GORO GORO
Aku benar-benar menikmati tinggal di kota yang indah dan sangat menantang ini, Wonogiri. Begitu banyak kota yang pernah aku kunjungi dan aku tinggali. Malang, Mojokerto, Jombang, Solo dan beberapa kota kecil lainnya. Setiap kota memiliki tempat untuk berpetualang. Tetapi Wonogiri adalah kota yang paling aku sukai.
Walau kota ini cenderung sepi, tetapi memiliki banyak tempat untuk dikunjungi dan juga segudang tempat bermain. Misalnya seperti Gunung Gandul, Bengawan Solo, Alas (hutan) Ketu dan masih banyak lagi. Belum lagi mengenai bahasa dan tata cara hidupnya yang berbeda dibandingkan dengan masyarakat Jawa Timur tempat aku tinggal. Untukku ini semua sangat menantang untuk diamati dan dipelajari. Rasanya hampir setiap hari aku menemukan hal yang sama sekali baru untukku. Sungguh mengasikkan.
Di kota kecil seperti Wonogiri ini, setiap kejadian sekecil apapun selalu menjadi bahan pembicaraan di masyarakat banyak. Seperti misalnya dua hari terakhir ini, hampir seluruh masyarakat kota, besar-kecil tua-muda sedang ramai membicarakan tentang akan adanya sebuah pergelaran Wayang Kulit semalam suntuk. Pertunjukan Wayang Kulit ini akan diadakan di rumah salah satu orang terkaya di kota ini, yang letaknya di lereng gunung di sebelah Utara kota Wonogiri.
Untungnya aku sudah memiliki teman-teman putra daerah, yaitu dalam bentuk geng, GAGAS, Geng Anak Gragas. Dari empat anak anggota geng ini hanya aku sendiri yang bukan anak asli Wonogiri. Aku adalah anak Jawa Timur. Tetapi, justru akulah yang mendirikan geng ini karena kami mempunyai kesamaan, yaitu nggragas, pemakan segala.
“Min, wayang kulit itu apa?” Aku bertanya kepada Yahmin, anak yang paling senior didalam geng, anak asli Wonogiri. Konon Yahmin adalah anak penggemar wayang.
Yahmin menjawab,
“Wayang itu adalah sebuah cerita kuno yang diceritakan dalam bentuk bayang-bayang, para tokohnya digambarkan di atas potongan-potongan kulit kambing”. Sepertinya Yahmin agak sulit untuk menjelaskan padaku, dia melanjutkan, “Ah sudahlah, nanti kamu lihat dan nonton sendiri saja.”.
Ia berpikir sejenak kemudian berkata,
“Nanti teman-temanku akan membantu supaya geng kita ini bisa duduk di dekat kotak wayang di samping pak Dalang.” Wah, aku menjadi tambah tak sabar menunggu hari mainnya pertunjukan wayang kulit ini.
Maka pada malam diadakannya acara wayang kulit itu, berangkatlah kami, Geng Anak Gragas. Kami akan menonton wayang kulit, semalam suntuk.
Suara musik gamelan Jawa terdengar sayup-sayup dari hampir seluruh sudut kota Wonogiri. Ini karena pertunjukan wayang itu diadakan di lereng gunung sehingga suaranya terbawa angin ke mana-mana. Kami berjalan ke arah Utara dengan penuh semangat, apalagi aku anak Jawa Timur, yang belum pernah sekalipun nonton pertunjukan wayang kulit.
Kami berjalan dengan cepat karena sudah tidak sabar lagi ingin cepat sampai. Kalau bunyi gamelan terdengar keras bertalu-talu, katanya itu sedang adegan perang, maka kami pun berlari. Tetapi kalau suara gamelan terdengar agak lebih pelan, itu tandanya sedang ada adegan ‘Jejer’, artinya sedang berkumpul untuk berdialog, maka kami pun berjalan biasa lagi.
