SIMILIKITHI DAN FERRARI
Suatu siang aku memasuki area mobil di depan lobby Mall Kelapa Gading Tiga (MKG3). Ini adalah mall favoritku karena tidak terlalu jauh dari rumah. Saat turun dari mobil, perhatianku langsung tertuju pada sebuah mobil sport mewah berwarna merah cerah yang diparkir tepat di depan lobby. Mobil itu sangat mencolok dibanding mobil-mobil lainnya. Bodynya mewah dan bentuknya aero-dynamis, pendek, padat seakan bisa melesat cepat tanpa bisa ditahan oleh angin. Itulah mobil sport mewah yang kukenali: Ferrari Testarossa.
Pada sisi kiri dan kanan bodynya terdapat variasi bagaikan sayap setengah terbuka. Sungguh gagah dan jantan. Warna cat nya yang merah itu seakan berasap dan membara tertimpa teriknya sinar matahari. Sebuah mobil yang pantas dikagumi, dan memang aku adalah pengagum Red Ferrari itu.Cukup lama kupandangi mobil favoritku itu sebelum kumasuki mall itu sambil tersenyum bangga. Mengapa aku tersenyum? Ada ceritanya. Begini:
Puluhan tahun yang lalu, tepatnya di tahun 1995, aku di kejutkan oleh sebuah berita. Seseorang bernama Mitch Sala, mengajak kami jalan-jalan. Bukan acaranya yang membuatku terkejut dan bersemangat, tetapi tujuannya: Honolulu, Hawai! Mitch dan Deidre Sala adalah mentor kami yang tinggal di Australia, mereka berdualah yang membimbing kami dalam menjalankan bisnis dengan sistem Network TwentyOne. Entah mengapa, dua kata: ‘Honolulu’ dan ‘Hawai’ selalu merasuki hatiku sejak masa kanak-kanakku.
Seingatku, sejak aku sekolah dulu, Honolulu adalah ibu kota Hawai, dengan pantainya yang indah yaitu Waikiki Beach. Pantai Waikiki itulah yang selalu terbayang olehku. Sedangkan Hawai, kata itu selalu membuat jiwaku mengharu biru jiwaku, terutama dengan musiknya, musik Hawaian dengan Hawaian Guitar nya.
Waktu itu aku tinggal di sebuah kota kecil yang indah berbukit di Jawa Tengah, Wonogiri. Kota Wonogiri walaupun kecil, namun sangat nyaman dan tenang. Jika matahari sudah bersembunyi di balik Gunung Gandul di sisi Barat kota, kota kecil itu menjadi semakin senyap. Apalagi pada masa itu, orang yang memiliki radio masih sangat jarang. Di sekitar rumahku, hanya satu tetanggaku yang memiliki radio. Anehnya, radio itu jarang dimatikan. Hampir setiap tengah malam aku terbangun oleh suara musik yang sangat merdu, mendayu-dayu dari radio tetanggaku. Itu adalah lagu penutup seluruh siaran hari itu dari RRI (Radio Republik Indonesia), satu-satunya siaran radio yang berkumandang di seluruh Indonesia saat itu.
Suara musik Hawaian yang lembut, sangat merdu dan terdengar sayup-sayup, sungguh meresap di sanubariku. Nada-nadanya yang meliuk-liuk seakan menyayat hatiku. Meresap masuk ke dalam sumsum tulang-tulangku. Seringkali aku merinding saat mendengarkan lagu itu hingga selesai. Bertahun-tahun kemudian aku baru tahu bahwa lagu tersebut diciptakan dan dimainkan di atas Hawaian Guitar oleh George de Frettes seorang tokoh musik Hawaian yang sangat terkenal. Judul lagunya: Pulau Ambon. Selesai lagu penutup siaran RRI tersebut selalu disusul dengan suara: “ Joosss..” dari radio. Suara itu tidak lama kemudian mati. Mungkin pemiliknya terbangun dengan suara berisik itu. Maka suasana tengah malam itu menjadi benar-benar sunyi, namun lagu tadi masih saja terngiang di telingaku.
