FILM SEGERA DIMULAI!
Benar juga. Perjalanan mengungsiku sekeluarga yang disebabkan karena perang dulu, berakhir di kota ini, Wonogiri. Kami tidak perlu lagi mengungsi ke kota lain. Di kota Wonogiri inilah aku menghabiskan masa anak-anakku di bangku SD hingga tamat. Sekarang aku memasuki SMP, SMP Negeri di Wonogiri. Aku sangat menikmati kota kecil ini. Namun ada satu yang aku rindukan dan belum terpenuhi di kota ini. Kegemaranku menonton bioskop, terutama film perang.
Sayangnya waktu itu di kota Wonogiri belum ada gedung bioskop. Jadi kalau ingin menonton bioskop harus pergi ke kota Solo yang berjarak sekitar tiga puluh dua kilo meter ke arah utara. Di pusat kota Wonogiri yang ada hanya ruang serbaguna. Ruangan tersebut sehari-harinya di pakai untuk tempat berolah-raga. Misalnya tenis meja, angkat besi atau bina raga. Terkadang ruang serbaguna yang mampu memuat sekitar dua ratus kursi itu, juga di pakai sebagai tempat pertemuan. Tetapi beruntungnya aku. Karena kadang-kadang ada juga pertunjukan film dadakan yang di selenggarakan di ruang serbaguna itu.
Suatu hari terjadilah ‘demam’ bioskop di Wonogiri. Ruang serbaguna tersebut ‘disulap’ menjadi tempat pertunjukan film. Tentu saja dengan kondisi ala kadarnya. Jendela-jendela dan lubang angin di atasnya hanya ditutupi dengan tirai kain (gorden) berwarna biru. Sayangnya kainnya terlalu tipis, sehingga sinar dari luar masih menerawang ke dalam ruangan. Tetapi tidaklah menjadi masalah, karena di dalam ruangan cukup redup. Kursi-kursinya di susun dengan rapat dan berderet dari depan sampai belakang tanpa ada antara. Tidak ada kelas-kelas. Sehingga para penonton bebas duduk dimana saja.
Kalau di gedung bioskop pada umumnya, perlengkapan proyektor beserta petugasnya berada di ruangan lain di belakang penonton. Dari ruangan itulah terdapat lubang-lubang tempat menyorotkan lampu proyektor ke layar di depan. Tapi ini tidak. Karena ala kadarnya, maka proyektor berada di dalam ruang penonton. Letaknya di bagian belakang di atas bangku. Sehingga kalau mendapat tempat duduk di belakang, pastinya akan terganggu dengan suara – “rerrrrrrrrrrrrr” – Suara yang berasal dari proyektor. Ditambah lagi gangguan dari para petugasnya yang mengobrol terus sambil merokok.
“Perhatian, perhatian…! Film akan segera dimulai…” Teriak seorang om-om yang lucu, sambil menggunakan kedua telapak tangannya -sebagai corong pengeras suara- di depan mulutnya. Aku sangat tertarik kepada om lucu itu karena ia selalu bergembira. Ia selalu berjalan mondar-mandir sambil nyanyi-nyanyi kecil. Apalagi kalau karcisnya terjual habis.
Aku sudah duduk di deretan paling depan. Aku tidak mau terhalang oleh orang yang lebih tinggi dariku. Aku ingin benar-benar menikmati filmnya. Si om lucu masih terus berteriak, “Perhatian, perhatian…” menggunakan kedua telapak tangannya -sebagai corong- agar para penonton segera memasuki ruangan. Akhirnya film pun di mulai. Lumayan juga. Meskipun ruangan itu kurang gelap dan lampu proyektornya kurang terang, tapi gambarnya masih kelihatan walaupun memang kurang jelas dan tajam.
