ENTHUNG JATI

Aku adalah pendiri geng GAGAS, Geng Anak Gragas di Wonogiri. Gagas beranggotakan empat orang anak, yaitu Yahmin, Giman, Katno dan aku sendiri. Dari keempat anak itu hanya aku sendiri yang bukan anak asli Wonogiri. Aku anak dari Jawa Timur, yang lahir di Malang. Tetapi justru akulah yang mendirikan geng ini. Kata Gragas, yang kalau di Wonogiri di sebut Grangsang, artinya adalah ‘pemakan segala’. Apapun dimakan, asalkan tidak beracun. Markas besar kami berada di samping kuburan, di tepi Sungai Bengawan Solo.

Kegiatan Gagas adalah bertualang, keluar masuk kampung, ladang, semak belukar dan hutan. Tujuan utama kami adalah untuk mencari makanan tambahan. Kami sudah bosan dengan apa yang kami makan sehari-hari. Apalagi kalau sedang masa sulit. Sego tiwul (nasi dari singkong) dan lauknya tanpa daging. Padahal kami berempat adalah pemakan daging. Jadi naluri itulah yang membuat kami jadi gragas atau grangsang. Dan yang paling mudah dicari dan paling sering kami makan adalah serangga. Serangga yang paling sering kami makan adalah belalang. Jadi kami sering disebut pemakan belalang.

Rupanya di Wonogiri ini banyak juga penggemar serangga. Para penggemar serangga ternyata ada peringkat-peringkatnya. Yang menentukan peringkat ini adalah aku sendiri. “Peringkat pemula”, adalah mereka yang sekedar mau coba-coba makan serangga, karena mungkin mendengar dari teman-temannya bahwa serangga itu rasanya enak dan gurih sekali.

Yang kedua, “peringkat musiman”, yaitu mereka ini hanya doyan jenis serangga tertentu yang hanya ada pada musimnya.

Lalu peringkat selanjutnya, yaitu “peringkat pebisnis”. Mereka mengumpulkan serangga sebanyak-banyaknya untuk kemudian dijual. Yang terakhir adalah “peringkat senior”. Yaitu pemakan semua jenis serangga termasuk yang bukan serangga, bisa dibilang pemakan segala. Peringkat senior inilah yang juga disebut anak gragas, anak grangsang.

“Leee uler jati, leee..—leee ulat jati leee.” Teriak seorang anak, sambil berlari di jalanan. Suara anak itu menggema dengan cepat dan menyebar ke seluruh Wonogiri. Khususnya bagi para penggemar serangga. Tibalah musim ulat jati. Tanda-tanda munculnya “ulat jati”, yaitu waktu ada daun jati yang masih muda jatuh ke tanah. Daunnya itu sudah robek-robek dimakan ulat, terkadang sudah tinggal batang daunnya saja. Itulah pertanda datangnya ulat jati.

Maka kami se-geng, meninjau ke hutan jati, di Alas Kethu. Di pohon jati itu terlihat banyak sekali ulat. Ulat-ulat itu meluncur ke bawah melalui batang pohon jati bagaikan air terjun, saking banyaknya dan menuju ke tanah. Ulat-ulat itu telah kenyang memakan daun-daun jati muda. Pada waktu ulat-ulat itu turun ke bawah, aku dan anggota Gagas tenang-tenang saja, dan kami keluar dari hutan itu menuju pulang.

Beberapa hari setelah itu, aku dan teman-teman kembali berangkat menuju ke Alas Kethu, hutan jati itu. Saat itu mulai terlihat ada kerumunan manusia di bawah pohon-pohon jati itu. Apa yang mereka cari adalah kepompong, calon kupu-kupu yang berlindung di dalam bungkusan berupa sutera. Dan kepompong itulah yang dicari oleh banyak orang. Kepompong yang berwarna coklat, bentuknya terdiri dari kepala dan tubuh calon kupu-kupu. Panjangnya sekitar 2 sentimeter. Itulah yang dinamakan “enthung jati”.

