LAMBANG SEKOLAH
Hampir mendekati ulang tahun ke lima berdirinya sekolahku, SMP Negeri Wonogiri, namun sekolahku ini belum juga memiliki sebuah “lambang sekolah”. Sampai suatu hari diadakanlah sayembara membuat lambang sekolah. Sayembara itu boleh diikuti oleh seluruh murid SMP kami. Aku bersemangat. Aku pun ikut mendaftar untuk ikut sayembara tersebut. Waktu yang di berikan tidak lama, hanya satu minggu. Ini berarti minggu depan gambar sudah harus diserahkan kepada panitia, beberapa guru kami.
Usai sekolah, aku segera pulang ke rumah. Aku mulai memeras otakku, memikirkan gambar apa yang akan kubuat. Aku masih belum memiliki ide untuk sayembara yang mendadak itu. Aku mulai mempersiapkan diri dan pergi membeli perlengkapan gambar berupa: pensil, kertas manila putih, setip (karet penghapus), penggaris yang baru dan tinta cina. Setelah siap perlengkapan menggambarku, sang ide belum juga muncul.
Setelah hari ke dua berlalu, aku mulai panik. Mengapa belum juga muncul bayangan apa yang akan aku gambarkan. Menurutku ini harus bukan sekedar gambar biasa. Aku akan membuat sebuah lambang untuk sekolah, tempat pendidikan menengah. Jadi menurutku ini tidak bisa hanya dibuat dengan sembarangan.
Hari ke tiga. Aku mulai mendapat sedikit bayangan dan mendapat ide untuk membuat gambar yang merupakan kumpulan dari lambang-lambang yang pernah kulihat. Maka mulailah aku menggambar.
Awalnya aku menggambar sebuah buku yang terbuka. Buku itu cukup tebal, tetapi halamannya masih putih bersih, kosong. Di atas buku itu berdiri miring sebuah pena kuno, yang terbuat dari bulu angsa yang ujungnya di potong seperti pena. Pena itu seakan siap untuk dituliskan ke atas halaman buku yang kosong itu. Menurutku gambar ini melambangkan pikiran yang masih kosong, yang siap diisi dengan ilmu pengetahuan.
Kemudian kugambar sebuah lingkaran. Lingkaran itu terbuat dari baja yang mengelilingi buku kosong tersebut . Sisi luar dari roda itu bergerigi. Biasanya dinamakan ‘roda gigi’, mirip seperti yang terdapat pada mesin di pabrik atau pada mesin mobil. Pada bagian bawah yaitu sisi kiri dan kanan roda baja tersebut kuberi gambar dua buah roda gigi yang lebih kecil. Roda gigi yang kecil ini geriginya menempel pada roda besar. Sehingga jika roda yang besar berputar, akan memutar juga dua roda yang kecil tersebut. Tiga roda gigi ini melambangkan suatu pergerakan. Yang besar bergerak sambil membantu yang kecil juga ikut bergerak.
Tetapi, menurutku bergerak saja tidaklah cukup. Harus bergerak lebih cepat menuju ke tujuan. Lalu aku menggambar sepasang sayap di kiri-kanan lambang itu. Sewaktu menggambar sayap itulah aku terjebak untuk menentukan bentuk dan besar kecilnya sayap. Aku menghabiskan banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk itu. Waktu penyerahan gambar tinggal dua hari lagi, sedangkan gambarku masih berupa gambar pensil dengan banyak setipan di sana-sini. Aku masih berkutat dengan merubah beberapa kali sayap itu.
Mendengar teman-temanku mengabarkan bahwa para peserta lain memiliki gambar yang bagus-bagus dan berwarna, aku sempat merasa ciut juga. Tetapi aku tetap kembali fokus ke gambarku sendiri, terutama mengatasi kepusinganku tentang masalah bentuk dan besarnya si sayap.
Sampai sehari menjelang hari penyerahan gambar, aku belum juga menyelesaikan gambarku. Sore harinya, aku menghadapi dilema. Apakah gambar yang akan aku serahkan ini, kutebalkan dengan tinta cina, atau hanya berupa goresan pensil hitam saja seperti setengah jadi? Akhirnya aku memutuskan, aku akan tetap menggunakan pensil yang aku tebalkan. Mungkin saja nantinya boleh di perbaiki, begitu pikirku.
Ok. Siap sudah. Gambarku itu lalu kugulung dan bungkus dengan kertas warna coklat dan telah siap untuk kuserahkan kepada panitia sayembara. Aku pasrah saja dengan hasilnya nanti.
