Cari

Antonius Sutedjo

Penulis

srkristiawan

Similikithi dan Ferrari

SIMILIKITHI DAN FERRARI

Suatu siang aku memasuki area mobil di depan lobby Mall Kelapa Gading Tiga (MKG3). Ini adalah mall favoritku karena tidak terlalu jauh dari rumah. Saat turun dari mobil, perhatianku langsung tertuju pada sebuah mobil sport mewah berwarna merah cerah yang diparkir tepat di depan lobby. Mobil itu sangat mencolok dibanding mobil-mobil lainnya. Bodynya mewah dan bentuknya aero-dynamis, pendek, padat seakan bisa melesat cepat tanpa bisa ditahan oleh angin. Itulah mobil sport mewah yang kukenali: Ferrari Testarossa.

Pada sisi kiri dan kanan bodynya terdapat variasi bagaikan sayap setengah terbuka. Sungguh gagah dan jantan. Warna cat nya yang merah itu seakan berasap dan membara tertimpa teriknya sinar matahari. Sebuah mobil yang pantas dikagumi, dan memang aku adalah pengagum Red Ferrari itu.Cukup lama kupandangi mobil favoritku itu sebelum kumasuki mall itu sambil tersenyum bangga. Mengapa aku tersenyum? Ada ceritanya. Begini:

Puluhan tahun yang lalu, tepatnya di tahun 1995, aku di kejutkan oleh sebuah berita. Seseorang bernama Mitch Sala, mengajak kami jalan-jalan. Bukan acaranya yang membuatku terkejut dan bersemangat, tetapi tujuannya: Honolulu, Hawai! Mitch dan Deidre Sala adalah mentor kami yang tinggal di Australia, mereka berdualah yang membimbing kami dalam menjalankan bisnis dengan sistem Network TwentyOne. Entah mengapa, dua kata: ‘Honolulu’ dan ‘Hawai’ selalu merasuki hatiku sejak masa kanak-kanakku.

Seingatku, sejak aku sekolah dulu, Honolulu adalah ibu kota Hawai, dengan pantainya yang indah yaitu Waikiki Beach. Pantai Waikiki itulah yang selalu terbayang olehku. Sedangkan Hawai, kata itu selalu membuat jiwaku mengharu biru jiwaku, terutama dengan musiknya, musik Hawaian dengan Hawaian Guitar nya.

Waktu itu aku tinggal di sebuah kota kecil yang indah berbukit di Jawa Tengah, Wonogiri. Kota Wonogiri walaupun kecil, namun sangat nyaman dan tenang. Jika matahari sudah bersembunyi di balik Gunung Gandul di sisi Barat kota, kota kecil itu menjadi semakin senyap. Apalagi pada masa itu, orang yang memiliki radio masih sangat jarang. Di sekitar rumahku, hanya satu tetanggaku yang memiliki radio. Anehnya, radio itu jarang dimatikan. Hampir setiap tengah malam aku terbangun oleh suara musik yang sangat merdu, mendayu-dayu dari radio tetanggaku. Itu adalah lagu penutup seluruh siaran hari itu dari RRI (Radio Republik Indonesia), satu-satunya siaran radio yang berkumandang di seluruh Indonesia saat itu.

Suara musik Hawaian yang lembut, sangat merdu dan terdengar sayup-sayup, sungguh meresap di sanubariku. Nada-nadanya yang meliuk-liuk seakan menyayat hatiku. Meresap masuk ke dalam sumsum tulang-tulangku. Seringkali aku merinding saat mendengarkan lagu itu hingga selesai. Bertahun-tahun kemudian aku baru tahu bahwa lagu tersebut diciptakan dan dimainkan di atas Hawaian Guitar oleh George de Frettes seorang tokoh musik Hawaian yang sangat terkenal. Judul lagunya: Pulau Ambon. Selesai lagu penutup siaran RRI tersebut selalu disusul dengan suara: “ Joosss..” dari radio. Suara itu tidak lama kemudian mati. Mungkin pemiliknya terbangun dengan suara berisik itu. Maka suasana tengah malam itu menjadi benar-benar sunyi, namun lagu tadi masih saja terngiang di telingaku.

Lama aku tidak bisa tidur setelah itu. Aku baru bisa terlelap setelah terdengar suara cuitan burung, jauh tinggi di atas langit, melintasi kotaku yang gelap dan sangat senyap. Cuitan itu terdengar terus menerus dan ritmis. Itulah suara kelelawar yang terbang di kegelapan malam, mengembara mencari mangsa.

Lagu penutup siaran RRI itu begitu merasuki jiwaku. Aku tidak bisa menahan perasaan itu. Maka aku pun mulai bertindak. Aku rombak gitarku dan aku ubah menjadi Hawaian Guitar! Di ujung setang gitarku kuganjal dengan sebatang pensil, sehingga dawai-dawai metalnya lebih renggang dari gagang gitar. Aku pun memainkan “Hawaian Guitar” buatanku itu dengan menggesek-gesek dawai dengan lempengan baja. Maka terdengarlah nada-nada yang meliuk-liuk indah. Aku berjuang keras untuk memainkan lagu Pulau Ambon penutup siaran RRI. Dan aku berhasil, setidaknya menurutku demikian.

Setelah itu aku mulai tahu bahwa musik Hawaian ternyata tidak hanya memainkan lagu-lagu dari Maluku, tetapi juga lagu-lagu Hawai, dinyanyikan dengan bahasa Hawai. Maka sejak itu aku mulai membayangkan Hawai sebagai sebuah kepulauan yang nyaman, tenang dan teduh. Melalui musik-musik nya itulah aku mulai mencintai Hawai, dan aku memimpikan pergi kesana. Ke Hawai! Belum sampai satu tahun setelah mimpiku ke Hawai yang menggebu-gebu itu, keinginanku sudah mulai meluntur.

Ilmu pengetahuan yang kuserap di sekolah telah memperluas wawasanku dan menyadarkanku bahwa pergi ke Hawai bukanlah hal yang mudah dan sederhana. Impianku pun menjadi semakin jauh, sayup-sayup. Hawaian Guitarku kurombak kembali menjadi gitar biasa. Aku mulai lupa bahwa aku punya mimpi besar: ke Hawai. Hanya saja ketika aku mendengar lagu Hawai, aku teringat lagi akan impian ke Hawai. Setelah itu aku lupa lagi, karena merasa bahwa tidak mungkin bisa pergi ke sana. Sehingga ajakan Mitch Sala untuk mengunjungi Honolulu Hawai, betul-betul mengagetkanku. Aku merasa bahwa impianku yang hampir setengah abad terpendam itu akan segera menjadi kenyataan.

***

Pagi itu kami bersiap di lobby sebuah hotel berbintang lima di Honolulu untuk memulai acara jalan-jalan ini. Aku dan isteriku heran, kami tidak melihat seorang pun teman kami berada di dalam lobby. Rupanya mereka sedang mengerumuni sebuah mobil sport mewah berwarna merah cerah yang di parkir di depan lobby hotel. Ferrari Testarossa.

Mereka terlihat sangat serius meneliti mobil itu. Maklumlah, pikirku, mereka semua masih muda-muda dan bersemangat. Mereka kebanyakan masih seumuran dengan anak sulungku, Risto, yang juga ada dalam rombongan. Bahkan Paul dan Linda, mentor kami di Indonesia, hanya sedikit lebih tua dari anak sulungku, Risto. Di belakang Ferrari merah itu sudah tersedia sebuah bus kecil untuk kami. Awalnya kukira mobil sport mewah itu hanyalah sebuah pajangan hotel. Tetapi ternyata tidak. Tiba-tiba Mitch keluar dari hotel dan mengajak kami untuk test drive Ferrari itu. Kukira dia hanya bercanda, tapi kemudian dia mengeluarkan kunci mobil dan langsung duduk di tempat kemudi dan mengendarainya ke jalan besar. Kami pun mengikutinya dengan bus khusus tadi.

Bus kami berjalan di jalan raya yang menyusuri Waikiki Beach yang sangat terkenal di dunia itu. Di sisi kanan kami berderet hotel-hotel mewah yang menjulang tinggi. Dari sela-sela hotel-hotel itulah terlihat keindahan pantai berpasir putih yang membentang luas. Bus kami menuju ke arah timur menjemput matahari pagi yang cerah. Makin lama deretan hotel semakin jarang dan kemudian terlihatlah di kejauhan terhampar pantai karang yang di hantam terus-menerus oleh deburan ombak. Aku sudah terbiasa dengan pantai utara laut Jawa yang sering kukunjungi, dimana tepi pantai air lautnya berwarna cokelat dan semakin ke tengah berwarna hijau dan biru muda di tengah dekat cakrawala.

Di sini, di Hawai, di tepi pantai airnya berwarna hijau, sedikit ke tengah air laut berwarna biru, dan di tengah berwarna biru tua yang sangat pekat mendekati kehitaman. Aku membayangkan betapa dalamnya samudera Pasifik. Apalagi melihat deburan ombak setinggi rumah yang terus-menerus menghantam pantai karang di kejauhan, membuat aku takjub akan ciptaan Tuhan. Tetapi, terus terang, melihat kedahsyatan alam itu, aku merasa diriku sangat kecil dan hatiku menjadi ciut, merasa takut. Ketakutanku berkurang, saat aku melihat ada titik-titik kecil berwarna putih pada gulungan ombak yang dahsyat itu. Ternyata titik-titik putih itu adalah manusia! Mereka sedang bermain selancar. Aku jadi merasa malu dengan diriku sendiri yang mudah takut ini.

Di perbatasan kota, kulihat sebuah mobil sport merah tadi berhenti di bahu jalan. Rupanya Mitch menunggu kami di situ. Begitu bus kami mendekat di belakang mobil itu, terjadilah peristiwa yang mengejutkan dan mendebarkan. Mitch masuk ke mobil dan Ferrari merah itu tiba-tiba menderu, meloncat ke depan sambil meninggalkan asap putih dan debu dari roda belakang. Dalam hitungan detik Ferrari meluncur masuk ke jalan raya dan melesat di jalur cepat.

