LAMPU DI ATAS LANGIT

Aku akan mengunjungi desa Kaligunting lagi. Ya, aku akan kembali berkunjung ke rumah mbah kandungku yang kepala desa itu. Sebenarnya belum lama sejak terakhir kali aku berkunjung kesana, baru sekitar enam bulan yang lalu saat aku baru masuk kelas 1 SDN 3 Wonogiri.

Kunjungan pertamaku enam bulan lalu itu sungguh sangat berkesan. Bermain gamelan, mengambil air di sungai, dan merebus singkong rebus tanpa air. Semua itulah yang membuatku ingin datang lagi serta memperluas pengamatanku tentang desa Kaligunting, termasuk juga kepala desanya yaitu mbah kandungku, Mbah Kaligunting.

Kali ini aku dijemput oleh pak lik di stasiun Baturetno, stasiun terakhir rel sepur kluthuk. Dari Baturetno ini kami berjalan kaki menyusuri jalan yang juga pernah dulu aku lalui. Aku masih ingat rute ini. Aku masih ingat kebun-kebun singkong yang luas ini dan juga tanah-tanah yang gersang merekah mengerikan karena kekeringan selalu melanda wilayah ini. .

Ketika kami tiba di sungai yang pertama, ternyata sungai itu sedang banjir. Seorang bapak penduduk desa setempat menyarankan kami untuk menunggu sekitar 1 jam menunggu air surut. Pak lik menerima saran bapak tadi, kami menunggu karena untuk menggunakan jembatan yang ada kami harus berjalan berputar sejauh 10 kilometer lagi. Ternyata benar, setelah kami menunggu kurang lebih 1 jam, air sungai mulai sedikit surut.

Walau telah surut tetapi ketinggian air masih mencapai dada orang dewasa, arus juga masih cukup kuat, sehingga pak lik kemudian memanggulku. Proses menyeberangi sungai ini selalu menegangkan dan seru.

Sekitar 100 meter sebelum tiba di rumah Mbah Kaligunting, aku sudah tidak sabar lagi, aku berlari sekencang-kencangnya ingin bertemu lagi dan melepas rindu dengan Mbah Kakungku.

Sama seperti kunjunganku pertama kali 6 bulan yang lalu, Mbah Kakung menyuruh para pengawalnya untuk memetik beberapa buah kelapa muda. Lalu aku duduk bersama Mbah Kakung dan Mbah Putri juga bersama pak lik dan bu lik. Sambil duduk mataku terus melirik dan tak bisa terlepas dari perangkat alat musik gamelan yang ada di dekat situ. Untunglah mereka mengerti apa yang ada di dalam pikiranku.

“Yo kono, nggamel kono… — Ya sana main gamelan dulu sana,” kata Mbah Kakung padaku. Aku pun berlari ke arah alat musik yang bernama “bonang”. Lalu aku mulai memainkan gending (lagu) yang sudah pernah aku pelajari dulu, yang aku sudah mulai hafal, judulnya Sampak.

Sampai sore aku bermain gamelan sendirian. Dari “bonang”, aku berpindah ke “cente”. Cente adalah sebuah alat gamelan yang terdiri dari bilah-bilah kuningan yang bernada dan terletak diatas kotak kayu yang pendek. Cara memukulnya memakai pemukul semacam palu yang terbuat dari kayu. Suara yang dihasilkan nyaring sekali. Karena suaranya yang nyaring, cente berfungsi sebagai melodi dalam setiap lagu. Gending yang kumainkan masih sama, Sampak.

Dari cente, aku berpindah ke alat gamelan lainnya, yaitu “gambang”. Gambang terdiri dari bilah-bilah kayu. Tiap bilah tersebut memiliki nada yang berbeda. Gambang ini juga diletakan di atas kotak kayu yang rendah tapi lebih panjang, karena jumlah bilahnya lebih banyak. Alat pemukul gambang ini berupa dua buah tongkat kecil yang pada ujungnya terdapat bulatan dan terbungkus dengan kain.

Karena terbuat dari kayu, gambang ini suaranya pelan dan halus. Aku pun sudah bisa bermain dengan dua tangan sekaligus. Tangan kanan memukul melodinya, sedangkan tangan kiriku mengiringi melodi itu dengan variasi. Gendingnya bukan Sampak, karena gambang hanya di mainkan pada gening-gending yang pelan dan lembut. Sungguh mengasyikan.

Setelah bosan bermain gamelan, aku menuju ke kebun di halaman depan. Rupanya petugas desa dan pak lik sudah menyiapkan api unggun. Saat itu sedang musim ubi jalar dan jagung, sehingga kami pun pergi ke ladang memetik beberapa buah jagung dan menggali tanah mencari ubi jalar.       Kemudian mulailah kami berpesta jagung bakar dan ubi rebus tanpa air. Ubi rebus tanpa air ini dimasak dengan cara ‘dibenem’. Yaitu dibungkus menggunakan daun pisang yang tebal dan dibenamkan pada bara api di bawah abu yang berwarna putih.