Beberapa hari kemudian, datanglah hari keputusan juri untuk menentukan siapa pemenang sayembara lambang sekolah kami. Sebelum pengumuman, teman-teman sekelasku seperti meledek aku dengan memberi ucapan selamat. Aku berpikir mereka meledek-ku karena mereka tahu bahwa gambarku masih belum selesai, masih dalam bentuk gambar pensil. Tapi mengapa aku kok merasa ucapan selamat dari mereka itu sepertinya tidak di buat-buat. Benarkah gambar yang masih dalam bentuk gambar pensil itu dapat memenangkan sayembara ini?
Beberapa menit setelah itu, tibalah dewan juri mengumumkan siapakah pemenang sayembara. Aku terkejut setengah mati. Ternyata benar, gambarku-lah yang memenangkan sayembara. Teman-teman pendukungku memelukku satu persatu bergantian. Kecuali yang perempuan, tentu saja. Aku gembira luarbiasa. Hasil karya dan kerja kerasku selama satu minggu itu telah menjadikan gambarku sebagai lambang sekolahku, yang aku banggakan ini.
Beberapa hari kemudian, aku memutuskan untuk pergi menghadap ke bapak guru ketua panitia sayembara. Aku akan meminjam gambarku itu untuk aku sempurnakan dengan tinta dan warna. Tetapi aku terkejut, ternyata gambarku itu telah di pajang di atas dinding di depan ruang guru dan ruang rapat itu.
“Yo wis ben wae to, malah ketok asli yen ngono..” (Ya biar sajalah, malahan terlihat asli kalau begitu) kata seorang guru kepadaku.
Hampir setiap hari aku masuk ke ruangan itu hanya untuk memandangi gambarku yang berada di atas dinding itu. Ada dua macam perasaan yang aku rasakan. Bangga tapi sekaligus juga menyesal. Gambarku belum selesai dengan sempura. Namun untungnya setiap aku berlama-lama berdiri memandangi gambarku di ruangan guru itu, mereka tak pernah menegurku.
Suatu siang, ketika istirahat ke dua, saat aku duduk sendirian di teras, tiba-tiba aku mendengar bisikan kecil dari belakang kepalaku.
“Hei, gambarmu akan di turunkan..!”
Tidak kugubris bisikan tersebut.
“Iya, gambar pensilmu terlalu tipis, kurang jelas..” kata bisikan itu lagi.
Aku pun mulai berpikir. Betul juga, gambarku itu memang kurang jelas, karena aku menggunakan pensil ukuran HB. Seharusnya pensil jenis B atau 2B yang lebih tebal. Aku mulai merasa khawatir mengenai hal itu. Lalu bisikan itu meneruskan.
“Sekarang gambarmu sudah di turunkan dan sudah diganti dengan gambar juara kedua yang penuh warna..”
Mendengar suara itu, yang tadinya aku hanya merasa khawatir, perasaan ku tiba-tiba berubah. Aku menjadi marah besar. Darahku serasa mendidih karena gambarku telah di ganti dengan gambar lain.
Aku langsung berlari menuju ke ruang guru. Kubuka pintu, masuk ke dalam dan langsung melihat ke dinding depan. Apa yang aku lihat? Gambarku masih tetap terpajang di sana! Masih sama seperti yang biasa aku lihat. Aku menyesal, aku sudah terkecoh oleh bisikan tadi.
Namun aku lebih terkejut lagi karena baru menyadari kalau di dalam ruangan itu sedang ada rapat. Para guru, kepala tata usaha sekolah, para tamu dari penilik sekolah dan dari pemerintahan, semua memandang kepadaku. Mereka melihatku dengan muka terheran-heran. Aku menjadi lemas dan dengan kepala tertunduk, aku keluar dari ruangan tersebut.
Aku duduk termenung di depan kantor sambil menunggu panggilan untuk diadili atas kesalahanku yang sangat memalukan tadi. Aku menyesal mengapa aku sering terperangkap oleh “bisikan kecil” yang suka muncul di belakang kepalaku.
Aku terus menunggu panggilan untuk diadili. Waktu bel istirahat selesai, belum juga ada panggilan. Waktu usai sekolah pun belum ada panggilan untukku. Bahkan sampai saat kenaikan kelas pun belum juga ada panggilan untuk mengadili aku. Gambarku masih tetap terpasang di dinding bagian depan ruangan rapat yang luas itu.
Begitu juga pada saat aku lulus ujian dan meninggalkan sekolah SMPN kebanggaanku itu. Gambarku yang belum selesai itu masih terpajang disana. Gambar lambang sekolah SMP Negeri Wonogiri. Oh bangganya hatiku. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Editor: Veronica K

Tinggalkan komentar