Teman-teman di bus bersorak melihat manuver Mitch Sala yang berbahaya tadi. Mereka sangat bersemangat menggunjingkan keberanian Mitch. Maklumlah mereka masih muda-muda. Pasti mereka sudah tidak sabar ingin menjajal Ferrari. Menurut mereka memang begitulah cara mengendalikan mobil sport yang benar.

Mereka, teman-teman mudaku sangat mengagumi Mitch dengan Ferrari nya. Namun aku tidak demikian, tidak sama seperti mereka. Aku menganggap manuver tadi terlalu membahayakan. Aku membayangkan orang yang sedang melaju kencang di lajur cepat, akan sangat kaget tiba-tiba di depannya muncul ada sebuah mobil merah. Tetapi aku diam saja. Aku memaklumi mereka. Aku sadar, mungkin karena umurku yang sudah di pertengahan antara lima puluh dan enam puluh tahun lah yang membuat kami berpikir beda. Bisa juga perbedaan itu bukan hanya karena umur yang berbeda jauh, tetapi karena pengalamanku., pengalaman dalam mengendarai mobil.

Tiga tahun sebelum kejadian itu aku memiliki sebuah mobil pribadi. Mobil itulah yang kugunakan dalam memulai dan membangun bisnis networking ini. ‘Similikithi’, itulah julukan yang kuberikan kepada mobil legendarisku itu. Similikithi adalah mobil yang sangat kecil. Mereknya Mitsubishi, tipe Minicab. Mesinnya hanya lima ratus lima puluh cc. Bentuknya sangat sederhana. Kalau dilihat dari samping persis seperti sekotak roti tawar. Yang membuat aku sayang dan bangga pada Similikithi adalah karena mesinnya yang bandel luar biasa. Tidak pernah mogok, kecuali kalau kehabisan bensin.

Similikithi kubeli second hand. Catnya berwarna putih dan atapnya dilapisi semacam terpal warna hitam. Aku tertarik dengan atap terpal hitam itu. Pasti tidak panas dan kelihatan indah, menurutku. Tapi, sejujurnya, yang terpenting adalah karena harganya yang murah dan terjangkau olehku.

Seiring berjalannya waktu, warna putih mobilku semakin terlihat kusam, dan tiba-tiba saja muncul karat dimana-mana, hampir di seluruh body, terutama pada sudut-sudut nya. Mungkin karena Similikithi sering aku bawa ke laut, pergi memancing. Body Similikithi semakin rapuh dan bergetar dan berisik kalau sedang jalan. Sejak itu aku hanya bisa menjalankan mobilku dengan kecepatan maksimum empat puluh kilometer per jam. Apalagi kalau sedang di jalan tol. Waktu itu tol Cawang dan dalam kota masih berupa jalanan beton yang keriting, belum di lapisi dengan aspal. Jika berjalan agak cepat body mobil bergetar hebat, seakan mau rontok berantakan.

Yang aneh adalah ketika mobilku didahului oleh bus Patas yang ngebut dan menyalib terlalu dekat, Similikithi terpental ke kiri. Sungguh menyedihkan. Semua kejadian tersebut seakan menguji kesabaranku. Kenyataannya aku harus tetap menjalankan Similikithi dengan hati-hati dan pelan-pelan. Kebiasaan untuk sabar dan hati-hati itulah yang mungkin membuatku belum bisa memahami bahwa mobil sport ya harus berjalan dengan kecepatan tinggi. Ngebut seperti Ferrari merah di depan ku ini.

Maka, test drive Ferrari yang sebenarnya pun di mulai. Teman-teman mulai bergiliran mengemudikan Ferrari merah dengan di dampingi oleh Mitch. Masing-masing satu etape. Tapi, saat anak sulungku, Risto, mengakhiri gilirannya, dia tidak turun. Mitch yang keluar dari mobil dan mendekati bus kami sambil berkata: “ Kristiawan will drive one more lap. You just follow us.”- Kristiawan (Risto), akan jalan satu lap lagi. Ikuti kami saja.- Risto dan Mitch pun ngebut. Aku pikir, mungkin Mitch terkesan dengan Risto karena sangat serius belajar mengemudikan mobil sport.

Rupanya, diam-diam aku kepingin juga membawa mobil sport merah itu seperti mereka. Ini berarti aku sudah mulai bisa melupakan era Similikithi. Keinginanku itu terpenuhi saat kami, seluruh rombongan, beristirahat di sebuah taman yang luas di tepi pantai. Taman itu kami pakai sebagai tempat photo session dan pembuatan video. Mas Harry Kiss, merupakan teman yang selalu setia mengiringi kami, ke negara manapun group Netwok Twenty One pergi. Mas Harry, dengan kamera video nya yang besar dan berat itu, terlihat sibuk mengatur dan mengabadikan momen-momen penting.

Di taman tepi pantai itu suasana bagaikan sedang ada shooting film saja. Apalagi latar belakang di taman itu ada sebuah gunung dengan puncak yang terjal dan cukup menyeramkan. Gunung itu bekas kawah gunung berapi. Diamond Head nama gunung itu. Menurut pengemudi bus, di puncak gunung itu di pakai sebagai tempat pembuatan film Jurrasic Park. Pantaslah karena cukup menyeramkan.

Kini datanglah giliran kami, aku dan isteriku Ineke, untuk menjajal Red Ferrari. Setelah kami berdua berpose sebentar untuk pengambilan photo, aku lalu duduk di tempat kemudi dan ibu Ineke di sisi kananku. Mas Harry Kiss langsung memanggul kameranya dan mengarahkan kepadaku. Aku pun siap acting. Tangan kananku di atas kemudi, sedangkan tangan kiriku di atas pintu mobil dengan siku sedikit menjulur keluar. Mataku menatap ke camera dengan penuh keyakinan seakan akulah pemilik mobil mewah itu. Mas Harry memberi kode agar aku bicara. Maka aku pun dengan mantab angkat suara:“ Similikithi goodbye…Sekarang, Ferrari Testarossa…di Hawaiii…!”

Pedal gas kuinjak dalam-dalam, maka bergetarlah taman itu dengan suara gemuruh yang keluar dari knalpot Ferrari ku. Aku pun menjalankan mobil meninggalkan lokasi itu. Aku yakin, Mas Harry pasti mengabadikan momen tersebut. Hatiku berbunga-bunga. Isteriku pasti bangga dengan action suaminya ini.

Sekarang, akulah yang mengendalikan mobil sport mewah itu, di jalan raya. Pedal gas baru kuinjak sedikit saja, belum ada setengahnya, tetapi mobil ku sudah melaju sangat kencang. Semua mobil di jalanan itu aku salib semua. Semakin lama aku berani melaju lebih cepat lagi. Hatiku merasa bergejolak, bagaikan gemuruh debur ombak di sisi kananku. Dan aku mulai merasa hebat, segagah gunung Diamond Head yang menjulang di sisi kiri jalan.

Kini aku merasa paling cepat di jalan raya itu. Aku hanya perlu fokus agar tetap berjalan di lajur sebelah kanan. Kalau aku lengah, pindah ke lajur kirinseperti di Indonesia, maka akan terjadi malapetaka, akan di seruduk kendaraan dari depan. Aku mulai punya perasaan yang ane, rupanya beginilah rasanya menjadi orang hebat. Merasakan menjadi seorang raja. Maksudku Raja Jalanan. Tidak ada yang melawanku. Aku melirik ke isteriku.

Dia duduk dengan tegang melihat ke depan, tapi dia diam saja, tidak berkata apapun, misalnya melarangku supaya jangan terlalu cepat. Aku menikmati perasaan hebat itu,sampai aku mengalami kejadian yang membuatku kaget luar biasa.

Tiba-tiba saja, tanpa kuduga, ada sebuah mobil yang menyalibku dari sebelah kiri. Ini tidak mungkin, pikirku. Aku sudah super cepat! Yang menyakitkan hati adalah yang menyalib itu ternyata sebuah mobil biasa, bukan mobil sport seperti milikku ini. Dan lagi, penumpangnya anak-anak muda. Mereka melambaikan tangan kepadaku. Aduh! Aku sudah siap tancap gas mengejarnya, pasti dengan mudah tersusul. Tetapi ada “bisikan” dari Similikithi supaya aku tetap sabar, sehingga kuurungkan niat itu. Aku berharap isteriku tidak melihat kejadian tadi. Sewaktu aku meliriknya, aku lihat dia tersenyum penuh arti. Maka, saat itu juga, kejayaan sang Raja Jalanan pun runtuh.

Aku pun mengurangi kecepatan mobilku. Di depanku aku melihat sebuah restoran dengan halaman parkir yang luas. Aku masuk dan parkir di bawah pohon. Aku sedikit terhibur melihat serombongan orang kulit putih menghambur keluar dari restoran dan mengerumuni Ferrariku.

Mereka mengamati dan memegang-pegang mobil sambil ribut membahasnya. Mungkin ini mobil impian mereka. “You are lucky you can drive this car”– Anda beruntung bisa mengendarai mobil ini.– “Sure”– pasti.– Jawabku sambil menegakkan dudukku di sandaran jok. Bus rombongan pun datang menyusul.

Kemudian kulihat Mitch turun dari bus dan berlari-lari menuju mobilku. “ Hey, you broke my car”–Hei kamu merusakkan mobilku– katanya sambil berusaha menarik-narik gagang rem tangan yang lengket dan masih berasap. Ya ampuun, rupanya waktu berangkat tadi aku lupa melepas rem tangan, sehingga sepanjang jalan mobil mewah itu ngebul berasap! Pantas, di parkiran tadi tercium bau menyengat.

Malam itu, di hotel, aku melihat isteriku sudah tidur lelap. Sebetulnya aku ingin mengatakan padanya, bahwa pengalaman hari ini adalah merupakan hadiah bulan madu untuknya. Hadiah bulan madu yang telah aku janjikan saat hari pernikahan kami dulu. Waktu itu aku belum sempat mengajaknya berbulan madu dengan alasan kesibukan pekerjaanku di kantor. (baca: tidak punya uang).

