CSO Om No

OM NO

Jakarta tahun 1962

Setelah lulus SMA di kota Surakarta, aku tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil pada sebuah instansi pemerintah tempat Om No bekerja. Om No lah yang mengajakku untuk bekerja di sana dan ini membuat kami berdua mejadi lebih sering bertemu dan hidup bersama di Jakarta.

Suatu hari hujan turun dengan lebatnya di Jakarta. Cukup lama juga, sekitar dua jam terus menerus. Seperti biasa, banyak genangan air di jalanan. Setelah hujan reda, hanya mendung masih menggelanyut di atas langit Jakarta. Aku mengendarai sepeda motor kebanggaanku, BSA 250 cc berwarna merah, menyusuri jalan melintasi genangan-genangan air. Om No membonceng di belakangku.

Sewaktu kami berada diantara Jalan Tanah Abang dan Petamburan, terjadi kemacetan panjang. Benar juga, ternyata ada banjir yang menggenangi jalan itu. Genangan banjir tersebut cukup lebar, sekitar lima puluh meter dan cukup dalam, sehingga hanya kendaraan berbadan tinggi yang berani melintasi banjir itu.

Aku berada di batas banjir itu, berhenti tanpa mematikan mesin motorku. Aku menghadapi dilema, terus menerjang banjir, berputar balik atau diam mematikan mesin.

Tapi, aku ini seorang petualang, aku harus tepat mengambil keputusan. Apalagi dibelakangku duduk Om No, seorang petualang sejati. Ia hanya duduk diam diatas boncengan motorku. Dia tidak akan pernah mempengaruhiku sedikitpun, akulah yang memutuskan. Mesin motorku tetap menyala.

Seorang petualang adalah orang yang berani tampil beda. Dia bertindak berdasarkan suara hatinya. Kalau aku memutuskan untuk berputar balik, aku merasa menjadi seorang pengecut. Jika aku mematikan mesin, berarti aku menjadi orang rata-rata, sama seperti mereka. Normal dan pasti aman. Kalau mau menerjang banjir, pasti ada risiko, yaitu celana basah dan motor mogok ditengah banjir.

“Rrremm, rrremm…rrremm…” Aku meng-geber-geber mesin motorku untuk menguji keadaan mesin. Orang-orang menengok kearah kami dengan muka keheranan. Aku fokus pada titik diseberang sana dan pada pegangan gas di tangan kananku. Aku tancap gas dan… menerjang genangan banjir! Aku tinggal mengatur agar air jangan sampai masuk kedalam knalpot. Akhirnya kami, aku dan Om No, sendirian meluncur menyeberangi banjir itu seperti naik kano yang didayung. Di tengah genang air, Om No mengeluarkan harmonika kecil yang selalu ada di kantong celananya. Maka berkumandanglah lagu favoritnya yang berjudul “Halls of Montezuma”. Lagu itu yang selalu kami nyanyikan setelah nonton film perang Amerika.

Akhirnya kami berhasi menyeberangi banjir tersebut. Aku terus menjalankan motorku sambil mengeringkan plat rem, ketika aku merasakan sebuah tepukan tangan Om No di pundakku. Tepukan tangan itu berarti sebuah pujian untukku, “Good job..!”. Tetapi lebih dari itu, tepukan itu merupakan penghargaan tak ternilai dari seorang Petualang Sejati, idolaku, Om No.

Saat aku kecil di Jalan Tanjung Gang 2 Malang, di rumah Mbah Tanjung, muka yang aku kenali pertama kali adalah mukanya Om No, anaknya Mbah Tanjung. Mungkin karena dialah yang paling sering muncul di depanku, untuk membuli aku. Ada saja yang dia lakukan setiap kali lewat di depanku.

Sering Om No memperlihatkan muka jeleknya didepan hidungku, sampai menempel. Terkadang dia ambil makanan dari tanganku, lalu dia berdiri saja di depanku sambil menunggu apa reaksiku. Kalau aku sudah siap-siap untuk berteriak sekeras-kerasnya, barulah makananku itu cepat-cepat dikembalikan.

Karena begitu seringnya pembulian itu, maka aku tidak merasa tersiksa lagi, tapi hal itu menjadi semacam “permainan” sikuat dan silemah. Aku merasa bahwa sebenarnya Om No sayang padaku.

Sewaktu aku TK, akulah yang paling sering diajak jalan, makan-makan atau diselundupkan ke gedung bioskop nonton film 17 tahun keatas.

Ketika aku dibawa ke Mojokerto untuk diangkat anak oleh Mbah Mojo, hanya Om No yang sering mengunjungiku untuk sekedar melihat keadaanku. Juga setelah keluarga kami tinggal di Wonogiri, Om No pula yang pertama kali mengajakku mengunjungi Mbah Kaligunting akar dari garis sedarahku. Dia bagaikan “malaikat” ku yang mendekatkan ke keluarga kandungku.

Setelah lulus SMA, aku ikut Om No di Jakarta dan juga diajak bekerja di kantor yang sama. Kami memang sehati. Kami mempunyai kesamaan. Sama-sama menyukai film perang dan bertualang.

Sayangnya, Om No tidak bisa melepaskan kebiasaan merokoknya. Selalu ada sebatang rokok yang terselip diantara jari tengah dan telunjuk tangan kananmya. Om No meninggal karena kangker paru-paru. Om No tidak pernah mengeluh dalam sakitnya. Beberapa hari sebelum meninggal, Om No masih dengan semangat mengatakan kepadaku: “War againts cancer..!”

Rest In Peace, Om No….(*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K & SR Kristiawan