MONACO MONTE CARLO
Sewaktu aku dan istriku,Utie, merencanakan perjalanan ke Spanyol dan Perancis, teman-temanku yang pernah ke Eropa mengatakan “Jangan lupa mengunjungi ‘Cote d’Azur’, dengan jalan darat..!” Mereka mengatakan bahwa ‘Cote d’Azur’ (baca: kot da zur) mempunyai panorama yang sangat indah di sepanjang pantai selatan dan tenggara Perancis, dan yang berujung di Kota Nice.
Karena itu, dari Lourdes, di Perancis Selatan, kami berdua berangkat pagi-pagi menuju ke Kota Nice menyusuri pantai menggunakan kereta rel,TGV. Aku sungguh menikmati pemandangan yang luar biasa itu. Pesisir di sepanjang pantai yang kami lewati berwarna-warni. Ada pantai yang berwarna putih, kuning, hitam. Kemudian aku melihat dari kejauhan, sebuah pantai karang berwarna merah. Pemandangan yang luar biasa. Tetapi kami tidak berhenti di situ. Sorenya kami turun dan menginap di Kota Nice.
Esok pagi, setelah malamnya beristirahat di hotel di Kota Nice, aku dan Utie berangkat ke Monaco dan Monte Carlo dengan mobil sewaan. Mengapa kami memilih Monaco dan Monte Carlo sebagai tujuan? Kisahnya begini.
Utie, semasa sekolah, SMP sampai SMA adalah penggemar film. Utie mempunyai koleksi foto para bintang film Hollywood idolanya. Satu di antaranya adalah pemenang piala Oscar, Grace Kelly. Grace Kelly memang sangat cantik, perawakannya tinggi dan penampilannya sangat anggun, bagaikan seorang princess. Saat itu, di tahun lima puluh enam, para penggemar film di seluruh dunia heboh, saat Grace Kelly dipersunting oleh Prince Rainier III dari Monaco. Saat itu Grace Kelly benar-benar menjadi princess yang sesungguhnya. Peristiwa pernikahan itu kemudian menjadi sebuah “legenda” di dunia. Dan jumlah wisatawan yang ke Monaco pun meningkat tajam.
Aku juga langsung menyetujui usul Utie itu. Bagiku Monaco dan Monte Carlo merupakan termasuk tempat impianku untuk di kunjungi. Konon pemandangannya sangat indah. Bagaikan “sorga dunia”, kata mereka yang pernah ke sana. Sedangkan di Monte Carlo terdapat Casino yang sangat terkenal. Di sana juga terdapat Grand Prix –tempat balap mobil Formula 1– yang diadakan di jalanan di dalam kota. Tidak seperti circuit biasanya. Aku ingin melihat semua itu.
Mobil kami dikemudikan oleh seorang pemuda yang sangat profesional. Kami menyusuri jalan berliku-liku tajam dan naik turun, yang cukup mengerikan. Di sisi kiri jalan, menjulang tebing yang tinggi. Sedangkan di samping kanan ada jurang yang sangat curam.
Mobil kami berhenti di tempat parkir, di pinggir jurang itu. Dari tempat itulah aku melihat sebuah pemandangan yang luar biasa indahnya. Di bawah terlihat sebuah port atau pelabuhan untuk kapal-kapal milik pribadi. Di pinggir teluk itu di penuhi oleh yach, perahu dan kapal milik pribadi, yang semuanya berwarna putih. Perahu-perahu itu tertambat dengan cara susun sirih dan sangat rapi. Teluk itu dikelilingi tebing yang tinggi dan di situlah berdiri rumah-rumah mewah yang sangat indah milik orang-orang terkaya di dunia. Pantaslah kalau ada yang mengatakan tempat itu bagaikan “sorga dunia”.
Tiba-tiba mobil kami memasuki jalan kecil di antara tebing-tebing itu. Kemudian berhenti di halaman parkir di sisi tebing. Pengemudi kami mengatakan kalau kami berjalan kaki ke atas, di sana ada tempat untuk melihat seluruh Monaco dan Monte Carlo dari atas.
Aku dan Utie mencoba berjalan kaki mendaki tangga dan jalanan, Di kiri kanannya terdapat rumah-rumah penduduk.Tetapi rupanya di samping perkampungan tersebut, aku melihat ada jalan setapak yang juga sangat menanjak. Rupanya itu adalah jalan menuju ke sebuah hotel yang berada di puncak bukit itu.