Setelah, menaiki dan menuruni lereng gunung, sampailah kami di lokasi pertunjukan, di rumah yang besar milik orang terkaya itu. Begitu kami memasuki halaman rumah tersebut, aku terpesona melihat suasananya. Didepan pendopo telah dipasang tenda yang sangat besar. Area di bawah tenda itulah yang dipakai sebagai tempat pertunjukan. Pandanganku tertuju kepada sebuah layar dari kain warna putih yang sangat lebar. Dibawah layar itu ada dua susun batang pohon pisang yang melintang sepanjang layar itu. Di sisi kiri dan kanan layar yang biasa disebut ‘Kelir’ itu, berjejer puluhan wayang yang terbuat dari kulit kambing yang ditancapkan diatas batang pohon pisang itu. Wayang-wayang kulit itu berjejer sangat rapat, bahkan hampir saling bertumpukan satu dengan yang lain.
Semua wayang tersebut menghadap ke tengah kelir. Bagian tengah-tengah kelir itulah yang dikosongkan, dan dibatasi dengan ‘Gunungan’, atau gambar gunung. Di atas lantai, didepan kelir dan batang pohon pisang itu duduk pak dalang yang akan memainkan wayang kulit itu.
Di belakang pak dalang terdapat perangkat gamelan beserta para penabuhnya yang memakan tempat yang cukup luas karena begitu banyaknya jenis alat musik gamelan. Di belakang gamelan itulah tempat duduk para penonton. Ada yang lesehan, duduk diatas kursi atau sambil berdiri berderet, sampai ke pagar. Bahkan sampai ada yang berdiri di tepi jalan depan rumah.
Disisi kanan pak dalang duduklah para ‘pesinden’, para penyanyi. Sedangkan di samping kiri pak dalang ada sebuah kotak kayu yang tebal dan besar dan panjang. Kotak itulah yang sering dipukul oleh pak dalang dengan sebuah pemukul dari kayu, “Dhok, dhorodhok dhok..” demikian bunyinya. Bunyi ini adalah sebagai pertanda pergantian dialog antar peran wayang tersebut.
Di bagian belakang, di atas pak dalang, tergantung sebuah ‘Blencong’, yaitu semacam lampu atau lebih tepatnya obor. Blencong ini bentuknya seperti ceret, yang diisi dengan minyak tanah dan di moncongnya dipasang sumbu, sehingga nyalanya selalu bergerak-gerak kalau tertiup angin. Blencong inilah yang dipakai untuk menerangi layar dan wayang-wayang yang dimainkan oleh pak dalang.
Dari belakang layar sana kita hanya bisa melihat bayangan hitam dari wayang kulit, tetapi bayangan itu terlihat seperti bergerak-gerak karena sinar dari blencong di belakangnya.
Di pendopo, dibelakang layar, disanalah tempat para tamu terhormat duduk. Mereka tidak duduk di atas kursi menghadap ke layar, tetapi mereka duduk lesehan, menghadap ke meja-meja pendek bundar. Mengapa? Rupanya para tamu terhormat itu menonton wayang kulit tidak dengan matanya, tapi dengan telinganya, karena mereka sambil sibuk main kartu!
Aneh, mereka pun ramai ribut sendiri, apalagi kalau ada yang menang, mereka berteriak keras-keras sambil membanting kartunya. Aku sebenarnya merasa kasihan kepada pak dalang yang sedang bercerita serius sesuai lakon wayang malam itu. Tetapi hal tersebut rupanya sudah biasa terjadi, jadi tidak ada yang tersinggung kecuali aku, mungkin.
Nah, lalu, dimanakah tempat untuk anak-anak? Tempat paling terhormat untuk anak-anak adalah di samping kotak, bersebelahan dengan pak dalang. Diatas tikar seluas dua kali dua meter itulah area yang diperebutkan oleh puluhan anak yang ingin menonton dengan jelas. Perebutan tempat duduk di samping kotak itu sangat keras dan terkadang kasar. Mereka saling gusur, dorong dengan mata melotot. Mereka yang terkuatlah yang bisa menguasai tempat itu. Disinilah peran Yahmin, senior di geng kami. Yahmin telah mengutus teman-temannya, anak-anak jagoan, untuk datang lebih dulu untuk ‘menduduki’ tempat terhormat itu.