***

Aku melangkah keluar dari mall MKG 3 sore itu, kulihat mobil sport merah cerah itu masih terparkir dengan gagah di tempatnya. Aku masuk kedalam mobilku sambil tersenyum dan mengenang, aku pernah mengendarai bahkan “merusakkan” mobil sport mewah jenis itu: Ferrari Testarossa. (*)

Menggeser Batas Negara

 

MENGGESER BATAS NEGARA

Sore itu aku dan Utie, bersiap-siap akan meninggalkan Perancis menuju Italia. Kami berangkat dari stasiun kereta api Kota Nice. Nice terletak di Perancis Tenggara, di ujung timur, berdekatan dengan perbatasan Italia. Kami menggunakan kereta rel malam menuju Roma, sehingga lebih hemat karena bisa menginap satu malam di atas kereta.

Ketika kami akan naik ke kereta, di depan pintu kereta sudah siap seorang pemuda dengan seragam yang keren. Rupanya ia adalah penanggung jawab gerbong khusus tersebut. Aku melihat ada kamar-kamar yang di isi dengan empat tempat tidur bersusun dua tingkat. Aku dan Utie lalu di antar ke kamar paling ujung. Kamar yang berkapasitas untuk tiga orang. Namun petugas itu mengatakan bahwa kamar itu hanya untuk kami berdua. Baguslah pikirku, karena tempat yang kosong dapat dipakai untuk menaruh koper-koper kami. Kamar khusus itu berdinding rapat dan berkunci, sehingga kami tidak terganggu oleh suara dari luar.

Setelah kereta mulai berjalan, si petugas masuk ke kamar kami mengantar makanan dan minuman untuk malam itu. Dia meminta paspor kami, sambil mengatakan “Tolong nanti kamar di kunci dari dalam, dan kalau ada yang mengetuk, biarkan saja tidak usah di buka..”

Kamar khusus itu jadilah kamar untuk kami berdua. Mungkin mereka tahu kalau kami memang sedang berbulan madu. Namun karena tempat tidurnya sempit dan bertingkat, maka aku di dipan atas dan Utie tidur di bawah. Goyangan-goyangan lembut kereta itu membuat aku tertidur pulas juga.

Tiba-tiba aku terkejut dan terbangun dari tidurku. Aku mendengar suara-suara sangat ribut dari luar kamar kami. Aku melihat jam, ternyata pukul dua belas tengah malam. Dan kereta dalam keadaan berhenti.

Dari luar kamar, terdengar suara langkah banyak orang. Sepertinya menggunakan sepatu tentara. Mereka berbicara keras seperti membentak-bentak, dan banyak suara pintu yang di gedor-gedor. Tidak lama kemudian, ada orang yang berusaha membuka pintu kamar kami sambil di ketok-ketok. Aku mengikuti nasehat petugas kereta untuk tidak membukakan pintu. Kemudian di depan pintu kamarku terdengar orang berdebat dengan suara keras, seakan mau berkelahi. Lalu aku melihat dari jendela kamarku, orang-orang yang ribut tadi pada meloncat turun dari kereta. Juga orang yang di depan kamarku, sambil tetap marah-marah meloncat turun juga.

Petugas gerbong kami cepat-cepat menutup pintu kereta. Lalu kereta pun mulai bergerak untuk berangkat. Rupanya suara ribut-ribut tadi adalah pemeriksaan paspor dan visa oleh para Petugas Imigrasi dari Pemerintah Italia. Akhirnya suasana kembali sepi. Kami lalu tidur kembali.

Esok paginya aku keluar dari kamarku dan menemui petugas gerbong khusus kami, lalu mengucapkan terima kasih atas pertolongannya mengamankan kami tadi malam. “You are welcome, Sir..” jawabnya datar saja. Rupanya peristiwa semalam bukanlah kejadian yang istimewa. Hal itu rutin terjadi setiap malam. Kehebohan tengah malam tadi merupakan perkenalanku dengan orang Italia. Terlihat ‘heboh’, tetapi tidak ada apa-apa. Baik-baik saja.

Pagi itu, kami turun di stasiun kereta api Roma Termini, di Kota Roma, Italia. Kami keluar dari stasiun. Dan seperti biasa, kami bingung mau naik taksi meter atau …

“Good moorniing, Siiiirrr..!” kata seorang bapak dengan senyum lebar, yang suaranya cukup mengejutkan kami. Bapak itu mengucapkan selamat datang di Roma. Entah dari mana ia tahu bahwa kami baru pertama ke kota ini. Ia menanyakan tujuan kami, dan aku sebut nama hotel kami. Lalu seperti otomatis saja kami sudah berada di dalam mobilnya, mobil sewaan.

Begitu ia tahu bahwa kami berasal dari Indonesia, ia mengeluarkan beberapa kartu nama dari tasnya. Bukan sembarang kartu nama, tapi Kartu nama orang-orang terkenal. Yakni Adnan Buyung Nasution, pimpinan Freeport dan beberapa kartu nama lain. Melihat hal itu, aku semakin percaya pada si bapak, pemilik mobil itu. Dan aku lalu menyetujui untuk memakai mobilnya untuk berkeliling kota untuk esok pagi.

Tidak lama kemudian mobil berhenti di sebuah hotel. Aku mengatakan “Lho, bukan ini hotel kami..” Lalu ia menjawab “Oh, aku salah dengar tadi, sorry…” dan mobil berjalan lagi dan berputar-putar lama. Perasaanku mulai tidak enak. Namun aku sedikit lega, karena akhirnya sampailah kami di hotel yang kami tuju.

Kami di terima oleh seorang resepsionis hotel. Bapak-bapak yang setengah tua. Mungkin ia adalah pemilik hotel kecil tersebut. Sewaktu sopir mobil sewaan masuk ke loby mengantar koper-koper kami, resepsionis itu menanyakan kepadaku “Tuan pakai mobil ini, tadi ?” Sewaktu aku mengiyakan, ia melanjutkan “Tidak boleh tuan! Ini taksi gelap, dan jangan di pakai lagi..”

Mendengar itu, spontan sang pemilik taksi gelap tersebut pun mengamuk. Ia marah-marah dan membentak-bentak pak resepsionis. Keributan pun terjadi. Apalagi setelah aku katakan bahwa besok pagi aku batal memakai mobilnya. Mendadak, gantian aku yang dibentak-bentak oleh si sopir. Untunglah akhirnya ia meninggalkan hotel itu, meskipun sambil marah kepadaku dan resepsionis hotel itu.

Pagi itu kami langsung mengadakan city tour menggunakan mobil yang di pesan oleh hotel. Kami lalu pergi dengan semangat, menyusuri kota impian kami, Roma. Aku mengagumi semua yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Semua yang semula hanya kubaca dan aku lihat dari foto-foto mengenai keindahan Kota Roma. Roma, yang telah ada dan memiliki peradaban tinggi sejak ribuan tahun yang silam. Dari peninggalan-peninggalan sejarah, masih terasa kemegahan jaman Romawi dulu. Bangunan koloseum yang megah, patung-patung yang indah, masih bisa aku lihat dan raba. Tidak akan cukup satu dua hari untuk melihat semuanya itu. Karenanya kami akan tinggal beberapa hari di Roma. Menggunakan tour atau naik kendaraan umum.

Ada dua hal yang menarik perhatianku selama berada di Kota Roma. Yaitu bahwa Kota Roma yang asli ternyata terletak dua meter di bawah Kota Roma yang sekarang! Di sela-sela gedung yang berderet, ada sebuah tangga yang menurun, seperti memasuki sebuah goa yang gelap. Di bawah itulah aku melihat sebuah jalan, perkampungan dan rumah-rumah dengan tembok dan tiang-tiangnya. Lengkap seperti daerah perumahan. Hanya saja, sekitar dua meter di atasnya tertutup dengan beton semen, yang menyangga Kota Roma yang baru.

Yang kedua adalah sewaktu kami mengunjungi Vatican, tempat Sri Paus, pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia. Vatican, merupakan sebuah negara tersendiri yang berdaulat, walaupun wilayahnya sangat kecil dan berada di tengah Kota Roma, Italia. Sebagai sebuah negara, Vatican juga mempunyai batas-batas negara. Kami juga mengunjungi Gereja Santo Petrus ( St Peter’s Basilica) yang sangat megah. Gereja itu di penuhi dengan lukisan dan patung-patung karya Michelangelo yang sangat mengagumkan.

Sewaktu kami keluar dari lapangan yang luas di depan Gereja St. Peter itu, tour guide kami memberi tahu kepadaku, bahwa batas Negara Vatican dan Italia, di lapangan itu, hanya di tandai dengan sebuah pagar besi yang pendek yang bisa digeser-geser. Sama seperti pagar besi yang sering dipakai sebagai pembatas jalan oleh polisi di Jakarta.

Mendengar bahwa pagar besi itulah yang di pakai sebagai pembatas antara dua negara, maka aku, diam-diam mendekati pagar itu dan pelan-pelan aku dorong pagar besi itu sehingga bergeser sekitar satu meter ke arah wilayah Italia. Pemandu wisataku tertawa melihat kelakuanku itu. Aku merasa puas bisa membantu Negara Vatican yang sempit itu memperluas wilayahnya selebar satu meter. Untungnya karena adanya perubahan tapal batasku itu, tidak terjadi pertikaian antara Italia dan Vatican. Semua aman-aman saja. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K

Monaco Monte Carlo

MONACO MONTE CARLO

 

Sewaktu aku dan istriku,Utie, merencanakan perjalanan ke Spanyol dan Perancis, teman-temanku yang pernah ke Eropa mengatakan “Jangan lupa mengunjungi ‘Cote d’Azur’, dengan jalan darat..!”  Mereka mengatakan bahwa ‘Cote d’Azur’ (baca: kot da zur) mempunyai panorama yang sangat indah di sepanjang pantai selatan dan tenggara Perancis, dan yang berujung di Kota Nice.

Karena itu, dari Lourdes, di Perancis Selatan, kami berdua berangkat pagi-pagi menuju ke Kota Nice menyusuri pantai menggunakan kereta rel,TGV. Aku sungguh menikmati pemandangan yang luar biasa itu. Pesisir di sepanjang pantai yang kami lewati berwarna-warni. Ada pantai yang berwarna putih, kuning, hitam. Kemudian aku melihat dari kejauhan, sebuah pantai karang berwarna merah. Pemandangan yang luar biasa. Tetapi kami tidak berhenti di situ. Sorenya kami turun dan menginap di Kota Nice.

Esok pagi, setelah malamnya beristirahat di hotel di Kota Nice, aku dan Utie berangkat ke Monaco dan Monte Carlo dengan mobil sewaan. Mengapa kami memilih Monaco dan Monte Carlo sebagai tujuan? Kisahnya begini.

Utie, semasa sekolah, SMP sampai SMA adalah penggemar film. Utie mempunyai koleksi foto para bintang film Hollywood idolanya. Satu di antaranya adalah pemenang piala Oscar, Grace Kelly. Grace Kelly memang sangat cantik, perawakannya tinggi dan penampilannya sangat anggun, bagaikan seorang princess. Saat itu, di tahun lima puluh enam, para penggemar film di seluruh dunia heboh, saat Grace Kelly dipersunting oleh Prince Rainier III dari Monaco. Saat itu Grace Kelly benar-benar menjadi princess yang sesungguhnya. Peristiwa pernikahan itu kemudian menjadi  sebuah “legenda” di dunia. Dan jumlah wisatawan yang ke Monaco pun meningkat tajam.

Aku juga langsung menyetujui usul Utie itu. Bagiku Monaco dan Monte Carlo merupakan termasuk tempat impianku untuk di kunjungi. Konon pemandangannya sangat indah. Bagaikan “sorga dunia”, kata mereka yang pernah ke sana. Sedangkan di Monte Carlo terdapat Casino yang sangat terkenal. Di sana juga terdapat Grand Prix –tempat balap mobil Formula 1– yang diadakan di jalanan di dalam kota. Tidak seperti circuit biasanya. Aku ingin melihat semua itu.

Mobil kami dikemudikan oleh seorang pemuda yang sangat profesional. Kami menyusuri jalan berliku-liku tajam dan naik turun, yang cukup mengerikan. Di sisi kiri jalan, menjulang tebing yang tinggi. Sedangkan di samping kanan ada jurang yang sangat curam.

Mobil kami berhenti di tempat parkir, di pinggir jurang itu. Dari tempat itulah aku melihat sebuah pemandangan yang luar biasa indahnya. Di bawah terlihat sebuah port atau pelabuhan untuk kapal-kapal milik pribadi. Di pinggir teluk itu di penuhi oleh yach, perahu dan kapal milik pribadi, yang semuanya berwarna putih. Perahu-perahu itu tertambat dengan cara susun sirih dan sangat rapi. Teluk itu dikelilingi tebing yang tinggi dan di situlah berdiri rumah-rumah mewah yang sangat indah milik orang-orang terkaya di dunia. Pantaslah kalau ada yang mengatakan tempat itu bagaikan “sorga dunia”.

Tiba-tiba mobil kami memasuki jalan kecil di antara tebing-tebing itu. Kemudian berhenti di halaman parkir di sisi tebing. Pengemudi kami mengatakan kalau kami berjalan kaki ke atas, di sana ada tempat untuk melihat seluruh Monaco dan Monte Carlo dari atas.

Aku dan Utie mencoba berjalan kaki mendaki tangga dan jalanan, Di kiri kanannya terdapat rumah-rumah penduduk.Tetapi rupanya di samping perkampungan tersebut, aku melihat ada jalan setapak yang juga sangat menanjak. Rupanya itu adalah jalan menuju ke sebuah hotel yang berada di puncak bukit itu.

Terlihat ada dua orang berseragam hotel keluar dari gang itu. Lalu mereka menjemput tamu yang baru turun dari mobil. Aku lalu berpikir, bagaimana ya cara mereka membawa koper-koper yang banyak itu di jalan menanjak yang terjal itu. Ternyata salah seorang dari Bell boy dari hotel tersebut menuju ke sudut tempat parkiran, lalu mengeluarkan seekor keledai. Keledai itulah yang mengangkut koper-koper itu ke atas.

Kami berjalan tidak sampai ke puncak. Terlalu jauh dan sangat melelahkan. Akhirnya kami beristirahat di rumah seorang pembuat kerajinan dari kulit. Ada seorang bapak pemilik rumah kerajinan itu sedang membuat macam-macam tas, dompet, dan sebagainya. Dia bertanya kepadaku, dari mana aku berasal. Aku katakan bahwa kami dari Indonesia. Ia kemudian berkomentar “Oh, Indonesia. Indonesia punya kulit yang berkualitas bagus..”

Lalu bapak itu mengeluarkan berlembar-lembar kulit dari Indonesia. Aku mengangguk-angguk seakan mengerti tentang kulit. Aku kemudian melihat-lihat koleksi ikat pinggang buatannya. Sabuk-sabuk itu indah dan harganya pun sangatlah mahal. Rasanya aku tidak cocok memakai sabuk yang sangat mewah tersebut.

Rupanya bapak itu mengerti apa yang ada dalam pikiranku. Ia mengeluarkan sebuah sabuk yang polos, sederhana tapi terlihat bagus. Ia mengatakan, “You pakai sabuk ini, dan sepuluh tahun lagi you kembali kemari, sabuk ini akan tetap sama tidak berubah, asalkan jangan di semir…” Akhirnya aku beli sabuk itu dan hampir setiap hari aku pakai. Bahkan sampai saat aku menulis buku ini, sabuk itu masih aku pakai. Berarti umurnya sudah tiga belas tahun!

Akhirnya, sampailah kami di tempat tujuan. Istana Monaco. Monaco, yang di pimpin oleh Prince Rainier III, yang menikah dengan seorang bintang film Hollywood, Grace Kelly, adalah sebuah negara yang luasnya hanya dua kilo meter persegi. Negara kecil ini berbatasan dengan satu negara saja, yaitu Perancis. Monaco merupakan negara yang kaya, karena pariwisata dan pemasukan uang yang besar, berasal dari Casino di Monte Carlo. Rakyatnya juga dibebaskan dari pajak.

Dari area istana tersebut, kami bisa melihat ke bawah, ke teluk dan di kelilingi tebing yang indah yang kami lewati tadi. Kami pun berjalan-jalan di daerah di depan istana, yang banyak pertokoan itu. Dan Utie, sudah tidak sabar lagi, langsung memasuki toko cindera mata, toko Monaco namanya. Seperti biasa, kalau sudah memasuki sebuah toko, akan susah keluarnya. Akhirnya aku tinggalkan Utie di toko Monaco itu. Aku berjalan sendiri berkeliling melihat pemandangan dan penduduk asli di situ. Mengamati budayanya. Itulah hobiku kalau berwisata ke negeri lain.

Tidak sadar aku telah lebih dari setengah jam meninggalkan Utie di toko suvenir tadi. Aku berlari-lari kembali, dan sesampai di toko, aku melihat Utie masih tetap berada di toko yang sama, dan berdiri di tempat yang sama seperti sewaktu aku tinggalkan tadi. Melihat aku ada di depan toko, Utie dengan santainya keluar sambil memperlihatkan kepadaku dua baju anak-anak, dan berkata “yang merah apa yang biru?” Sambil terengah-engah aku jawab “Yang merah..” Lalu Utie masuk lagi ke dalam, dan lama lagi.

Menjelang petang, kami baru sampai di Monte Carlo. Kota ini adalah tujuanku. Turun dari mobil sudah terlihat gedung Casino yang megah dan sangat terkenal di dunIa itu. Aku minta untuk di turunkan di depan gedung Casino itu. Tapi sopirku tidak mau. Ia berkata “Tidak bisa. Casino itu khusus hanya untuk Member, lihat saja mobil-mobil yang parkir di situ…” Benar juga, Kulihat di depannya banyak terparkir mobil-mobil mewah, bahkan super mewah. Banyak merek mobil yang belum aku kenal. Merek yang aku kenal adalah Ferrari Testarosa. Di situ juga ada Ferrari berwarna merah, yang terparkir di paling ujung, tetapi mobil-mobil yang lain terlihat lebih keren dan sangat mewah.

Aku nekad mencoba masuk ke Casino mewah tersebut. “Hanya untuk melihat-lihat..” kataku kepada penjaga pintu masuk. Penjaga yang berseragam keren tersebut dengan ramah mengantarku keluar sambil berkata, “Sory, di sini hanya untuk orang-orang Jetset membuang “uang receh”-nya.” Ia berkata demikian sambil tertawa, mungkin untuk menghibur aku yang kecewa. Aku mengerti dengan yang ia artikan “uang receh” itu, bisa berarti uang ribuan atau ratusan ribu dolar.

Untunglah tidak jauh dari situ ada juga sebuah gedung Casino untuk umum. Kami pun masuk hanya dengan menunjukkan paspor. Setelah berkeliling di dalamnya, aku dan Utie pun keluar sambil mampir membuang uang receh, sebesar dua puluh dolar saja di mesin ‘Jackpot’. Aku pun bangga, aku bisa bercerita bahwa aku, seorang anak ndeso Wonogiri, pernah main di Casino di Monte Carlo!

Kami lalu beristirahat sambil minum kopi di cafe di halaman Casino, sambil melihat mobil-mobil yang berseliweran di jalanan. Aku baru sadar bahwa mobil-mobil yang lewat itu hampir seluruhnya adalah mobil mewah. Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh bagaikan deru bunyi pesawat jet. Ternyata itu bunyi dari knalpot sebuah mobil yang melintas. Mobil dengan kap terbuka itu di tumpangi oleh sepasang orang yang berpakaian sangat indah. Ya, inilah Monte Carlo, tempat para Jetset kaliber dunia tinggal.

