AKU INI SIAPA?

Pada suatu hari dalam perjalanan pulang dari Kaligunting menuju Wonogiri, aku duduk sendirian di dalam sepur kluthuk. Masa itu aku baru saja naik kelas ke kelas 3 Sekolah Dasar. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah suara, “Hey, siapakah sebenarnya kamu ini?” Suara itu sungguh mengejutkanku, aku hampir terloncat dari kursiku.

Suara itu ternyata datang dari dalam diriku sendiri. Diriku yang bersembunyi pada salah satu sudut di dalam hatiku. Setelah sirna rasa kagetku, aku mencoba untuk berpikir dan kemudian berusaha untuk menjawabnya seperti ini.

“Aku ini siapa? Aku dilahirkan di kota Malang. Sewaktu aku masih bayi, aku di titipkan oleh orangtuaku ke rumah Mbah Tanjung, di Jalan Tanjung Gang Dua, Malang. Aku dititipkan disana karena ayah kandungku meninggal dunia”.

Sebenarnya pertanyaan mengenai “Aku ini siapa?” sudah mulai terngiang beberapa tahun sebelumnya. Yaitu pada hari aku mengetahui bahwa ibu kandungku sendirilah yang menitipkan dan meninggalkanku di rumah Mbah Tanjung. Tetapi karena waktu itu aku masih sangat kecil, pertanyaan itu dengan cepat terlupakan.

Kesibukanku sebagai anak-anak dengan mudah menyapu dan menyingkirkan pertanyaan tersebut. Aku asyik menjalani kehidupan masa balitaku di Jalan Tanjung dan kemudian bersekolah di Taman Kanak-kanak di Jalan Semeru, Malang.

Tetapi tiba-tiba aku dipindahkan ke kota Mojokerto, ke rumah Mbah Mojo, adik dari Mbah Tanjung. Aku harus tinggal di situ untuk seterusnya karena aku telah resmi diangkat sebagai anaknya. Kemudian aku di beritahu oleh Mbah Mojo bahwa aku tidak boleh lagi memanggilnya dengan panggilan ‘mbah’, tetapi dengan panggilan Pak Mojo. Aku mulai bingung.

Berikutnya, Pak Mojo melarangku memanggil Om No dan Om Nu dengan panggilan ‘om’, tapi menjadi ‘mas’. Sehingga aku harus memanggil mereka dengan Mas No dan Mas Nu. Aku bertambah bingung.

Bahkan Pak Mojo memberiku daftar nama-nama seluruh anggota keluarga besar dengan perubahan panggilan nama-nama mereka satu per satu. Yang tadinya ‘pak’ jadi ‘mas’, yang tadinya ‘mbah’ jadi ‘pak’, yang tadinya ‘mas’ jadi ‘nak’. Nah di saat itulah aku tidak hanya menjadi bingung, tapi menjadi pusing tujuh keliling. Aku menjadi limbung dan bertanya-tanya dalam hati, “Aku ini siapa sebenarnya?”

Belum lagi adanya semacam “tekanan” yang kurasakan di tengah kondisiku yang sedang bingung dan galau saat itu. Yaitu ketika ada keluarga yang berkunjung ke rumahku, rumah Pak Mojo di Mojokerto. Setiap kali aku menyaksikan terjadinya perdebatan seru antara pihak keluarga kandungku dengan Pak Mojo sebagai ayah angkatku. Aku tak paham betul hal apa yang mereka perdebatkan mengenai diriku. Aku hanya menyaksikan dan mendengar sendiri mereka ribut berhari-hari tanpa ada kesimpulan dan titik temu.

Diriku ini, yang menjadi topik utama perdebatan mereka, tidak pernah sekalipun ditanya tentang bagaimana pandanganku tentang semua hal itu. Tak pernah mereka bertanya padaku mengenai apa sebenarnya yang kubutuhkan sebagai seorang ‘anak’ atau anggota keluarga.

Bisa jadi karena mereka semua menganggap bahwa aku masih terlalu kecil, aku masih anak TK, aku belum mampu berpikir seperti mereka. Tetapi menurutku, mereka semua, orang-orang dewasa itu seharusnya mengerti, bahwa aku juga punya perasaan. Memang aku mungkin belum mampu untuk memikirkan dan mencernanya, tetapi aku sudah mampu untuk merasakannya. Aku memiliki “rasa”.

