PANGGUNG SEKOLAH

Rupanya telah satu tahun aku bersekolah di sini, di SMP Negeri Wonogiri. Walaupun ada beberapa angka merah dalam raporku, aku berhasil naik ke kelas dua.

Aku sangat senang dan bangga bersekolah di sini. Satu-satunya SMP di Wonogiri pada masa itu. Gedungnya megah dan terletak di tepi jalan raya di bagian selatan kota. Halamannya sangat luas. Pada ujungny, terdapat sebuah aula besar. Di dalam aula besar itu, ada sebuah panggung.

Ya, panggung!    Entah mengapa, setiap kali aku melihat sebuah panggung, aku menjadi begitu bergairah dan bersemangat. Bukan karena aku ingin berada di atas panggung itu, tetapi aku selalu berpikir bagaimana caranya supaya panggung itu bisa menghasilkan pertunjukan-pertunjukan yang bermutu.

Panggung tersebut sudah dipersiapkan untuk acara perpisahan sekolah, yang akan diadakan beberapa hari lagi oleh teman-teman kelas dua. Aku bersemangat, karena tahun depan giliran kelasku yang menyelenggarakan acara perpisahan ini. Aku sudah mempersiapkan tim yang terdiri dari sepuluh anak di kelasku. Mereka kuajak untuk mengamati dan belajar dari acara perpisahan kali ini.

Tujuanku adalah agar tahun depan –saat aku dan teman-temanku giliran menjadi panitia– kami bisa mengadakan acara yang jauh lebih bagus.

Tibalah hari acara perpisahan itu. Aula sudah dipenuhi oleh para guru, orangtua murid dan yang pasti teman-teman kelas tiga, yang akan segera lulus dan meninggalkan sekolah kami. Aku beserta sepuluh anak anggota timku sudah siap untuk mengamati seluruh acara. Masing-masing, siap dengan catatan. Seperti biasa, acara pertama adalah sambutan oleh kepala sekolah, lalu diikuti oleh sambutan dari wakil orangtua murid. Setelah itu barulah “acara panggung” dimulai.

Acara dibuka dengan vocal group. Mereka cukup kompak dan bagus. Aku beserta timku, mengangguk-angguk, sambil saling mengacungkan jempol. Acara berikutnya band oleh teman-teman kelas dua. Satu persatu mereka naik ke atas panggung. Sambil mempersiapkan alat-alat di panggung, mereka melakukan tes microphone dan stem alat-alat musik mereka. Sepuluh menit sudah lewat. Namun yang terdengar dari panggung hanyalah bunyi “tang, ting ,teng..” dan suara “tes..tes..testing..” Memasuki menit ke lima belas, band ini belum juga mulai memainkan lagu. Banyak penonton yang sudah terlihat gelisah. Mereka gaduh dan saling ngobrol. Beberapa penonton bahkan mulai berjalan hilir mudik.

Rupanya, pemegang gitar belum juga selesai menyelaraskan nada senar-senarnya. Kebetulan aku memiliki pendengaran yang cukup tajam mengenai nada. Aku mendengar ada nada yang diturunkan. Namun, aku gemas, karena kemudian ia naikkan lagi nadanya. Menurut telingaku, nada tadi sudah pas, tapi rupanya ia terus naikkan dan naikkan. Sampai tiba-tiba, “Thieeengngg…” Senar nomer empat putus!

MC (pembawa acara) berjalan mendekati microphone, dan dengan suara lembut bagaikan penyiar radio, “Perhatian, berhubung kesulitan teknis, maka….” Menurut temanku yang kelas tiga , hal seperti ini sudah biasa terjadi.

Pertunjukan lainnya adalah ‘Standen’, semacam akrobat. Anak-anak yang badannya besar dan kuat membentuk lingkaran dan saling memegang pundak temannya. Kemudian di atas pundak mereka, berdirilah anak-anak yang lebih kecil. Demikian seterusnya, sehingga yang paling atas, hanya ada satu orang anak yang berdiri.