Aku memperhatikan, ada orang-orang yang berjalan hilir mudik di jalan kecil di samping kiri gedung Casino yang mewah tadi. Aku pun penasaran. Lalu kami mengikuti mereka. Ternyata jalan itu menurun tajam. Sesampai di bawah aku terkejut, ternyata itu adalah jalan yang akan dipakai  untuk jalur balap mobil F1. Dan di jalanan tersebut ada Tunnel atau terowongan yang dilalui mobil-mobil balap nanti. Bagi yang pernah nonton di TV balapan mobil di Monaco, pasti mengenal Tunnel itu.

Hari sudah semakin sore, dan aku minta ke tour guide kami untuk menyusuri jalan-jalan di Monaco yang seminggu lagi akan dilalui oleh lomba balap F1. Mencengangkan, jalan itu tidak terlalu lebar. Hanya cukup untuk dua mobil berpapasan, sedangkan di sisi kiri-kanannya banyak tebing, tembok atau bangunan. Bagaimana mungkin mobil balap yang berkecepatan tinggi itu bisa menyalib. Aku membayangkannya saja sudah merasa ngeri. Di ujung-ujung jalan sudah banyak dipasang spanduk untuk menyambut Grand Prix, seminggu lagi.

“Rumah-rumah di sisi jalan ini akan panen uang setiap musim balap mobil. Sewa teras depannya saja mahal sekali..” kata tour guide kami. Kami menyusuri jalanan kota sambil mendengarkan penjelasannya. Hari mulai gelap dan kami pun turun kembali ke Kota Nice, kota sebagai pangkalan untuk tour kami selanjutnya.

Malam itu, aku tiduran di kamar hotel, meskipun lelah tapi aku sangat puas mengingat pengalamanku pada hari itu, di Monaco dan Monte Carlo. Aku sudah mulai mengantuk dan hampir tidur. Tetapi, istriku, Utie, masih belum tidur. Dia menebar belanjaannya di atas tempat tidur, sambil sibuk menghitung dan melihat-lihat kembali apa yang tadi di beli.

Aku senang sekali melihat istriku terlihat bahagia dengan belanjaannya. Mataku pun semakin meredup. Sayup-sayup terdengar istriku menanyakan apakah baju-baju kecil itu nanti pas untuk cucu-cucunya. Sebelum tertidur lelap aku masih sempat mengharap, agar nanti tas tentenganku tidak semakin banyak. Atau aku harus membeli koper baru lagi? (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K

Operasi Senyap

OPERASI SENYAP

Jumlah penghuni di asramaku di Bruderan tidak terlalu banyak, hanya sekitar dua puluh anak. Itupun banyak yang datang dan pergi. Semuanya adalah siswa SMA Santo Yosef dan berasal dari luar kota Solo. Bahkan ada pula dari luar pulau Jawa, seperti Sumatra, Bali, dan Timor.

Aku membagi teman-teman asramaku dalam tiga kelompok. Bukan hanya berdasarkan kelas di sekolah, tetapi berdasarkan karakter atau dari “tingkah laku” mereka sehari-hari.

Yang pertama adalah Kelompok Kutu Buku. Kelompok ini kerjanya hanya belajar dan belajar saja. Mulai dari bangun tidur hingga akan tidur lagi, yang mereka lakukan hanyalah belajar. Waktu mandi, makan, berdoa, dan bahkan waktu istirahat pun, mereka anggap sebagai “gangguan” bagi mereka untuk belajar. Mereka juga merasa kurang nyaman saat diajak ngobrol. Terlihat dari matanya kalau pikirannya selalu tertuju pada pada bukunya. Pantaslah kelompok seperti itu dinamakan “kutu buku”.

Kelompok kedua adalah mereka yang selalu “stres”. Kelompok Stress.    Kelompok ini hidupnya selalu muram, mukanya selalu cemberut, sehingga teman-teman lain merasa segan untuk mendekati mereka. Mereka tidak suka didekati, maunya menyendiri saja. Mereka sering malas belajar, atau kalau pun belajar, kelihatan tidak konsentrasi. Sebentar-sebentar suka menarik napas panjang untuk mengusir kekesalannya. Kadang-kadang, aku mendekatinya untuk menanyakan apa masalahnya. Lalu ia akan menceritakan daftar masalah yang di hadapinya. Ceritanya panjang lebar dan aku harus diam sambil terus mendengarkannya. Lama kelamaan aku bosan juga, karena aku bukan termasuk tipe pendengar yang baik. Aku adalah “tukang bicara”, dan akulah yang sebenarnya membutuhkan pendengar yang baik. Tapi aku sendiri merasa bukan termasuk kelompok itu, Kelompok Stres.

Aku termasuk kelompok yang ketiga ini. Yaitu Kelompok Anak Bandel. Untuk menghormati kelompokku ini, aku akan menyebutnya sebagai : Kelompok Dinamis, Kreatif, Jenius, atau Kelompok Petualang.

Kelompok Bandel inilah yang terbanyak dan mayoritas di asramaku. Sebagian besar adalah anak dari Bagian B (Jurusan Ilmu Pasti dan Alam, IPA). Aku sendiri dari Bagian C (Sosial Ekonomi). Mungkin karena itulah mereka lebih berani, nekat dan penuh rasa percaya diri. Sedangkan aku sendiri, meskipun sesama petualang, aku masih merasa kurang berani, kurang nekat dan sebenarnya sedikit minder terhadap mereka.

Setelah kupikir-pikir, mungkin karena itulah mereka memilih aku menjadi seorang Ketua Asrama. Dan celakanya, Bruder Kepala menyetujui. Ia mengangkat aku secara resmi sebagai Ketua Asrama! Aku merasa mereka menjadikan aku sebagai bumper untuk menghadapi Bruder Kepala. Begitu juga menurut Bruder Kepala, memang akulah yang di anggap paling cocok untuk di jadikan “perisai” untuk menghadapi teman-teman asramaku.

Sebenarnya aku lebih senang menjadi “warga” biasa di situ. Tetapi aku tahu, yang mengusulkan aku menjadi ketua, pasti teman-teman kelompok bandel itu. Mungkin mereka sering melihat aku masuk ke dalam area para Bruder, yang sebetulnya area terlarang bagi anak asrama.

Memang antara area Bruderan dan asrama tidak ada pembatas. Mungkin mereka mengira kalau malam-malam aku berada di Bruderan karena aku sedang berkonsultasi. Padahal aku berada di daerah terlarang tersebut dalam rangka mengamati apa yang dilakukan oleh para biarawan itu, yang selalu membuatku penasaran.

Terkadang saat para biarawan itu sedang berdoa malam di dalam Kapel, aku diam-diam menyusup dan duduk di bangku paling belakang Kapel yang indah itu. Di situ aku merasakan ketenangan yang luar biasa. Para biarawan itu berdoa bersama-sama dalam bahasa Belanda. Saat mereka menyanyikan lagu-lagu Gregorian yang aku hafal pun, kadang aku sering ikut menyanyi pelan-pelan. Sebelum mereka selesai berdoa, aku baru kembali ke asrama, ke ruang belajar.

Sebenarnya, bagiku tugas sebagai Ketua Asrama tidak terlalu sulit. Apalagi menghadapi kelompok kutu buku. Mereka selalu diam dan tenang, selama ada buku. Sedangkan kelompok “stres”, ada dua tipe. Tipe pasif dan aktif. Tipe pasif tidak pernah membuat masalah, hanya jarang mandi dan tidak suka mencuci bajunya. Kalau yang tipe aktif, mereka akan menyalurkan energinya dengan berolah-raga, senam, loncat-loncat atau jumpalitan di ubin.

Suatu hari aku pernah mendekati tipe stres yang aktif ini. Aku bertanya pada mereka apa yang mereka perlukan. “Rekstok, besi ring dan dumble..!” katanya kepadaku dengan muka penuh harap. Saat itu juga aku menghadap ke Bruder Kepala, mengusulkan diadakan alat-alat olah raga yang ia minta.

Sungguh hebat, dalam waktu hanya dua hari, telah dipasang secara permanen alat-alat seperti: rekstok atau besi palang, besi ring dan bermacam dumble, bahkan peralatan lengkap untuk bulu tangkis.

Sejak saat itu suasana asrama kami menjadi lebih meriah. Sore hari kami suka berkerumun menyaksikan “olahragawan” asrama kami itu, melakukan senam dengan berayun-ayun di rekstok. Sebuah palang besi bulat yang disangga oleh dua tiang setinggi lebih dari dua meter. Ia bisa melakukan berbagai gerakan, berputar-putar, bergelantung dengan jari-jari kakinya, persis seperti pemain sirkus. Gerakan-gerakan yang mendebarkan. Kami para anak-anak dan beberapa Bruder, ikut menyaksikan atraksinya dengan terkagum-kagum.

Lalu, bagaimana dengan Kelompok Bandel? –kelompok di mana aku juga termasuk di dalamnya. Aku sudah tahu, bahwa aku harus lebih waspada dengan gerak-gerik kelompok ini.

Dan benar juga. Di suatu siang…

“Ada apa ini?” tanyaku kepada mereka saat melihat mereka duduk bergerombol.

”Kita protes saja, makanan kita begini-begini saja. Tidak ada variasi dan sekarang malah jarang ada daging..!” kata seorang dari mereka dengan nada tinggi.

Wah rupanya mereka hendak mengadakan protes. Dan mendengar kata ‘daging’, sontak aku memang membenarkan mereka, dalam hati. Aku tersadar bahwa aku juga pemakan daging. Aku jadi teringat aka gengku sewaktu di SD di Wonogiri, Geng Anak Gragas, yang semua anggotanya adalah pemakan daging. Namun ketika itu, aku dan geng gragas bisa mendapatkan solusinya yaitu mengganti daging dengan serangga.

Akhirnya muncullah keputusan dari kumpul-kumpul siang itu. Akulah yang harus mewakili mereka untuk menghadap ke Bruder Kepala, untuk menyampaikan keluhan dan sambil mengusulkan sebuah “ide gila”. Kami akan meminta sebidang tanah di sudut belakang Bruderan, untuk kami pakai sebagai kandang kelinci dan juga untuk di tanami dengan buah dan sayuran.