Terlihat ada dua orang berseragam hotel keluar dari gang itu. Lalu mereka menjemput tamu yang baru turun dari mobil. Aku lalu berpikir, bagaimana ya cara mereka membawa koper-koper yang banyak itu di jalan menanjak yang terjal itu. Ternyata salah seorang dari Bell boy dari hotel tersebut menuju ke sudut tempat parkiran, lalu mengeluarkan seekor keledai. Keledai itulah yang mengangkut koper-koper itu ke atas.
Kami berjalan tidak sampai ke puncak. Terlalu jauh dan sangat melelahkan. Akhirnya kami beristirahat di rumah seorang pembuat kerajinan dari kulit. Ada seorang bapak pemilik rumah kerajinan itu sedang membuat macam-macam tas, dompet, dan sebagainya. Dia bertanya kepadaku, dari mana aku berasal. Aku katakan bahwa kami dari Indonesia. Ia kemudian berkomentar “Oh, Indonesia. Indonesia punya kulit yang berkualitas bagus..”
Lalu bapak itu mengeluarkan berlembar-lembar kulit dari Indonesia. Aku mengangguk-angguk seakan mengerti tentang kulit. Aku kemudian melihat-lihat koleksi ikat pinggang buatannya. Sabuk-sabuk itu indah dan harganya pun sangatlah mahal. Rasanya aku tidak cocok memakai sabuk yang sangat mewah tersebut.
Rupanya bapak itu mengerti apa yang ada dalam pikiranku. Ia mengeluarkan sebuah sabuk yang polos, sederhana tapi terlihat bagus. Ia mengatakan, “You pakai sabuk ini, dan sepuluh tahun lagi you kembali kemari, sabuk ini akan tetap sama tidak berubah, asalkan jangan di semir…” Akhirnya aku beli sabuk itu dan hampir setiap hari aku pakai. Bahkan sampai saat aku menulis buku ini, sabuk itu masih aku pakai. Berarti umurnya sudah tiga belas tahun!
Akhirnya, sampailah kami di tempat tujuan. Istana Monaco. Monaco, yang di pimpin oleh Prince Rainier III, yang menikah dengan seorang bintang film Hollywood, Grace Kelly, adalah sebuah negara yang luasnya hanya dua kilo meter persegi. Negara kecil ini berbatasan dengan satu negara saja, yaitu Perancis. Monaco merupakan negara yang kaya, karena pariwisata dan pemasukan uang yang besar, berasal dari Casino di Monte Carlo. Rakyatnya juga dibebaskan dari pajak.
Dari area istana tersebut, kami bisa melihat ke bawah, ke teluk dan di kelilingi tebing yang indah yang kami lewati tadi. Kami pun berjalan-jalan di daerah di depan istana, yang banyak pertokoan itu. Dan Utie, sudah tidak sabar lagi, langsung memasuki toko cindera mata, toko Monaco namanya. Seperti biasa, kalau sudah memasuki sebuah toko, akan susah keluarnya. Akhirnya aku tinggalkan Utie di toko Monaco itu. Aku berjalan sendiri berkeliling melihat pemandangan dan penduduk asli di situ. Mengamati budayanya. Itulah hobiku kalau berwisata ke negeri lain.
Tidak sadar aku telah lebih dari setengah jam meninggalkan Utie di toko suvenir tadi. Aku berlari-lari kembali, dan sesampai di toko, aku melihat Utie masih tetap berada di toko yang sama, dan berdiri di tempat yang sama seperti sewaktu aku tinggalkan tadi. Melihat aku ada di depan toko, Utie dengan santainya keluar sambil memperlihatkan kepadaku dua baju anak-anak, dan berkata “yang merah apa yang biru?” Sambil terengah-engah aku jawab “Yang merah..” Lalu Utie masuk lagi ke dalam, dan lama lagi.
Menjelang petang, kami baru sampai di Monte Carlo. Kota ini adalah tujuanku. Turun dari mobil sudah terlihat gedung Casino yang megah dan sangat terkenal di dunIa itu. Aku minta untuk di turunkan di depan gedung Casino itu. Tapi sopirku tidak mau. Ia berkata “Tidak bisa. Casino itu khusus hanya untuk Member, lihat saja mobil-mobil yang parkir di situ…” Benar juga, Kulihat di depannya banyak terparkir mobil-mobil mewah, bahkan super mewah. Banyak merek mobil yang belum aku kenal. Merek yang aku kenal adalah Ferrari Testarosa. Di situ juga ada Ferrari berwarna merah, yang terparkir di paling ujung, tetapi mobil-mobil yang lain terlihat lebih keren dan sangat mewah.
