojo. Pementasan Sandiwara Perang pun dimulai. Suara-suara ledakan mulai berdentuman. Bau mesiu menyengat tajam tercium hingga ke jalan raya. Orang-orang yang sedang lewat berbondong-bondong masuk ke halaman rumah Pak Mojo, mereka ingin menonton apa yang sedang terjadi.

Suasana tiba-tiba menjadi sunyi sewaktu adegan perpisahan antara suster cantik yang akan ditinggal kekasihnya ke medan perang. Terjadi dialog yang memilukan antara keduanya.            Aku pun sempat bingung, entah dari mana mereka dapatkan dialog yang panjang dan mengharukan itu. Mungkin mereka dilatih oleh orang tuanya. Aku sendiri sempat terkesima sampai-sampai aku tak sadar bahwa adegan itu sudah melewati batas waktunya.

Aku baru saja hendak berdiri untuk memotong adegan itu, ketika aku mengintip ke arah penonton. Aku melihat banyak penonton yang terharu, bahkan banyak ibu-ibu yang mengusap air matanya. Apalagi sewaktu suster cantik itu menyerahkan sapu tangannya kepada kekasihnya sebagai kenang-kenangan dan disimpan sewaktu dirinya berada medan perang.

Adegan terakhir sebagai klimaks adalah adegan sewaktu tentara Republik berhasil mengusir tentara Belanda penjajah dari kota Wonogiri. Semua penonton bersorak dan bertepuk tangan.

Sebagai penutup, semua pemain berdiri di depan panggung, untuk menyambut tepuk tangan penonton yang panjang itu. Aku pun kemudian maju ke depan, untuk memberikan pidato penutup.

Dengan lantang aku berkata kepada para penonton. “Bapak Ibu dan saudar-saudara sekalian, ayo kita semua menghormati para pejuang yang sudah membebaskan kita dari penjajahan. Para orang tua juga diharapkan menghargai anak-anak, merekalah kelak yang akan menggantikan para pejuang kemerdekaan kita itu.”

Sebagai akhir kata, Aku mengajak para penonton untuk mengucapkan tekad kita.

“Sekali merdeka……..”

Semua penonton menjawab serempak

“Tetap merdekaaa!!!…….”.

Demikianlah Sandiwara Perang pun berakhir dengan sukses. Aku sangat puas dan tidak galau lagi. ‘Demam’-ku sudah hilang. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan