ALAS KETHU
Suatu hari aku menaruh perhatian lebih kepada kata “semedi” (meditasi). Hal ini terjadi sejak aku melihat orang yang sedang duduk bersila di bawah batu raksasa Plintheng Semar. Batu Plintheng Semar itu terletak di sebuah tebing di tepi jalan di sisi Utara kota Wonogiri.
Saat itu temanku yang menjelaskan bahwa orang-orang itu sedang bersemedi. Menurutnya banyak orang yang bersemedi di Wonogiri ini, misalnya di alas Kethu (hutan Kethu). Ini membuatku jadi penasaran. Lalu kukumpulkan teman-teman gengku, Gagas, Geng Anak Gragas, di markas besar kami. Semua anggota Gagas itu adalah putra daerah Wonogiri, kecuali aku. Maka aku pun mengajukan pertanyaan kepada mereka tentang orang -orang yang ber-semedi tersebut.
“Ya, aku tahu banyak mengenai tempat orang bersemedi,” kata Yahmin, anak asli Wonogiri yang paling senior di geng Gagas. Lalu Yahmin menjelaskan, bahwa di daerah Wonogiri ini banyak sekali tempat untuk bersemedi. Misalnya di sekitar goa-goa, batu, kedung (bagian terdalam pada sungai), sendang (tempat penampungan mata air) dan juga tempat-tempat petilasan yang artinya adalah suatu tempat yang pernah disinggahi atau didiami oleh orang penting. Salah satu tempat petilasan atau peninggalan sejarah yang terkenal ada di .Alas Kethu.
Maka pagi itu kami berempat berangkat menuju ke Alas Kethu. Ternyata hutan ini tidak terlalu jauh letaknya dari kota Wonogiri. Kami berempat, mengambil jalan pintas. Yaitu dari rumahku di Jalan Jurang Gempal, menuju ke arah Utara, melewati kampung-kampung. Setelah keluar dari perkampungan itu, kami menerabas melintasi ladang-ladang singkong milik penduduk kampung tersebut. Setelah berjalan sekitar lima belas menit menyusuri ladang, sampailah kami di kaki sebuah gunung yang dipenuhi dengan pepohonan yang lebat. Gunung atau bukit ini tidak terlalu tinggi seperti Gunung Gandul. Tetapi jika berjalan dari bawah gunung, harus menanjak terjal untuk bisa sampai di puncaknya karena gunung ini berbentuk kerucut.
Lalu kami berempat mulai mendaki. Kami ini bagaikan semut-semut kecil yang sedang merayap menaiki “nasi tumpeng” raksasa. Rupanya hutan ini adalah hutan jati. Di kiri-kanan kami ditumbuhi pohon jati. Hutan ini berbeda dibandingkan gunung-gunung lainnya di daerah Wonogiri yang gersang.
Alas Kethu ini sangat teduh karena pohon-pohon jati tersebut menjulang tinggi. Jika pohon-pohon yang lain kebanyakan batangnya tumbuh bercabang-cabang melebar dan banyak rantingnya sehingga tampak rimbun, pohon jati berbeda, batangnya lurus menjulang ke atas. Karena itu kayu jati sangat terkenal dan harganya mahal. Di samping kayunya kuat kayu jati juga bisa dipakai sebagai tiang bangunan yang tinggi.
Yang unik juga dari pohon jati adalah daunnya. Daun jati sangat lebar dan permukaannya kasar seperti ampelas, sedangkan jika daun jati digores, maka akan keluar getah yang berwarna merah seperti darah.
Hampir setengah perjalanan kami berempat mendaki menuju puncak. “Kraak, kraak,kraak..” Itulah suara yang menemani perjalanan kami sejak memasuki hutan ini. Suara itu demikian kerasnya hingga menggema ke seluruh hutan.
Aku mulai menyadari dari mana datangnya suara-suara itu. Rupanya itu adalah suara yang berasal dari daun-daun jati yang telah kering. Daun-daun itu berbunyi saat kami melangkah dan menginjaknya. Daun jati kering ini sangat lebar dan memiliki tulang daun yang keras dan kaku, sehingga jika diinjak akan menghasilkan suara yang keras menggema.
