“ NON ! “
Melakukan perjalanan wisata atau berlibur adalah salah satu kegiatan favoritku. Bagiku, yang paling menyenangkan dari semua perjalanan yang telah kulakukan adalah perjalanan wisata yang kulakukan berduaan saja bersama istriku, Utie. Dengan berlibur berduaan, kami bisa lebih menikmati suasana tanpa harus bergantung pada orang lain. Kami bisa mengubah rencana perjalanan atau bahkan memperpanjang waktu tinggal di suatu tempat yang kami sukai.
Teman-temanku sering menyebut perjalanan-perjalanan wisata kami berdua sebagai perjalanan “bulan madu”. Bulan madu kedua, ketiga dan seterusnya. Hanya saja mereka semua tidak pernah tahu yang manakah yang adalah bulan madu kami yang pertama. Banyak orang mengira kami seperti pasangan-pasangan pada umumnya, yang pergi berbulan madu satu hari setelah hari pernikahan. Tetapi tidak demikian dengan kami berdua.
Sehari setelah pesta pernikahanku dengan Utie, aku harus langsung masuk kerja. Waktu itu aku bekerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil). Mengapa kami tidak langsung pergi berbulan madu? Karena dua alasan. Pertama, karena kesibukan pekerjaan. Alasan kedua -ini yang paling utama- yaitu kami tidak punya uang.
Tetapi walaupun begitu, aku berjanji kepada istriku, bahwa suatu hari nanti aku akan mengajaknya pergi berbulan madu dengan cara yang lebih hebat.
Setelah satu-dua tahun kami menikah, belum juga aku mampu memenuhi janjiku untuk membawanya berbulan madu. Tetapi Utie, istriku itu sangat baik, ia tidak pernah menagih janjiku itu, tetapi aku tetap memegang teguh janji itu.
Setelah lebih dari 20 tahun menikah dan setelah aku menekuni bisnisku yang terakhir –di bidang pemasaran jaringan– maka barulah aku mampu mengajak istriku tercinta, Utie, mengadakan perjalanan-perjalanan bulan madu.
Salah satu contohnya adalah perjalanan wisata kami ke Eropa. Setelah selama sepekan kami melakukan perjalanan bersama rombongan teman-teman bisnisku di Spanyol, aku dan Utie memisahkan diri dari rombongan untuk melanjutkan perjalanan kami berdua keliling Eropa.
Dengan kereta api kami meninggalkan Spanyol dari Barcelona, menuju tujuan pertama kami yaitu Lourdes, sebuah kota di Perancis Selatan. Setelah selama tiga hari kami berwisata di Lourdes, kota tempat berziarah, kami berencana menuju ke kota Roma di Italia, dengan menggunakan kereta TGV –kereta rel tercepat di dunia saat itu.
Sebelum menuju ke Roma, Utie mengajakku untuk singgah dulu beberapa hari di kota Monaco dan kota Montecarlo, kota yang konon adalah tempat terindah di Eropa. Di situ juga merupakan tempat tinggal orang-orang terkenal dan terkaya di dunia. Oleh sebab itu kami berencana akan tinggal beberapa hari lagi di kota Nice, di Perancis Tenggara. Nanti, dari Nice itulah kami akan menyewa mobil menuju Monaco dan Montecarlo.
Akhirnya, sore itu kami turun di stasiun kereta api di Kota Nice. Keluar dari stasiun, seperti biasa kami sedikit bingung untuk memilih transportasi, naik taksi resmi atau mobil sewaan. Akhirnya aku memilih untuk berjalan kaki. Aku memiliki peta yang menunjukkan bahwa hotel tempat kami akan menginap itu tidak jauh dari stasiun.
Menurut petunjuk dari peta yang kupelajari, dari depan stasiun Nice, kami harus berjalan ke arah kiri. Sekitar lima puluh meter di ujung jalan dekat sebuah sungai kecil, belok ke kanan. Tidak jauh dari pertigaan itu ada jembatan. Di seberang jembatan itulah letak hotel kami menurut si peta. Sangat dekat dan jelas.
Kemudian mulailah kami berjalan kaki, sambil menikmati pemandangan kota Nice di sore hari itu. Utie menyeret sebuah koper kecil, sedangkan aku di belakangnya menarik koper yang lebih besar. Kami menikmati berjalan kaki di jalan yang lengang tersebut, setelah penat seharian duduk di kereta.
Sebelum sampai di ujung jalan, tiba-tiba muncul seorang laki-laki muda yang tampan dan berpakaian rapi. Ia memakai kemeja putih lengan panjang dan bercelana panjang hitam. Dilihat dari penampilan dan parasnya, sepertinya pemuda itu bekerja di bidang pariwisata atau perhotelan.
Dengan sangat sopan dan tersenyum manis, pemuda tampan ini menyapa Utie menawarkan jasanya. Melihat pemuda itu, Utie langsung tertarik dan menanyakan di mana letak hotel kami. Dengan meyakinkan, Ia langsung menjawab “Oh, that is my hotel…” sambil mengajak Utie mengikutinya. Dan langsung saja pemuda itu dan Utie berjalan bersama sambil akrab mengobrol.
