CARLA
Beberapa hari lalu ada seseorang yang berulang tahun. Ia adalah orang yang sangat penting bagi kami berdua, bagi Utie (isteriku) juga bagi diriku. Namanya Carla, Carla adalah kakak kandung dari Utie, ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Bagi kami berdua, Carla merupakan pengganti para orangtua kami. Tempat kami bertanya dan tentunya sosok yang sangat kami hormati.
Menurutku Carla memiliki kepribadian yang unik dan langka, pendiam, tenang, seorang pemerhati dan pendengar yang baik. Agak berlawanan dengan diriku. Aku temasuk orang yang suka mengoceh, berceloteh, sering berusaha melucu, meskipun kadang kurang lucu. Tetapi Carla akan terus mendengarkan apapun yang kuceritakan.
Dia mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa terlihat bosan dan tak pernah sekalipun memotong pembicaraanku, hal itu yang paling kukagumi dari Carla. Seringkali aku tiba-tiba berhenti sendiri setelah ‘capek’ berbicara. Tapi satu hal yang kutahu adalah bahwa dia menangkap dan mengerti semuanya, apapun yang aku ocehkan padanya.
Walaupun istriku Utie juga pandai berbahasa Inggris dan Belanda, namun kadang kami berdua menghadapi masalah mengenai sebuah istilah atau pengertian dalam bahasa. Dalam situasi seperti itu, seringkali hampir berbarengan kami mengatakan “Telpon Carla..!” Dan seperti biasa, dengan gayanya yang santai Carla selalu memberi jawaban yang benar. Itulah hebatnya Carla, seorang mantan mahasiswi Fakultas Sastra, alumnus Universitas Indonesia, Sastra Inggris pula.
Kegiatanku menulis dalam 2 bulan terakhir ini memang karena dorongan dari anak-cucuku, tetapi sebenarnya ini juga berkat dorongan dan bimbingan yang tulus dari Carla. Sewaktu anak-anakku mengabari tantenya bahwa aku akan menulis, Carla langsung berkata “Iya, dia itu punya bahan cerita “segudang”. Nanti bisa jadi ‘cerber’ “, maksudnya cerita bersambung. Ternyata Carla benar, bukan hanya ‘cerber’ tetapi bahkan akan menjadi ‘bukber’—buku bersambung.
Beberapa waktu yang lalu, dalam persiapan terbitnya bukuku yang kedua, anak-anakku meminta bantuan kepada tantenya ini untuk mengedit seperlunya. Tetapi, apa dilakukannya? Carla bukan hanya mengedit, tapi dia bertindak sebagai ‘proof reader’. Carla memeriksa dan memperbaikinya bukan hanya per-judul, tetapi per -halaman, per-baris, per-kata! Luar biasa. Bahkan Carla meneliti dan membaca draft buku keduaku itu sampai dua kali, tebalnya lebih dari 200 halaman. Aku tahu Carla melakukan semua itu bukan hanya karena itu keahliannya, tetapi dengan totalitas dan dengan tulus hati.
Semoga bukuku yang kedua nanti, yang berjudul: RENANG GAYA BATU akan menjadi buku yang bisa diterima, sehingga bisa bermanfaat bagi anak cucuku dan semua yang membacanya.
Terima kasih Carla, dan sekali lagi selamat ulang tahun. Semoga panjang umur dan Tuhan Memberkati. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Editor: Veronica K


Tinggalkan komentar