Tiba-tiba aku punya ide. Aku minta ke teman-temanku untuk berjalan berderap seperti sedang berbaris. Dan, jadilah, langkah tegap kami itu terdengar di seluruh hutan itu bagaikan seribu tentara sedang berderap berbaris menuju puncak gunung tersebut. Luar biasa.
Setelah beberapa lama kami berjalan berderap dan hampir mendekati puncak, kami terkejut melihat seorang kakek yang sepertinya telah berdiri menunggu kedatangan kami. Ia lalu memberi tanda dengan tangannya. Ia meminta kami agar kami berjalan pelan-pelan saja. Kakek itu rupanya kurang senang mendengar keributan dari suara-suara yang kami buat tadi.
Sesampainya kami di puncak, aku melihat ada sebuah bangunan seperti rumah. Bagian luar bangunan itu penuh di kelilingi oleh orang-orang yang sedang duduk bersila. Aku baru sadar ternyata mereka itu sedang bersemedi. Pantas saja kami disuruh berjalan pelan-pelan tadi, karena mereka butuh ketenangan.
Aku mulai penasaran, apa sebenarnya yang ada di dalam bangunan itu. Semula kukira itu adalah sebuah makam, tetapi kelihatannya hanya sebuah batu. Aku lalu mendekati kakek yang menjaga tempat tersebut. Dia sedang duduk santai di bangku panjang di bawah pohon agak jauh dari rumah itu.
Aku mencoba menarik perhatian kakek itu dengan bertanya, ”Itu makam siapa, mbah?”. Ia terpancing oleh pertanyaanku tadi dan menjawab, ”Itu bukan makam, itu petilasan.” katanya. Kami pun duduk mengelilinginya. Kakek itu menghela napas panjang dan memang sepertinya adalah tugasnya untuk memberi penjelasan kepada siapapun yang bertanya mengenai tempat itu.
Kakek itu mulai menjelaskan, bahwa pada jaman dahulu kala, pada awal penyebaran agama Islam di Jawa, ada salah seorang dari Wali Songo, yang bernama Sunan Giri. Sunan Giri menjelajahi pulau Jawa, termasuk di daerah Wonogiri ini. Selain menyebarkan agama Islam, Sunan Giri juga mencari kayu yang baik untuk digunakan sebagai salah satu tiang penyangga Masjid Demak. Dan ternyata dia tertarik dengan gunung ini. Di saat sedang memilih kayu yang terbaik, ia beristirahat di puncak gunung ini dan melakukan salat di sini. Di atas batu, di dalam rumah itu, terdapat tanda bekas telapak kaki dari Sunan Giri.
Melihat kami berempat meyimak ceritanya dengan serius sambil mengangguk-angguk, kakek bercerita dengan lebih bersemangat. Konon, masa itu daerah ini masih merupakan hutan lebat dan bergunung-gunung. Di dalam penjelajahannya, Sunan Giri juga sambil memberi nama setiap daerah yang di laluinya. Maka jadilah nama Wonogiri. Wono, artinya hutan. Dan Giri, berarti gunung. Memang banyak nama-nama desa yang menggunakan kata “giri” di wilayah ini. Misalnya, Giriwoyo, Giritontro, Selogiri dan sebagainya. Mungkin karena kehabisan nama, maka ada sebuah kota kecil yang diberi nama kebalikan dari Wonogiri yaitu Giriwono.
“Lalu gunung ini diberi nama apa, mbah?” Aku bertanya kepada si kakek. Dia menjelaskan, bahwa, karena gunung ini bentuknya seperti gunung (maksudnya: kerucut), maka diberi nama Gunung Giri. Gunung, artinya ya gunung, sedangkan Giri, artinya juga gunung.
Setelah mengucapkan terimakasih pada sang kakek, kami, keempat anak anggota Geng Anak Gragas, berlari menuruni Gunung Giri, dengan melintasi Alas Kethu yang cukup curam itu. Kami menuju ke markas besar kami, di samping kuburan di tepi Bengawan Solo. Masih ada waktu berburu belalang, untuk santapan nanti sore. (*)
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Tinggalkan komentar