DINAMO DAN BERCO

Di suatu pagi aku membantu membersihkan sepeda ontel milik Om No, di rumahnya di Jalan Kramat Pulo, Jakarta. Sepeda ontel itu masih bagus dan mengkilat catnya. Mereknya Batavus. Merek yang cukup bagus, tetapi sepengetahuanku itu bukan merek yang paling mahal. Aku cukup tahu banyak mengenai sepeda ontel, karena sepeda sering menjadi pusat perhatianku. Sewaktu aku mengelap berco-nya, atau lampu depan sepeda, dan membetulkan kabel di bawah dinamo, aku jadi teringat akan masa kecilku, sewaktu aku masih di Sekolah Taman Kanak-kanak, TK.

***

Waktu itu aku berada di rumah Pak Mojo ayah angkatku, di Jalan Brantas di kota Mojokerto. Karena Pak Mojo memiliki sebuah sepeda, di situlah untuk pertama kalinya aku mengenal, memperhatikan dan mempelajari segala hal tentang sepeda.

Yang menarik perhatianku dari sebuah sepeda adalah lampu depannya. Lampu itu berupa lampu minyak, yang biasa disebut lentera sepeda. Lentera itu berbentuk kotak persegi empat, selebar sekitar sepuluh sentimeter, dan terbuat dari kaleng dan dicat warna hitam.

Di bagian bawah kotak itu ada tempat yang diisi dengan minyak tanah, dan atasnya diberi sumbu. Di bagian depan dan samping lentera itu diberi kaca, sehingga sinar lampu minyak di dalamnya bisa memancar keluar. Lentera itu dipasang di tengah, di bawah setang sepeda. Tentu saja sinar dari lentera itu sangat redup, sehingga hanya mampu menyinari sekitar satu meter di bagian depan sepeda. Mungkin memang lentera itu berfungsi hanya sebagai tanda saja bahwa ada sepeda di kegelapan malam, sehingga tidak di tabrak oleh kendaraan lain.

Setelah kami tinggal di Wonogiri, setelah mengakhiri perjalanan panjang mengungsi dari Mojokerto, aku sudah tidak melihat lagi lentera sepeda seperti itu. Sepeda, di kota Solo dan Wonogiri dinamakan pit. Kata “pit” itu berasal dari bahasa Belanda, fiets, yang artinya sepeda.

Di sana lampu sepeda sudah menggunakan listrik, yang biasa disebut “berco”. Berco ini dinyalakan dengan listrik yang dihasilkan dari sebuah“dinamo”. Dinamo ini berbentuk seperti botol kecil, yang kepalanya bisa berputar. Jika kepalanya ditempel pada roda sepeda saat roda sepeda berputar, maka kepala dinamo itu ikut berputar dan kemudian memutar kumparan kabel di dalamnya dan menghasilkan listrik untuk menyalakan lampu sepeda itu, berco.

Yang kuperhatikan, di kota Wonogiri ada banyak macam sepeda, dari yang bermerek sedang sampai yang sangat mahal. Yang harganya sedang misalnya merek Batavus. Sedangkan orang-orang kaya biasanya menaiki sepeda-sepeda mewah yang harganya lebih mahal. Misalnya Ndoro Dono, orang yang terpandang di kota Wonogiri, selalu “pit-pit-an” atau jalan-jalan menggunakan sepeda bermerek “Fongers”. Sepeda yang sangat bagus dan mengkilat catnya.

Sedangkan Pak Wahyu, seorang pengusaha sukses yang anaknya kukenal, memiliki sepeda mewah bermerek “Simplex”. Lengkap dengan segala asesorinya, berco yang mengkilat, sadel kulit penuh hiasan, pedal yang bisa memantulkan sinar gemerlap dan sebagainya. Ada juga seorang kaya, yaitu Pak Broto. Dari jarak lima puluh meter saja aku sudah tahu, bahwa Pak Broto akan lewat. Itu karena sepedanya, bermerek Reli edisi mewah, yang kalau jalan berbunyi ”tik, tik,tik”. Reli ini dari kata “Raleigh”, pabriknya di Inggris, dan sangat digemari oleh orang-orang kaya di Wonogiri.

Aku dan teman-temanku paling senang mengunjungi rumah Pak Wahyu. Kami berpura-pura hendak bermain bersama anaknya yang juga adalah temanku. Padahal sebenarnya kami hendak melihat-lihat sepeda mewah milik bapaknya.

Saat itu sepeda “Simplex”-nya sedang di parkir di depan rumah. Kami anak-anak, mengerumuni sambil mengagumi sepeda mewah tersebut. Tiba-tiba ada suara keras dari dalam rumah, “Ojo di demok-demok, yoo!”— jangan dipegang-pegang ya!