Belum lama saat semua penonton sedang menikmati film yang baru saja mulai diputar, tiba-tiba terjadi sedikit kehebohan. Pintu ruangan terbuka lebar-lebar. Ruangan seketika itu juga menjadi terang benderang karena sinar yang masuk dari luar. Ternyata ada beberapa penonton yang terlambat yang masuk ke dalam ruangan. Layar lebar menjadi berwarna putih. Gambarnya pun hilang. Lalu muncul suara berdengung di dalam ruangan, bagaikan suara seribu lebah. Gangguan dari penonton yang terlambat itu terjadinya bisa berulang-ulang. Tetapi setelah beberapa waktu, para penonton pun kembali tenang dan bisa menikmati cerita film yang sedang diputar. Termasuk aku.
Biasanya, demam film ini baru mereda setelah satu minggu. Tetapi terkadang diputar dua judul cerita. Jika begitu, aku pergi kembali untuk menonton. Dan bisa ditebak. Aku bertemu lagi dengan si om lucu yang selalu bersemangat dan suka berteriak, ”Perhatian, perhatian…film akan segera di mulai…”
***
Pagi itu, saat beristirahat, aku dan teman-teman SMP se-kelasku, kelas satu, sedang duduk-duduk di teras di depan kelasku. Rupanya, setelah istirahat akan diadakan ulangan (ujian). Maka seorang temanku, anak lelaki yang tulisannya bagus, diminta oleh ibu guru untuk menuliskan soal-soal ulangan di papan tulis. Seperti biasa, pintu kelas dan gorden jendela pun di tutup, supaya soal ulangan tidak bisa di intip dari luar. Melihat gorden itu, entah mengapa, tiba-tiba aku teringat dengan si om lucu. Maka aku memasang kedua telapak tanganku sebagai corong di depan mulutku dan berteriak, ”Perhatian, perhatian…film akan segera di mulai…!” Mendengar itu, teman-teman sesama penggemar bioskop pada tertawa. Dan aku senang dengan leluconku itu. Namun apa yang terjadi? Mendadak pintu kelasku terbuka dan keluarlah ibu guruku. Ia memanggil aku. Kemudian tangannya menjewer telingaku, sambil membawa aku ke depan kelas. Di sana aku harus berdiri terus sampai ulangan di mulai. Aku pun bingung, apa kesalahanku.
Setelah ulangan selesai, aku menghadap ke ibu guru. Lalu aku bertanya, apa salahku. Kata ibu guru, ”Kamu bukan anak-anak lagi, kamu harus mengerti itu!” Ia hanya menjelaskan seperti itu. Kemudian aku disuruhnya keluar. Di luar kelas aku duduk termenung sendirian. Aku masih memikirkan, sebenarnya apa sih kesalahanku. Atau ini kesalahan si om lucu?
Berita tentang kejadian pagi itu, lalu dengan cepat menyebar ke seluruh teman-teman sekolah. Ketika jam sekolah usai, ada dua orang anak yang mendekatiku. Mereka adalah anak kelas tiga. Seorang yang tertua di antara mereka kemudian menjelaskan kepadaku. Apa sebenarnya kesalahanku tadi pagi.
Jadi, saat menjelang ulangan tadi, ibu guru sedang berdua di dalam kelas dengan seorang temanku laki-laki yang sedang menulis di papan tulis. Lalu ibu guru menutup pintu dan gorden jendela. Sewaktu aku berteriak –film segera dimulai— rupanya saat itulah ibu guruku tersinggung. Karena bagi orang dewasa, kata-kata ‘main film’ itu bisa diartikan sebagai main roman-romanan, atau main mesra-mesraan di tempat gelap-gelapan.
Rasanya aku baru saja meninggalkan masa kanak-kanakku dan memulai masa remajaku. Dan sekarang, aku harus lebih berhati-hati dengan apa yang berada di dalam pikiran orang dewasa. Rupanya, teriakan si om lucu itu hanya cocok untuk di ruang serbaguna saja: “Perhatian,perhatian… film akan segera dimulai..!” (*)
Penulis: Antonius Sutedjo
Editor : Veronica K

Tinggalkan komentar