Singkat cerita, “proposal” kami di setujui. Satu minggu setelah aku menghadap Bruder Kepala, kami melihat di sudut belakang di halaman Bruderan yang sangat luas itu, ada beberapa tukang yang sedang mendirikan kandang-kandang kelinci dan juga membuat pagar di sekelilingnya. Tidak jauh dari kandang itu, juga sudah ada sebidang tanah yang siap untuk ditanami.

Beberapa hari kemudian, kelinci-kelinci kami sudah mulai bertengger di kandang-kandangnya. Total ada lima pasang. Teman-teman juga mulai rajin memberi makan ternak peliharaan kami itu. Beberapa dari kami juga bersemangat, menyirami tanaman sayuran dan buah tomat, supaya tumbuh subur.

Sungguh menyenangkan, karena beberapa bulan kemudian, kami sudah bisa menikmati sayuran dan buah tomat yang melimpah. Ditambah juga, menu makan siang yang baru. Satu kali dalam sebulan, ada masakan yang lezat, daging kelinci.

Namun bagi Kelompok Bandel alias petualang, dinamis dan kreatif itu, rasanya kurang lengkap kalau tidak memunculkan ide-ide yang menantang dan berani.

Suatu malam, sekitar pukul setengah sebelas, aku didatangi dua orang anak. Mereka berbicara sambil berbisik di sisi tempat tidurku. Mereka melaporkan bahwa malam ini akan diadakan sebuah operasi, “Operasi Senyap”. Acaranya adalah “makan enak bersama” di tengah malam. Lokasinya di belakang asrama, di antara kamar-kamar pakaian dan tembok pagar belakang.

Mereka, para jenius ini, sudah mempersiapkan segalanya, termasuk strateginya. Dua orang anak akan keluar dengan meloncat tembok pagar, membeli lauk yang enak. Dua orang lainnya ke dapur untuk mengambil (baca: mencuri) nasi. Dan dua lainnya akan bersembunyi, untuk mengawasi kalau-kalau ada Bruder yang bangun dan keluar. Jika terlihat ada Bruder yang keluar, si pengawas harus memberi “kode” kepada yang lain dan semuanya harus diam bersembunyi. Kalaupun nanti sampai kepergok , kita harus pura-pura ke kamar mandi, pipis. Semua di lakukan secara terpisah-pisah, tidak bergerombol dan tanpa ada suara. Senyap.

Karena operasi ini menyangkut “makan”, karena alasan pribadi, aku sebagai ketua tentu ikut menyetujui operasi tersebut. Kemudian sambil tetap menunggu di atas ranjang tidurku, “Operasi” ini lalu mulai berjalan.

Waktu serasa berjalan sangat lambat. Tegang. Malam itu malam yang sangat senyap.

“Klontaang…” tiba-tiba ada suara dari dapur. Kemudian sepi lagi. Beberapa menit kemudian, dalam kesenyapan itu, dari arah kamar-kamar bruder, aku mendengar suara pintu yang tertutup. Kemudian diikuti suara langkah seseorang. Lalu selang beberapa waktu, terdengar kembali suara pintu tadi. Terbuka dan tertutup kembali.

Memasuki pukul dua belas tengah malam, aku di jemput oleh Komandan Operasi. Kami pergi ke belakang kamar pakaian untuk makan lebih dulu. Kami akan mulai makan berdua-dua. Tidak beramai-ramai. Menunya hanya nasi putih, ebi goreng dan sambal. Nikmatnya luar biasa. Nasinya diletakan di atas sebuah nampan besar, kemudian dicampur aduk dengan ebi goreng itu. Kami makan tanpa piring. Langsung ambil dengan tangan dari nampan besar itu. Hanya sambal yang terpisah. Aku sangat menikmati “makan enak” itu. Apalagi makannya di sertai dengan perasaan dag, dig, dug di tengah malam.

Setelah perutku kenyang, aku kembali ke kamar untuk bersiap tidur. Secara bergantian, teman-teman yang lain, bergiliran (berdua-dua) pergi mengendap-endap ke belakang kamar pakaian. Makan enak.

Seluruh “operasi” ini diatur dan dipimpin oleh Komandan Operasi. Ia adalah seorang temanku yang paling berani, dan sangat kreatif karena sering memiliki banyak ide. Aku belum bisa tidur tenang sampai semua kegiatan “operasi” malam itu berakhir.

Beberapa lama kemudian, temanku si Komandan Operasi datang, memberitahuku bahwa “operasi” sudah selesai. Operasi Senyap -yang sungguh mendebarkan namun mengenyangkan itu- akhirnya berhasil dengan sukses dan lancar.

Malam itu, dengan masih merasakan sisa nikmatnya “ebi goreng” tadi, akhirnya aku tertidur dengan nyenyak. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K

Siapakah Ompa?

_MG_4968

SIAPAKAH OMPA?

(Sekedar Kata Pengantar)

Ompa adalah ayahku. Sejak kelahiran cucu pertamanya, ayahku ini, ayah juara satu,  Antonius Sutedjo, menyebut dirinya dengan sebutan OMPA. Sejak saat itu kami sekeluarga besar memanggilnya juga dengan nama panggilan tersebut. Menurutnya, OMPA adalah singkatan dari “Om dan Papa”. Tentu saja karena saat itu ia merasa dirinya masih terlalu muda untuk dipanggil opa.

Lahir di kota Malang lima tahun delapan bulan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia ia menghabiskan masa kanak-kanaknya di kota Malang, Mojokerto, Jombang, Solo hingga Wonogiri. Bercerita kepada anak dan cucunya adalah kegemarannya. Ia bercerita tentang bermacam-macam hal kepada kami. Sebagian besar adalah mengenai peristiwa-peristiwa lucu (kadang sedih) yang dialaminya saat kanak-kanak.

Anak cucu Ompa selalu merasa bahwa cerita-cerita Ompa ringan namun bermakna dalam. Apalagi karena sejarah masa kecil Ompa sangat tidak biasa. Semua  yang Ompa alami di masa kecilnya sangat jauh berbeda dengan masa kecil kami dan mungkin juga Anda Bukan hanya karena rentang waktu yang berbeda, tetapi memang nasib dan masa kecil Ompa tidak dialami setiap orang. Semoga nanti pembaca akan mengerti setelah membaca beberapa cerita si Ompa..

Awalnya Ompa tidak pernah berpikir untuk menuliskan kisah-kisah ini. Hanya setelah mendapat dorongan semangat dari Utie dan juga anak cucu. Ompa bersedia menuliskan penggalan-penggalan pengalaman hidupnya tersebut.

Satu hal yang mengagumkan bagi kami adalah kehebatan daya ingat dan memori Ompa akan masa kecilnya. Padahal saat Ompa menuliskan cerita-cerita ini Ompa sudah berusia 75 tahun. Sejak dulu memang kami berpendapat bahwa Ompa adalah seorang pengamat dan pemerhati yang baik. Tapi untuk bisa menyimpan dan menceritakan kembali sedetil yang Ompa lakukan ini, tidak semua orang mampu, Ompa mendapatkan karunia Tuhan yang luar biasa.

Di dalam blog ini dengan gaya penulisan seperti ia sedang bertutur cerita pada anak dan cucunya, Ompa menuliskan lebih dari 50 cerita pendek, seluruhnya adalah kisah nyata, yang diketiknya sendiri pada waktu senggangnya. Beberapa cerita dalam blog ini telah dibukukan dalam buku pertama karya Ompa yang berjudul LAYANG LAYANG MALAM, serta sedang di persiapkan juga buku keduanya, RENANG GAYA BATU.

Selamat membaca, semoga terinspirasi, semoga terberkati.

SR Kristiawan

 

_MG_4895

Featured post

Telah Terbit! RENANG GAYA BATU

TELAH TERBIT!

 Buku kedua karya Antonius Sutedjo

Kumpulan Cerita Si Ompa.

RENANG GAYA BATU

Dicetak dalam jumlah terbatas.
Untuk Order Hubungi:
VERONICA
SMS/WhatsApp : 087881955022 atau 08161412704
BBM: 5A5BF29D

RGB Front Cover JPG

“Non !”

“ NON ! “

Melakukan perjalanan wisata atau berlibur adalah salah satu kegiatan favoritku. Bagiku, yang paling menyenangkan dari semua perjalanan yang telah kulakukan adalah perjalanan wisata yang kulakukan berduaan saja bersama istriku, Utie. Dengan berlibur berduaan, kami bisa lebih menikmati suasana tanpa harus bergantung pada orang lain. Kami bisa mengubah rencana perjalanan atau bahkan memperpanjang waktu tinggal di suatu tempat yang kami sukai.

Teman-temanku sering menyebut perjalanan-perjalanan wisata kami berdua sebagai perjalanan “bulan madu”. Bulan madu kedua, ketiga dan seterusnya. Hanya saja mereka semua tidak pernah tahu yang manakah yang adalah bulan madu kami yang pertama. Banyak orang mengira kami seperti pasangan-pasangan pada umumnya, yang pergi berbulan madu satu hari setelah hari pernikahan. Tetapi tidak demikian dengan kami berdua.

Sehari setelah pesta pernikahanku dengan Utie, aku harus langsung masuk kerja. Waktu itu aku bekerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil). Mengapa kami tidak langsung pergi berbulan madu? Karena dua alasan. Pertama, karena kesibukan pekerjaan. Alasan kedua -ini yang paling utama- yaitu kami tidak punya uang.

Tetapi walaupun begitu, aku berjanji kepada istriku, bahwa suatu hari nanti aku akan mengajaknya pergi berbulan madu dengan cara yang lebih hebat.

Setelah satu-dua tahun kami menikah, belum juga aku mampu memenuhi janjiku untuk membawanya berbulan madu. Tetapi Utie, istriku itu sangat baik, ia tidak pernah menagih janjiku itu, tetapi aku tetap memegang teguh janji itu.

Setelah lebih dari 20 tahun menikah dan setelah aku menekuni bisnisku yang terakhir –di bidang pemasaran jaringan– maka barulah aku mampu mengajak istriku tercinta, Utie, mengadakan perjalanan-perjalanan bulan madu.

