LONDO

Bruderan adalah sebutan untuk tempat tinggal para Bruder (biarawan Katolik). Bruderan ini berada di atas tanah seluas satu hektar. Jika kita masuk dari bagian depan, terlihat bangunan yang kokoh, indah dan memanjang. Di bagian tengah bangunan tersebut, terdapat sebuah ruang tamu yang di kelilingi kamar-kamar para Bruder. Di sayap kirinya, juga ada bangunan yang sama yang menjorok ke dalam. Pada bagian ujung belakang itulah yang dipergunakan sebagai asrama para siswa. Tempat aku tinggal.

Para Bruder yang tinggal di Bruderan itu adalah para biarawan yang sehari-harinya mengajar di sekolahku, SMA Santo Yosef. Sebagian besar dari mereka adalah orang Belanda. Mereka mudah dikenali dari seragamnya, yaitu berupa jubah panjang berwarna putih, yang pada sisi kanan sabuk pinggangnya tergantung sebuah kalung Rosario (tasbih) yang besar, sampai di bawah lutut. Dan setiap mereka berjalan, akan mengeluarkan bunyi gemerincing yang khas.

Aku senang mengamati kehidupan para Bruder ini. Hidup mereka sangat teratur, nyaman dan tenteram. Sepengetahuanku, hidup keseharian mereka adalah mengajar dan berdoa. Sungguh “ora et labora”.

Di dalam Bruderan ini, terdapat sebuah “kapel” atau gedung gereja kecil yang berornamen sangat indah. Dari kapel tersebut selalu terdengar para Bruder berdoa bersama dan menyanyikan lagu-lagu Gregorian. Suara mereka terdengar sangat merdu, syahdu dan agung.

Lagu Gregorian adalah lagu-lagu gereja berbahasa Latin yang dinyanyikan hanya oleh para lelaki, untuk mengiringi Misa (Ibadah umat Katolik). Lagu Gregorian ini berasal dari jaman Romawi kuno, yang saat itu masih resmi dipakai dalam Misa Gereja Katolik di Indonesia. Aku juga sering menyanyikannya dalam sebuah paduan suara ketika Misa di Gereja Purbayan, yang letaknya tidak jauh dari Bruderan kami.

Sehari-hari aku hanya melihat para Bruder tersebut sewaktu mengajar di sekolahku dan di dalam lingkungan Bruderan. Terkadang muncul juga keinginanku untuk hidup seperti mereka.

Pada suatu hari Minggu siang, aku dan beberapa teman SMA-ku, mengadakan acara berenang bersama di Tirtomoyo. Tirtomoyo adalah kolam renang yang besar di daerah Jebres, di timur Kota Solo, yang sering pula dipergunakan untuk perlombaan renang. Karena tempat renang ini tidak terlalu jauh dari asramaku, seringkali aku dan teman-temanku datang untuk menyaksikan perlombaan tersebut dari tribun penonton. Air kolamnya yang sangat bersih, membuat banyak orang senang berenang di Tirtomoyo.

Siang itu, setelah kami selesai berenang dan berganti pakaian, kami tidak langsung pulang ke asrama. Kami beristirahat di atas tribun sambil melihat orang-orang yang sedang berenang. Dari atas tribun itu kami melihat ada empat orang lelaki berkulit putih berenang mondar-mandir. “Londo”, pada masa itu Londo adalah sebutan untuk orang yang berkulit putih, seperti orang Amerika, Belanda, Perancis atau dari bangsa yang lain.

Kemudian tiba-tiba saja teman-temanku mulai berteriak, “Eh, londoo…londoo..!” Semakin lama teman-teman semakin menjadi-jadi meneriaki orang-orang itu. Bahkan mereka mendekati kolam sambil terus berteriak “Londoo, hei, londoo..!” Dan itu mereka lakukan terus menerus. Aku mengamati respon para lelaki berkulit putih itu. Mereka tetap tenang dan tetap serius berenang mondar-mandir di sepanjang kolam.

Setelah hari semakin sore, mereka berhenti berenang, masuk ke ruang ganti pakaian. Selang beberapa lama, keluarlah empat lelaki berkulit putih tadi dari ruang ganti pakaian. Rambutnya yang pirang dan mengkilat, telah disisir rapi. Kulit wajahnya yang putih pun bercahaya, seakan memantulkan cahaya lampu sore itu. Mereka memakai kacamata dengan jubahnya yang panjang berwarna putih, dan tergantung … rosario panjang di pinggangnya masing-masing.

Sontak kami terkejut. Serentak tanpa di beri komando, kami meloncat lari menuju ke sepeda masing-masing. Kami memacu sepeda, ngebut menuju rumah masing-masing. Aku pun juga ikut ngebut sekencang-kencangnya, menuju pulang ke … asrama, ke Bruderan.

Malamnya di Bruderan, aku menghampiri para Bruder satu persatu. Aku menyapa mereka.

“Selamat malam, Bruder…”

Kemudian ia membalas, ”Selamat malam..” sambil meninggalkan aku seperti biasa, setelah di beri salam.

Dengan perasaan was-was, aku lalu mendekati dan menyapa Bruder yang kedua.

“Selamat malam, Bruder…”

“Selamat malam”, balasnya.

Kemudian bertemulah aku dengan Bruder keempat, bruder yang terakhir. Aku serasa sudah siap untuk mendapatkan “reaksi” darinya. Lalu masih dengan perasaan was-was, pelan dan sopan aku memberinya salam.

“Selamat malam Bruder…”

Bruder itu melihatku. Dengan posturnya yang tinggi dan tegap, ia menghentikan langkahnya, dan berdiri di depanku. Dengan tegas lalu ia menjawab, “SELAMAT MALAAAM…”

Sambil berjalan, aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Lega. Tenanglah hatiku. Ternyata mereka tidak tahu, bahwa siang tadi aku juga berada di kolam renang Tirtomoyo bersama teman-temanku, yang meneriaki mereka: “Londoo, hei, londoo..” (*)

 

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K