TAKUT DITERKAM KUCING
Setelah lulus dari SMP Negeri di Wonogiri, aku melanjutkan sekolah ke SMA Santo Yosef di Keprabon, Solo –yang sekarang bernama Jalan Jend. Slamet Riyadi. Sekolah ini khusus untuk anak laki-laki saja. Beberapa dari gurunya adalah “Bruder”, yaitu biarawan Katolik yang bertugas di bidang pendidikan.
Para Bruder ini, hidup dan tinggal di sebuah bangunan yang kokoh dan indah yang memanjang di tepi Jalan Mgr Sugiyopranoto, dekat Gereja Purbayan. Bangunan yang biasanya disebut dengan Bruderan ini, letaknya tidak begitu jauh dari sekolah kami. Bangunan bagian belakang dari gedung tersebut, digunakan sebagai sebuah asrama. Beberapa siswa sekolah kami tinggal di asrama ini, termasuk aku.
Aku sangat menikmati kenyamanan dan ketenangan kota Solo. Setiap pagi, aku beserta teman-teman asramaku dan para Bruder, berangkat ke sekolah dengan naik sepeda beramai-ramai. Jarak antara asramaku dengan sekolah, setara dengan “tiga judul lagu” keroncong. Maksudku begini. Sepanjang perjalanan dari asrama, aku bisa mendengarkan dan menikmati lagu-lagu keroncong terus menerus, tanpa terputus.
Bagaimana tidak. Setiap pagi, rumah-rumah di kiri-kanan jalan yang kami lewati itu, selalu menyetel radio dari satu pemancar yang sama, yaitu Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta. Siaran keroncong. Mereka mendengarkan siaran radio itu dengan suara yang keras, sampai terdengar ke jalan.
Aku sangat menikmati siaran lagu-lagu keroncong itu. Suaranya pun seperti “stereo”, karena terdengar dari kiri dan kanan jalan. Biasanya, pada lagu ketigalah aku baru sampai di sekolahku. Begitu pula pada siang hari. Saat perjalanan pulang dari sekolah, kami selalu dihibur dengan suara “gamelan Jawa”. Suara itu terdengar sampai aku masuk ke dalam asramaku, Bruderan.
Penghuni asrama kami tidak banyak, hanya sekitar dua puluh orang. Mereka adalah siswa dari SMA St Yosef, yang berasal dari luar kota Solo. Bahkan ada yang dari luar Pulau Jawa. Pada awalnya, aku tidak nyaman tinggal di asrama ini. Aku harus tinggal di dalam pagar tembok yang tinggi, sehingga ruang gerakku sangat terbatas. Apalagi, disini berlaku peraturan dan jadwal waktu yang sangat ketat.
Setiap pagi, harus bangun pukul lima pagi. Dan malamnya, setiap pukul sembilan malam sudah harus tidur kembali. Semua lampu sudah harus di matikan. Nah, repot juga bagi anak yang senang bertualang seperti aku ini, anak yang biasa hidup bebas merdeka dan bebas melakukan apa saja semauku.
Begitu pula dengan masalah kebersihan. Di Bruderan ini, semua tempat tertata rapi dan bersih. Aku tidak terbiasa dengan kebersihan dan kerapihan semacam ini. Tetapi lama kelamaan, aku terbiasa juga dengan kehidupan yang teratur. Terbukti sekarang, tanpa kusadari aku mulai sering cuci tangan, pakai sabun.
Suatu siang, saat aku sedang membaca buku sambil berdiri dan bersandar di tembok depan kamar, aku melihat seorang Bruder Belanda sedang berjalan tergopoh-gopoh, seakan sedang mengejar sesuatu. Aku kemudian menengok ke arah kanan, sepertinya tidak ada siapa-siapa. Lalu saat aku hendak melanjutkan membaca, tiba-tiba Bruder itu mendadak berhenti di depanku. Ia melotot, sambil tersenyum. Mendadak aku mejadi canggung. Belum sempat aku bertanya, Bruder itu berkata, “Itu satu kilogram cat tembok, sudah menempel di badanmu..!” Hanya satu kalimat itu yang ia ucapkan, lalu ia berjalan kembali menuju ke kantornya. Rupanya ia menegurku karena aku bersandar di tembok.
Di hari yang lain, di suatu pagi, sekitar pukul lima dini hari. Seperti biasa, kami harus bangun untuk berdoa sebentar, lalu mandi. Sambil mandi, aku bersiul-siul kecil untuk menambah semangat menyambut hari yang baru. Seusai mandi, saat aku keluar dengan masih berselimut handuk, tiba-tiba aku di panggil oleh seorang Bruder. Rupanya Bruder ini sedang bertugas mengawasi kami pagi itu. Aku kemudian di ajak ke pojok ruangan dan ia mulai berbicara dalam bahasa Belanda.
“Vogels die zo vroeg zingen krijgt de poes! Kamu mengerti artinya?”
“Tidak Bruder” jawabku sambil menggigil kedinginan.
Bruder melanjutkan: “Burung yang berkicau terlalu pagi, akan di terkam kucing..!” katanya sambil menyuruhku pergi.
Rupanya, ia menegurku karena mendengar saat aku bersiul-siul kecil tadi, saat mandi.
Di asrama itulah aku mulai mengalami kehidupan yang baru, yang sangat berbeda dari cara hidupku sebelumnya. Aku sangat terkesan dengan cara yang dipakai para Bruder Belanda itu untuk menegur kami. Bukannya melarang dengan marah, tapi dengan teguran melalui sebuah perumpamaan.
Sejak itu, aku tidak pernah lagi bersiul atau pun bernyanyi sewaktu mandi pagi. Takut di terkam “kucing”. (*)
Penulis: Antonius Sutedjo
Editor: Veronica K

Tinggalkan komentar