Rumah enthung menempel pada daun-daun kering yang sudah tergeletak di tanah. Enthung itulah yang akan di tangkap oleh sekerumunan orang itu. Ada sekelompok anak muda, yang mengais-ngais mencari enthung dengan sangat kikuk karena merasa jijik. Nah, mereka itu adalah peringkat pemula.

“Dik, enthung ini harus diapakan? “ tanyanya kepadaku. Lalu aku menjawab, “Untuk digoreng, Mbak.” Karena aku tahu mereka adalah pemula sedangkan aku peringkat senior, maka aku nasihatkan kepada mereka supaya jangan langsung dimakan terlalu banyak. Tapi dicoba dulu dikit demi sedikit. Jika tidak apa-apa alias tubuhnya tidak bereaksi, baru boleh makan lagi. Karena apa, kalau mereka makan enthung lansung dalam jumlah banyak, mereka bisa ‘biduren’. Kulitnya akan bentol-bentol merah dan sangat gatal. Bahasa kerennya “alergi”. Tapi sebenarnya hal itu tidak apa. Karena jika hal itu terjadi, apotik pasti sudah menyediakan banyak obat penawar ‘biduren’ itu. Dan itu terjadi setiap musim enthung jati.

Lain halnya dengan “peringkat musiman”. Mereka adalah pemakan serangga yang sudah tidak merasa jijik saat memegang si enthung. Mereka mengambil secukupnya, untuk dimakan sendiri. Bagaimana dengan “peringkat pebisnis”? Umumnya mereka mengambil enthung dengan sangat serakah. Mereka ingin mengambil sebanyak-banyaknya. Seakan-akan enthung itu akan habis dari hutan itu. Padahal mana mungkin habis, karena begitu luasnya hutan jati itu. Enthung-enthung yang mereka kumpulkan itulah yang akan mereka goreng dan jual di pasar.

Setiap musim enthung, di pasar Kota Wonogiri, selalu ada mbok-mbok yang menjual enthung goreng. Mbok itu duduk di tanah dan di atas bakulnya ia letakkan “nampi” yang lebar. Di atas nampi itu teronggok enthung goreng. Jika ada yang membeli, si mbok akan menakar enthung goreng itu menggunakan batok (tempurung kelapa). Setelah itu dibungkus dengan daun jati yang lebar. Biasanya penggemar enthung beli di pasar untuk dibawa ke rumah atau dimakan sambil jalan. Enthung dapat diolah dengan digoreng atau bagi yang pandai memasak bisa juga ditumis bersama sayur-sayuran yang diberi bumbu, sehingga menjadi lauk yang sangat sedap.

Bagi aku dan anggota Gagas yang berperingkat senior, merasa enthung tidak perlu digoreng atau ditumis seperti mereka. Kok repot amat. Yang kami lakukan hanya menusuk enthung- enthung itu ke dalam tusukan bambu dan dijadikan sate. Sate enthung itu kami bakar di basecamp kami. Lalu kami pun berpesta sate enthung.

Musim enthung akan berlanjut terus,selama masih ada hujan dan pohon jati tetap bersemi. Setelah hujan menghilang dan muncul musim panas, enthung- enthung pun mulai lenyap. Dan selesailah “demam entung” di Wonogiri. Tetapi, aku dan teman-temanku satu geng, tetap tenang-tenang saja. Dari enthung, kami dapat dengan mudah beralih ke serangga yang lain, ada jangkrik, ada belalang. Makanan kami tidak pernah habis. Geng kami tetap bertualang, merasa bebas, lepas dan bahagia. Kami tidak tergantung musim, karena Tuhan menyediakan makanan yang berlimpah yang dapat kami santap, di mana pun dan kapan pun juga.

Meskipun kami dianggap sebagai anak yang gragas dan itu terdengar bukan hal yang baik bagi para orangtua dan beberapa anak rumahan, namun kenyataannya banyak dari mereka yang kurang gizi, sementara kami kelebihan gizi. Terima kasih enthung jati. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K