Seperti biasa, setelah menikmati hasil bumi dari ladangnya Mbah Kakung ini, aku berlari ke sungai. Di sana aku mandi seperti seakan-akan berenang, padahal sungainya dangkal, hanya setinggi pahaku.

Setelah itu, juga seperti biasanya, Mbah Kakung mengajakku duduk di meja yang besar di dalam rumah itu untuk makan malam. Kami hanya berdua makan di meja makan itu, sementara yang lain menunggu di dapur, termasuk Mbah Putri. Kalau Mbah Kakung membutuhkan sesuatu, misalnya tambah lauk, Mbah Kakung akan berteriak dan Mbah Putri yang akan datang melayani. Setelah itu Mbah Putri kembali duduk di dapur.

Setelah selesai makan malam, aku di kejutkan oleh suara ramai yang datangnya dari luar rumah. Suasana begitu ramai dan meriah oleh suara anak-anak kecil. Aku mendadak takjub dan bersemangat. Dari mana datangnya anak-anak sebanyak ini?

Semakin malam semakin banyak anak-anak dan pemuda pemudi yang mengalir berdatangan ke rumah Mbah Kakung. Aku pun sempat diajak oleh mereka untuk ikut serta dalam kemeriahan itu. Aku menolak, karena seperti biasa aku ingin mengamati terlebih dahulu.

Kulihat ada bermacam-macam kegiatan di halaman itu. Ada yang bernyanyi, menari, ada yang bekejar-kejaran hingga ada yang bermain petak-umpet yang mereka sebut “jelungan”. Aku tertarik dan memperhatikan sekelompok anak-anak dan orang-orang muda yang bergandengan tangan membuat lingkaran yang besar. Mereka menyanyikan lagu yang berjudul “Lir Ilir”. Di tengah-tengah lingkaran ada orang yang menari. Lagu ini ternyata bermakna untuk mengundang anak-anak lain yang belum hadir, untuk ikut berpesta malam itu.

Seorang anak lelaki datang dan mengajakku untuk bermain ‘jelungan’. Satu orang di suruh menutup matanya di bawah pohon. Sedangkan anak-anak lain termasuk aku menyebar bersembunyi. Anak yang menutup mata, berteriak, “Wisss…? Wisss…? — Sudaaaah? Sudaaah?” berulang-ulang. Selama masih ada yang bilang “Duruuunng — beluuuuum,” ia belum boleh membuka matanya untuk mencari kami.

Aku ngacir berlari ke tengah ladang dan bersembunyi di bawah rumpun pohon jagung. Cukup lama aku di sana, tetapi entah mengapa tidak ada yang datang mencariku. Aku kemudian keluar dari tempat persembunyianku dan kembali ke tempat permainan. Mereka tertawa terbahak saat melihat kedatanganku, ternyata aku telah melanggar peraturan permainan. Tempat bersembunyi seharusnya hanya boleh di dalam lingkungan rumah Mbah Kaligunting. Tidak boleh keluar dari area halaman rumah, apalagi sampai ke tengah ladang.

Kemudian ada seorang gadis menarik tanganku, aku diminta untuk berbaring telungkup di atas tanah. Lalu ada beberapa tangan yang diletakan di atas punggungku. Kemudian mereka menyanyikan lagu yang berjudul ‘Cublak-Cublak Suweng’. Aku bisa merasakan ada yang menekan tangan-tangan di punggungku secara bergantian.

Pada refrain lagu itu, mereka semua mengangkat tangannya dari punggungku lalu membuat genggaman. Mereka bertepuk tangan dengan hanya menggunakan jari telunjuk saja. Pada saat itu aku harus bangkit dan harus mencari siapa diantara mereka yang ada batu dalam genggamannya. Permainan yang sangat menarik.

Keriaan malam itu makin meriah saja. Aku terkagum karena acara ini bagaikan sebuah pasar malam yang tanpa lampu. “Lampunya” berada jauh di atas langit. Yaitu bulan purnama, yang malam itu bersinar bulat sempurna bagaikan lampu neon yang bersinar dan menerangi seluruh desa ini. Ya, malam ini adalah malam terang bulan!

Mbah Kakung dan Mbah Putri duduk berdua di pendopo sambil mengamati kami semua yang sedang bermain. Aku yakin ada rasa bahagia di dalam hati mereka berdua, melihat keluarga besar bersama rakyatnya berbaur menjadi satu. Bergembira dan bermain di halaman rumah mereka, rumah seorang kepala desa.

Malam itu semua penduduk desa bergembira. Melupakan sejenak segala penderitaan atas kekeringan, masa paceklik dan kesulitan hidup yang sedang melanda mereka. Mereka bersukacita hingga lewat tengah malam. Suasana saat itu bagaikan kata-kata di dalam syair terakhir dari sebuah lagu keroncong terkenal ciptaan R. Maladi yang berbunyi seperti ini.

“Di bawah sinar bulan purnama,

Hati susah jadi senang,

Si miskin pun yang hidup sengsara,

Di malam itu bersuka.”

(*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K & SR Kristiawan