UJIAN AKHIR

Waktu berjalan sangat cepat. Tidak terasa aku telah menyelesaikan Ujian Akhir Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar, SD) dan lulus. Aku tertegun dan menyadari bahwa berarti aku sudah harus meninggalkan SD-ku ini, SD Negeri Tiga Wonogiri. Ini artinya aku akan berpisah dengan teman-teman sekelasku yang selalu kompak di dalam maupun di luar sekolah.

Rasanya belum lama aku memasuki sekolah ini. Aku sangat menikmati suasana dan kejadian-kejadian yang menggairahkan selama bersekolah. Terutama pada tahun-tahun awal, aku selalu bersemangat setiap berangkat ke sekolah karena aku sering menjadi pusat perhatian teman-teman dan para guru. Aku juga teringat ketika sering diminta bercerita oleh teman-temanku. Lucunya mereka senang mendengarkan aku bercerita dengan menggunakan logat Jawa Timuran-ku. Begitu pula dengan diriku, yang juga menikmati saat bercerita dan melihat muka mereka yang terbengong-bengong.

Saat aku duduk di kelas tiga, aku menjadi terkenal di sekolah karena berani mengadakan Sandiwara Perang yang ternyata cukup menghebohkan teman-teman sekolahku. Di kelas-kelas berikutnya aku dan teman-temanku menjadi semakin kompak. Kami sering mengadakan acara-acara berwisata seperti pit-pitan (naik sepeda), naik ke Gunung Gandul atau piknik ke tempat-tempat yang indah.

Setiap acara pasti selalu membawa kenangan tersendiri. Mungkin karena seringnya aku mengalami saat-saat yang menyenangkan itulah maka waktu terasa berjalan sangat cepat. Setahun serasa seminggu. Dan lima tahun serasa lima minggu.

Namun sewaktu aku memasuki kelas enam, aku merasa waktu mulai berjalan lebih lamban. Karena ada yang kami tunggu-tunggu. Yaitu, Ujian Akhir Sekolah Rakyat. Semuanya mempersiapkan diri untuk menyambut ujian tersebut. Mulai dari guru, orangtua murid dan juga murid-murid kelas enam tentunya.

Semuanya menjadi serius dan tegang dengan harapannya masing-masing. Para guru mengharapkan murid-muridnya lulus seratus persen, sedangkan para orangtua murid mengharapkan anaknya mendapat nilai tertinggi, kalau bisa mendapat nilai sepuluh semua.

Beberapa kekhawatiran juga muncul. Para orangtua mengawatirkan semangat belajar anaknya dan juga takut kalau-kalau anaknya tidak lulus ujian. Hal-hal seperti inilah yang menjadikan suasana menjadi tegang.

Sementara aku sendiri merasa tenang-tenang saja dalam menghadapi ujian ini. Aku tetap belajar dan bermain seperti biasa. Karena targetku sangat berbeda dengan harapan para orangtua teman-temanku. Bagiku yang penting lulus dengan nilai yang cukup bagus.

Aku memperhatikan si Pono, temanku yang otaknya paling encer di kelasku. Pono sering kujadikan semacam ‘kamus berjalan’ karena saking pandainya. Tapi belakangan ini aku merasa kasihan pada si Pono, ia terlihat tertekan karena harus belajar terus menerus. Aku pernah mendatangi rumahnya untuk mengajaknya main. Tetapi yang keluar menemuiku adalah bapaknya dan langsung memarahiku.

“Hei, kamu jangan ajak anak saya untuk main ya. Ini kan menjelang ujian, anakku harus belajar dan belajar. Kalau cuma main saja kayak kamu, mau jadi apa nanti ”.

Lalu kemudian aku undur diri dari rumah Pono. Aku paham dan aku tidak sakit hati. Kejadian semacam itu sudah aku alami enam kali. Bahkan di rumah temanku yang lain ada yang ayahnya lebih kasar. Aku di usir untuk segera pergi. Aku mersa kasihan pada teman-temanku yang sangat tertekan.

Di sekolah pun aku menghadapi ‘demam’ ujian. Saat aku di kelas, aku belajar. Tapi pada waktu istirahat, aku tetap bermain. Karena teman-teman kelas enam segan untuk bermain, maka aku mengajak main adik-adik kelasku, yang masih bersemangat bermain. Anak kelas enam merasa tidak pantas untuk main kasar-kasaran. Mereka lebih anggun, dan terkadang mereka berkelompok untuk belajar, di waktu istirahat sekolah.

