UANG DARI BAS BETOT
Sejak aku bersekolah di kota Solo, di SMA Santo Yosef, dan tinggal di asrama Bruderan, aku merasa kehilangan akan dua hal, yaitu kebebasan bertualang dan berbisnis. Sehari-hari aku berada di dalam lingkungan pagar tembok. Tembok sekolah dan tembok Bruderan. Padahal sebelumnya, saat bersekolah di SD dan SMP di Wonogiri, aku hidup bebas lepas dan bisa mencari uang sendiri.
Mulai dari kelas dua SD, aku sudah bisa membuat rokok, yang awalnya hanya untuk Pak Mojo, ayah angkatku saja. Tetapi karena konon rokok buatanku cukup enak, maka mulailah muncul banyak pesanan, sehingga aku bisa menghasilkan uang dari usahaku sendiri. Begitu juga setelah itu, aku pernah berbisnis benang tenun, madu lebah dan lain sebagainya. Saat sekolah di SMP pun ada beberapa bisnis yang kulakukan. Banyak angka merah dalam raporku akibat kesibukanku itu.
Tetapi Tuhan itu baik, Ia selalu memberiku jalan. Suatu siang sewaktu istirahat sekolah, dimana kami harus tetap berada di dalam lingkungan sekolah, seperti biasa aku berjalan mondar-mandir di halaman. Tiba-tiba aku mendengar suara musik yang datang dari dalam aula. Aku menengok ke dalam dan aku melihat beberapa anak sedang berlatih bemain musik. Salah satu dari mereka adalah pemimpin sebuah group musik di sekolahku. Ia merupakan pemain melodi gitar yang kukagumi.
Melihat aku mendekat dan duduk untuk menonton, ia tiba-tiba bertanya kepadaku, “Bisa main bas?” Mendengar pertanyaan itu, aku langsung menjawabnya spontan, ”Bisa!” Kemudian aku langsung berdiri, lalu memegang bas yang tinggi itu, ’bas betot’.
Aku tak mengerti mengapa tadi kubilang “bisa”. Padahal, itu pertama kalinya aku memegang sebuah alat musik bernama bas betot, ya baru kali ini. Sebelumnya aku hanya sering melihat orang memainkan bas betot pada orkes-orkes keroncong. Mereka berdiri tegak sambil memeluk alat musik yang tinggi itu. Tangan kirinya meluncur-luncur sambil menekan senar-senar bas, sementara tangan kanannya membetot-betot senar di bawahnya. Sungguh keren.
Dan sekarang bas betot sudah dalam pelukanku. Aku mulai melakukan gaya yang sama seperti apa yang pernah kulihat. Aku menekan-nekan senar, sambil mencari-cari nada yang benar. Awalnya, aku ngawur saja dengan pura-pura berimprovisasi. Untungnya aku memiliki pendengaran yang cukup baik mengenai ketepatan nada. Aku juga sedikit bisa bermain gitar. Pikirku yang penting “betotan” (tarikan) senarku, harus tepat sesuai irama. Rupanya dengan cara itu aku cukup berhasil. Buktinya, semakin banyak anak-anak lain yang berkerumun melihat kami latihan.
Aku melirik ke sang pemimpin band. Dia mengangguk-angguk sambil tersenyum ‘kecut’. Dia pasti tahu kalau aku memainkan nada dengan ngawur.
“Minggu depan kamu ikut siaran, ya..” katanya kepadaku.
Aku terkejut, terheran-heran tapi merasa senang. Wow, aku boleh ikut siaran!
Memang sudah beberapa kali group musik SMA ku ini mendapat kesempatan mengisi lagu di Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, setiap satu bulan sekali dan disiarkan pukul lima sore. Tapi kali ini, sungguh istimewa bagiku. Karena aku boleh ikut main musik di dalam siaran di radio itu. Sebagai pemain bas betot.
Aku menjadi bergairah, karena permainan bas-ku yang akan ikut mengiringi band ini, juga akan di pancarkan dan di dengarkan ke seluruh Nusantara. Termasuk Jakarta, Malang, Mojokerto dan Wonogiri! Aku harus mencari cara untuk memberi tahu teman-temanku yang ada di kota-kota tersebut. Dan yang terlebih penting, memberi tahu mereka, bahwa pemain basnya adalah aku.
***
Sore itu, kami sudah berkumpul dan siap di dalam ruang siaran di Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta. Setelah berlatih sebentar, sang penyiar memberi kami tanda untuk bersiap-siap. Lalu, dengan suara lembutnya ia menyapa para pendengar:
“Inilah Radio Republik Indonesia Surakarta..”
Petugas alat pengatur suara kemudian mengacungkan jari telunjuknya kepada kami. Lalu, sebuah lagu singkat sebagai “intro” kami mainkan.
Kemudian sang penyiar melanjutkan: “Demikianlah tadi salam pembukaan dari Band SMA Santo Yosef Surakarta … Sebagai lagu pertama, Tony akan menyanyikan lagu berjudul, Dewi.” Maka mulailah band kami ini memainkan lagu-lagu tahun lima puluhan.
“Dewi” adalah sebuah lagu terpopuler pada saat itu, sehingga selalu ada dalam setiap acara siaran. Kami juga menampilkan dua penyanyi perempuan dari SMA lain, yang menyanyikan lagu-lagu Indonesia dan Barat yang populer saat itu.
Sepulang dari studio RRI, aku langsung menghubungi teman-temanku yang sebelumnya berjanji akan mendengarkan siaran kami. Aku menanyakan, bagaimana hasil siaran kami. Mereka semua berkata, “Baguus..” Lalu, sambil agak malu-malu, aku bertanya lagi, ”Bagaimana suara bas-ku?” Mereka menjawab, ”Baguus..” sambil mengangguk-angguk.
Aku bangga dan bahagia hari itu. Dari siaran radio itu aku juga mendapat uang honor. Uang hasil bermain musik itulah merupakan penghasilan pertamaku semenjak aku berada di kota Solo ini. Uang tersebut kuhabiskan untuk mentraktir teman-temanku di warung es langganan di dekat asrama Bruderan. Sambil menikmati es duren dan es dawet, teman-temanku mendengarkan ceritaku, bagaimana aku memainkan bas betotku di siaran Radio Republik Indonesia kemarin. (*)
Penulis: Antonius Sutedjo
Editor : Veronica K

Tinggalkan komentar