OPERASI SENYAP

Jumlah penghuni di asramaku di Bruderan tidak terlalu banyak, hanya sekitar dua puluh anak. Itupun banyak yang datang dan pergi. Semuanya adalah siswa SMA Santo Yosef dan berasal dari luar kota Solo. Bahkan ada pula dari luar pulau Jawa, seperti Sumatra, Bali, dan Timor.

Aku membagi teman-teman asramaku dalam tiga kelompok. Bukan hanya berdasarkan kelas di sekolah, tetapi berdasarkan karakter atau dari “tingkah laku” mereka sehari-hari.

Yang pertama adalah Kelompok Kutu Buku. Kelompok ini kerjanya hanya belajar dan belajar saja. Mulai dari bangun tidur hingga akan tidur lagi, yang mereka lakukan hanyalah belajar. Waktu mandi, makan, berdoa, dan bahkan waktu istirahat pun, mereka anggap sebagai “gangguan” bagi mereka untuk belajar. Mereka juga merasa kurang nyaman saat diajak ngobrol. Terlihat dari matanya kalau pikirannya selalu tertuju pada pada bukunya. Pantaslah kelompok seperti itu dinamakan “kutu buku”.

Kelompok kedua adalah mereka yang selalu “stres”. Kelompok Stress.    Kelompok ini hidupnya selalu muram, mukanya selalu cemberut, sehingga teman-teman lain merasa segan untuk mendekati mereka. Mereka tidak suka didekati, maunya menyendiri saja. Mereka sering malas belajar, atau kalau pun belajar, kelihatan tidak konsentrasi. Sebentar-sebentar suka menarik napas panjang untuk mengusir kekesalannya. Kadang-kadang, aku mendekatinya untuk menanyakan apa masalahnya. Lalu ia akan menceritakan daftar masalah yang di hadapinya. Ceritanya panjang lebar dan aku harus diam sambil terus mendengarkannya. Lama kelamaan aku bosan juga, karena aku bukan termasuk tipe pendengar yang baik. Aku adalah “tukang bicara”, dan akulah yang sebenarnya membutuhkan pendengar yang baik. Tapi aku sendiri merasa bukan termasuk kelompok itu, Kelompok Stres.

Aku termasuk kelompok yang ketiga ini. Yaitu Kelompok Anak Bandel. Untuk menghormati kelompokku ini, aku akan menyebutnya sebagai : Kelompok Dinamis, Kreatif, Jenius, atau Kelompok Petualang.

Kelompok Bandel inilah yang terbanyak dan mayoritas di asramaku. Sebagian besar adalah anak dari Bagian B (Jurusan Ilmu Pasti dan Alam, IPA). Aku sendiri dari Bagian C (Sosial Ekonomi). Mungkin karena itulah mereka lebih berani, nekat dan penuh rasa percaya diri. Sedangkan aku sendiri, meskipun sesama petualang, aku masih merasa kurang berani, kurang nekat dan sebenarnya sedikit minder terhadap mereka.

Setelah kupikir-pikir, mungkin karena itulah mereka memilih aku menjadi seorang Ketua Asrama. Dan celakanya, Bruder Kepala menyetujui. Ia mengangkat aku secara resmi sebagai Ketua Asrama! Aku merasa mereka menjadikan aku sebagai bumper untuk menghadapi Bruder Kepala. Begitu juga menurut Bruder Kepala, memang akulah yang di anggap paling cocok untuk di jadikan “perisai” untuk menghadapi teman-teman asramaku.

Sebenarnya aku lebih senang menjadi “warga” biasa di situ. Tetapi aku tahu, yang mengusulkan aku menjadi ketua, pasti teman-teman kelompok bandel itu. Mungkin mereka sering melihat aku masuk ke dalam area para Bruder, yang sebetulnya area terlarang bagi anak asrama.

Memang antara area Bruderan dan asrama tidak ada pembatas. Mungkin mereka mengira kalau malam-malam aku berada di Bruderan karena aku sedang berkonsultasi. Padahal aku berada di daerah terlarang tersebut dalam rangka mengamati apa yang dilakukan oleh para biarawan itu, yang selalu membuatku penasaran.

Terkadang saat para biarawan itu sedang berdoa malam di dalam Kapel, aku diam-diam menyusup dan duduk di bangku paling belakang Kapel yang indah itu. Di situ aku merasakan ketenangan yang luar biasa. Para biarawan itu berdoa bersama-sama dalam bahasa Belanda. Saat mereka menyanyikan lagu-lagu Gregorian yang aku hafal pun, kadang aku sering ikut menyanyi pelan-pelan. Sebelum mereka selesai berdoa, aku baru kembali ke asrama, ke ruang belajar.

Sebenarnya, bagiku tugas sebagai Ketua Asrama tidak terlalu sulit. Apalagi menghadapi kelompok kutu buku. Mereka selalu diam dan tenang, selama ada buku. Sedangkan kelompok “stres”, ada dua tipe. Tipe pasif dan aktif. Tipe pasif tidak pernah membuat masalah, hanya jarang mandi dan tidak suka mencuci bajunya. Kalau yang tipe aktif, mereka akan menyalurkan energinya dengan berolah-raga, senam, loncat-loncat atau jumpalitan di ubin.

Suatu hari aku pernah mendekati tipe stres yang aktif ini. Aku bertanya pada mereka apa yang mereka perlukan. “Rekstok, besi ring dan dumble..!” katanya kepadaku dengan muka penuh harap. Saat itu juga aku menghadap ke Bruder Kepala, mengusulkan diadakan alat-alat olah raga yang ia minta.

Sungguh hebat, dalam waktu hanya dua hari, telah dipasang secara permanen alat-alat seperti: rekstok atau besi palang, besi ring dan bermacam dumble, bahkan peralatan lengkap untuk bulu tangkis.

Sejak saat itu suasana asrama kami menjadi lebih meriah. Sore hari kami suka berkerumun menyaksikan “olahragawan” asrama kami itu, melakukan senam dengan berayun-ayun di rekstok. Sebuah palang besi bulat yang disangga oleh dua tiang setinggi lebih dari dua meter. Ia bisa melakukan berbagai gerakan, berputar-putar, bergelantung dengan jari-jari kakinya, persis seperti pemain sirkus. Gerakan-gerakan yang mendebarkan. Kami para anak-anak dan beberapa Bruder, ikut menyaksikan atraksinya dengan terkagum-kagum.

Lalu, bagaimana dengan Kelompok Bandel? –kelompok di mana aku juga termasuk di dalamnya. Aku sudah tahu, bahwa aku harus lebih waspada dengan gerak-gerik kelompok ini.

Dan benar juga. Di suatu siang…

“Ada apa ini?” tanyaku kepada mereka saat melihat mereka duduk bergerombol.

”Kita protes saja, makanan kita begini-begini saja. Tidak ada variasi dan sekarang malah jarang ada daging..!” kata seorang dari mereka dengan nada tinggi.

Wah rupanya mereka hendak mengadakan protes. Dan mendengar kata ‘daging’, sontak aku memang membenarkan mereka, dalam hati. Aku tersadar bahwa aku juga pemakan daging. Aku jadi teringat aka gengku sewaktu di SD di Wonogiri, Geng Anak Gragas, yang semua anggotanya adalah pemakan daging. Namun ketika itu, aku dan geng gragas bisa mendapatkan solusinya yaitu mengganti daging dengan serangga.

Akhirnya muncullah keputusan dari kumpul-kumpul siang itu. Akulah yang harus mewakili mereka untuk menghadap ke Bruder Kepala, untuk menyampaikan keluhan dan sambil mengusulkan sebuah “ide gila”. Kami akan meminta sebidang tanah di sudut belakang Bruderan, untuk kami pakai sebagai kandang kelinci dan juga untuk di tanami dengan buah dan sayuran.

Singkat cerita, “proposal” kami di setujui. Satu minggu setelah aku menghadap Bruder Kepala, kami melihat di sudut belakang di halaman Bruderan yang sangat luas itu, ada beberapa tukang yang sedang mendirikan kandang-kandang kelinci dan juga membuat pagar di sekelilingnya. Tidak jauh dari kandang itu, juga sudah ada sebidang tanah yang siap untuk ditanami.

Beberapa hari kemudian, kelinci-kelinci kami sudah mulai bertengger di kandang-kandangnya. Total ada lima pasang. Teman-teman juga mulai rajin memberi makan ternak peliharaan kami itu. Beberapa dari kami juga bersemangat, menyirami tanaman sayuran dan buah tomat, supaya tumbuh subur.

Sungguh menyenangkan, karena beberapa bulan kemudian, kami sudah bisa menikmati sayuran dan buah tomat yang melimpah. Ditambah juga, menu makan siang yang baru. Satu kali dalam sebulan, ada masakan yang lezat, daging kelinci.

Namun bagi Kelompok Bandel alias petualang, dinamis dan kreatif itu, rasanya kurang lengkap kalau tidak memunculkan ide-ide yang menantang dan berani.

Suatu malam, sekitar pukul setengah sebelas, aku didatangi dua orang anak. Mereka berbicara sambil berbisik di sisi tempat tidurku. Mereka melaporkan bahwa malam ini akan diadakan sebuah operasi, “Operasi Senyap”. Acaranya adalah “makan enak bersama” di tengah malam. Lokasinya di belakang asrama, di antara kamar-kamar pakaian dan tembok pagar belakang.

Mereka, para jenius ini, sudah mempersiapkan segalanya, termasuk strateginya. Dua orang anak akan keluar dengan meloncat tembok pagar, membeli lauk yang enak. Dua orang lainnya ke dapur untuk mengambil (baca: mencuri) nasi. Dan dua lainnya akan bersembunyi, untuk mengawasi kalau-kalau ada Bruder yang bangun dan keluar. Jika terlihat ada Bruder yang keluar, si pengawas harus memberi “kode” kepada yang lain dan semuanya harus diam bersembunyi. Kalaupun nanti sampai kepergok , kita harus pura-pura ke kamar mandi, pipis. Semua di lakukan secara terpisah-pisah, tidak bergerombol dan tanpa ada suara. Senyap.

Karena operasi ini menyangkut “makan”, karena alasan pribadi, aku sebagai ketua tentu ikut menyetujui operasi tersebut. Kemudian sambil tetap menunggu di atas ranjang tidurku, “Operasi” ini lalu mulai berjalan.

Waktu serasa berjalan sangat lambat. Tegang. Malam itu malam yang sangat senyap.

“Klontaang…” tiba-tiba ada suara dari dapur. Kemudian sepi lagi. Beberapa menit kemudian, dalam kesenyapan itu, dari arah kamar-kamar bruder, aku mendengar suara pintu yang tertutup. Kemudian diikuti suara langkah seseorang. Lalu selang beberapa waktu, terdengar kembali suara pintu tadi. Terbuka dan tertutup kembali.

Memasuki pukul dua belas tengah malam, aku di jemput oleh Komandan Operasi. Kami pergi ke belakang kamar pakaian untuk makan lebih dulu. Kami akan mulai makan berdua-dua. Tidak beramai-ramai. Menunya hanya nasi putih, ebi goreng dan sambal. Nikmatnya luar biasa. Nasinya diletakan di atas sebuah nampan besar, kemudian dicampur aduk dengan ebi goreng itu. Kami makan tanpa piring. Langsung ambil dengan tangan dari nampan besar itu. Hanya sambal yang terpisah. Aku sangat menikmati “makan enak” itu. Apalagi makannya di sertai dengan perasaan dag, dig, dug di tengah malam.

Setelah perutku kenyang, aku kembali ke kamar untuk bersiap tidur. Secara bergantian, teman-teman yang lain, bergiliran (berdua-dua) pergi mengendap-endap ke belakang kamar pakaian. Makan enak.

Seluruh “operasi” ini diatur dan dipimpin oleh Komandan Operasi. Ia adalah seorang temanku yang paling berani, dan sangat kreatif karena sering memiliki banyak ide. Aku belum bisa tidur tenang sampai semua kegiatan “operasi” malam itu berakhir.

Beberapa lama kemudian, temanku si Komandan Operasi datang, memberitahuku bahwa “operasi” sudah selesai. Operasi Senyap -yang sungguh mendebarkan namun mengenyangkan itu- akhirnya berhasil dengan sukses dan lancar.

Malam itu, dengan masih merasakan sisa nikmatnya “ebi goreng” tadi, akhirnya aku tertidur dengan nyenyak. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K