Kelakuanku inilah yang sering menimbulkan kekhawatiran bagi para guru. Aku pernah di panggil oleh ibu guru dan mendapat peringatan. “Kamu tahu, ujian semakin dekat. Kamu jangan santai begitu ya. Kalau di luar kelas kamu harus tetap belajar, bukan bermain. Apa kamu mau tidak lulus ujian?”

Aku hanya mengangguk dan menjawab “Baik, bu guru..” Hanya itulah jawaban yang boleh aku berikan. Tidak boleh memberi alasan apalagi menentang. Karena beliau adalah GURU, singkatan dari -sing diguGU lan ditiRU- (Yang dipercaya dan diikuti).

Benar juga kata ibu guru, harus belajar di kelas dan di luar kelas. Tapi aku berbeda. Kalau anak-anak lain tempat belajarnya dibatasi oleh pagar, yaitu di dalam pagar sekolah dan pagar rumah, kalau aku tidak. Keluar dari sekolah aku tidak belajar di rumah. Tetapi belajar di alam bebas. Aku adalah pengamat dan penyelidik. Aku mengamati dan mempelajari apa pun di sekitarku. Mulai dari pasar, stasiun, kantor hingga tempat-tempat bersejarah, semuanya aku datangi.

Aku pernah mendatangi sebuah bank. Banyak hal yang kuamati di sana. Suatu hari aku melihat ada seseorang membawa satu koper uang kertas yang lusuh kemudian petugas bank itu menghitung uang lusuh itu satu persatu, sampai lebih dari satu jam.

Dan aku heran, uang sekoper itu hanya ditukar dengan selembar kertas. Tapi setelahnya, si pemilik uang itu keluar dari bank tenang-tenang saja.

Pengamatanku di tempat lain, adalah kantor pos. Awalnya aku heran. Karena di dalam kantor itu selalu ada suara “Dhok, dhok… dhok” . Seperti ada orang yang sedang memukul dinding dengan palu. Ternyata itu adalah suara stempel yang terbuat dari besi yang diberi gagang seperti palu. Stempel besi itu lalu dipukulkan keras-keras ke atas perangko yang menempel pada surat.

Dengan melihat dan mengamati itulah cara aku belajar. Pelajaran dari dalam kelas, aku cukup menguasai setengahnya saja dari setiap mata pelajaran. Sisanya aku belajar dari alam seisinya.

Hari itu, tibalah ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia. Namun terjadi sedikit kehebohan. Setelah soal ujian dibagikan, teman-temanku saling melihat satu dengan yang lain dengan muka yang terlihat kebingungan. Para pengawas ujian juga terlihat cemas saat melihat anak-anak pada kebingungan membaca isi soal tersebut. Isi soalnya hanya satu kalimat, dan berbunyi seperti ini:

“Buatlah sebuah Telegram “.

Ternyata banyak dari teman-temanku yang tidak mengerti apa artinya Telegram. Mungkin mereka lebih tahu dan mengerti gunanya kartu pos, pos wesel, perangko dan sebagainya. Tetapi apa itu Telegram, sepertinya mereka belum pernah tahu.

Aku merasa beruntung, dalam penjelajahanku ke kantor pos. Aku pernah melihat ada sebuah formulir kecil dengan judul Telegram. Saat itu aku bertanya kepada bapak petugas kantor pos tentang surat Telegram itu. Dia menjelaskan bahwa Telegram adalah pengiriman berita yang tercepat sampai ke tujuan. Jadi beritanya harus ditulis sesingkat mungkin karena biayanya dihitung per-kata. Bahkan tanda baca seperti titik atau koma juga dihitung sebagai satu kata. Maka, aku pun membuat sebuah Telegram di atas kertas jawabanku:

AYAH SAKIT KERAS TITIK SEGERA PULANG TITIK

Itulah telegram yang aku tuliskan di lembar jawabanku. Singkat, jelas dan murah. Namun ada beberapa teman yang meminta kertas tambahan lalu melanjutkan mengarang surat telegramnya.

Akhirnya masa ujian pun telah lewat. Dan setelah membaca pengumuman kelulusanku, aku sangat senang dan puas. Aku bisa lulus ujian dengan nilai delapan pada setiap mata pelajaran yang di ujikan. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K