Salah satu contohnya adalah perjalanan wisata kami ke Eropa. Setelah selama sepekan kami  melakukan perjalanan bersama rombongan teman-teman bisnisku di Spanyol, aku dan Utie memisahkan diri dari rombongan untuk melanjutkan perjalanan kami berdua keliling Eropa.

Dengan kereta api kami meninggalkan Spanyol dari Barcelona, menuju tujuan pertama kami yaitu Lourdes, sebuah kota di Perancis Selatan. Setelah selama tiga hari kami berwisata di Lourdes, kota tempat berziarah, kami berencana menuju ke kota Roma di Italia, dengan menggunakan kereta TGV –kereta rel tercepat di dunia saat itu.

Sebelum menuju ke Roma, Utie mengajakku untuk singgah dulu beberapa hari di kota Monaco dan kota Montecarlo, kota yang konon adalah tempat terindah di Eropa. Di situ juga merupakan tempat tinggal orang-orang terkenal dan terkaya di dunia. Oleh sebab itu kami berencana akan tinggal beberapa hari lagi di kota Nice, di Perancis Tenggara. Nanti, dari Nice itulah kami akan menyewa mobil menuju Monaco dan Montecarlo.

Akhirnya, sore itu kami turun di stasiun kereta api di Kota Nice. Keluar dari stasiun, seperti biasa kami sedikit bingung untuk memilih transportasi, naik taksi resmi atau mobil sewaan. Akhirnya aku memilih untuk berjalan kaki. Aku memiliki peta yang menunjukkan bahwa hotel tempat kami akan menginap itu tidak jauh dari stasiun.

Menurut petunjuk dari peta yang kupelajari, dari depan stasiun Nice, kami harus berjalan ke arah kiri. Sekitar lima puluh meter di ujung jalan dekat sebuah sungai kecil, belok ke kanan. Tidak jauh dari pertigaan itu ada jembatan. Di seberang jembatan itulah letak hotel kami menurut si peta. Sangat dekat dan jelas.

Kemudian mulailah kami berjalan kaki, sambil menikmati pemandangan kota Nice di sore hari itu. Utie menyeret sebuah koper kecil, sedangkan aku di belakangnya menarik koper yang lebih besar. Kami menikmati berjalan kaki di jalan yang lengang tersebut, setelah penat seharian duduk di kereta.

Sebelum sampai di ujung jalan, tiba-tiba muncul seorang laki-laki muda yang tampan dan berpakaian rapi. Ia memakai kemeja putih lengan panjang dan bercelana panjang hitam. Dilihat dari penampilan dan parasnya, sepertinya pemuda itu bekerja di bidang pariwisata atau perhotelan.

Dengan sangat sopan dan tersenyum manis, pemuda tampan ini menyapa Utie menawarkan jasanya. Melihat pemuda itu, Utie langsung tertarik dan menanyakan di mana letak hotel kami. Dengan meyakinkan, Ia langsung menjawab “Oh, that is my hotel…” sambil mengajak Utie mengikutinya. Dan langsung saja pemuda itu dan Utie berjalan bersama sambil akrab mengobrol.

Utie, istriku ini memang mudah dan cepat akrab dengan siapa pun, di mana pun dan kapan pun. Sementara itu ku tetap mengikuti mereka dari belakang. Tiba-tiba aku menghentikan langkahku. Karena sesampai di ujung jalan, mereka malah berbelok ke kiri. Padahal menurut petunjuk di petaku, seharusnya kita berbelok ke kanan.

Aku mencoba untuk tetap berpikir positif. Ia sepertinya akan mengambil jalan memutar, begitu pikirku. Maka aku tetap mengikuti mereka dari jarak agak jauh. Kami kemudian melalui jalan yang di kiri kanannya adalah gedung-gedung perkantoran yang telah tutup. Sehingga sangatlah sepi.

Saat memasuki jalan itu, di depan kami muncul dua orang yang berbadan tegap dan tinggi besar. Pria yang satu berkulit putih, sedang yang lainnya berkulit gelap. Keduanya memakai jaket kulit, seperti polisi berpakaian preman sedang berpatroli di jalanan tersebut.

Tiba-tiba dua orang tersebut mendatangi dan mencegat jalan kami.

“Pasport!” kata orang yang berkulit gelap itu kepada kami.

Aku sangat terkejut, untuk apa ia meminta paspor kami. Utie melihat kepadaku, karena akulah yang menyimpan paspor kami di dompet sabukku.

Melihat itu, aku spontan menjawab “Non..!”—Tidak!

Mendengar jawabanku itu, kedua “raksasa” tersebut kaget dan terlihat marah. Sedangkan si ganteng, teman Utie tadi, mencoba mempengaruhi kami untuk menyerahkan paspor kami. Katanya hanya sekedar di periksa sebentar.

Dua orang yang besar dan menakutkan itu masih marah-marah kepadaku dalam bahasa Perancis. Menghadapi situasi yang sangat menegangkan semacam itu, aku mengambil tindakan untuk mengamankan istriku lebih dahulu.

Aku menyerahkan koperku kepada Utie, lalu berbisik, ”Ibu sekarang lari kesana, sampai ketemu orang. Lari saja terus dan jangan menengok ke belakang!”

Untunglah Utie menurut. Mukanya terlihat pucat, tapi ia langsung berlari sambil menarik kedua koper kami.

Setelah aku melihat Utie sudah cukup jauh jaraknya dari kami, maka aku pun berbalik untuk menghadapi mereka. Mereka mengira aku akan menyerahkan pasporku. Tetapi tidak. Aku menggulung lengan jaketku dan berdiri sambil memasang kuda-kuda, seperti seorang jago karate atau silat yang siap bertanding.

“Non..!” teriakku lagi sambil menatap mata kedua ‘raksasa’ yang marah itu.

Kami saling menatap mata. Situasi yang sangat menegangkan itu berlangsung selama lebih dari sepuluh detik. Ajaib, mata dua “raksasa” marah yang tadinya melotot itu, tiba-tiba mulai meredup seperti mata kucing yang berketap-ketip.

Kemudian pria yang berkulit gelap memberi kode kepada kedua temannya, lalu serentak mereka lari cepat masuk ke dalam gang di antara gedung-gedung itu.

Aku lalu segera berbalik untuk berjalan menyusul Utie. Aku berjalan cepat tanpa menengok ke belakang. Tak jauh dari sana rupanya Utie berahasil menemukan sebuah pintu yang terbuka yang ternyata itu adalah sebuah restoran.

Pemilik restoran itu menyambut kami. Ia mengira kami akan makan di restorannya. Namun Utie hanya minta tolong kepada orang itu untuk di panggilkan taksi.

Ia bertanya kami mau kemana, dan Utie menyebutkan nama hotel kami. Pemilik restoran itu tertawa karena ia heran. Ia lalu menunjuk ke hotel kami, yang sudah kelihatan dari situ. Namun karena ia melihat kami berdua masih gemetaran, maka ia segera membantu kami dengan menelpon memanggil taksi.

Sewaktu masuk ke dalam taxi dan memberi tahu tujuan kami, sopir taksi juga mentertawakan kami. Tujuan kami sangat dekat di depan, mungkin hanya lima menit jalan kaki.

Setelah masuk ke dalam lobby hotel itu, barulah kami merasa lega dan aman. Huh, sungguh pengalaman yang seru hari itu. Mengalahkan dua “Polisi” Perancis!

Mengapa aku berani melawan tiga orang ‘perampok’ itu? Pertama, karena aku harus mempertahankan pasporku. Bagiku, paspor adalah ‘nyawa’ bagiku setiap sedang di negara orang. Kedua, sewaktu kami masih di Spanyol, pemandu wisata kami sempat mengatakan bahwa di Eropa tidak pernah ada razia paspor di jalan. Dan perampok di Eropa tidak mudah melakukan kekerasan, karena pasti akan mendapat hukuman sangat berat. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K

Londo

 

LONDO

Bruderan adalah sebutan untuk tempat tinggal para Bruder (biarawan Katolik). Bruderan ini berada di atas tanah seluas satu hektar. Jika kita masuk dari bagian depan, terlihat bangunan yang kokoh, indah dan memanjang. Di bagian tengah bangunan tersebut, terdapat sebuah ruang tamu yang di kelilingi kamar-kamar para Bruder. Di sayap kirinya, juga ada bangunan yang sama yang menjorok ke dalam. Pada bagian ujung belakang itulah yang dipergunakan sebagai asrama para siswa. Tempat aku tinggal.

Para Bruder yang tinggal di Bruderan itu adalah para biarawan yang sehari-harinya mengajar di sekolahku, SMA Santo Yosef. Sebagian besar dari mereka adalah orang Belanda. Mereka mudah dikenali dari seragamnya, yaitu berupa jubah panjang berwarna putih, yang pada sisi kanan sabuk pinggangnya tergantung sebuah kalung Rosario (tasbih) yang besar, sampai di bawah lutut. Dan setiap mereka berjalan, akan mengeluarkan bunyi gemerincing yang khas.

Aku senang mengamati kehidupan para Bruder ini. Hidup mereka sangat teratur, nyaman dan tenteram. Sepengetahuanku, hidup keseharian mereka adalah mengajar dan berdoa. Sungguh “ora et labora”.

Di dalam Bruderan ini, terdapat sebuah “kapel” atau gedung gereja kecil yang berornamen sangat indah. Dari kapel tersebut selalu terdengar para Bruder berdoa bersama dan menyanyikan lagu-lagu Gregorian. Suara mereka terdengar sangat merdu, syahdu dan agung.

Lagu Gregorian adalah lagu-lagu gereja berbahasa Latin yang dinyanyikan hanya oleh para lelaki, untuk mengiringi Misa (Ibadah umat Katolik). Lagu Gregorian ini berasal dari jaman Romawi kuno, yang saat itu masih resmi dipakai dalam Misa Gereja Katolik di Indonesia. Aku juga sering menyanyikannya dalam sebuah paduan suara ketika Misa di Gereja Purbayan, yang letaknya tidak jauh dari Bruderan kami.