Aku nekad mencoba masuk ke Casino mewah tersebut. “Hanya untuk melihat-lihat..” kataku kepada penjaga pintu masuk. Penjaga yang berseragam keren tersebut dengan ramah mengantarku keluar sambil berkata, “Sory, di sini hanya untuk orang-orang Jetset membuang “uang receh”-nya.” Ia berkata demikian sambil tertawa, mungkin untuk menghibur aku yang kecewa. Aku mengerti dengan yang ia artikan “uang receh” itu, bisa berarti uang ribuan atau ratusan ribu dolar.
Untunglah tidak jauh dari situ ada juga sebuah gedung Casino untuk umum. Kami pun masuk hanya dengan menunjukkan paspor. Setelah berkeliling di dalamnya, aku dan Utie pun keluar sambil mampir membuang uang receh, sebesar dua puluh dolar saja di mesin ‘Jackpot’. Aku pun bangga, aku bisa bercerita bahwa aku, seorang anak ndeso Wonogiri, pernah main di Casino di Monte Carlo!
Kami lalu beristirahat sambil minum kopi di cafe di halaman Casino, sambil melihat mobil-mobil yang berseliweran di jalanan. Aku baru sadar bahwa mobil-mobil yang lewat itu hampir seluruhnya adalah mobil mewah. Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh bagaikan deru bunyi pesawat jet. Ternyata itu bunyi dari knalpot sebuah mobil yang melintas. Mobil dengan kap terbuka itu di tumpangi oleh sepasang orang yang berpakaian sangat indah. Ya, inilah Monte Carlo, tempat para Jetset kaliber dunia tinggal.
Aku memperhatikan, ada orang-orang yang berjalan hilir mudik di jalan kecil di samping kiri gedung Casino yang mewah tadi. Aku pun penasaran. Lalu kami mengikuti mereka. Ternyata jalan itu menurun tajam. Sesampai di bawah aku terkejut, ternyata itu adalah jalan yang akan dipakai untuk jalur balap mobil F1. Dan di jalanan tersebut ada Tunnel atau terowongan yang dilalui mobil-mobil balap nanti. Bagi yang pernah nonton di TV balapan mobil di Monaco, pasti mengenal Tunnel itu.
Hari sudah semakin sore, dan aku minta ke tour guide kami untuk menyusuri jalan-jalan di Monaco yang seminggu lagi akan dilalui oleh lomba balap F1. Mencengangkan, jalan itu tidak terlalu lebar. Hanya cukup untuk dua mobil berpapasan, sedangkan di sisi kiri-kanannya banyak tebing, tembok atau bangunan. Bagaimana mungkin mobil balap yang berkecepatan tinggi itu bisa menyalib. Aku membayangkannya saja sudah merasa ngeri. Di ujung-ujung jalan sudah banyak dipasang spanduk untuk menyambut Grand Prix, seminggu lagi.
“Rumah-rumah di sisi jalan ini akan panen uang setiap musim balap mobil. Sewa teras depannya saja mahal sekali..” kata tour guide kami. Kami menyusuri jalanan kota sambil mendengarkan penjelasannya. Hari mulai gelap dan kami pun turun kembali ke Kota Nice, kota sebagai pangkalan untuk tour kami selanjutnya.
Malam itu, aku tiduran di kamar hotel, meskipun lelah tapi aku sangat puas mengingat pengalamanku pada hari itu, di Monaco dan Monte Carlo. Aku sudah mulai mengantuk dan hampir tidur. Tetapi, istriku, Utie, masih belum tidur. Dia menebar belanjaannya di atas tempat tidur, sambil sibuk menghitung dan melihat-lihat kembali apa yang tadi di beli.
Aku senang sekali melihat istriku terlihat bahagia dengan belanjaannya. Mataku pun semakin meredup. Sayup-sayup terdengar istriku menanyakan apakah baju-baju kecil itu nanti pas untuk cucu-cucunya. Sebelum tertidur lelap aku masih sempat mengharap, agar nanti tas tentenganku tidak semakin banyak. Atau aku harus membeli koper baru lagi? (*)
Penulis: Antonius Sutedjo
Editor: Veronica K

Tinggalkan komentar