Sebenarnya aku tidak terlalu suka akan pertunjukan yang berbahaya itu. Pertunjukan ini membuat perutku “mulas”. Bagaimana kalau yang paling atas nanti jatuh dan patah kakinya? Dan benar juga. Begitu anak yang paling atas akan berdiri, tumpukan manusia itu mulai bergoyang, seperti kehilangan keseimbangan. Namun untungnya, ia langsung merosot ke bawah dan selamat sampai di bawah. Aku berpikir, akan kuhapuskan nanti ‘Standen’ ini dari acaraku.

Acara berikutnya, Tablo. Ada seorang anak yang membacakan sebuah cerita. Kemudian tokoh-tokoh yang disebutkan dalam cerita tersebut, muncul dan berjalan di atas panggung, tanpa mengadakan dialog. Dan puncaknya, acara perpisahan tersebut di tutup oleh vocal group.

Beberapa hari setelah pesta perpisahan itu, aku mengadakan rapat bersama teman-teman sekelasku, terutama tim calon penyelenggara pesta perpisahan berikutnya. Intinya adalah bahwa acara kita tahun depan, harus lebih bagus dari yang kemarin. Semua yang hadir menyatakan setuju dan mereka kelihatan bersemangat.

Dalam rapat itu, ada beberapa hal yang kami bahas. Yang pertama, acara di panggung harus ‘non-stop review’. Antara acara yang satu dengan yang lainnya, jangan sampai ada jeda waktu. Harus berlangsung terus dari awal sampai akhir. Sehingga para penonton akan tertegun, tidak ada kesempatan untuk mengobrol, apalagi untuk berdiri dari kursi mereka. Caranya adalah dengan mencegah kemungkinan adanya gangguan. Misalnya, mempersiapkan alat-alat musik dengan cepat. Begitu pula dengan proses menyelaraskan nada alias ‘stem’ alat-alat musik. Itu harus dilakukan sebelum acara. Para pemain yang akan tampil pada acara berikutnya, juga harus sudah standby di belakang panggung, yaitu saat acara sebelumnya sedang berlangsung. Jadi, tidak ada lagi acara memanggil anak-anak yang sudah harus naik, dengan pengeras suara.

Hal yang kedua, aku mengatakan kepada mereka, “Akrobat ‘standen’ akan di hapuskan dari acara..!.” Mendengar itu hebohlah seluruh peserta rapat. Tetapi aku tetap ngotot, karena pertunjukan itu telah membuat perutku mulas. Beberapa dari teman-temanku protes. Menurut mereka, justru adegan akrobat itulah yang membuat ‘standen’ menjadi seru. Setelah berdebat dengan panas, akhirnya disepakati, ‘standen’ tetap diadakan. Lalu aku berikan syarat: harus sering berlatih dari sekarang, supaya lancar seperti di sirkus dan tidak membuat perut para penonton “mulas”.

Hal ketiga yang kami bahas adalah ‘tablo’. Tablo akan diganti dengan sandiwara. Sebuah drama yang mengharukan dan disajikan secara lengkap. Teman-teman mengangguk-angguk, tanda setuju.

Hal terakhir yang paling penting , aku akan mengusulkan agar “tata suara” nanti dibuat dengan canggih. Tidak akan ada microphone yang berdiri di atas panggung. Semua microphone akan tergantung di atas panggung —seperti pada pertunjukan wayang orang di Sriwedari, Solo. Mendengar ideku, teman-teman mulai memandangku dengan apatis. Lalu kuteruskan, bahwa lighting atau tata lampu panggung, akan di buat sangat terang dan warna-warni. Teman-teman menjadi semakin apatis mendengar usulku yang mereka anggap ngawur itu. “Mahaaall…!” teriak mereka serentak. Namun untungnya, ada lima orang tim inti yang percaya kepadaku, bahwa aku bisa.