Hal-hal seperti inilah yang sering membuatku menjadi galau dan sedih. Sekiranya saja saat itu ada yang menanyakan kepadaku, apa yang sebenarnya kubutuhkan, akan kujawab, hati. Yang kubutuhkan adalah hati. Namun seperti biasa perasaan itu teralihkan oleh kegiatanku sehari-hari, bermain sebagaimana layaknya anak-anak kecil.

Kegemaranku adalah bermain sambil mengamati dan menyelidiki segala sesuatu. Apalagi dalam suasana perang seperti waktu itu, aku memiliki kesempatan untuk mengamati banyak hal. Aku mengamati bagaimana caranya pesawat tempur Belanda menjatuhkan bom. Aku mengamati bagaimana tembakan-tembakan meriam Belanda di tujukan ke arah tentara kita.

Kondisi perang itu jugalah yang akhirnya membawaku dan keluarga mengungsi ke arah barat. Berawal dari kota Malang, ke Mojokerto berakhir di Wonogiri. Kota yang hanya berjarak sekitar tiga puluh kilo meter dari Desa Kaligunting, desanya Mbah Kakungku. Tuhan rupanya sudah memiliki rencana untuk mengarahkan diriku ini untuk mendekat kepada “akar garis darah”-ku, Mbah Kaligunting. Kakek kandungku, ayah dari ayahku.

Rencana Tuhan pula yang mengirim Om No, anak Mbah Tanjung di Kota Malang yang secara mendadak muncul di Wonogiri. Om No yang dulu sering membuliku saat aku masih kecil di Malang, ternyata adalah seorang om yang “satu hati” dan sangat menyayangiku. Om No adalah malaikatku, orang yang selalu berusaha mendekatkan aku kembali ke keluarga kandungku.

Om No jugalah yang berhasil membuat Pak Mojo mengijinkanku untuk bertemu dengan Mbah Kaligunting di desanya. Itu adalah kali pertama aku berjumpa dengan kakek kandungku sendiri, akar garis sedarahku.

Setiap kali aku berada di desa Kaligunting, tinggal bersama mbah kandungku dan keluarganya, selalu ada perasaan nyaman yang kurasakan. Di sana aku merasa diperhatikan, diberi kasih sayang yang lebih, dan di-aku-kan. Aku merasa bahwa mereka semua membagi dan memberi hati mereka untukku, dan memang itulah yang sebenarnya selama ini kudambakan dan kubutuhkan.

Pada suatu hari Mbah Kaligunting, yaitu Mbah Kakung dan Mbah putri datang berkunjung ke rumahku di Wonogiri, ke rumah Pak Mojo ayah angkatku. Suatu malam, di ruang tengah, Mbah Kaligunting terlibat pembicaraan serius dengan Pak Mojo. Setiap kali aku berjalan lewat di ruangan itu mereka selalu menghentikan pembicaraan. Aku yakin bahwa mereka sedang membicarakan tentang aku. Tangan mereka sering menunjuk-nunjuk ke arah kamarku sambil bicara dengan muka tegang.

Keesokan harinya Mbah Kakung dan Mbah Putri pulang. Aku mengantar mereka ke stasiun kereta api. Tiada sepatah kata pun yang mereka ucapkan selama perjalanan menuju ke stasiun. Begitu pula pada saat aku mengantar sampai ke atas kereta bahkan sampai ke tempat duduk mereka.

Mbah Kakung hanya diam saja, beberapa kali memandangku seakan mau mengatakan sesuatu, tetapi kemudian si Mbah memalingkan muka dan melihat keluar jendela. Begitu berulang-ulang hingga akhirnya aku pun turun, karena kereta sudah akan segera berangkat.

Aku tidak tahu apa sebenarnya yang ada di dalam hati Mbah Kakung dan Mbah Putri.. Sewaktu kereta mulai berjalan, aku melambaikan tangan sambil berteriak dalam hati, “Mbaah… aku mau ikuuut..” Dari dalam sepur klutuk itu Mbah Kakung hanya memandangku. Pandangan Mbah Kakung yang semakin lama semakin menjauh itu seakan berkata kepadaku, ”Sing sabar yo lee… — Yang sabar ya cucuku.”

Sepur kluthuk itu terus berjalan ke arah selatan. Tetap kupandangi kereta itu sampai tak mampu kulihat lagi, terhalang setumpuk air yang menggenang di mataku. Tinggallah aku sendirian dengan sebuah pertanyaan yang belum juga terjawab, “Aku ini siapa?” (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K & SR Kristiawan