Om Nu
Jakarta, 1962.
Tahun ini ada kesibukan yang luar biasa di Indonesia. Ada perubahan yang penting dan cepat, terutama di Jakarta. Jakarta sibuk bersolek.
Semua daya dan dana di kerahkan untuk menyambut berlangsungnya pesta olahraga antar bangsa Asian Games. Asian Games yang ke 4 ini akan diselenggarakan di Jakarta. Seluruh perhatian pemerintah dan masyarakat terpusat kepada Asian Games ini yang diselenggarakan nanti di bulan Agustus.
Semua oran terkena demam Asian Games. Begitu pula aku. Aku ikut serta dalam acara pembukaan Asian Games, sebagai anggota paduan suara. Aku adalah anggota paduan suara St. Caecelia di gereja Kathedral Jakarta, di bawah pimpinan RAJ Sudjasmin, yang juga adalah tokoh musik di Indonesia pada saat itu.
Kurang dari empat hari lagi acara pembukaan Asian Games. Susunan acara yang luar biasa dan gladi resik, membuat demam pembukaan Asian Games semakin meningkat mendekati titik didihnya.
“Coba usahakan tiket, ya.. Aku dan teman-teman ini kan juga ingin nonton acara pembukaan”. Kata Om Nu kepadaku di ruang tamu di mes kantor, di Jalan Proklamasi no 45 Jakarta. Om Nu dan enam teman sekantornya tinggal di mes tersebut. Om Nu bekerja satu kantor dengan Om No, kakaknya, yang lebih dulu bekerja pada instansi yang sama. Kemudian aku juga diajak oleh Om No untuk bekerja di sana. Sehingga Om No, Om Nu dan aku bertiga semua bekerja pada instansi itu di Jakarta.
“Ya, Om..” jawabku spontan atas permintaan Om Nu untuk ikut menonton pembukaan Asian Games. Aku langsung menyanggupi permintaan tersebut karena ia adalah Om Nu, om ku. Om Nu adalah bagian dari hidupku. Sejak aku masih kecil, di rumah Mbah Tanjung, di jalan Tanjung Gang Dua Malang, aku sudah lekat dengan sosok Om Nu. Om Nu adalah adik kandung dari Om No. Mereka adalah anak dari Mbah Tanjung.
***
Saat aku masih balita, Om Nu juga senang membuli aku walau tidak sesering kakaknya. Om Nu membuli aku dengan cara yang lebih ‘sopan’ di banding Om No.
Suatu pagi saat aku sedang serius bermain dengan teman-teman kecilku, tiba-tiba ada suara keras dari ruang dalam,”Geet..”(panggilan nama kecilku). Aku tahu itu adalah suara Om Nu. Dengan kesal aku menghentikan permainanku, dan dengan muka kesal pula aku menghadap ke Om Nu. Melihat aku sudah berdiri di hadapannya, Om Nu berkata, ”Lho, lahoopo? Gak ono opo-opo kok..—lho, ngapain? gak ada apa-apa kok..”. Aku berbalik kembali ketempat aku bermain. Aku tidak merasa kesal lagi, karena aku tahu, bahwa bulian tadi adalah merupakan ungkapan rasa sayang Om Nu kepadaku.
Aku ingat bahwa Om Nu sejak kecil badannya sangat kurus. Ia susah makan dan sering sakit-sakitan. Setelah agak besar dia kelihatan lebih sehat meskipun tetap kurus. Yang mengherankan, setelah sehat Om Nu punya hobi baru, yaitu berkelahi. Di rumah Mbah Tanjung pun kadang -kadang menjadi heboh setiap kali Om Nu pulang berkelahi. Belakangan aku tahu ternyata Om Nu adalah “jagoan” yang cukup disegani di Jalan Tanjung dan sekitarnya. Pantas saja sejak aku TK dan suka berjalan kaki sendirian, tidak pernah ada orang yang berani menggangguku.
Juga ketika aku berhari-hari menguntit Gatan, Geng Anak Tanjung pimpinan si Cacak, tidak ada yang berani mengusirku. Bahkan oleh Cacak, aku diangkat menjadi anggota penuh Gatan, meskipun aku saat itu masih di Taman Kanak-kanak. Semua itu mungkin karena pengaruh Om Nu.
Ketenaran Om Nu yang pemberani itu pula menjadikan aku merasa aman dan percaya diri, PD. Rupanya Tuhan telah menurunkan dua malaikatnya ke bumi untuk menjaga aku. Om No adalah “malaikat” pembimbingku, sedangkan Om Nu merupakan “malaikat” pelindungku.
Ketika aku dan kedua malaikatku akhirnya kembali berkumpul di Jakarta, dan bekerja di kantor yang sama, maka berlanjutlah cerita tentang kami bertiga. Om Nu tinggal di mes kantor di Pegangsaan Timur bersama enam orang temannya, semuanya bujangan, sedangkan aku bergabung belakangan. Kebiasaan Om Nu tetap sama. Di mana ada kerusuhan atau tawuran, di situ selalu ada Om Nu. Dia datang tidak untuk ikut berkelahi tetapi untuk memisahkan mereka yang sedang tawuran.
