AKU WONG WONOGIRI
Tanpa terasa liburan sekolahku sudah hampir usai. Tiba waktunya untuk kembali ke sekolahku di SDN 3 di Kota Wonogiri. Aku sudah bisa membayangkan bakal ada banyak acara untuk bercerita tentang Jakarta kepada teman-temanku di kelas tiga. Tapi biasanya kakak-kakak kelasku juga ikut mendengarkan jika aku sedang bercerita tentang hal apapun kepada mereka.
Aku merasa bahwa aku sudah cukup banyak bertualang di kota Jakarta ini. Tapi itu hanya cukup sebagai bahan untuk diceritakan saja. Untuk mengamati dan menyelidiki Jakarta yang sangat luas dan beraneka ragam ini, tidak akan cukup dengan waktu hanya dua minggu. Itu perlu waktu bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.
Trem listrik sekarang sudah merupakan sahabatku, yang dengan setia mengantarku tanpa bayar ke sudut-sudut Jakarta. Aku sudah mulai hafal dan menyukai wajah para kondekturnya, sedangkan mereka juga rupanya mulai mengenal wajahku yang menyebalkan untuk mereka. Kadang kalau pak kondektur mendekatiku, akumemasang muka manisku dengan senyuman lebar. Dia hanya melengos dan meneruskan jalannya sambil bergumam “Huh, dasar…”. Aku tidak paham apa makna kata itu. Tetapi itu bukan masalah, asalkan aku tidak disuruh turun dari kereta.
Aku sudah mengenal banyak tempat yang menarik di Jakarta ini. Dan aku juga belajar bahwa ternyata jakarta ini dihuni oleh banyak manusia yang berasal dari berbagai suku dan bangsa. Aku pernah bertemu dengan orang Arab dan Tionghoa yang sudah berbaur dengan penduduk asli Jakarta, orang Betawi. Saat aku berjalan-jalan di Pasar Baru, aku juga bertemu dengan banyak orang India. Mereka biasanya mempunyai toko yang menjual cita (kain) yang indah-indah.
Aku juga telah bertemu dengan orang-orang dari daerah-daerah lain di Indonesia. Misalnya dari Sumatera Utara atau Sumatera Barat. Mereka bisa dikenali dari bahasa atau logat yang mereka gunakan saat mereka saling berbicara dengan sesama mereka. Aku sering ikut asik mendengarkan saat mereka sedang mengobrol. Kelihatan bahwa mereka menikmati berbincang dengan menggunakan bahasa daerahnya. Mungkin juga mereka sedang merasa rindu dengan daerahnya, tanah kelahirannya.
Kalau orang-orang dari daerah Maluku, sering kulihat naik atau turun trem di daerah Kramat, atau antara Pasar Senen dan lapangan Banteng. Orang dari Madura kadang aku jumpai tersebar di Jakarta ini.
Di antara orang-orang yang berbicara dengan bahasa daerah masing-masing itu, terkadang terselip suara orang yang sedang berbicara bahasa Jawa dengan logat daerah Wonogiri. Aku tahu benar bahwa itu logat dari Wonogiri. Misalnya kalimat, “Wah, yo enak, no…”—wah ya enak itu. Kata “no” itu logat Wonogiri. “Lha wegah aku nek kon rono”—aku tidak mau kalau disuruh ke situ. Nah itu juga dari daerah Wonogiri. Ada juga orang Wonogiri yang merasa sudah menjadi orang Jakarte dan hanya mau menggunakan bahasa daerah Betawi,tapi itu juga dengan mudahku tebak bahwa mereka itu berasal dari Jawa.
Kata “gue”—saya, pasti “g” nya terdengar medok, atau berat. Namun ada pertanyaan yang selalu terlintas dalam pikiranku. Saat mereka berkumpul dengan sesama orang Wonogiri, mereka terlihat sangat nyaman, tapi mengapa ketika mereka sedang sendirian dan berhadapan dengan orang luar, mereka “berubah”, seperti tidak nyaman pada saat orang lain menanyakan asal daerah mereka? Apakah mereka malu bahwa mereka adalah orang Wonogiri?