Utie, istriku ini memang mudah dan cepat akrab dengan siapa pun, di mana pun dan kapan pun. Sementara itu ku tetap mengikuti mereka dari belakang. Tiba-tiba aku menghentikan langkahku. Karena sesampai di ujung jalan, mereka malah berbelok ke kiri. Padahal menurut petunjuk di petaku, seharusnya kita berbelok ke kanan.
Aku mencoba untuk tetap berpikir positif. Ia sepertinya akan mengambil jalan memutar, begitu pikirku. Maka aku tetap mengikuti mereka dari jarak agak jauh. Kami kemudian melalui jalan yang di kiri kanannya adalah gedung-gedung perkantoran yang telah tutup. Sehingga sangatlah sepi.
Saat memasuki jalan itu, di depan kami muncul dua orang yang berbadan tegap dan tinggi besar. Pria yang satu berkulit putih, sedang yang lainnya berkulit gelap. Keduanya memakai jaket kulit, seperti polisi berpakaian preman sedang berpatroli di jalanan tersebut.
Tiba-tiba dua orang tersebut mendatangi dan mencegat jalan kami.
“Pasport!” kata orang yang berkulit gelap itu kepada kami.
Aku sangat terkejut, untuk apa ia meminta paspor kami. Utie melihat kepadaku, karena akulah yang menyimpan paspor kami di dompet sabukku.
Melihat itu, aku spontan menjawab “Non..!”—Tidak!
Mendengar jawabanku itu, kedua “raksasa” tersebut kaget dan terlihat marah. Sedangkan si ganteng, teman Utie tadi, mencoba mempengaruhi kami untuk menyerahkan paspor kami. Katanya hanya sekedar di periksa sebentar.
Dua orang yang besar dan menakutkan itu masih marah-marah kepadaku dalam bahasa Perancis. Menghadapi situasi yang sangat menegangkan semacam itu, aku mengambil tindakan untuk mengamankan istriku lebih dahulu.
Aku menyerahkan koperku kepada Utie, lalu berbisik, ”Ibu sekarang lari kesana, sampai ketemu orang. Lari saja terus dan jangan menengok ke belakang!”
Untunglah Utie menurut. Mukanya terlihat pucat, tapi ia langsung berlari sambil menarik kedua koper kami.
Setelah aku melihat Utie sudah cukup jauh jaraknya dari kami, maka aku pun berbalik untuk menghadapi mereka. Mereka mengira aku akan menyerahkan pasporku. Tetapi tidak. Aku menggulung lengan jaketku dan berdiri sambil memasang kuda-kuda, seperti seorang jago karate atau silat yang siap bertanding.
“Non..!” teriakku lagi sambil menatap mata kedua ‘raksasa’ yang marah itu.
Kami saling menatap mata. Situasi yang sangat menegangkan itu berlangsung selama lebih dari sepuluh detik. Ajaib, mata dua “raksasa” marah yang tadinya melotot itu, tiba-tiba mulai meredup seperti mata kucing yang berketap-ketip.
Kemudian pria yang berkulit gelap memberi kode kepada kedua temannya, lalu serentak mereka lari cepat masuk ke dalam gang di antara gedung-gedung itu.
Aku lalu segera berbalik untuk berjalan menyusul Utie. Aku berjalan cepat tanpa menengok ke belakang. Tak jauh dari sana rupanya Utie berahasil menemukan sebuah pintu yang terbuka yang ternyata itu adalah sebuah restoran.
Pemilik restoran itu menyambut kami. Ia mengira kami akan makan di restorannya. Namun Utie hanya minta tolong kepada orang itu untuk di panggilkan taksi.
Ia bertanya kami mau kemana, dan Utie menyebutkan nama hotel kami. Pemilik restoran itu tertawa karena ia heran. Ia lalu menunjuk ke hotel kami, yang sudah kelihatan dari situ. Namun karena ia melihat kami berdua masih gemetaran, maka ia segera membantu kami dengan menelpon memanggil taksi.
Sewaktu masuk ke dalam taxi dan memberi tahu tujuan kami, sopir taksi juga mentertawakan kami. Tujuan kami sangat dekat di depan, mungkin hanya lima menit jalan kaki.
Setelah masuk ke dalam lobby hotel itu, barulah kami merasa lega dan aman. Huh, sungguh pengalaman yang seru hari itu. Mengalahkan dua “Polisi” Perancis!
Mengapa aku berani melawan tiga orang ‘perampok’ itu? Pertama, karena aku harus mempertahankan pasporku. Bagiku, paspor adalah ‘nyawa’ bagiku setiap sedang di negara orang. Kedua, sewaktu kami masih di Spanyol, pemandu wisata kami sempat mengatakan bahwa di Eropa tidak pernah ada razia paspor di jalan. Dan perampok di Eropa tidak mudah melakukan kekerasan, karena pasti akan mendapat hukuman sangat berat. (*)
Penulis: Antonius Sutedjo
Editor: Veronica K

Tinggalkan komentar