BUKAN ANAK-ANAK LAGI

“Hei, kamu sudah bukan anak-anak lagi, ya..!” Kalimat itu datang dari ayah si Karnen, tetangga depan rumahku. Karnen adalah anak SMP kelas satu yang tak lama lagi naik ke kelas dua. Ayah Karnen memang sering memarahinya karena dia senang bermain sampai lupa belajar. Kata-kata “bukan anak-anak lagi” itu selalu terngiang di kepalaku. Timbul pertayaan, apa batasnya antara ‘anak-anak’ dan ‘bukan anak-anak’ itu? Apakah sekolahnya, SD atau SMP? Aku masih bingung.

Walaupun aku telah menyelesaikan Ujian Akhir SD, namun apakah itu berarti aku harus mengakhiri masa anak-anak yang sangat menyenangkan itu? Yang selalu membuatku bersemangat?

Terlepas dari masalah SD-SMP itu, tiba-tiba aku mulai merasakan adanya perubahan pada dunia sekitarku. Aku melihat ada hal-hal yang aneh di sekelilingku. Mengapa dulu sungai Bengawan Solo terlihat sangat lebar, tetapi sekarang mulai terlihat menyempit? Dulu jarak antara basecamp Gagas di tepi Bengawan Solo dan rumahku terasa sangat jauh, sehingga aku harus berlari, tapi sekarang cukup dengan berjalan kaki sebentar saja aku sudah sampai. Perubahan ini mulai terasa sejak aku berada di kelas lima atau enam SD.

Begitu juga ketika aku mengadakan rapat dengan anggota Gagas, Geng Anak Gragas, di basecamp di samping kuburan di tepi Bengawan Solo. Terasa tidak serius lagi. Operasi-operasi petualangan pun juga sangat berkurang. Apalagi sekarang anggota Gagas tinggal tiga orang. Giman telah meninggalkan Gagas, karena ikut orang tuanya ber-transmigrasi ke Kalimantan.

Sebenarnya aku masih enggan meninggalkan masa kanak-kanakku. Aku menyukai petualangan yang sangat menantang, tanpa perhitungan. Seperti waktu aku nekad terjun ke kedung, bagian sungai Bengawan Solo yang terdalam, padahal waktu itu aku belum bisa berenang sehingga aku hampir tenggelam. Itu seru sekali.

Aku juga masih teringat bagaimana seru dan seriusnya aku dan teman-teman saat bermain “nekeran” (kelereng, gundu). Kukerahkan semua kemampuanku untuk memenangkan permainan. Apalagi jika ada temanku yang memiliki neker yang masih mengkilap karena baru di beli dari toko. Aku akan berusaha memenangkan semua neker baru itu, meskipun aku harus mengorbankan banyak neker-nekerku yang sudah buram atau bocel-bocel.

Koleksi nekerku satu kaleng besar. Setiap kali kukeluarkan dan mengelapnya hingga makin kinclong, aku selalu mengagumi “belimbing” indahnya warna-warni yang berada di dalam bulatan kaca tersebut.

Banyak sekali permainan di masa kanak-kanakku. Tergantung musimnya. Ada yang namanya “umbul” atau adu gambar komik yang digunting kecil-kecil, lalu di terbangkan. Kalau gambarnya jatuhnya terlentang (terbuka) dialah yang menang.

Bahkan karet gelang pun bisa di adu, “adu karet” namanya. Karet gelang kucongkel menggunakan jari telunjukku, kalau karetku bisa nangkring di atas karetnya, maka seluruh karet taruhan menjadi milikku.

Ada juga permainan untuk anak laki-laki yang tidak pakai taruhan. Misalnya “benthik”. Taruhannya hanya yang kalah harus menggendong yang menang. Permainan Benthik hanya menggunakan dua batang tongkat dari kayu bulat. Yang satu panjang dan satunya lagi pendek. Tongkat yang pendek harus di cungkil sejauh mungkin dengan tongkat panjang dari dalam lubang di atas tanah. Tahap terakhir dari permainan adalah tongkat kecil diletakkan di bibir lubang di atas tanah, lalu ujungnya di pukul dengan tongkat panjang. Selagi tongkat kecil melayang-layang dan berputar-putar, kita harus memukul tongkat kecil itu sejauh-jauhnya. Lalu kita mengukur jarak hasil pukulan itu dengan tongkat panjang.

Memang, kalau sedang bermain itu semua aku bisa lupa segalanya. Aku berman dengan sangat serius dan dengan segenap jiwa raga. Bagaimana aku bisa meninggalkan suasana seperti itu?

Pernah suatu kali aku mendatangi anak-anak yang sedang bermain benthik, tapi tiba-tiba saja mereka menghentikan permainan itu karena kehadiranku. Aku pun sadar bahwa aku sudah bukan lagi bagian dari mereka, anak-anak.

Aku telah melewati Ujian Akhir untuk SD. Aku lulus dan mendapatkan nilai delapan untuk setiap mata pelajaran yang di ujikan. Dengan nilai tersebut, aku langsung diterima di SMP Negeri di Wonogiri. Nah aku sadar, bahwa sekarang aku sudah SMP. Aku bakal memiliki teman-teman baru. Aku sangat bersemangat. Aku sudah bukan anak-anak lagi. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor : Veronica K

Co Editor: SR Kristiawan