Lama aku tidak bisa tidur setelah itu. Aku baru bisa terlelap setelah terdengar suara cuitan burung, jauh tinggi di atas langit, melintasi kotaku yang gelap dan sangat senyap. Cuitan itu terdengar terus menerus dan ritmis. Itulah suara kelelawar yang terbang di kegelapan malam, mengembara mencari mangsa.
Lagu penutup siaran RRI itu begitu merasuki jiwaku. Aku tidak bisa menahan perasaan itu. Maka aku pun mulai bertindak. Aku rombak gitarku dan aku ubah menjadi Hawaian Guitar! Di ujung setang gitarku kuganjal dengan sebatang pensil, sehingga dawai-dawai metalnya lebih renggang dari gagang gitar. Aku pun memainkan “Hawaian Guitar” buatanku itu dengan menggesek-gesek dawai dengan lempengan baja. Maka terdengarlah nada-nada yang meliuk-liuk indah. Aku berjuang keras untuk memainkan lagu Pulau Ambon penutup siaran RRI. Dan aku berhasil, setidaknya menurutku demikian.
Setelah itu aku mulai tahu bahwa musik Hawaian ternyata tidak hanya memainkan lagu-lagu dari Maluku, tetapi juga lagu-lagu Hawai, dinyanyikan dengan bahasa Hawai. Maka sejak itu aku mulai membayangkan Hawai sebagai sebuah kepulauan yang nyaman, tenang dan teduh. Melalui musik-musik nya itulah aku mulai mencintai Hawai, dan aku memimpikan pergi kesana. Ke Hawai! Belum sampai satu tahun setelah mimpiku ke Hawai yang menggebu-gebu itu, keinginanku sudah mulai meluntur.
Ilmu pengetahuan yang kuserap di sekolah telah memperluas wawasanku dan menyadarkanku bahwa pergi ke Hawai bukanlah hal yang mudah dan sederhana. Impianku pun menjadi semakin jauh, sayup-sayup. Hawaian Guitarku kurombak kembali menjadi gitar biasa. Aku mulai lupa bahwa aku punya mimpi besar: ke Hawai. Hanya saja ketika aku mendengar lagu Hawai, aku teringat lagi akan impian ke Hawai. Setelah itu aku lupa lagi, karena merasa bahwa tidak mungkin bisa pergi ke sana. Sehingga ajakan Mitch Sala untuk mengunjungi Honolulu Hawai, betul-betul mengagetkanku. Aku merasa bahwa impianku yang hampir setengah abad terpendam itu akan segera menjadi kenyataan.
***
Pagi itu kami bersiap di lobby sebuah hotel berbintang lima di Honolulu untuk memulai acara jalan-jalan ini. Aku dan isteriku heran, kami tidak melihat seorang pun teman kami berada di dalam lobby. Rupanya mereka sedang mengerumuni sebuah mobil sport mewah berwarna merah cerah yang di parkir di depan lobby hotel. Ferrari Testarossa.
Mereka terlihat sangat serius meneliti mobil itu. Maklumlah, pikirku, mereka semua masih muda-muda dan bersemangat. Mereka kebanyakan masih seumuran dengan anak sulungku, Risto, yang juga ada dalam rombongan. Bahkan Paul dan Linda, mentor kami di Indonesia, hanya sedikit lebih tua dari anak sulungku, Risto. Di belakang Ferrari merah itu sudah tersedia sebuah bus kecil untuk kami. Awalnya kukira mobil sport mewah itu hanyalah sebuah pajangan hotel. Tetapi ternyata tidak. Tiba-tiba Mitch keluar dari hotel dan mengajak kami untuk test drive Ferrari itu. Kukira dia hanya bercanda, tapi kemudian dia mengeluarkan kunci mobil dan langsung duduk di tempat kemudi dan mengendarainya ke jalan besar. Kami pun mengikutinya dengan bus khusus tadi.
