cso Trem CSO Trem-Jakarta.jpg-386x290

.

“UDEH?..

“Udeh?!” ujar Om No menyambut kedatanganku di rumahnya, di Jalan Kramat Pulo, Jakarta. Dia menyambut aku khusus menggunakan bahasa Betawi, sebagai ucapan selamat datang di Jakarta. Dan aku pun menyambut salamnya itu dengan kata, ”Udeh!”. Kami pun sama-sama tertawa, sebagai ungkapan rasa rindu kami. Maka sejak saat itu, sampai aku dewasa dan berkeluarga, setiap bertemu kami selalu mengucapkan salam “udeh”. (Maksudnya “Sudah?…)

Om No, sudah beberapa tahun tinggal dan bekerja di Jakarta. Om No dan aku memiliki kesamaan yaitu sama-sama suka berpetualang, dia tahu pasti itu. Esok paginya, sebelum Om No berangkat ke kantor, dia menyelipkan uang ke kantongku sambil mengedipkan sebelah matanya. Maka mengertilah aku bahwa uang itu adalah uang sakuku, guna “menjelajahi” kota Jakarta. Ini pasti akan seru, sebab inilah kali pertama aku mengunjungi Ibu Kota ini.

Tak berapa lama kemudian aku sudah di depan rumah di tepi Jalan Kramat Pulo. Aku berjalan menuju ke kanan, karena aku melihat dari kejauhan bahwa di sana ada sebuah jalan raya. Rupanya itu adalah Jalan Kramat Raya. Jalan itu lebar sekali. Aku duduk di pinggir jalan di depan gedung bioskop Rivoli, cukup lama aku di sana. Aku mengamati, banyak kendaraan umum kecil yang berlalu-lalang, bernama Opelet. Tapi orang suka memnyebutnya dengan Ostin. Ostin sebetulnya diambil dari nama merek mobil yang dibuat menjadi Opelet tersebut. Mereknya Austin. Sebuah mobil sedan kecil yang memiliki suara mesin yang sangat halus itu belakangnya dimodifikasi, sehingga dalam mobil itu cukup untuk memuat enam orang penumpang dan satu orang duduk di samping pak supir.

“Mester, mester..”, teriak supir Ostin itu memanggil calon penumpangnya. Sedangkan di seberang jalan sana para supir berteriak, “Beos, beos..” Belakangan aku baru tahu, bahwa Mester, berasal dari kata “Meester Cornelis”, yang kemudian berubah namanya menjadi Jatinegara. Sedangkan Beos adalah nama lama dari Stasiun Jakarta Kota, yang lokasinya berada di ujung utara Jakarta. Beos adalah singkatan dari nama sebuah perusahaan Belanda yang mendirikan stasiun kereta api terbesar di Indonesia itu.

Aku mulai mengamati dan memperhatikan adanya sebuah rel kereta api di tengah jalan. Semula aku mengira rel itu seperti di kota Solo. Rel untuk “sepur kluthuk”. Aku sempat bertanya-tanya dalam hati, mengapa “sepur kluthuk” sahabatku bisa menyusulku sampai ke Jakarta ini? Bukankah jaraknya sangat jauh dari Jawa Tengah

Tetapi kemudian ada hal yang membuatku menjadi terkejut dan melongo lebar. Ada gerbong kereta yang berjalan sendiri tanpa lokomotif di atas rel itu. Ini sungguh merupakan suatu keajaiban, batinku. Tetapi setelah kuamati dan kuselidiki dengan seksama, ternyata di atas rel itu ada sebuah kabel yang tergantung di sepanjang jalur rel tersebut. Sedangkan di atas gerbong-gerbong tadi ada semacam tanduk yang bisa menempelkan kabel ke kabel yang tergantung itu. Itu adalah kabel listrik! Rupanya kereta ini yang dinamakan “trem listrik”. Sungguh canggih, pikirku.

Sekarang seluruh perhatianku tertuju kepada trem listrik yang berjalan mondar-mandir di depanku. Aku duduk di tepi jalan dan mulai mengamati. Kereta-kereta tanpa kepala itu ternyata banyak berjalan di sepanjang Jalan Kramat Raya. Di seberang Jalan Kramat Pulo, ada rel yang bercabang dan masuk ke dalam gang kecil. Wah ini bakal seru sekali, batinku mulai bergairah.

