SUARA
Ya, suara. Buat anak-anak sepertiku yang berasal dari kota kecil, suara hiruk pikuk kota Jakarta ini sungguh menakjubkan.
Sudah beberapa hari ini aku, Pak Mojo dan bu Mojo tinggal menginap di Jalan Kramat Pulo ini. Suara-suara dari suasana sekitar rumah Om No ini sangat menarik perhatianku. Berbagai macam jenis suara baru berhasil aku tangkap di kota ini. Suara-suara yang hampir tak pernah kudengar di kota asalku, Wonogiri. Saat malam hari pun suasana sekitar Kramat Pulo ini yang sungguh meriah, padat dengan bermacam suara.
“Gubraakk..” Lagi-lagi aku dikejutkan oleh suara itu . Aku segera berlari menuju sumber suara tadi. Benar, tabrakan becak lagi. Tabrakan becak ini adalah yang kedua kalinya yang terjadi malam ini. Kembali aku menyaksikan berlangsungnya “adu mulut” antara kedua tukang becak, termasuk para penumpangnya. Ramai dan seru. Konon memang kejadian ini sering terjadi di Kramat Pulo.
Menurut pengamatanku, Jalan Kramat Pulo ini selalu ramai dari pagi hingga tengah malam. Jalan ini memang merupakan jalan pintas bagi kendaraan yang datang dari arah timur Senen yang akan menuju ke Kramat. Suara ribut ramai riuh rendah yang setiap hari terdengar itu umumnya berasal dari suara bel becak yang bermacam-macam bunyinya.
Ada yang berbunyi klining klining, jreng jreng atau jrek jrek, ada yang dok dok (asal pukul belakang bak becak), ada pula yang reketek, reketek, reketek.. Suara yang terakhir ini berasal dari alat pukul bel becak yang dimasukkan ke dalam jeruji roda. Dan uniknya, suara ribut itu kadang diselingi dengan suara, gubraak! Tabrakan becak.
Ada lagi suara lain yang juga menarik perhatianku. Yaitu suara nyaring, melengking bernada sangat tinggi dan “meliuk-liuk” dari penyanyi perempuan India. Suara itu makin jelas jika aku duduk sendirian di samping gedung bioskop Rivoli yang menghadap ke Jalan Kramat Raya. Dari dalam gedung bioskop itulah sering terdengar suara yang penyanyi India itu. Suara film India yang bocor keluar bioskop.
Bioskop Rivoli terkenal karena sering memutar film India. Bahkan gara-gara sering mendengar lengkingan suara penyanyi India itu, yang tajam bagaikan sembilu dan menyayat hati, sekarang aku memiliki dua jenis film favorit. Yaitu film perang dan film India.
Film India bagiku sangat menarik. Selalu menghibur. Dalam satu judul film saja, isinya lengkap. Ada tarian, nyanyian, kisah percintaan, sampai pertentangan budaya antara budaya modern dan asli India.
Saat itu sudah hampir pukul dua belas tengah malam. Aku belum bisa tertidur. Aku masih duduk di depan rumah Om No. Suara-suara di Jalan Kramat Pulo masih ramai. Ada suara becak, suara orang berjualan makanan, dan ada lagi suara sekelompok laki-laki yang duduk mengobrol dan berbicara keras-keras. Menarik dan aneh, karena sebenarnya mereka duduk saling berdekatan di sebuah warung.
Aku berjalan menuju ke warung, sumber suara itu, aku duduk di sebelah Pak Jali, penjaga keamanan di daerah ini.Usia Pak Jali sudah agak tua. Pendiam namun berwibawa. Ia orang Betawi asli. Oleh karena itu banyak orang memanggilnya babe (ayah).
“Be, kenapa mereka ribut sih, babe ngga tegur?”, tanyaku. Pak Jali menjawab dengan tenang, “Biarin aje die-die ribut, asal kagak ganggu keamanan. Die-die itu pendatang, bukan Betawi asli.” Melihat aku asik mendengar dan tertarik dengan penjelasannya, Pak Jali lalu melanjutkan penjelasanya. Ia mengatakan bahwa di Jakarta ini semakin banyak pendatang. Mereka datang dari berbagai daerah, ada yang dari Jawa, ada yang dari seberang pulau. Pak Jali juga menjelaskan bahwa ia bisa membedakan mana yang dari Jawa dan mana yang dari “seberang”. Caranya? Yaitu dengan mendengarkan suara gaya mereka berbicara. Ada yang halus, ada yang keras meledak-ledak. “Jadi ya biar saja. Inilah Jakarta.”, kata Pak Jali yang orang Betawi asli.
Hampir sudah jam dua dini hari. Kantuk mulai datang, aku berjalan pulang. Suara-suara di Jalan Kramat Pulo pun sudah mulai sepi. Di kesunyian itu aku jadi teringat akan pesan teman-teman sekolahku di SD Negeri Tiga di Wonogiri, ”Nanti, setelah pulang dari Jakarta, kamu harus cerita banyak, ya.” Hal ini yang mendorongku juga untuk mengisi liburan panjang ini dengan lebih banyak lagi berpetualang di Jakarta. Malam ini aku punya tambahan cerita untuk mereka semua, tentang suara.
Hampir pagi, aku harus tidur. Besok siap berkelana lagi, dengan Trem Listrikku. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Tinggalkan komentar