PENUNGGU SENDANG
Sudah kumulai “proyek” pengamatan di daerah sekitar rumah baruku. Rumah baru keluarga kami ini terletak di kompleks Perumahan Rakyat, di daerah Kajen, di belakang kantor Kabupaten Wonogiri. Lokasi kompleks kami ini ternyata lebih dekat dengan pusat kota dibandingkan dengan rumah kami yang lama.
Dari jalan raya kota Wonogiri, tepat di seberang pasar ada jalan berbatu-batu yang menurun landai ke arah timur. Jalan berbatu itu berujung pada sebuah pertigaan. Di pertigaan jalan itu jika engkau menengok ke arah timur, akan terlihat dataran tanah yang rendah. Di atas dataran itulah adanya kompleks perumahan kami.
Dari pertigaaan jalan itu, jika engkau berbelok ke kanan atau ke arah selatan engkau akan menuju ke jalan Kajen. Sedangkan kalau engkau ambil jalan ke kiri, engkau akan tiba di jalan yang mengelilingi Kantor Kabupaten.
Nah, di belakang kantor kabupaten itu ada sebidang tanah. Di sana ada semacam kolam penampung air yang bersumber dari sebuah mata air yang tak pernah henti mengeluarkan air. Kolam seperti ini sering di sebut ‘sendang’.
Lebar sendang itu sekitar enam kali enam meter dan kedalamannya kurang lebih tiga meter. Kolam itu juga dikelilingi oleh tembok setinggi pinggang orang dewasa. Air segar lagi jernih itu terus memancar dari dalam tanah, tak pernah habis dan selalu tersedia cuma-cuma bagi masyarakat sekitar.
Di samping sendang itu terdapat sebuah pohon beringin yang tinggi dan rindang. Batangnya besar berlekuk tak beraturan sampai ke akarnya. Sulur-sulurnya menjulur bagai rambut-rambut panjang yang dikepang, membuat suasana di sekitarnya menjadi agak seram dan kadang membuat bulu kuduk bergidik. Lebih lagi di bawah pohon itu sering kutemukan sebuah ‘anglo’, tungku kecil dari tanah liat yang berisi arang menyala dan menyebarkan bau kemenyan.
Suatu pagi ketika aku sedang duduk sendirian di tepi sendang, tiba-tiba terjadi sebuah keributan. Orang-orang yang sedang mengambil air di situ terlihat berdebat dan ribut tentang sesuatu. Mereka beradu bicara sambil saling melongok dan menunjuk-nunjuk ke dalam sendang tersebut.
“Ikan-ikan itu harus segera di keluarkan. Ini kan air untuk diminum?!” kata seorang ibu yang kemudian disetujui oleh yang lain. Suasana mulai memanas ketika tiba-tiba seorang bapak tua berkata, “Ojoo…, iwak-iwak iki kagungane sing nunggu –Jangan, ikan-ikan ini adalah milik si penunggu.”
Penunggu yang dimaksud disini adalah nama alias dari sesosok halus yang tidak yang kasat mata, yang konon bersemayam di pohon beringin tersebut. Mendengar ucapan orang tua itu, semua orang terdiam seribu bahasa. Mereka saling memandang satu sama lain, lalu kemudian kembali melanjutkan kegiatannya masing-masing. Sementara kedua ekor ikan mas yang berada di dalam sendang itu terus berenang sana-sini tanpa peduli, saling berkejar-kejaran dengan asik.
Malam harinya aku mencari sebatang tongkat bambu yang kecil, sebuah peniti dan seutas benang. Untuk apa? Aku akan membuat sebuah alat pancing untuk memancing kedua ikan mas tersebut. Tetapi kalian pasti masih penasaran ya, dari mana datangnya ikan mas dua ekor itu?
Begini ceritanya. Aku mempunyai seorang teman baru di Jalan Kajen. Temanku itu memiliki sebuah kolam kecil di halaman depan rumahnya. Ia memelihara banyak ikan dari berbagai macam jenis, yang terbanyak adalah ikan mas.
Sehari sebelumnya dengan susah payah aku berhasil membujuknya untuk memberikan padaku dua ekor saja dari ikan-ikan mas miliknya. Ia mengambil sebuah ember, mengisinya dengan air, dan kemudian memasukan dua ekor ikan mas seukuran telapak tanganku. Malamnya saat suasana sudah sepi, aku pergi ke sendang dan diam-diam menuangkan air beserta ikan yang ada di emberku itu kedalamnya. Itulah sebabnya mengapa tadi pagi terjadi keributan karena orang-orang tiba-tiba mendapati ada dua ekor ikan mas di dalam sendang.
Sebenarnya memang sudah sejak lama aku ingin mencoba belajar memancing ikan, tapi tak pernah kutemukan tempat untuk itu. Ketika melihat sendang itulah aku menemukan ide untuk memenuhi hasratku untuk belajar memancing. Maka sebuah pancingan sederhana dari bambu yang kubuat sendirilah yang kugunakan untuk memancing.
Setiap hari saat tidak ada orang dan sendang sedang sepi, aku melakukan percobaanku memancing 2 ekor ikan mas itu. Pada hari pertama usahaku gagal, karena umpan yang kugunakan saat itu hanyalah butiran nasi. Seorang teman kemudian menasihatiku untuk menggunakan umpan cacing tanah. Esoknya, dengan umpan cacing tanah itu aku berhasil menangkap seekor dari dua ekor ikan mas itu.
Hilangnya satu ekor ikan mas dari dalam sendang itu membuat orang-orang menjadi gempar. Mereka percaya bahwa satu ekor ikan mas itu sudah dimakan oleh si “penunggu” sendang. Pada hari yang ke lima, barulah aku berhasil memancing ikan mas yang satunya lagi. Dan orang-orang menjadi lebih heboh lagi. Mereka percaya bahwa semua ikan itu sudah dimakan habis oleh sang “penunggu”, sosok halus yang tinggal di pohon beringin yang seram itu. Keesokan harinya situasi di sendang kembali normal, tak ada lagi gangguan dari adanya kehadiran ikan mas peliharaan “penunggu” sendang.
Akhir kata aku pun merasa sangat puas, bukan hanya karena akhirnya keinginanku untuk belajar memancing telah terwujud, tetapi kemampuan memancingku telah teruji dengan sangat baik. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronika K & SR Kristiawan

Oktober 2, 2015 at 16:17
Woooowwww keren pak
Simple tapi bnyak sekali makna nya
SukaSuka
Oktober 2, 2015 at 16:36
Terimakasih banyak mbak.
SukaSuka