Kemudian aku melihat di beberapa kereta itu ada anak-anak kecil yang membonceng di tangga tempat naik turunnya penumpang. Anak-anak itu terlihat memakai celana pendek yang kumuh dan rambutnya terlihat awut-awutan, dan mereka tidak membayar karcis!

Aku pun segera berlari pulang ke rumah Om No di Jalan Kramat Pulo, mengganti celana pendekku dengan yang agak dekil. Tak lupa rambutku ku-acak-acak dengan jari tanganku. Dan kemudian aku pun sudah nangkring di atas tangga trem listrik itu seperti mereka. Ini luar biasa! Aku girang bukan buatan.

Sebelumnya sudah kupelajari caranya dari anak-anak itu, yaitu saat kereta sedang berjalan pelan, baru kita meloncat naik. Itu pun kita harus tahu pasti dulu, di mana posisi pak kondektur saat itu. Kalau pak kondektur sedang di depan, maka aku naik dari belakang, demikian juga sebaliknya. Begitu aturannya. Kalau pak kondektur berjalan mendekati tempatku, maka aku harus pura-pura mau turun di halte depan.

“Hei,… nanti kamu turun di halte depan, ya!” bentak pak kondektur mengejutkanku. Lalu aku jawab dengan bahasa Betawi, ”Iye, Pak — Iya, Pak”. Maka aku pun patuh, turun di halte berikutnya.

Tetapi kemudian aku meloncat lagi ke kereta yang berikutnya. Dengan main kucing-kucingan itulah aku mencoba menyusuri jalan-jalan di kota Jakarta ini.

Pertama-tama aku menuju ke arah Selatan menuju ke Mester, atau Jatinegara, melalui Salemba, di situ kelihatan ada sebuah rumah sakit besar, Sint Carolus, namanya. Kemudian melewati Matraman lalu sampailah di Mester yang ditandai dengan sebuah gereja kecil yang terletak di pojok jalan Jatinegara yang bercabang dua. Trem berbelok ke kiri, lalu melewati banyak pertokoan dan pasar Jatinegara kemudian belok ke kanan dan trem berakhir di daerah Kampung Melayu dan berputar balik ke arah Kota.

Aku sebenarnya ingin turun untuk melihat rumah kuno milik orang Belanda yang dulu adalah pemilik  daerah itu, Meester Cornelis. Tetapi rencana itu aku urungkan. Hari itu aku hanya ingin menghafalkan rute jalur trem listrik itu dulu.

Kereta pun berbalik kembali menuju ke pusat Kota Jakarta. Saat melewati Kramat Pulo, rumah Om No, aku tidak turun, kuteruskan perjalanan ke Utara melewati Senen dan Lapangan Banteng. Aku tertarik dengan lapangan yang sangat luas dan dikelilingi oleh jalan raya itu.

Konon, lapangan itu bernama Waterlooplein, artinya lapangan Waterloo. Nama tersebut diberikan oleh Belanda sebagai kenangan bahwa dulu di daerah Waterloo itulah Belanda pernah mengalahkan tentara Perancis. Nama Waterlooplein kemudian pada tahun 1942 diubah oleh Bung Karno menjadi Lapangan Banteng. Di pojok di seberang lapangan terlihat gereja Kathedral yang menaranya menjulang tinggi, jauh lebih besar dibanding gereja Kayutangan, gerejaku di kota Malang.

Tremku berjalan terus ke arah utara, sampai di Pasar Baru, kemudian belok ke kiri lalu menyusuri sungai Ciliwung yang membelah Kota Jakarta. Setelah sampai di Harmoni, trem berbelok ke kanan tetap menyusuri sungai Ciliwung. Akhirnya sampailah di Beos, stasiun kereta api Jakarta Kota yang megah dan indah itu. Setelah mencapai ujung dari rel trem listrik itu berputar kembali ke selatan menuju Mester, Jatinegara.

Sore harinya, hari sudah mulai gelap, aku pun turun di Jalan Kramat Pulo. Sesampai di rumah, Om No pun memberi salam, ”Udeh?” dan aku jawab, “Udeh!” Lalu aku tersenyum lebar kepadanya, dan dia mengerti itu pertanda bahwa petualanganku, perjalananku hari itu sukses besar. Hari itu aku baru sadar, bahwa ternyata, Jakarta adalah kota yang luar biasa besar untuk tempat berpetualang. Rasanya aku mulai tertarik untuk melanjutkan petualanganku di kota Jakarta ini. Untuk seumur hidupku. Semoga. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan