MENGGESER BATAS NEGARA
Sore itu aku dan Utie, bersiap-siap akan meninggalkan Perancis menuju Italia. Kami berangkat dari stasiun kereta api Kota Nice. Nice terletak di Perancis Tenggara, di ujung timur, berdekatan dengan perbatasan Italia. Kami menggunakan kereta rel malam menuju Roma, sehingga lebih hemat karena bisa menginap satu malam di atas kereta.
Ketika kami akan naik ke kereta, di depan pintu kereta sudah siap seorang pemuda dengan seragam yang keren. Rupanya ia adalah penanggung jawab gerbong khusus tersebut. Aku melihat ada kamar-kamar yang di isi dengan empat tempat tidur bersusun dua tingkat. Aku dan Utie lalu di antar ke kamar paling ujung. Kamar yang berkapasitas untuk tiga orang. Namun petugas itu mengatakan bahwa kamar itu hanya untuk kami berdua. Baguslah pikirku, karena tempat yang kosong dapat dipakai untuk menaruh koper-koper kami. Kamar khusus itu berdinding rapat dan berkunci, sehingga kami tidak terganggu oleh suara dari luar.
Setelah kereta mulai berjalan, si petugas masuk ke kamar kami mengantar makanan dan minuman untuk malam itu. Dia meminta paspor kami, sambil mengatakan “Tolong nanti kamar di kunci dari dalam, dan kalau ada yang mengetuk, biarkan saja tidak usah di buka..”
Kamar khusus itu jadilah kamar untuk kami berdua. Mungkin mereka tahu kalau kami memang sedang berbulan madu. Namun karena tempat tidurnya sempit dan bertingkat, maka aku di dipan atas dan Utie tidur di bawah. Goyangan-goyangan lembut kereta itu membuat aku tertidur pulas juga.
Tiba-tiba aku terkejut dan terbangun dari tidurku. Aku mendengar suara-suara sangat ribut dari luar kamar kami. Aku melihat jam, ternyata pukul dua belas tengah malam. Dan kereta dalam keadaan berhenti.
Dari luar kamar, terdengar suara langkah banyak orang. Sepertinya menggunakan sepatu tentara. Mereka berbicara keras seperti membentak-bentak, dan banyak suara pintu yang di gedor-gedor. Tidak lama kemudian, ada orang yang berusaha membuka pintu kamar kami sambil di ketok-ketok. Aku mengikuti nasehat petugas kereta untuk tidak membukakan pintu. Kemudian di depan pintu kamarku terdengar orang berdebat dengan suara keras, seakan mau berkelahi. Lalu aku melihat dari jendela kamarku, orang-orang yang ribut tadi pada meloncat turun dari kereta. Juga orang yang di depan kamarku, sambil tetap marah-marah meloncat turun juga.
Petugas gerbong kami cepat-cepat menutup pintu kereta. Lalu kereta pun mulai bergerak untuk berangkat. Rupanya suara ribut-ribut tadi adalah pemeriksaan paspor dan visa oleh para Petugas Imigrasi dari Pemerintah Italia. Akhirnya suasana kembali sepi. Kami lalu tidur kembali.
Esok paginya aku keluar dari kamarku dan menemui petugas gerbong khusus kami, lalu mengucapkan terima kasih atas pertolongannya mengamankan kami tadi malam. “You are welcome, Sir..” jawabnya datar saja. Rupanya peristiwa semalam bukanlah kejadian yang istimewa. Hal itu rutin terjadi setiap malam. Kehebohan tengah malam tadi merupakan perkenalanku dengan orang Italia. Terlihat ‘heboh’, tetapi tidak ada apa-apa. Baik-baik saja.
Pagi itu, kami turun di stasiun kereta api Roma Termini, di Kota Roma, Italia. Kami keluar dari stasiun. Dan seperti biasa, kami bingung mau naik taksi meter atau …
“Good moorniing, Siiiirrr..!” kata seorang bapak dengan senyum lebar, yang suaranya cukup mengejutkan kami. Bapak itu mengucapkan selamat datang di Roma. Entah dari mana ia tahu bahwa kami baru pertama ke kota ini. Ia menanyakan tujuan kami, dan aku sebut nama hotel kami. Lalu seperti otomatis saja kami sudah berada di dalam mobilnya, mobil sewaan.
Begitu ia tahu bahwa kami berasal dari Indonesia, ia mengeluarkan beberapa kartu nama dari tasnya. Bukan sembarang kartu nama, tapi Kartu nama orang-orang terkenal. Yakni Adnan Buyung Nasution, pimpinan Freeport dan beberapa kartu nama lain. Melihat hal itu, aku semakin percaya pada si bapak, pemilik mobil itu. Dan aku lalu menyetujui untuk memakai mobilnya untuk berkeliling kota untuk esok pagi.
Tidak lama kemudian mobil berhenti di sebuah hotel. Aku mengatakan “Lho, bukan ini hotel kami..” Lalu ia menjawab “Oh, aku salah dengar tadi, sorry…” dan mobil berjalan lagi dan berputar-putar lama. Perasaanku mulai tidak enak. Namun aku sedikit lega, karena akhirnya sampailah kami di hotel yang kami tuju.
Kami di terima oleh seorang resepsionis hotel. Bapak-bapak yang setengah tua. Mungkin ia adalah pemilik hotel kecil tersebut. Sewaktu sopir mobil sewaan masuk ke loby mengantar koper-koper kami, resepsionis itu menanyakan kepadaku “Tuan pakai mobil ini, tadi ?” Sewaktu aku mengiyakan, ia melanjutkan “Tidak boleh tuan! Ini taksi gelap, dan jangan di pakai lagi..”
Mendengar itu, spontan sang pemilik taksi gelap tersebut pun mengamuk. Ia marah-marah dan membentak-bentak pak resepsionis. Keributan pun terjadi. Apalagi setelah aku katakan bahwa besok pagi aku batal memakai mobilnya. Mendadak, gantian aku yang dibentak-bentak oleh si sopir. Untunglah akhirnya ia meninggalkan hotel itu, meskipun sambil marah kepadaku dan resepsionis hotel itu.
Pagi itu kami langsung mengadakan city tour menggunakan mobil yang di pesan oleh hotel. Kami lalu pergi dengan semangat, menyusuri kota impian kami, Roma. Aku mengagumi semua yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Semua yang semula hanya kubaca dan aku lihat dari foto-foto mengenai keindahan Kota Roma. Roma, yang telah ada dan memiliki peradaban tinggi sejak ribuan tahun yang silam. Dari peninggalan-peninggalan sejarah, masih terasa kemegahan jaman Romawi dulu. Bangunan koloseum yang megah, patung-patung yang indah, masih bisa aku lihat dan raba. Tidak akan cukup satu dua hari untuk melihat semuanya itu. Karenanya kami akan tinggal beberapa hari di Roma. Menggunakan tour atau naik kendaraan umum.
Ada dua hal yang menarik perhatianku selama berada di Kota Roma. Yaitu bahwa Kota Roma yang asli ternyata terletak dua meter di bawah Kota Roma yang sekarang! Di sela-sela gedung yang berderet, ada sebuah tangga yang menurun, seperti memasuki sebuah goa yang gelap. Di bawah itulah aku melihat sebuah jalan, perkampungan dan rumah-rumah dengan tembok dan tiang-tiangnya. Lengkap seperti daerah perumahan. Hanya saja, sekitar dua meter di atasnya tertutup dengan beton semen, yang menyangga Kota Roma yang baru.
Yang kedua adalah sewaktu kami mengunjungi Vatican, tempat Sri Paus, pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia. Vatican, merupakan sebuah negara tersendiri yang berdaulat, walaupun wilayahnya sangat kecil dan berada di tengah Kota Roma, Italia. Sebagai sebuah negara, Vatican juga mempunyai batas-batas negara. Kami juga mengunjungi Gereja Santo Petrus ( St Peter’s Basilica) yang sangat megah. Gereja itu di penuhi dengan lukisan dan patung-patung karya Michelangelo yang sangat mengagumkan.
Sewaktu kami keluar dari lapangan yang luas di depan Gereja St. Peter itu, tour guide kami memberi tahu kepadaku, bahwa batas Negara Vatican dan Italia, di lapangan itu, hanya di tandai dengan sebuah pagar besi yang pendek yang bisa digeser-geser. Sama seperti pagar besi yang sering dipakai sebagai pembatas jalan oleh polisi di Jakarta.
Mendengar bahwa pagar besi itulah yang di pakai sebagai pembatas antara dua negara, maka aku, diam-diam mendekati pagar itu dan pelan-pelan aku dorong pagar besi itu sehingga bergeser sekitar satu meter ke arah wilayah Italia. Pemandu wisataku tertawa melihat kelakuanku itu. Aku merasa puas bisa membantu Negara Vatican yang sempit itu memperluas wilayahnya selebar satu meter. Untungnya karena adanya perubahan tapal batasku itu, tidak terjadi pertikaian antara Italia dan Vatican. Semua aman-aman saja. (*)
Penulis: Antonius Sutedjo
Editor: Veronica K

Tinggalkan komentar