RUMAH BARU

Walau semula agak ragu, akhirnya Pak Mojo mengambil keputusan untuk pindah ke rumah baru. Rumah baru kami di Perumahan Rakyat di daerah Kajen, di belakang kabupaten.

Sebelum pindah, lebih dulu kami meninjau rumah yang hampir selesai itu. Rumah tersebut adalah salah satu dari sepuluh rumah batu yang bentuknya seragam dan saling berhadapan, ada lima rumah di setiap sisi. Ada perbedaan yang mencolok antara rumah lama kami di Jalan Raya Jurang Gempal, dengan rumah baru ini.

Rumah kami yang lama terletak di tepi jalan raya dan letak rumahnya lebih tinggi dari jalan. Sedangkan rumah baru kami ini letaknya di ujung sebuah jalan yang lebih kecil dan berbatu. Lokasinya lebih rendah dibanding jalan-jalan yang ada di kota Wonogiri. Ada dua macam perasaan bercampur aduk di dalam hatiku. Rasa berat meninggalkan rumah lama dan rasa penasaran akan lingkungan yang baru nanti.

Maka tibalah harinya, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku pindah dan menempati rumah baru kami itu. Semangatku makin tinggi setelah mencium aroma rumah baru. Bau cat tembok yang belum lagi kering serta debu semen yang kadang menyesakkan dada.

Aku senang sekaligus sedikit bingung membayangkan betapa banyaknya hal-hal yang nanti harus kuamati dan kuselidiki di daerah baru ini. Misalnya, perkampungan di sebelah kanan rumah kami setelah ujung jalan komplek, juga ada sebuah sendang, semacam kolam berbatu yang mengeluarkan air bersih dari mata air di bawahnya, letaknya di sudut jalan di atas komplek. Atau tetangga di depan rumah kami, yaitu Pak Wayat, yang rumahnya paling ujung dekat kampung. Konon ia adalah seorang pejabat tinggi dibidang keuangan. Pak Wayat langsung akan merombak dan memperluas tanah dan juga rumahnya.

Di tengah kebingunganku untuk memberi perhatian pada hal yang mana lebih dulu, tiba-tiba aku mendapat kunjungan mendadak dari sahabat-sahabatku, anggota Gagas, Geng Anak Gragas. Mereka langsung kuajak tur berkeliling rumah dan kebun. Mereka begitu kagum akan rumah baru ini, sementara aku begitu bangga.

“Halaman ini mau ditanami apa?” celetuk si Yahmin. Pertanyaan mendadak dari Yahmin itu serta merta memprovokasi pikiranku. Aku menjadi sadar, bahwa aku juga harus menaruh perhatian kepada halaman rumahku, ada halaman depan dan juga ada kebun di belakang rumah baru ini.

“Ayo, kita pergi ke Pertanian.” lanjut Yahmin, seakan membangunkanku dari kebingungan. Maka setelah meminta ijin dan juga sejumlah uang dari pak Mojo, kami berempat pergi berjalan kaki menuju ke Pertanian. Yang dimaksud dengan Pertanian, adalah sebuah tempat pembibitan aneka tanaman yang berada di pinggir kota Wonogiri.

Disana kami membeli bermacam-macam bibit tanaman, ada rumput gajah, bibit mangga harum manis dan mangga golek, tomat dan anggur. Sebagai tambahan aku juga membeli sebatang kayu dari batang pohon kelapa yang telah dilubangi di bagian dalamnya. Lubang ini yang akan berfungsi sebagai rumah bagi lebah madu. Aku sungguh bersemangat, karena ini adalah keinginanku sejak dulu, yaitu beternak lebah madu.

Kami juga membeli beberapa peralatan untuk berkebun. Seperti cangkul, arit, cetok dan ‘gembor’. Gembor adalah semacam ember, yang diberi moncong lebar, berlubang-lubang kecil untuk menyiram tanaman.

Maka dimulailah sebuah kesibukan di rumah baruku. Kalau di rumah Pak Wayat, yang di ujung komplek itu dipenuhi dengan tukang-tukang untuk membangun kembali rumahnya, maka di rumahku penuh dengan tukang-tukang kebun cilik yang juga sibuk dengan cangkul-cangkulnya. Alhasil selama tiga hari ini, anggota geng Gagas libur dan tidak beroperasi untuk berburu belalang, tetapi sibuk di rumah baruku.

Pada hari keempat, aku merasa puas melihat hasil kerja kami di kebun itu. Halaman depan telah ditanami rumput gajah, dibatasi dengan rumput krekot berwarna merah. Pada sisi kiri dan kanan halaman depan, tertanam pohon mangga golek dan mangga harum manis. Di kebun belakang ada tanaman tomat, anggur hijau dan ketela pohon. Tetapi dari itu semua aku paling tertarik dengan potongan batang pohon kelapa yang telah dilubangi tengahnya itu. Potongan ini kugantung di ujung paling belakang kebun, sebagai rumah lebah madu. Aku girang membayangkan bahwa sebentar lagi aku akan mempunyai bisnis madu lebah!

Setelah bekerja keras selama empat hari berturut-turut, kami berempat anggota Gragas duduk-duduk beristirahat bersama sambil membayangkan, bahwa dalam beberapa bulan lagi di sini akan ada sebuah taman yang indah dan teduh. Hari sudah siang saat kudengar teman-teman gengku itu tertawa cekikikan di teras belakang rumah. Aku penasaran. Ketika kuintip, ternyata mereka sedang makan siang. Mereka saling memperlihatkan isi piringnya sambil tertawa mengangguk-angguk. Dan apa yang mereka saling perlihatkan dan tertawakan ternyata bukanlah lauk yang mereka makan. Tetapi nasi, nasi putih!

Aku tersadar dan terharu. Memang setelah perang usai, perekonomian keluarga kami mulai membaik dan kami kembali bisa makan nasi putih lagi setiap hari. Tetapi bagi tiga sahabatku ini tidak begitu, buat mereka nasi putih tetap menjadi barang mewah. Mereka tinggal di desa yang miskin dan gersang. Makanan pokok mereka tetap ‘sego tiwul’, nasi dari gaplek (singkong).

Lewat jendela belakang, aku memandangi tiga sahabatku yang luar biasa itu, aku bersyukur dan merasa turut berbahagia. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K dan SR Kristiawan