Suatu siang, aku sedang duduk di sebuah warung di daerah sekitar Pasar Baru. Ada seorang pemuda yang berpakaian cukup bagus dan rapi keluar dari sebuah kantor di situ. Rupanya ia sedang beristirahat untuk makan siang di warung itu. Kelihatannya ia sudah akrab dengan pemilik warung dan berbicara dengan menggunakan bahasa logat Betawi. Dari caranya berbicaranya, aku langsung tahu bahwa ia adalah orang Jawa.
“Mas, Jawanya di (daerah) mana?”, Aku mencoba untuk membuka percakapan. “Solo, dik..” jawabnya singkat. Aku tahu, bahwa dia berharap aku tidak akan bertanya lagi, sehingga kata “Solo” itu bisa berarti di dalam kota Solo. Lalu aku mengatakan bahwa aku juga dari Solo dan menanyakan kepadanya Solo nya di daerah mana. “Ngidul, dik..”—ke selatan,dik. jawabnya juga singkat. Aku pun mulai menebak, “Oo, Wonogiri dong mas?” Dan tebakanku ternyata benar. Aku lalu mengatakan kepadanya, bahwa aku juga anak Wonogiri. Lalu aku bertanya, Wonogiri nya di daerah mana. “Ngidul, dik” dia sepertinya mulai malas untuk menjawab pertanyaanku. Kemudian aku sebutkan nama kota-kota kecil di sebelah selatan Kota Wonogiri: Wuryantoro, Eromoko… Jawabnya selalu sama, ngidul. Akhirnya dia mengaku juga bahwa ia berasal dari desa Pracimantoro.
Dalam hati aku berpikir, mengapa ia berusaha untuk “menutupi” nama desanya, Praci, dengan kota yang lebih besar, seperti Solo. Apakah mereka malu untuk mengakui daerah asalnya yaitu Wonogiri, karena saat itu Wonogiri merupakan daerah yang gersang dan kering yang sebagian besar lahannya hanya bisa ditanami dengan palawija?
Ah, aku jadi teringat akan Mbah kandungku, Mbah Kaligunting. Beliau adalah seorang kepala desa di tepi sungai Kaligunting, sekitar tiga puluh kilo meter di selatan kota Wonogiri. Mbah Kaligunting adalah kepala desa yang sangat disegani oleh warganya dan juga oleh masyarakat desa disekitarnya. Sangat berat beban mbah kandungku itu sebagai kepala desa di daerah yang sangat tandus itu. Saat musim kemarau, tanahnya bisa menjadi kering kerontang merekah lebar dan mengerikan.
Mbah Kaligunting memiliki sepuluh orang anak. Anak lelaki tertuanya adalah almarhum ayah kandungku. Sebagian besar anak dan cucu dari Mbah Kaligunting “diusir” dari Kaligunting, daerah gersang itu, untuk merantau. Dan sekarang anak cucu dan cicit dari Mbah Kaligunting sudah menyebar di luar desanya ke kota-kota, ke pulau-pulau dan benua.
Menurutku, karena kesulitan dan tekanan yang ada di daerah Wonogiri-lah yang akan membuat orang daerah Wonogiri menjadi orang yang tangguh. Mereka seharusnya tidaklah merasa rendah diri terhadap orang luar. Buktinya, semakin banyak saja orang Wonogiri yang sukses hidupnya di luar daerahnya.
Aku sangat bangga dengan desaku Kaligunting dan Mbah ku yang mengagumkanku. Kalau aku ditanya aku lahir dimana akan kujawab, Malang. Kalau ditanya lagi aku aslinya dari mana, akan kujawab Kaligunting, Wonogiri. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: SR Kristiawan

Tinggalkan komentar