Yang mulai aku amati dengan serius adalah pak dalang. Dia adalah orang yang luar biasa. Dia bisa ‘nembang’ – nyanyi dengan suara yang sangat merdu. Dia bisa menirukan suara bermacam-macam peran, puluhan mungkin ratusan peran. Setiap peran suaranya berbeda, ada yang rendah dan berat, ada yang sengau, ada yang cempreng merepet. Suara itu bisa berubah dengan sangat cepat, terutama pada saat terjadi dialog antara beberapa peran. Pak dalang konon harus menguasai lakon-lakon atau judul cerita yang jumlahnya banyak sekali. Malam itu lakonnya adalah “Petruk Dadi Ratu”— Petruk menjadi raja.
Tiba-tiba ada sebuah suara yang mengejutkan kami semua. Pak dalang memukul kotaknya dengan sekeras kerasnya dan berulang-ulang. Anak-anak yang berada di samping kotak, yang tadinya semua tertidur seperti puluhan ikan lele mati yang berserakan, serentak melompat terbangun dan langsung memusatkan perhatian ke layar. Inilah yang sudah mereka tunggu-tunggu, yaitu GORO GORO.
Goro goro, mungkin artinya adalah huru-hara yang sangat dashyat. Pak dalang melagukan suasana huru-hara ini dengan suara keras seperti ini, “Bumi gonjang ganjing, langit kelap-kelap katon…”—Bumi bergoyang-goyang dan langit bergemerlapan oleh halilintar….
Semula kukira “keributan” ini dibuat untuk menyambut kedatangan sesosok Dewa yang sangat berkuasa di langit dan bumi. Tetapi ternyata yang muncul adalah Semar dan anak-anaknya Gareng dan Bagong. Mereka adalah rakyat kecil dalam dunia pewayangan. Mereka adalah punakawan atau pelayan, yang membantu dan mendampingi sang Arjuna, seorang satria dari Amarta.
Lalu mengapa anak-anak ini sampai begitu semangat dan terbangun dari tidurnya? Rupanya karena dalam bagian Goro-goro inilah bahasa yang dipakai adalah bahasa rakyat, bukan seperti pada bagian atau adegan lain yang menggunakan bahasa Kawi yang sulit dimengerti oleh anak-anak seperti kami. Bahasa Kawi hanya dimengerti oleh mereka yang seudah biasa menonton wayang.
Dalam adegan ini terjadi dialog antara kiyai Semar dengan anak-anaknya Gareng dan Bagong. Lalu dimanakah Petruk, yang juga anaknya Semar? Dalam lakon ini, Petruk sedang minggat dan menjadi raja di sebuah kerajaan lain. Maka dalam cerita ini Semar dan kedua anaknya itu sedang mencari Petruk yang menghilang. Pada akhirnya mereka menemukan Petruk, yang sedang duduk di singgasana kerajaannya. Ada adegan lucu yang aku ingat, yaitu Petruk, meskipun sudah menjadi ‘raja’ dan duduk di singgasana, tetapi kelakuannya ya masih seperti rakyat.
Dalam cerita itu ‘raja’ Petruk ingin mempunyai permaisuri, tetapi ia menolak semua putri-putri cantik yang ditawarkan untuknya, tak ada satupun yg membuat ia tertarik. Tiba-tiba Sang ‘raja’ Petruk melihat seorang perempuan yang melintas di ruangan itu. Lalu ‘raja’ Petruk berteriak, “Lha, itu, itu, aku mau sama yang baru lewat tadi!”.
Seluruh punggawa kerajaan mencari perempuan yang baru lewat tadi, ternyata perempuan itu adalah mbok-mbok tukang pel lantai. Adegan ini membuat semua penonton tertawa.
Di akhir lakon itu, Semar, bapaknya Petruk, berhasil mengembalikan anaknya menjadi rakyat kembali. Dan mereka kembali ke habitat semula, menjadi rakyat, abdi dari sang Arjuna, satria dari Amarta, salah satu dari lima bersaudara, Pandawa lima.
Pagi itu aku pulang menuruni gunung dengan perasaan senang dan puas. Aku telah punya pengalaman menonton Wayang Kulit, semalam suntuk. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: SR Kristiawan

Tinggalkan komentar