***

Sampailah kami di tahun acara perpisahan tersebut. Dua bulan menjelang acara, kami, tim inti mengadakan rapat dengan para guru. Presentasi mengenai persiapan acara perpisahan ini, kulakukan di depan para guru, kepala tata usaha dan kepala sekolah. Setelah dengan berapi-api aku menjabarkan semua rencana acara yang berbiaya mahal tersebut, pada akhir presentasi, kututup dengan, “Bapak-bapak, acara perpisahan kali ini akan menjadi acara yang terbaik dalam sejarah SMP yang kita banggakan ini. Acara yang akan di kenang oleh kakak-kakak yang akan meninggalkan sekolah ini dan juga oleh siapa pun yang menyaksikan”. Seminggu kemudian, proposal pun di setujui.

Sampailah di hari H. Pesta perpisahan itu. Semua persiapan panggung telah kami lakukan dengan sebaik-baiknya. Tata suara (sound system), kami datangkan dari Solo. Untuk lighting, aku yang mengerjakannya sendiri. Karena di samping aku sudah cukup paham mengenai listrik, aku sudah lima kali mengenal rasanya “kesetrum”.

Lampu-lampu itu kami letakan di bawah dan atas panggung. Masing-masing lampu kututup dengan kertas minyak berwarna-warni, sehingga menghasilkan banyak warna: hijau, putih, kuning, biru, dan merah. Panel saklar yang besar yang digunakan untuk mengganti-ganti warna lampu, berada di samping panggung. Ada petugas khusus yang “memainkan” lampu panggung tersebut. Tata lampu itulah yang nantinya akan membuat panggung menjadi lebih hidup dan mempesona.

Sore harinya, acara perpisahan pun di mulai. Setelah kata-kata sambutan, mulailah acara panggung. Anggota vocal group muncul dengan cepat. Setelah mereka siap, lampu yang sangat terang dan berwarna-warni langsung menyinari panggung. Para penonton terkejut dan terpesona. Para penyanyi, berhasil menghibur para penonton dan menyanyikan lagu-lagunya dengan merdu dan kompak, yang terbagi dalam empat suara.

Setelah vocal group selesai, semua lampu dimatikan. Dan dengan cepat muncul personil-personil band mengiringi para penyanyi. Acara berikutnya, ‘Standen’. Para penonton terkagum-kagum. Kami juga terpesona melihat kecanggihan teman-teman melakukan akrobat. Mereka telah melakukannya dengan baik dan pasti, bagaikan dalam sirkus. Seorang anak yang berdiri paling atas, bahkan bisa membuat dirinya seakan menari. Begitu pula dengan anak-anak yang berdiri menyangga di bawahnya. Mereka sama sekali tidak ragu dan bergoyang. Hal ini yang membuat perut kami terbebas dari rasa “mulas”.

Acara demi acara, berlangsung dengan cepat dan lancar. Dan sampailah kami di puncak acara: sebuah drama yang mengharukan. Sebuah keluarga petani miskin yang di tinggalkan oleh anak lelakinya setelah tamat dari SMP. Ia lalu mengembara, tak tahu dimana. Selama bertahun-tahun, orangtuanya merindukannya. Hingga suatu hari, anak itu tiba-tiba muncul di desanya, di depan orangtuanya. Anak yang dulu kecil, sudah tumbuh dewasa, tampak gagah, sukses dan telah menjadi seorang Insinyur. Ia kemudian berikrar. Ikrar itu diucapkannya dengan suara lantang, di depan para penonton. Penonton bergemuruh dan menyambut ikrar itu dengan luar biasa. Sebuah ikrar untuk membangun desanya agar menjadi makmur.

Aku merasa sangat bangga. Panggungku, telah berhasil memeriahkan dan berperan dalam acara perpisahan ini dengan sukses. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K