Sering tanpa sepengetahuanku Om Nu melindungi aku. Kalau sedang tidur di mes, dan kemudian ada orang yang mau bertemu denganku, teman-teman tidak membangunkaku tanpa persetujuan Om Nu. Ia yang “menyaring” dulu, apakah orang tersebut pantas untuk bertemu dengan aku atau tidak. Luar biasa malaikat pelindungku ini.
***
Pembukaan Asian Games tinggal dua hari lagi. Keadaan sudah “kritis”. Tiket untuk Om Nu, dan enam orang temannya, belum juga aku dapatkan. Aku sibuk berlatih paduan suara dan gladi resik acara pembukaan Asian Games
Akhirnya suatu sore aku mengumpulkan para penghuni mess, Om Nu dan enam temannya. Aku berkata kepada mereka, “Siapa yang ingin ikut menonton pembukaan Asian Games? Lusa pagi berkumpul disini memakai kemeja lengan panjang warna putih dan celana panjang warna hitam.”
Mendengar pengumuman singkatku itu, mereka yang tadinya sudah hampir patah semangat, menjadi lebih tegak. Muka mereka menjadi cerah, penuh harapan.
Pada hari H, aku terpesona melihat mereka, Om Nu dan keenam temannya sudah siap. Mereka terlihat keren-keren dengan pakaian yang sangat rapi, warna putih hitam. Aku belum pernah melihat mereka berpakaian serapi ini. Kami pun berangkat ke Stadion Utama Senayan (Gelora Bung Karno).
Di dalam perjalanan, aku mengingatkan mereka untuk nanti selalu berkumpul di belakang ku sambil melihat aba-aba yang akan kuberikan. Suasana menjadi sangat tegang saat kami sudah mulai berdiri di dalam antrian panjang di depan Stadion Utama Senayan. Kulihat wajah mereka sangat kaku dan cemas, mereka tahu bahwa mereka sama sekali tidak tidak memiliki karcis.
Aku sendiri memasang muka yang tenang tapi penuh keyakinan. Seperti muka Om No dulu sewaktu menyelundupkanku ke gedung bioskop, yang film nya untuk 17 tahun ke atas.
Aku memperhatikan para petugas penjaga karcis yang di kawal oleh polisi dan TNI. Aku lalu mengambil manufer yang mendadak. Aku keluar dari antrian dan berjalan dengan cepat menuju ke depan. Kulihat teman-temanku mengikuti dari belakang.
Aku bergaya seperti pemimpin seluruh Paduan Suara Asian Games, mendekati petugas pemeriksa tiket sambil berteriak kepadanya, “Pak, ini rombongan Paduan Suara!” sambil aku membuka jalan dan dengan tanganku aku memberi tanda ke teman-temanku untuk segera masuk. Sementara petugas itu masih tertegun, aku sudah berhasil memasukkan rombonganku, Om Nu dan enam orang temannya. Kami pun cepat-cepat berjalan dan menaiki tangga di tribun selatan bagian bawah.
Akhirnya aku dan mereka berhasil duduk di deretan paling belakang karena aku termasuk kelompok suara ‘bas’. Tadi, sebelum berangkat aku sudah mengajarkan pada mereka agar jika nanti sedang bernyanyi, mereka harus hanya membuka mulut tanpa mengeluarkan suara. Tentu saja kalau mereka sampai mengeluarkan suara, semua akan kacau. Di samping mereka tidak tahu lagunya, bisa-bisa mereka mengeluarkan suara ‘tenor’ padahal kita termasuk kelompok suara ‘bas’.
Lagu-lagu pun mulai berkumandang di seluruh sudut Stadion Utama yang maha luas itu. Suara merdu itu adalah suara kami yang mengawali upacara Pembukaan Asian Games 1962. Suara kami membuat seratus ribu penonton yang memadati Stadion Utama Senayan tersebut terpana. Aku melihat ke deretan Om Nu dan teman-temanya yang berdisiplin membuka-tutup mulutnya tanpa suara.
Acara demi acara disajikan dengan cara yang spektakuler. Tarian masal yang mengagumkan. Pidato Pembukaan Pesta Olah Raga Asian Games oleh Presiden Soekarno. Defile peserta olah raga dari negara-negara se-Asia, terutama kontingen Indonesia dan munculnya pahlawan bulu tangkis Indonesia Ferry Sonneville, membuat seluruh Stadion gegap gempita. Lambang Asian Games berupa Garuda dengan slogan “EVER ONWARD”—Maju Terus, membuat kita semua bangga sebagai warga negara Indonesia. Sebuah pengalaman yang luar biasa.
Sepulang dari acara pembukaan Asian Games malam itu, aku, Om Nu dan enam temannya masih terkagum-kagum akan apa yang baru saja kami lihat. Aku sendiri merasa lega dan puas karena telah berhasil menyelundupkan Om Nu berikut enam temannya ke Stadion Utama Senayan. Mungkin, ini balas budiku untuk Om No karena dulu ia sering menyelundupkan aku ke gedung bioskop. Balas budinya bukan ke Om No, tetapi kepada adiknya, Om Nu. Bukan ke bioskop, tapi ke Stadion Utama Senayan (sekarang Stadion Utama Gelora Bung Karno).
Malam itu sebelum tidur, aku menaikkan doa syukur atas pengalamanku hari ini. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Editor: Veronica K & SR Kristiawan


Tinggalkan komentar