Bus kami berjalan di jalan raya yang menyusuri Waikiki Beach yang sangat terkenal di dunia itu. Di sisi kanan kami berderet hotel-hotel mewah yang menjulang tinggi. Dari sela-sela hotel-hotel itulah terlihat keindahan pantai berpasir putih yang membentang luas. Bus kami menuju ke arah timur menjemput matahari pagi yang cerah. Makin lama deretan hotel semakin jarang dan kemudian terlihatlah di kejauhan terhampar pantai karang yang di hantam terus-menerus oleh deburan ombak. Aku sudah terbiasa dengan pantai utara laut Jawa yang sering kukunjungi, dimana tepi pantai air lautnya berwarna cokelat dan semakin ke tengah berwarna hijau dan biru muda di tengah dekat cakrawala.
Di sini, di Hawai, di tepi pantai airnya berwarna hijau, sedikit ke tengah air laut berwarna biru, dan di tengah berwarna biru tua yang sangat pekat mendekati kehitaman. Aku membayangkan betapa dalamnya samudera Pasifik. Apalagi melihat deburan ombak setinggi rumah yang terus-menerus menghantam pantai karang di kejauhan, membuat aku takjub akan ciptaan Tuhan. Tetapi, terus terang, melihat kedahsyatan alam itu, aku merasa diriku sangat kecil dan hatiku menjadi ciut, merasa takut. Ketakutanku berkurang, saat aku melihat ada titik-titik kecil berwarna putih pada gulungan ombak yang dahsyat itu. Ternyata titik-titik putih itu adalah manusia! Mereka sedang bermain selancar. Aku jadi merasa malu dengan diriku sendiri yang mudah takut ini.
Di perbatasan kota, kulihat sebuah mobil sport merah tadi berhenti di bahu jalan. Rupanya Mitch menunggu kami di situ. Begitu bus kami mendekat di belakang mobil itu, terjadilah peristiwa yang mengejutkan dan mendebarkan. Mitch masuk ke mobil dan Ferrari merah itu tiba-tiba menderu, meloncat ke depan sambil meninggalkan asap putih dan debu dari roda belakang. Dalam hitungan detik Ferrari meluncur masuk ke jalan raya dan melesat di jalur cepat.
Teman-teman di bus bersorak melihat manuver Mitch Sala yang berbahaya tadi. Mereka sangat bersemangat menggunjingkan keberanian Mitch. Maklumlah mereka masih muda-muda. Pasti mereka sudah tidak sabar ingin menjajal Ferrari. Menurut mereka memang begitulah cara mengendalikan mobil sport yang benar.
Mereka, teman-teman mudaku sangat mengagumi Mitch dengan Ferrari nya. Namun aku tidak demikian, tidak sama seperti mereka. Aku menganggap manuver tadi terlalu membahayakan. Aku membayangkan orang yang sedang melaju kencang di lajur cepat, akan sangat kaget tiba-tiba di depannya muncul ada sebuah mobil merah. Tetapi aku diam saja. Aku memaklumi mereka. Aku sadar, mungkin karena umurku yang sudah di pertengahan antara lima puluh dan enam puluh tahun lah yang membuat kami berpikir beda. Bisa juga perbedaan itu bukan hanya karena umur yang berbeda jauh, tetapi karena pengalamanku., pengalaman dalam mengendarai mobil.
Tiga tahun sebelum kejadian itu aku memiliki sebuah mobil pribadi. Mobil itulah yang kugunakan dalam memulai dan membangun bisnis networking ini. ‘Similikithi’, itulah julukan yang kuberikan kepada mobil legendarisku itu. Similikithi adalah mobil yang sangat kecil. Mereknya Mitsubishi, tipe Minicab. Mesinnya hanya lima ratus lima puluh cc. Bentuknya sangat sederhana. Kalau dilihat dari samping persis seperti sekotak roti tawar. Yang membuat aku sayang dan bangga pada Similikithi adalah karena mesinnya yang bandel luar biasa. Tidak pernah mogok, kecuali kalau kehabisan bensin.
Similikithi kubeli second hand. Catnya berwarna putih dan atapnya dilapisi semacam terpal warna hitam. Aku tertarik dengan atap terpal hitam itu. Pasti tidak panas dan kelihatan indah, menurutku. Tapi, sejujurnya, yang terpenting adalah karena harganya yang murah dan terjangkau olehku.
Seiring berjalannya waktu, warna putih mobilku semakin terlihat kusam, dan tiba-tiba saja muncul karat dimana-mana, hampir di seluruh body, terutama pada sudut-sudut nya. Mungkin karena Similikithi sering aku bawa ke laut, pergi memancing. Body Similikithi semakin rapuh dan bergetar dan berisik kalau sedang jalan. Sejak itu aku hanya bisa menjalankan mobilku dengan kecepatan maksimum empat puluh kilometer per jam. Apalagi kalau sedang di jalan tol. Waktu itu tol Cawang dan dalam kota masih berupa jalanan beton yang keriting, belum di lapisi dengan aspal. Jika berjalan agak cepat body mobil bergetar hebat, seakan mau rontok berantakan.
Yang aneh adalah ketika mobilku didahului oleh bus Patas yang ngebut dan menyalib terlalu dekat, Similikithi terpental ke kiri. Sungguh menyedihkan. Semua kejadian tersebut seakan menguji kesabaranku. Kenyataannya aku harus tetap menjalankan Similikithi dengan hati-hati dan pelan-pelan. Kebiasaan untuk sabar dan hati-hati itulah yang mungkin membuatku belum bisa memahami bahwa mobil sport ya harus berjalan dengan kecepatan tinggi. Ngebut seperti Ferrari merah di depan ku ini.
Maka, test drive Ferrari yang sebenarnya pun di mulai. Teman-teman mulai bergiliran mengemudikan Ferrari merah dengan di dampingi oleh Mitch. Masing-masing satu etape. Tapi, saat anak sulungku, Risto, mengakhiri gilirannya, dia tidak turun. Mitch yang keluar dari mobil dan mendekati bus kami sambil berkata: “ Kristiawan will drive one more lap. You just follow us.”- Kristiawan (Risto), akan jalan satu lap lagi. Ikuti kami saja.- Risto dan Mitch pun ngebut. Aku pikir, mungkin Mitch terkesan dengan Risto karena sangat serius belajar mengemudikan mobil sport.
Rupanya, diam-diam aku kepingin juga membawa mobil sport merah itu seperti mereka. Ini berarti aku sudah mulai bisa melupakan era Similikithi. Keinginanku itu terpenuhi saat kami, seluruh rombongan, beristirahat di sebuah taman yang luas di tepi pantai. Taman itu kami pakai sebagai tempat photo session dan pembuatan video. Mas Harry Kiss, merupakan teman yang selalu setia mengiringi kami, ke negara manapun group Netwok Twenty One pergi. Mas Harry, dengan kamera video nya yang besar dan berat itu, terlihat sibuk mengatur dan mengabadikan momen-momen penting.
Di taman tepi pantai itu suasana bagaikan sedang ada shooting film saja. Apalagi latar belakang di taman itu ada sebuah gunung dengan puncak yang terjal dan cukup menyeramkan. Gunung itu bekas kawah gunung berapi. Diamond Head nama gunung itu. Menurut pengemudi bus, di puncak gunung itu di pakai sebagai tempat pembuatan film Jurrasic Park. Pantaslah karena cukup menyeramkan.
Kini datanglah giliran kami, aku dan isteriku Ineke, untuk menjajal Red Ferrari. Setelah kami berdua berpose sebentar untuk pengambilan photo, aku lalu duduk di tempat kemudi dan ibu Ineke di sisi kananku. Mas Harry Kiss langsung memanggul kameranya dan mengarahkan kepadaku. Aku pun siap acting. Tangan kananku di atas kemudi, sedangkan tangan kiriku di atas pintu mobil dengan siku sedikit menjulur keluar. Mataku menatap ke camera dengan penuh keyakinan seakan akulah pemilik mobil mewah itu. Mas Harry memberi kode agar aku bicara. Maka aku pun dengan mantab angkat suara:“ Similikithi goodbye…Sekarang, Ferrari Testarossa…di Hawaiii…!”
Pedal gas kuinjak dalam-dalam, maka bergetarlah taman itu dengan suara gemuruh yang keluar dari knalpot Ferrari ku. Aku pun menjalankan mobil meninggalkan lokasi itu. Aku yakin, Mas Harry pasti mengabadikan momen tersebut. Hatiku berbunga-bunga. Isteriku pasti bangga dengan action suaminya ini.
Sekarang, akulah yang mengendalikan mobil sport mewah itu, di jalan raya. Pedal gas baru kuinjak sedikit saja, belum ada setengahnya, tetapi mobil ku sudah melaju sangat kencang. Semua mobil di jalanan itu aku salib semua. Semakin lama aku berani melaju lebih cepat lagi. Hatiku merasa bergejolak, bagaikan gemuruh debur ombak di sisi kananku. Dan aku mulai merasa hebat, segagah gunung Diamond Head yang menjulang di sisi kiri jalan.
Kini aku merasa paling cepat di jalan raya itu. Aku hanya perlu fokus agar tetap berjalan di lajur sebelah kanan. Kalau aku lengah, pindah ke lajur kirinseperti di Indonesia, maka akan terjadi malapetaka, akan di seruduk kendaraan dari depan. Aku mulai punya perasaan yang ane, rupanya beginilah rasanya menjadi orang hebat. Merasakan menjadi seorang raja. Maksudku Raja Jalanan. Tidak ada yang melawanku. Aku melirik ke isteriku.
Dia duduk dengan tegang melihat ke depan, tapi dia diam saja, tidak berkata apapun, misalnya melarangku supaya jangan terlalu cepat. Aku menikmati perasaan hebat itu,sampai aku mengalami kejadian yang membuatku kaget luar biasa.
Tiba-tiba saja, tanpa kuduga, ada sebuah mobil yang menyalibku dari sebelah kiri. Ini tidak mungkin, pikirku. Aku sudah super cepat! Yang menyakitkan hati adalah yang menyalib itu ternyata sebuah mobil biasa, bukan mobil sport seperti milikku ini. Dan lagi, penumpangnya anak-anak muda. Mereka melambaikan tangan kepadaku. Aduh! Aku sudah siap tancap gas mengejarnya, pasti dengan mudah tersusul. Tetapi ada “bisikan” dari Similikithi supaya aku tetap sabar, sehingga kuurungkan niat itu. Aku berharap isteriku tidak melihat kejadian tadi. Sewaktu aku meliriknya, aku lihat dia tersenyum penuh arti. Maka, saat itu juga, kejayaan sang Raja Jalanan pun runtuh.
Aku pun mengurangi kecepatan mobilku. Di depanku aku melihat sebuah restoran dengan halaman parkir yang luas. Aku masuk dan parkir di bawah pohon. Aku sedikit terhibur melihat serombongan orang kulit putih menghambur keluar dari restoran dan mengerumuni Ferrariku.
Mereka mengamati dan memegang-pegang mobil sambil ribut membahasnya. Mungkin ini mobil impian mereka. “You are lucky you can drive this car”– Anda beruntung bisa mengendarai mobil ini.– “Sure”– pasti.– Jawabku sambil menegakkan dudukku di sandaran jok. Bus rombongan pun datang menyusul.
Kemudian kulihat Mitch turun dari bus dan berlari-lari menuju mobilku. “ Hey, you broke my car”–Hei kamu merusakkan mobilku– katanya sambil berusaha menarik-narik gagang rem tangan yang lengket dan masih berasap. Ya ampuun, rupanya waktu berangkat tadi aku lupa melepas rem tangan, sehingga sepanjang jalan mobil mewah itu ngebul berasap! Pantas, di parkiran tadi tercium bau menyengat.
Malam itu, di hotel, aku melihat isteriku sudah tidur lelap. Sebetulnya aku ingin mengatakan padanya, bahwa pengalaman hari ini adalah merupakan hadiah bulan madu untuknya. Hadiah bulan madu yang telah aku janjikan saat hari pernikahan kami dulu. Waktu itu aku belum sempat mengajaknya berbulan madu dengan alasan kesibukan pekerjaanku di kantor. (baca: tidak punya uang).
***
Aku melangkah keluar dari mall MKG 3 sore itu, kulihat mobil sport merah cerah itu masih terparkir dengan gagah di tempatnya. Aku masuk kedalam mobilku sambil tersenyum dan mengenang, aku pernah mengendarai bahkan “merusakkan” mobil sport mewah jenis itu: Ferrari Testarossa. (*)

Tinggalkan komentar