Sehari-hari aku hanya melihat para Bruder tersebut sewaktu mengajar di sekolahku dan di dalam lingkungan Bruderan. Terkadang muncul juga keinginanku untuk hidup seperti mereka.

Pada suatu hari Minggu siang, aku dan beberapa teman SMA-ku, mengadakan acara berenang bersama di Tirtomoyo. Tirtomoyo adalah kolam renang yang besar di daerah Jebres, di timur Kota Solo, yang sering pula dipergunakan untuk perlombaan renang. Karena tempat renang ini tidak terlalu jauh dari asramaku, seringkali aku dan teman-temanku datang untuk menyaksikan perlombaan tersebut dari tribun penonton. Air kolamnya yang sangat bersih, membuat banyak orang senang berenang di Tirtomoyo.

Siang itu, setelah kami selesai berenang dan berganti pakaian, kami tidak langsung pulang ke asrama. Kami beristirahat di atas tribun sambil melihat orang-orang yang sedang berenang. Dari atas tribun itu kami melihat ada empat orang lelaki berkulit putih berenang mondar-mandir. “Londo”, pada masa itu Londo adalah sebutan untuk orang yang berkulit putih, seperti orang Amerika, Belanda, Perancis atau dari bangsa yang lain.

Kemudian tiba-tiba saja teman-temanku mulai berteriak, “Eh, londoo…londoo..!” Semakin lama teman-teman semakin menjadi-jadi meneriaki orang-orang itu. Bahkan mereka mendekati kolam sambil terus berteriak “Londoo, hei, londoo..!” Dan itu mereka lakukan terus menerus. Aku mengamati respon para lelaki berkulit putih itu. Mereka tetap tenang dan tetap serius berenang mondar-mandir di sepanjang kolam.

Setelah hari semakin sore, mereka berhenti berenang, masuk ke ruang ganti pakaian. Selang beberapa lama, keluarlah empat lelaki berkulit putih tadi dari ruang ganti pakaian. Rambutnya yang pirang dan mengkilat, telah disisir rapi. Kulit wajahnya yang putih pun bercahaya, seakan memantulkan cahaya lampu sore itu. Mereka memakai kacamata dengan jubahnya yang panjang berwarna putih, dan tergantung … rosario panjang di pinggangnya masing-masing.

Sontak kami terkejut. Serentak tanpa di beri komando, kami meloncat lari menuju ke sepeda masing-masing. Kami memacu sepeda, ngebut menuju rumah masing-masing. Aku pun juga ikut ngebut sekencang-kencangnya, menuju pulang ke … asrama, ke Bruderan.

Malamnya di Bruderan, aku menghampiri para Bruder satu persatu. Aku menyapa mereka.

“Selamat malam, Bruder…”

Kemudian ia membalas, ”Selamat malam..” sambil meninggalkan aku seperti biasa, setelah di beri salam.

Dengan perasaan was-was, aku lalu mendekati dan menyapa Bruder yang kedua.

“Selamat malam, Bruder…”

“Selamat malam”, balasnya.

Kemudian bertemulah aku dengan Bruder keempat, bruder yang terakhir. Aku serasa sudah siap untuk mendapatkan “reaksi” darinya. Lalu masih dengan perasaan was-was, pelan dan sopan aku memberinya salam.

“Selamat malam Bruder…”

Bruder itu melihatku. Dengan posturnya yang tinggi dan tegap, ia menghentikan langkahnya, dan berdiri di depanku. Dengan tegas lalu ia menjawab, “SELAMAT MALAAAM…”

Sambil berjalan, aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Lega. Tenanglah hatiku. Ternyata mereka tidak tahu, bahwa siang tadi aku juga berada di kolam renang Tirtomoyo bersama teman-temanku, yang meneriaki mereka: “Londoo, hei, londoo..” (*)

 

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K

Uang Dari Bas Betot

UANG DARI BAS BETOT

 Sejak aku bersekolah di kota Solo, di SMA Santo Yosef, dan tinggal di asrama Bruderan, aku merasa kehilangan akan dua hal, yaitu kebebasan bertualang dan berbisnis. Sehari-hari aku berada di dalam lingkungan pagar tembok. Tembok sekolah dan tembok Bruderan. Padahal sebelumnya, saat bersekolah di SD dan SMP di Wonogiri, aku hidup bebas lepas dan bisa mencari uang sendiri.

Mulai dari kelas dua SD, aku sudah bisa membuat rokok, yang awalnya hanya untuk Pak Mojo, ayah angkatku saja. Tetapi karena konon rokok buatanku cukup enak, maka mulailah muncul banyak pesanan, sehingga aku bisa menghasilkan uang dari usahaku sendiri. Begitu juga setelah itu, aku pernah berbisnis benang tenun, madu lebah dan lain sebagainya. Saat sekolah di SMP pun ada beberapa bisnis yang kulakukan. Banyak angka merah dalam raporku akibat kesibukanku itu.

Tetapi Tuhan itu baik, Ia selalu memberiku jalan. Suatu siang sewaktu istirahat sekolah, dimana kami harus tetap berada di dalam lingkungan sekolah, seperti biasa aku berjalan mondar-mandir di halaman. Tiba-tiba aku mendengar suara musik yang datang dari dalam aula. Aku menengok ke dalam dan aku melihat beberapa anak sedang berlatih bemain musik. Salah satu dari mereka adalah pemimpin sebuah group musik di sekolahku. Ia merupakan pemain melodi gitar yang kukagumi.

Melihat aku mendekat dan duduk untuk menonton, ia tiba-tiba bertanya kepadaku, “Bisa main bas?” Mendengar pertanyaan itu, aku langsung menjawabnya spontan, ”Bisa!” Kemudian aku langsung berdiri, lalu memegang bas yang tinggi itu, ’bas betot’.

Aku tak mengerti mengapa tadi kubilang “bisa”. Padahal, itu pertama kalinya aku memegang sebuah alat musik bernama bas betot, ya baru kali ini. Sebelumnya aku hanya sering melihat orang memainkan bas betot pada orkes-orkes keroncong. Mereka berdiri tegak sambil memeluk alat musik yang tinggi itu. Tangan kirinya meluncur-luncur sambil menekan senar-senar bas, sementara tangan kanannya membetot-betot senar di bawahnya. Sungguh keren.

Dan sekarang bas betot sudah dalam pelukanku. Aku mulai melakukan gaya yang sama seperti apa yang pernah kulihat. Aku menekan-nekan senar, sambil mencari-cari nada yang benar. Awalnya, aku ngawur saja dengan pura-pura berimprovisasi. Untungnya aku memiliki pendengaran yang cukup baik mengenai ketepatan nada. Aku juga sedikit bisa bermain gitar. Pikirku yang penting “betotan” (tarikan) senarku, harus tepat sesuai irama. Rupanya dengan cara itu aku cukup berhasil. Buktinya, semakin banyak anak-anak lain yang berkerumun melihat kami latihan.

Aku melirik ke sang pemimpin band. Dia mengangguk-angguk sambil tersenyum ‘kecut’. Dia pasti tahu kalau aku memainkan nada dengan ngawur.

“Minggu depan kamu ikut siaran, ya..” katanya kepadaku.

Aku terkejut, terheran-heran tapi merasa senang. Wow, aku boleh ikut siaran!

Memang sudah beberapa kali group musik SMA ku ini mendapat kesempatan mengisi lagu di Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, setiap satu bulan sekali dan disiarkan pukul lima sore. Tapi kali ini, sungguh istimewa bagiku. Karena aku boleh ikut main musik di dalam siaran di radio itu. Sebagai pemain bas betot.

Aku menjadi bergairah, karena permainan bas-ku yang akan ikut mengiringi band ini, juga akan di pancarkan dan di dengarkan ke seluruh Nusantara. Termasuk Jakarta, Malang, Mojokerto dan Wonogiri! Aku harus mencari cara untuk memberi tahu teman-temanku yang ada di kota-kota tersebut. Dan yang terlebih penting, memberi tahu mereka, bahwa pemain basnya adalah aku.

***

Sore itu, kami sudah berkumpul dan siap di dalam ruang siaran di Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta. Setelah berlatih sebentar, sang penyiar memberi kami tanda untuk bersiap-siap. Lalu, dengan suara lembutnya ia menyapa para pendengar:

“Inilah Radio Republik Indonesia Surakarta..”

Petugas alat pengatur suara kemudian mengacungkan jari telunjuknya kepada kami. Lalu, sebuah lagu singkat sebagai “intro” kami mainkan.

Kemudian sang penyiar melanjutkan: “Demikianlah tadi salam pembukaan dari Band SMA Santo Yosef Surakarta … Sebagai lagu pertama, Tony akan menyanyikan lagu berjudul, Dewi.” Maka mulailah band kami ini memainkan lagu-lagu tahun lima puluhan.

“Dewi” adalah sebuah lagu terpopuler pada saat itu, sehingga selalu ada dalam setiap acara siaran. Kami juga menampilkan dua penyanyi perempuan dari SMA lain, yang menyanyikan lagu-lagu Indonesia dan Barat yang populer saat itu.

Sepulang dari studio RRI, aku langsung menghubungi teman-temanku yang sebelumnya berjanji akan mendengarkan siaran kami. Aku menanyakan, bagaimana hasil siaran kami. Mereka semua berkata, “Baguus..” Lalu, sambil agak malu-malu, aku bertanya lagi, ”Bagaimana suara bas-ku?” Mereka menjawab, ”Baguus..” sambil mengangguk-angguk.

Aku bangga dan bahagia hari itu. Dari siaran radio itu aku juga mendapat uang honor. Uang hasil bermain musik itulah merupakan penghasilan pertamaku semenjak aku berada di kota Solo ini. Uang tersebut kuhabiskan untuk mentraktir teman-temanku di warung es langganan di dekat asrama Bruderan. Sambil menikmati es duren dan es dawet, teman-temanku mendengarkan ceritaku, bagaimana aku memainkan bas betotku di siaran Radio Republik Indonesia kemarin. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor : Veronica K

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