Kami pun serentak mundur satu meter dari sepeda mewah itu. Kami hanya bisa membahas sang “Simplex” itu sambil menunjuk-nunjuk saja. Kurang puas, tetapi aku tidak menyerah. Saat pak Wahyu sedang berada di dalam kamarnya, mungkin sedang tidur, diam-diam dengan gerak cepat kuperintahkan anggota gengku untuk mengangkat setang sepeda, lalu kepala dinamo kupasangkan ke ban roda depan, kemudian aku putar roda depan itu sekencang-kencangnya.

Dan terjadilah apa yang kami ingin lihat bersama. Berco itu memancarkan sinar ke tembok di depannya, sinar berwarna putih yang sangat terang menyilaukan mata. Penelitianku telah berjalan sukses! Kemudian kami letakkan kembali sepeda itu, dan kami pun cepat-cepat meninggalkan rumah itu. Anak Pak Wahyu, hanya bengong saja melihat kami semua pergi meninggalkannya.

***

Pagi itu aku telah selesai membersihkan sepeda Om No. Om No telah berangkat ke kantor. Hari itu aku tidak pergi jalan-jalan berpetualang, libur dulu. Melihat aku tidak pergi, Pak Mojo, ayah angkatku, menyuruhku membeli tembakau rokok. Entah mengapa siang itu aku agak malas berjalan kaki, sehingga aku pergi naik sepeda Om No.             Aku menuju ke Pasar Senen, ke sebuah toko tembakau. Setelah aku sandarkan sepeda ke tiang listrik di depan toko tembakau itu, aku masuk untuk membeli tembakau. Saat aku sedang menghitung uang untuk membayar, aku mendengar sebuah suara di belakangku, “kletek”. Anehnya, semua engkoh-engkoh yang menjaga toko itu melihatku dengan pandangan yang aneh. Tetapi aku tetap menghitung uang, lalu ku bayarkan seharga tembakau itu. Aku pun cepat-cepat kembali ke sepedaku, dan aku terkejut setengah mati.

Dinamo sepeda Om No, telah lenyap dicongkel dan dicuri orang! Aku baru sadar, bahwa bunyi “kletek” tadi adalah suara alat pencongkel itu. Aku berputar balik masuk ke toko, ingin protes, mengapa mereka tadi tidak memberi tahu saat sepedaku dicongkel. Mengapa mereka hanya memandangku dan diam saja. Tetapi para penjaga toko itu telah tidak ada lagi. Hanya ada seorang engkong-engkong, ‘kakek-kakek’ yang duduk di belakang etalase.

“Kong, kemana orang-orang yang melayani saya tadi?” kataku dengan nada marah. Si kakek tua itu hanya menatapku dengan mata kosong dan mengatakan “Haaa..?”.

Ah, aku pun sadar bahwa ini tidak ada gunanya untuk diteruskan. Dinamo yang hilang itu adalah karena kesalahanku sendiri. Aku masih marah. Rasanya ingin kulawan semua pencoleng (preman) di seluruh daerah Senen ini. Tapi, nyatanya, aku hanya bisa lemas dan berjalan pulang sambil sempoyongan menuntun sepeda Om No.

Suasana di rumah Om No siang itu pun menjadi terasa tegang atas kejadian tadi. Sewaktu Om No pulang dan kulaporkan kejadian hilangnya dinamo sepedanya tadi, dia hanya diam saja lalu masuk ke kamarnya. Ketegangan ini berlangsung sampai malam. Aku sangat menyesali kebodohanku. Aku hanya bisa duduk termenung sendirian.

Sekitar jam sembilan malam itu, tiba-tiba ada yang menepuk punggungku dari belakang. Rupanya itu Om No, sambil menunjuk ke arah jalan dia berjalan menuju ke kanan ke arah Kramat Raya. Aku sudah hafal, itu kode untukku bahwa aku harus mengikuti dia. Rupanya kami menuju ke penjual martabak India langganan kami, di halaman gedung bioskop Rivoli.

Om No memesan dua porsi martabak yang tebal dan lebar. Bagian martabak yang Om No paling doyan adalah acarnya. Memang rasanya manis pedas dan segar. Baru saja ia makan tiga potong kecil, Om No sudah minta tambahan acar. Urusan minta tambahan acar ini terjadi berulang-ulang.

Pada saat pesanan tambah acar yang keempat, maka orang India penjual martabak yang tinggi besar itu berkata,”Saya tidak jual acar, yaa!” Suaranya keras sampai terdengar oleh seluruh pembelinya. Om No dan aku tenang-tenang saja, karena martabak kami toh sudah hampir habis.

Pulang dari makan martabak India itu kami tertawa terbahak-bahak mentertawakan kejadian barusan. Kejadian ini bukan yang pertama kali, namun sudah sering terjadi. Setiap kami memesan tambahan acar yang keempat, penjual martabak itu selalu mengatakan hal yang sama, “Saya tidak jual acar, yaa!”

Malam itu aku merasa lega. Aku merasa bahwa dosaku menghilangkan dinamo sepeda Om No tadi siang telah diampuni. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan