Cari

Antonius Sutedjo

Penulis

srkristiawan

Takut Diterkam Kucing

TAKUT DITERKAM KUCING

 

Setelah lulus dari SMP Negeri di Wonogiri, aku melanjutkan sekolah ke SMA Santo Yosef di Keprabon, Solo –yang sekarang bernama Jalan Jend. Slamet Riyadi. Sekolah ini khusus untuk anak laki-laki saja. Beberapa dari gurunya adalah “Bruder”, yaitu biarawan Katolik yang bertugas di bidang pendidikan.

Para Bruder ini, hidup dan tinggal di sebuah bangunan yang kokoh dan indah yang memanjang di tepi Jalan Mgr Sugiyopranoto, dekat Gereja Purbayan. Bangunan yang biasanya disebut dengan Bruderan ini, letaknya tidak begitu jauh dari sekolah kami. Bangunan bagian belakang dari gedung tersebut, digunakan sebagai sebuah asrama. Beberapa siswa sekolah kami tinggal di asrama ini, termasuk aku.

Aku sangat menikmati kenyamanan dan ketenangan kota Solo. Setiap pagi, aku beserta teman-teman asramaku dan para Bruder, berangkat ke sekolah dengan naik sepeda beramai-ramai. Jarak antara asramaku dengan sekolah, setara dengan “tiga judul lagu” keroncong. Maksudku begini. Sepanjang perjalanan dari asrama, aku bisa mendengarkan dan menikmati lagu-lagu keroncong terus menerus, tanpa terputus.

Bagaimana tidak. Setiap pagi, rumah-rumah di kiri-kanan jalan yang kami lewati itu, selalu menyetel radio dari satu pemancar yang sama, yaitu Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta. Siaran keroncong. Mereka mendengarkan siaran radio itu dengan suara yang keras, sampai terdengar ke jalan.

Aku sangat menikmati siaran lagu-lagu keroncong itu. Suaranya pun seperti “stereo”, karena terdengar dari kiri dan kanan jalan. Biasanya, pada lagu ketigalah aku baru sampai di sekolahku. Begitu pula pada siang hari. Saat perjalanan pulang dari sekolah, kami selalu dihibur dengan suara “gamelan Jawa”. Suara itu terdengar sampai aku masuk ke dalam asramaku, Bruderan.

Penghuni asrama kami tidak banyak, hanya sekitar dua puluh orang. Mereka adalah siswa dari SMA St Yosef, yang berasal dari luar kota Solo. Bahkan ada yang dari luar Pulau Jawa. Pada awalnya, aku tidak nyaman tinggal di asrama ini. Aku harus tinggal di dalam pagar tembok yang tinggi, sehingga ruang gerakku sangat terbatas. Apalagi, disini berlaku peraturan dan jadwal waktu yang sangat ketat.

Setiap pagi, harus bangun pukul lima pagi. Dan malamnya, setiap pukul sembilan malam sudah harus tidur kembali. Semua lampu sudah harus di matikan. Nah, repot juga bagi anak yang senang bertualang seperti aku ini, anak yang biasa hidup bebas merdeka dan bebas melakukan apa saja semauku.

Begitu pula dengan masalah kebersihan. Di Bruderan ini, semua tempat tertata rapi dan bersih. Aku tidak terbiasa dengan kebersihan dan kerapihan semacam ini. Tetapi lama kelamaan, aku terbiasa juga dengan kehidupan yang teratur. Terbukti sekarang, tanpa kusadari aku mulai sering cuci tangan, pakai sabun.

Suatu siang, saat aku sedang membaca buku sambil berdiri dan bersandar di tembok depan kamar, aku melihat seorang Bruder Belanda sedang berjalan tergopoh-gopoh, seakan sedang mengejar sesuatu. Aku kemudian menengok ke arah kanan, sepertinya tidak ada siapa-siapa. Lalu saat aku hendak melanjutkan membaca, tiba-tiba Bruder itu mendadak berhenti di depanku. Ia melotot, sambil tersenyum. Mendadak aku mejadi canggung. Belum sempat aku bertanya, Bruder itu berkata, “Itu satu kilogram cat tembok, sudah menempel di badanmu..!” Hanya satu kalimat itu yang ia ucapkan, lalu ia berjalan kembali menuju ke kantornya. Rupanya ia menegurku karena aku bersandar di tembok.

Di hari yang lain, di suatu pagi, sekitar pukul lima dini hari. Seperti biasa, kami harus bangun untuk berdoa sebentar, lalu mandi. Sambil mandi, aku bersiul-siul kecil untuk menambah semangat menyambut hari yang baru. Seusai mandi, saat aku keluar dengan masih berselimut handuk, tiba-tiba aku di panggil oleh seorang Bruder. Rupanya Bruder ini sedang bertugas mengawasi kami pagi itu. Aku kemudian di ajak ke pojok ruangan dan ia mulai berbicara dalam bahasa Belanda.

Vogels die zo vroeg zingen krijgt de poes! Kamu mengerti artinya?”

“Tidak Bruder” jawabku sambil menggigil kedinginan.

Bruder melanjutkan: “Burung yang berkicau terlalu pagi, akan di terkam kucing..!” katanya sambil menyuruhku pergi.

Rupanya, ia menegurku karena mendengar saat aku bersiul-siul kecil tadi, saat mandi.

Di asrama itulah aku mulai mengalami kehidupan yang baru, yang sangat berbeda dari cara hidupku sebelumnya. Aku sangat terkesan dengan cara yang dipakai para Bruder Belanda itu untuk menegur kami. Bukannya melarang dengan marah, tapi dengan teguran melalui sebuah perumpamaan.

Sejak itu, aku tidak pernah lagi bersiul atau pun bernyanyi sewaktu mandi pagi. Takut di terkam “kucing”. (*)

 

 Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K

Panggung Sekolah

PANGGUNG SEKOLAH

Rupanya telah satu tahun aku bersekolah di sini, di SMP Negeri Wonogiri. Walaupun ada beberapa angka merah dalam raporku, aku berhasil naik ke kelas dua.

Aku sangat senang dan bangga bersekolah di sini. Satu-satunya SMP di Wonogiri pada masa itu. Gedungnya megah dan terletak di tepi jalan raya di bagian selatan kota. Halamannya sangat luas. Pada ujungny, terdapat sebuah aula besar. Di dalam aula besar itu, ada sebuah panggung.

Ya, panggung!    Entah mengapa, setiap kali aku melihat sebuah panggung, aku menjadi begitu bergairah dan bersemangat. Bukan karena aku ingin berada di atas panggung itu, tetapi aku selalu berpikir bagaimana caranya supaya panggung itu bisa menghasilkan pertunjukan-pertunjukan yang bermutu.

Panggung tersebut sudah dipersiapkan untuk acara perpisahan sekolah, yang akan diadakan beberapa hari lagi oleh teman-teman kelas dua. Aku bersemangat, karena tahun depan giliran kelasku yang menyelenggarakan acara perpisahan ini. Aku sudah mempersiapkan tim yang terdiri dari sepuluh anak di kelasku. Mereka kuajak untuk mengamati dan belajar dari acara perpisahan kali ini.

Tujuanku adalah agar tahun depan –saat aku dan teman-temanku giliran menjadi panitia– kami bisa mengadakan acara yang jauh lebih bagus.

Tibalah hari acara perpisahan itu. Aula sudah dipenuhi oleh para guru, orangtua murid dan yang pasti teman-teman kelas tiga, yang akan segera lulus dan meninggalkan sekolah kami. Aku beserta sepuluh anak anggota timku sudah siap untuk mengamati seluruh acara. Masing-masing, siap dengan catatan. Seperti biasa, acara pertama adalah sambutan oleh kepala sekolah, lalu diikuti oleh sambutan dari wakil orangtua murid. Setelah itu barulah “acara panggung” dimulai.

Acara dibuka dengan vocal group. Mereka cukup kompak dan bagus. Aku beserta timku, mengangguk-angguk, sambil saling mengacungkan jempol. Acara berikutnya band oleh teman-teman kelas dua. Satu persatu mereka naik ke atas panggung. Sambil mempersiapkan alat-alat di panggung, mereka melakukan tes microphone dan stem alat-alat musik mereka. Sepuluh menit sudah lewat. Namun yang terdengar dari panggung hanyalah bunyi “tang, ting ,teng..” dan suara “tes..tes..testing..” Memasuki menit ke lima belas, band ini belum juga mulai memainkan lagu. Banyak penonton yang sudah terlihat gelisah. Mereka gaduh dan saling ngobrol. Beberapa penonton bahkan mulai berjalan hilir mudik.

Rupanya, pemegang gitar belum juga selesai menyelaraskan nada senar-senarnya. Kebetulan aku memiliki pendengaran yang cukup tajam mengenai nada. Aku mendengar ada nada yang diturunkan. Namun, aku gemas, karena kemudian ia naikkan lagi nadanya. Menurut telingaku, nada tadi sudah pas, tapi rupanya ia terus naikkan dan naikkan. Sampai tiba-tiba, “Thieeengngg…” Senar nomer empat putus!

MC (pembawa acara) berjalan mendekati microphone, dan dengan suara lembut bagaikan penyiar radio, “Perhatian, berhubung kesulitan teknis, maka….” Menurut temanku yang kelas tiga , hal seperti ini sudah biasa terjadi.

Pertunjukan lainnya adalah ‘Standen’, semacam akrobat. Anak-anak yang badannya besar dan kuat membentuk lingkaran dan saling memegang pundak temannya. Kemudian di atas pundak mereka, berdirilah anak-anak yang lebih kecil. Demikian seterusnya, sehingga yang paling atas, hanya ada satu orang anak yang berdiri.

Sebenarnya aku tidak terlalu suka akan pertunjukan yang berbahaya itu. Pertunjukan ini membuat perutku “mulas”. Bagaimana kalau yang paling atas nanti jatuh dan patah kakinya? Dan benar juga. Begitu anak yang paling atas akan berdiri, tumpukan manusia itu mulai bergoyang, seperti kehilangan keseimbangan. Namun untungnya, ia langsung merosot ke bawah dan selamat sampai di bawah. Aku berpikir, akan kuhapuskan nanti ‘Standen’ ini dari acaraku.

Acara berikutnya, Tablo. Ada seorang anak yang membacakan sebuah cerita. Kemudian tokoh-tokoh yang disebutkan dalam cerita tersebut, muncul dan berjalan di atas panggung, tanpa mengadakan dialog. Dan puncaknya, acara perpisahan tersebut di tutup oleh vocal group.

Beberapa hari setelah pesta perpisahan itu, aku mengadakan rapat bersama teman-teman sekelasku, terutama tim calon penyelenggara pesta perpisahan berikutnya. Intinya adalah bahwa acara kita tahun depan, harus lebih bagus dari yang kemarin. Semua yang hadir menyatakan setuju dan mereka kelihatan bersemangat.

Dalam rapat itu, ada beberapa hal yang kami bahas. Yang pertama, acara di panggung harus ‘non-stop review’. Antara acara yang satu dengan yang lainnya, jangan sampai ada jeda waktu. Harus berlangsung terus dari awal sampai akhir. Sehingga para penonton akan tertegun, tidak ada kesempatan untuk mengobrol, apalagi untuk berdiri dari kursi mereka. Caranya adalah dengan mencegah kemungkinan adanya gangguan. Misalnya, mempersiapkan alat-alat musik dengan cepat. Begitu pula dengan proses menyelaraskan nada alias ‘stem’ alat-alat musik. Itu harus dilakukan sebelum acara. Para pemain yang akan tampil pada acara berikutnya, juga harus sudah standby di belakang panggung, yaitu saat acara sebelumnya sedang berlangsung. Jadi, tidak ada lagi acara memanggil anak-anak yang sudah harus naik, dengan pengeras suara.

Hal yang kedua, aku mengatakan kepada mereka, “Akrobat ‘standen’ akan di hapuskan dari acara..!.” Mendengar itu hebohlah seluruh peserta rapat. Tetapi aku tetap ngotot, karena pertunjukan itu telah membuat perutku mulas. Beberapa dari teman-temanku protes. Menurut mereka, justru adegan akrobat itulah yang membuat ‘standen’ menjadi seru. Setelah berdebat dengan panas, akhirnya disepakati, ‘standen’ tetap diadakan. Lalu aku berikan syarat: harus sering berlatih dari sekarang, supaya lancar seperti di sirkus dan tidak membuat perut para penonton “mulas”.

Hal ketiga yang kami bahas adalah ‘tablo’. Tablo akan diganti dengan sandiwara. Sebuah drama yang mengharukan dan disajikan secara lengkap. Teman-teman mengangguk-angguk, tanda setuju.

Hal terakhir yang paling penting , aku akan mengusulkan agar “tata suara” nanti dibuat dengan canggih. Tidak akan ada microphone yang berdiri di atas panggung. Semua microphone akan tergantung di atas panggung —seperti pada pertunjukan wayang orang di Sriwedari, Solo. Mendengar ideku, teman-teman mulai memandangku dengan apatis. Lalu kuteruskan, bahwa lighting atau tata lampu panggung, akan di buat sangat terang dan warna-warni. Teman-teman menjadi semakin apatis mendengar usulku yang mereka anggap ngawur itu. “Mahaaall…!” teriak mereka serentak. Namun untungnya, ada lima orang tim inti yang percaya kepadaku, bahwa aku bisa.

***

Sampailah kami di tahun acara perpisahan tersebut. Dua bulan menjelang acara, kami, tim inti mengadakan rapat dengan para guru. Presentasi mengenai persiapan acara perpisahan ini, kulakukan di depan para guru, kepala tata usaha dan kepala sekolah. Setelah dengan berapi-api aku menjabarkan semua rencana acara yang berbiaya mahal tersebut, pada akhir presentasi, kututup dengan, “Bapak-bapak, acara perpisahan kali ini akan menjadi acara yang terbaik dalam sejarah SMP yang kita banggakan ini. Acara yang akan di kenang oleh kakak-kakak yang akan meninggalkan sekolah ini dan juga oleh siapa pun yang menyaksikan”. Seminggu kemudian, proposal pun di setujui.

Sampailah di hari H. Pesta perpisahan itu. Semua persiapan panggung telah kami lakukan dengan sebaik-baiknya. Tata suara (sound system), kami datangkan dari Solo. Untuk lighting, aku yang mengerjakannya sendiri. Karena di samping aku sudah cukup paham mengenai listrik, aku sudah lima kali mengenal rasanya “kesetrum”.

Lampu-lampu itu kami letakan di bawah dan atas panggung. Masing-masing lampu kututup dengan kertas minyak berwarna-warni, sehingga menghasilkan banyak warna: hijau, putih, kuning, biru, dan merah. Panel saklar yang besar yang digunakan untuk mengganti-ganti warna lampu, berada di samping panggung. Ada petugas khusus yang “memainkan” lampu panggung tersebut. Tata lampu itulah yang nantinya akan membuat panggung menjadi lebih hidup dan mempesona.

Sore harinya, acara perpisahan pun di mulai. Setelah kata-kata sambutan, mulailah acara panggung. Anggota vocal group muncul dengan cepat. Setelah mereka siap, lampu yang sangat terang dan berwarna-warni langsung menyinari panggung. Para penonton terkejut dan terpesona. Para penyanyi, berhasil menghibur para penonton dan menyanyikan lagu-lagunya dengan merdu dan kompak, yang terbagi dalam empat suara.

Setelah vocal group selesai, semua lampu dimatikan. Dan dengan cepat muncul personil-personil band mengiringi para penyanyi. Acara berikutnya, ‘Standen’. Para penonton terkagum-kagum. Kami juga terpesona melihat kecanggihan teman-teman melakukan akrobat. Mereka telah melakukannya dengan baik dan pasti, bagaikan dalam sirkus. Seorang anak yang berdiri paling atas, bahkan bisa membuat dirinya seakan menari. Begitu pula dengan anak-anak yang berdiri menyangga di bawahnya. Mereka sama sekali tidak ragu dan bergoyang. Hal ini yang membuat perut kami terbebas dari rasa “mulas”.

Acara demi acara, berlangsung dengan cepat dan lancar. Dan sampailah kami di puncak acara: sebuah drama yang mengharukan. Sebuah keluarga petani miskin yang di tinggalkan oleh anak lelakinya setelah tamat dari SMP. Ia lalu mengembara, tak tahu dimana. Selama bertahun-tahun, orangtuanya merindukannya. Hingga suatu hari, anak itu tiba-tiba muncul di desanya, di depan orangtuanya. Anak yang dulu kecil, sudah tumbuh dewasa, tampak gagah, sukses dan telah menjadi seorang Insinyur. Ia kemudian berikrar. Ikrar itu diucapkannya dengan suara lantang, di depan para penonton. Penonton bergemuruh dan menyambut ikrar itu dengan luar biasa. Sebuah ikrar untuk membangun desanya agar menjadi makmur.

Aku merasa sangat bangga. Panggungku, telah berhasil memeriahkan dan berperan dalam acara perpisahan ini dengan sukses. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K

Carla

cso Oma carla

CARLA

Beberapa hari lalu ada seseorang yang berulang tahun. Ia adalah orang yang sangat penting bagi kami berdua, bagi Utie (isteriku) juga bagi diriku. Namanya Carla, Carla adalah kakak kandung dari Utie, ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Bagi kami berdua, Carla merupakan pengganti para orangtua kami. Tempat kami bertanya dan tentunya sosok yang sangat kami hormati.

Menurutku Carla memiliki kepribadian yang unik dan langka, pendiam, tenang, seorang pemerhati dan pendengar yang baik. Agak berlawanan dengan diriku. Aku temasuk orang yang suka mengoceh, berceloteh, sering berusaha melucu, meskipun kadang kurang lucu. Tetapi Carla akan terus mendengarkan apapun yang kuceritakan.

Dia mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa terlihat bosan dan tak pernah sekalipun memotong pembicaraanku, hal itu yang paling kukagumi dari Carla. Seringkali aku tiba-tiba berhenti sendiri setelah ‘capek’ berbicara. Tapi satu hal yang kutahu adalah bahwa dia menangkap dan mengerti semuanya, apapun yang aku ocehkan padanya.

Walaupun istriku Utie juga pandai berbahasa Inggris dan Belanda, namun kadang kami berdua menghadapi masalah mengenai sebuah istilah atau pengertian dalam bahasa. Dalam situasi seperti itu, seringkali hampir berbarengan kami mengatakan “Telpon Carla..!” Dan seperti biasa, dengan gayanya yang santai Carla selalu memberi jawaban yang benar. Itulah hebatnya Carla, seorang mantan mahasiswi Fakultas Sastra, alumnus Universitas Indonesia, Sastra Inggris pula.

Kegiatanku menulis dalam 2 bulan terakhir ini memang karena dorongan dari anak-cucuku, tetapi sebenarnya ini juga berkat dorongan dan bimbingan yang tulus dari Carla. Sewaktu anak-anakku mengabari tantenya bahwa aku akan menulis, Carla langsung berkata “Iya, dia itu punya bahan cerita “segudang”. Nanti bisa jadi ‘cerber’ “, maksudnya cerita bersambung. Ternyata Carla benar, bukan hanya ‘cerber’ tetapi bahkan akan menjadi ‘bukber’—buku bersambung.

Beberapa waktu yang lalu, dalam persiapan terbitnya bukuku yang kedua, anak-anakku meminta bantuan kepada tantenya ini untuk mengedit seperlunya. Tetapi, apa dilakukannya? Carla bukan hanya mengedit, tapi dia bertindak sebagai ‘proof reader’. Carla memeriksa dan memperbaikinya bukan hanya per-judul, tetapi per -halaman, per-baris, per-kata! Luar biasa. Bahkan Carla meneliti dan membaca draft buku keduaku itu sampai dua kali, tebalnya lebih dari 200 halaman. Aku tahu Carla melakukan semua itu bukan hanya karena itu keahliannya, tetapi dengan totalitas dan dengan tulus hati.

Semoga bukuku yang kedua nanti, yang berjudul: RENANG GAYA BATU akan menjadi buku yang bisa diterima, sehingga bisa bermanfaat bagi anak cucuku dan semua yang membacanya.

Terima kasih Carla, dan sekali lagi selamat ulang tahun. Semoga panjang umur dan Tuhan Memberkati. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K

Lambang Sekolah

LAMBANG SEKOLAH

Hampir mendekati ulang tahun ke lima berdirinya sekolahku, SMP Negeri Wonogiri, namun sekolahku ini belum juga memiliki sebuah “lambang sekolah”. Sampai suatu hari diadakanlah sayembara membuat lambang sekolah. Sayembara itu boleh diikuti oleh seluruh murid SMP kami. Aku bersemangat. Aku pun ikut mendaftar untuk ikut sayembara tersebut. Waktu yang di berikan tidak lama, hanya satu minggu. Ini berarti minggu depan gambar sudah harus diserahkan kepada panitia, beberapa guru kami.

Usai sekolah, aku segera pulang ke rumah. Aku mulai memeras otakku, memikirkan gambar apa yang akan kubuat. Aku masih belum memiliki ide untuk sayembara yang mendadak itu. Aku mulai mempersiapkan diri dan pergi membeli perlengkapan gambar berupa: pensil, kertas manila putih, setip (karet penghapus), penggaris yang baru dan tinta cina. Setelah siap perlengkapan menggambarku, sang ide belum juga muncul.

Setelah hari ke dua berlalu, aku mulai panik. Mengapa belum juga muncul bayangan apa yang akan aku gambarkan. Menurutku ini harus bukan sekedar gambar biasa. Aku akan membuat sebuah lambang untuk sekolah, tempat pendidikan menengah. Jadi menurutku ini tidak bisa hanya dibuat dengan sembarangan.

Hari ke tiga. Aku mulai mendapat sedikit bayangan dan mendapat ide untuk membuat gambar yang merupakan kumpulan dari lambang-lambang yang pernah kulihat. Maka mulailah aku menggambar.

Awalnya aku menggambar sebuah buku yang terbuka. Buku itu cukup tebal, tetapi halamannya masih putih bersih, kosong. Di atas buku itu berdiri miring sebuah pena kuno, yang terbuat dari bulu angsa yang ujungnya di potong seperti pena. Pena itu seakan siap untuk dituliskan ke atas halaman buku yang kosong itu. Menurutku gambar ini melambangkan pikiran yang masih kosong, yang siap diisi dengan ilmu pengetahuan.

Kemudian kugambar sebuah lingkaran. Lingkaran itu terbuat dari baja yang mengelilingi buku kosong tersebut . Sisi luar dari roda itu bergerigi. Biasanya dinamakan ‘roda gigi’, mirip seperti yang terdapat pada mesin di pabrik atau pada mesin mobil. Pada bagian bawah yaitu sisi kiri dan kanan roda baja tersebut kuberi gambar dua buah roda gigi yang lebih kecil. Roda gigi yang kecil ini geriginya menempel pada roda besar. Sehingga jika roda yang besar berputar, akan memutar juga dua roda yang kecil tersebut. Tiga roda gigi ini melambangkan suatu pergerakan. Yang besar bergerak sambil membantu yang kecil juga ikut bergerak.

Tetapi, menurutku bergerak saja tidaklah cukup. Harus bergerak lebih cepat menuju ke tujuan. Lalu aku menggambar sepasang sayap di kiri-kanan lambang itu. Sewaktu menggambar sayap itulah aku terjebak untuk menentukan bentuk dan besar kecilnya sayap. Aku menghabiskan banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk itu. Waktu penyerahan gambar tinggal dua hari lagi, sedangkan gambarku masih berupa gambar pensil dengan banyak setipan di sana-sini. Aku masih berkutat dengan merubah beberapa kali sayap itu.

Mendengar teman-temanku mengabarkan bahwa para peserta lain memiliki gambar yang bagus-bagus dan berwarna, aku sempat merasa ciut juga. Tetapi aku tetap kembali fokus ke gambarku sendiri, terutama mengatasi kepusinganku tentang masalah bentuk dan besarnya si sayap.

Sampai sehari menjelang hari penyerahan gambar, aku belum juga menyelesaikan gambarku. Sore harinya, aku menghadapi dilema. Apakah gambar yang akan aku serahkan ini, kutebalkan dengan tinta cina, atau hanya berupa goresan pensil hitam saja seperti setengah jadi? Akhirnya aku memutuskan, aku akan tetap menggunakan pensil yang aku tebalkan. Mungkin saja nantinya boleh di perbaiki, begitu pikirku.

Ok. Siap sudah. Gambarku itu lalu kugulung dan bungkus dengan kertas warna coklat dan telah siap untuk kuserahkan kepada panitia sayembara. Aku pasrah saja dengan hasilnya nanti.

Beberapa hari kemudian, datanglah hari keputusan juri untuk menentukan siapa pemenang sayembara lambang sekolah kami. Sebelum pengumuman, teman-teman sekelasku seperti meledek aku dengan memberi ucapan selamat. Aku berpikir mereka meledek-ku karena mereka tahu bahwa gambarku masih belum selesai, masih dalam bentuk gambar pensil. Tapi mengapa aku kok merasa ucapan selamat dari mereka itu sepertinya tidak di buat-buat. Benarkah gambar yang masih dalam bentuk gambar pensil itu dapat memenangkan sayembara ini?

Beberapa menit setelah itu, tibalah dewan juri mengumumkan siapakah pemenang sayembara. Aku terkejut setengah mati. Ternyata benar, gambarku-lah yang memenangkan sayembara. Teman-teman pendukungku memelukku satu persatu bergantian. Kecuali yang perempuan, tentu saja. Aku gembira luarbiasa. Hasil karya dan kerja kerasku selama satu minggu itu telah menjadikan gambarku sebagai lambang sekolahku, yang aku banggakan ini.

Beberapa hari kemudian, aku memutuskan untuk pergi menghadap ke bapak guru ketua panitia sayembara. Aku akan meminjam gambarku itu untuk aku sempurnakan dengan tinta dan warna. Tetapi aku terkejut, ternyata gambarku itu telah di pajang di atas dinding di depan ruang guru dan ruang rapat itu.

“Yo wis ben wae to, malah ketok asli yen ngono..” (Ya biar sajalah, malahan terlihat asli kalau begitu) kata seorang guru kepadaku.

Hampir setiap hari aku masuk ke ruangan itu hanya untuk memandangi gambarku yang berada di atas dinding itu. Ada dua macam perasaan yang aku rasakan. Bangga tapi sekaligus juga menyesal. Gambarku belum selesai dengan sempura. Namun untungnya setiap aku berlama-lama berdiri memandangi gambarku di ruangan guru itu, mereka tak pernah menegurku.

Suatu siang, ketika istirahat ke dua, saat aku duduk sendirian di teras, tiba-tiba aku mendengar bisikan kecil dari belakang kepalaku.

“Hei, gambarmu akan di turunkan..!”

Tidak kugubris bisikan tersebut.

“Iya, gambar pensilmu terlalu tipis, kurang jelas..” kata bisikan itu lagi.

Aku pun mulai berpikir. Betul juga, gambarku itu memang kurang jelas, karena aku menggunakan pensil ukuran HB. Seharusnya pensil jenis B atau 2B yang lebih tebal. Aku mulai merasa khawatir mengenai hal itu. Lalu bisikan itu meneruskan.

“Sekarang gambarmu sudah di turunkan dan sudah diganti dengan gambar juara kedua yang penuh warna..”

Mendengar suara itu, yang tadinya aku hanya merasa khawatir, perasaan ku tiba-tiba berubah. Aku menjadi marah besar. Darahku serasa mendidih karena gambarku telah di ganti dengan gambar lain.

Aku langsung berlari menuju ke ruang guru. Kubuka pintu, masuk ke dalam dan langsung melihat ke dinding depan. Apa yang aku lihat? Gambarku masih tetap terpajang di sana! Masih sama seperti yang biasa aku lihat. Aku menyesal, aku sudah terkecoh oleh bisikan tadi.

Namun aku lebih terkejut lagi karena baru menyadari kalau di dalam ruangan itu sedang ada rapat. Para guru, kepala tata usaha sekolah, para tamu dari penilik sekolah dan dari pemerintahan, semua memandang kepadaku. Mereka melihatku dengan muka terheran-heran. Aku menjadi lemas dan dengan kepala tertunduk, aku keluar dari ruangan tersebut.

Aku duduk termenung di depan kantor sambil menunggu panggilan untuk diadili atas kesalahanku yang sangat memalukan tadi. Aku menyesal mengapa aku sering terperangkap oleh “bisikan kecil” yang suka muncul di belakang kepalaku.

Aku terus menunggu panggilan untuk diadili. Waktu bel istirahat selesai, belum juga ada panggilan. Waktu usai sekolah pun belum ada panggilan untukku. Bahkan sampai saat kenaikan kelas pun belum juga ada panggilan untuk mengadili aku. Gambarku masih tetap terpasang di dinding bagian depan ruangan rapat yang luas itu.

Begitu juga pada saat aku lulus ujian dan meninggalkan sekolah SMPN kebanggaanku itu. Gambarku yang belum selesai itu masih terpajang disana. Gambar lambang sekolah SMP Negeri Wonogiri. Oh bangganya hatiku. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K

Film Segera Dimulai!

FILM SEGERA DIMULAI!

 Benar juga. Perjalanan mengungsiku sekeluarga yang disebabkan karena perang dulu, berakhir di kota ini, Wonogiri. Kami tidak perlu lagi mengungsi ke kota lain. Di kota Wonogiri inilah aku menghabiskan masa anak-anakku di bangku SD hingga tamat. Sekarang aku memasuki SMP, SMP Negeri di Wonogiri. Aku sangat menikmati kota kecil ini. Namun ada satu yang aku rindukan dan belum terpenuhi di kota ini. Kegemaranku menonton bioskop, terutama film perang.

Sayangnya waktu itu di kota Wonogiri belum ada gedung bioskop. Jadi kalau ingin menonton bioskop harus pergi ke kota Solo yang berjarak sekitar tiga puluh dua kilo meter ke arah utara. Di pusat kota Wonogiri yang ada hanya ruang serbaguna. Ruangan tersebut sehari-harinya di pakai untuk tempat berolah-raga. Misalnya tenis meja, angkat besi atau bina raga. Terkadang ruang serbaguna yang mampu memuat sekitar dua ratus kursi itu, juga di pakai sebagai tempat pertemuan. Tetapi beruntungnya aku. Karena kadang-kadang ada juga pertunjukan film dadakan yang di selenggarakan di ruang serbaguna itu.

Suatu hari terjadilah ‘demam’ bioskop di Wonogiri. Ruang serbaguna tersebut ‘disulap’ menjadi tempat pertunjukan film. Tentu saja dengan kondisi ala kadarnya. Jendela-jendela dan lubang angin di atasnya hanya ditutupi dengan tirai kain (gorden) berwarna biru. Sayangnya kainnya terlalu tipis, sehingga sinar dari luar masih menerawang ke dalam ruangan. Tetapi tidaklah menjadi masalah, karena di dalam ruangan cukup redup. Kursi-kursinya di susun dengan rapat dan berderet dari depan sampai belakang tanpa ada antara. Tidak ada kelas-kelas. Sehingga para penonton bebas duduk dimana saja.

Kalau di gedung bioskop pada umumnya, perlengkapan proyektor beserta petugasnya berada di ruangan lain di belakang penonton. Dari ruangan itulah terdapat lubang-lubang tempat menyorotkan lampu proyektor ke layar di depan. Tapi ini tidak. Karena ala kadarnya, maka proyektor berada di dalam ruang penonton. Letaknya di bagian belakang di atas bangku. Sehingga kalau mendapat tempat duduk di belakang, pastinya akan terganggu dengan suara – “rerrrrrrrrrrrrr” – Suara yang berasal dari proyektor. Ditambah lagi gangguan dari para petugasnya yang mengobrol terus sambil merokok.

“Perhatian, perhatian…! Film akan segera dimulai…” Teriak seorang om-om yang lucu, sambil menggunakan kedua telapak tangannya -sebagai corong pengeras suara- di depan mulutnya. Aku sangat tertarik kepada om lucu itu karena ia selalu bergembira. Ia selalu berjalan mondar-mandir sambil nyanyi-nyanyi kecil. Apalagi kalau karcisnya terjual habis.

Aku sudah duduk di deretan paling depan. Aku tidak mau terhalang oleh orang yang lebih tinggi dariku. Aku ingin benar-benar menikmati filmnya. Si om lucu masih terus berteriak, “Perhatian, perhatian…” menggunakan kedua telapak tangannya -sebagai corong- agar para penonton segera memasuki ruangan. Akhirnya film pun di mulai. Lumayan juga. Meskipun ruangan itu kurang gelap dan lampu proyektornya kurang terang, tapi gambarnya masih kelihatan walaupun memang kurang jelas dan tajam.

Belum lama saat semua penonton sedang menikmati film yang baru saja mulai diputar, tiba-tiba terjadi sedikit kehebohan. Pintu ruangan terbuka lebar-lebar. Ruangan seketika itu juga menjadi terang benderang karena sinar yang masuk dari luar. Ternyata ada beberapa penonton yang terlambat yang masuk ke dalam ruangan. Layar lebar menjadi berwarna putih. Gambarnya pun hilang. Lalu muncul suara berdengung di dalam ruangan, bagaikan suara seribu lebah. Gangguan dari penonton yang terlambat itu terjadinya bisa berulang-ulang. Tetapi setelah beberapa waktu, para penonton pun kembali tenang dan bisa menikmati cerita film yang sedang diputar. Termasuk aku.

Biasanya, demam film ini baru mereda setelah satu minggu. Tetapi terkadang diputar dua judul cerita. Jika begitu, aku pergi kembali untuk menonton. Dan bisa ditebak. Aku bertemu lagi dengan si om lucu yang selalu bersemangat dan suka berteriak, ”Perhatian, perhatian…film akan segera di mulai…”

***

Pagi itu, saat beristirahat, aku dan teman-teman SMP se-kelasku, kelas satu, sedang duduk-duduk di teras di depan kelasku. Rupanya, setelah istirahat akan diadakan ulangan (ujian). Maka seorang temanku, anak lelaki yang tulisannya bagus, diminta oleh ibu guru untuk menuliskan soal-soal ulangan di papan tulis. Seperti biasa, pintu kelas dan gorden jendela pun di tutup, supaya soal ulangan tidak bisa di intip dari luar. Melihat gorden itu, entah mengapa, tiba-tiba aku teringat dengan si om lucu. Maka aku memasang kedua telapak tanganku sebagai corong di depan mulutku dan berteriak, ”Perhatian, perhatian…film akan segera di mulai…!” Mendengar itu, teman-teman sesama penggemar bioskop pada tertawa. Dan aku senang dengan leluconku itu. Namun apa yang terjadi? Mendadak pintu kelasku terbuka dan keluarlah ibu guruku. Ia memanggil aku. Kemudian tangannya menjewer telingaku, sambil membawa aku ke depan kelas. Di sana aku harus berdiri terus sampai ulangan di mulai. Aku pun bingung, apa kesalahanku.

Setelah ulangan selesai, aku menghadap ke ibu guru. Lalu aku bertanya, apa salahku. Kata ibu guru, ”Kamu bukan anak-anak lagi, kamu harus mengerti itu!” Ia hanya menjelaskan seperti itu. Kemudian aku disuruhnya keluar. Di luar kelas aku duduk termenung sendirian. Aku masih memikirkan, sebenarnya apa sih kesalahanku. Atau ini kesalahan si om lucu?

Berita tentang kejadian pagi itu, lalu dengan cepat menyebar ke seluruh teman-teman sekolah. Ketika jam sekolah usai, ada dua orang anak yang mendekatiku. Mereka adalah anak kelas tiga. Seorang yang tertua di antara mereka kemudian menjelaskan kepadaku. Apa sebenarnya kesalahanku tadi pagi.

Jadi, saat menjelang ulangan tadi, ibu guru sedang berdua di dalam kelas dengan seorang temanku laki-laki yang sedang menulis di papan tulis. Lalu ibu guru menutup pintu dan gorden jendela. Sewaktu aku berteriak –film segera dimulai— rupanya saat itulah ibu guruku tersinggung. Karena bagi orang dewasa, kata-kata ‘main film’ itu bisa diartikan sebagai main roman-romanan, atau main mesra-mesraan di tempat gelap-gelapan.

Rasanya aku baru saja meninggalkan masa kanak-kanakku dan memulai masa remajaku. Dan sekarang, aku harus lebih berhati-hati dengan apa yang berada di dalam pikiran orang dewasa. Rupanya, teriakan si om lucu itu hanya cocok untuk di ruang serbaguna saja: “Perhatian,perhatian… film akan segera dimulai..!” (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor : Veronica K

Bukan Anak-Anak Lagi

BUKAN ANAK-ANAK LAGI

“Hei, kamu sudah bukan anak-anak lagi, ya..!” Kalimat itu datang dari ayah si Karnen, tetangga depan rumahku. Karnen adalah anak SMP kelas satu yang tak lama lagi naik ke kelas dua. Ayah Karnen memang sering memarahinya karena dia senang bermain sampai lupa belajar. Kata-kata “bukan anak-anak lagi” itu selalu terngiang di kepalaku. Timbul pertayaan, apa batasnya antara ‘anak-anak’ dan ‘bukan anak-anak’ itu? Apakah sekolahnya, SD atau SMP? Aku masih bingung.

Walaupun aku telah menyelesaikan Ujian Akhir SD, namun apakah itu berarti aku harus mengakhiri masa anak-anak yang sangat menyenangkan itu? Yang selalu membuatku bersemangat?

Terlepas dari masalah SD-SMP itu, tiba-tiba aku mulai merasakan adanya perubahan pada dunia sekitarku. Aku melihat ada hal-hal yang aneh di sekelilingku. Mengapa dulu sungai Bengawan Solo terlihat sangat lebar, tetapi sekarang mulai terlihat menyempit? Dulu jarak antara basecamp Gagas di tepi Bengawan Solo dan rumahku terasa sangat jauh, sehingga aku harus berlari, tapi sekarang cukup dengan berjalan kaki sebentar saja aku sudah sampai. Perubahan ini mulai terasa sejak aku berada di kelas lima atau enam SD.

Begitu juga ketika aku mengadakan rapat dengan anggota Gagas, Geng Anak Gragas, di basecamp di samping kuburan di tepi Bengawan Solo. Terasa tidak serius lagi. Operasi-operasi petualangan pun juga sangat berkurang. Apalagi sekarang anggota Gagas tinggal tiga orang. Giman telah meninggalkan Gagas, karena ikut orang tuanya ber-transmigrasi ke Kalimantan.

Sebenarnya aku masih enggan meninggalkan masa kanak-kanakku. Aku menyukai petualangan yang sangat menantang, tanpa perhitungan. Seperti waktu aku nekad terjun ke kedung, bagian sungai Bengawan Solo yang terdalam, padahal waktu itu aku belum bisa berenang sehingga aku hampir tenggelam. Itu seru sekali.

Aku juga masih teringat bagaimana seru dan seriusnya aku dan teman-teman saat bermain “nekeran” (kelereng, gundu). Kukerahkan semua kemampuanku untuk memenangkan permainan. Apalagi jika ada temanku yang memiliki neker yang masih mengkilap karena baru di beli dari toko. Aku akan berusaha memenangkan semua neker baru itu, meskipun aku harus mengorbankan banyak neker-nekerku yang sudah buram atau bocel-bocel.

Koleksi nekerku satu kaleng besar. Setiap kali kukeluarkan dan mengelapnya hingga makin kinclong, aku selalu mengagumi “belimbing” indahnya warna-warni yang berada di dalam bulatan kaca tersebut.

Banyak sekali permainan di masa kanak-kanakku. Tergantung musimnya. Ada yang namanya “umbul” atau adu gambar komik yang digunting kecil-kecil, lalu di terbangkan. Kalau gambarnya jatuhnya terlentang (terbuka) dialah yang menang.

Bahkan karet gelang pun bisa di adu, “adu karet” namanya. Karet gelang kucongkel menggunakan jari telunjukku, kalau karetku bisa nangkring di atas karetnya, maka seluruh karet taruhan menjadi milikku.

Ada juga permainan untuk anak laki-laki yang tidak pakai taruhan. Misalnya “benthik”. Taruhannya hanya yang kalah harus menggendong yang menang. Permainan Benthik hanya menggunakan dua batang tongkat dari kayu bulat. Yang satu panjang dan satunya lagi pendek. Tongkat yang pendek harus di cungkil sejauh mungkin dengan tongkat panjang dari dalam lubang di atas tanah. Tahap terakhir dari permainan adalah tongkat kecil diletakkan di bibir lubang di atas tanah, lalu ujungnya di pukul dengan tongkat panjang. Selagi tongkat kecil melayang-layang dan berputar-putar, kita harus memukul tongkat kecil itu sejauh-jauhnya. Lalu kita mengukur jarak hasil pukulan itu dengan tongkat panjang.

Memang, kalau sedang bermain itu semua aku bisa lupa segalanya. Aku berman dengan sangat serius dan dengan segenap jiwa raga. Bagaimana aku bisa meninggalkan suasana seperti itu?

Pernah suatu kali aku mendatangi anak-anak yang sedang bermain benthik, tapi tiba-tiba saja mereka menghentikan permainan itu karena kehadiranku. Aku pun sadar bahwa aku sudah bukan lagi bagian dari mereka, anak-anak.

Aku telah melewati Ujian Akhir untuk SD. Aku lulus dan mendapatkan nilai delapan untuk setiap mata pelajaran yang di ujikan. Dengan nilai tersebut, aku langsung diterima di SMP Negeri di Wonogiri. Nah aku sadar, bahwa sekarang aku sudah SMP. Aku bakal memiliki teman-teman baru. Aku sangat bersemangat. Aku sudah bukan anak-anak lagi. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor : Veronica K

Co Editor: SR Kristiawan

Ujian Akhir

UJIAN AKHIR

Waktu berjalan sangat cepat. Tidak terasa aku telah menyelesaikan Ujian Akhir Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar, SD) dan lulus. Aku tertegun dan menyadari bahwa berarti aku sudah harus meninggalkan SD-ku ini, SD Negeri Tiga Wonogiri. Ini artinya aku akan berpisah dengan teman-teman sekelasku yang selalu kompak di dalam maupun di luar sekolah.

Rasanya belum lama aku memasuki sekolah ini. Aku sangat menikmati suasana dan kejadian-kejadian yang menggairahkan selama bersekolah. Terutama pada tahun-tahun awal, aku selalu bersemangat setiap berangkat ke sekolah karena aku sering menjadi pusat perhatian teman-teman dan para guru. Aku juga teringat ketika sering diminta bercerita oleh teman-temanku. Lucunya mereka senang mendengarkan aku bercerita dengan menggunakan logat Jawa Timuran-ku. Begitu pula dengan diriku, yang juga menikmati saat bercerita dan melihat muka mereka yang terbengong-bengong.

Saat aku duduk di kelas tiga, aku menjadi terkenal di sekolah karena berani mengadakan Sandiwara Perang yang ternyata cukup menghebohkan teman-teman sekolahku. Di kelas-kelas berikutnya aku dan teman-temanku menjadi semakin kompak. Kami sering mengadakan acara-acara berwisata seperti pit-pitan (naik sepeda), naik ke Gunung Gandul atau piknik ke tempat-tempat yang indah.

Setiap acara pasti selalu membawa kenangan tersendiri. Mungkin karena seringnya aku mengalami saat-saat yang menyenangkan itulah maka waktu terasa berjalan sangat cepat. Setahun serasa seminggu. Dan lima tahun serasa lima minggu.

Namun sewaktu aku memasuki kelas enam, aku merasa waktu mulai berjalan lebih lamban. Karena ada yang kami tunggu-tunggu. Yaitu, Ujian Akhir Sekolah Rakyat. Semuanya mempersiapkan diri untuk menyambut ujian tersebut. Mulai dari guru, orangtua murid dan juga murid-murid kelas enam tentunya.

Semuanya menjadi serius dan tegang dengan harapannya masing-masing. Para guru mengharapkan murid-muridnya lulus seratus persen, sedangkan para orangtua murid mengharapkan anaknya mendapat nilai tertinggi, kalau bisa mendapat nilai sepuluh semua.

Beberapa kekhawatiran juga muncul. Para orangtua mengawatirkan semangat belajar anaknya dan juga takut kalau-kalau anaknya tidak lulus ujian. Hal-hal seperti inilah yang menjadikan suasana menjadi tegang.

Sementara aku sendiri merasa tenang-tenang saja dalam menghadapi ujian ini. Aku tetap belajar dan bermain seperti biasa. Karena targetku sangat berbeda dengan harapan para orangtua teman-temanku. Bagiku yang penting lulus dengan nilai yang cukup bagus.

Aku memperhatikan si Pono, temanku yang otaknya paling encer di kelasku. Pono sering kujadikan semacam ‘kamus berjalan’ karena saking pandainya. Tapi belakangan ini aku merasa kasihan pada si Pono, ia terlihat tertekan karena harus belajar terus menerus. Aku pernah mendatangi rumahnya untuk mengajaknya main. Tetapi yang keluar menemuiku adalah bapaknya dan langsung memarahiku.

“Hei, kamu jangan ajak anak saya untuk main ya. Ini kan menjelang ujian, anakku harus belajar dan belajar. Kalau cuma main saja kayak kamu, mau jadi apa nanti ”.

Lalu kemudian aku undur diri dari rumah Pono. Aku paham dan aku tidak sakit hati. Kejadian semacam itu sudah aku alami enam kali. Bahkan di rumah temanku yang lain ada yang ayahnya lebih kasar. Aku di usir untuk segera pergi. Aku mersa kasihan pada teman-temanku yang sangat tertekan.

Di sekolah pun aku menghadapi ‘demam’ ujian. Saat aku di kelas, aku belajar. Tapi pada waktu istirahat, aku tetap bermain. Karena teman-teman kelas enam segan untuk bermain, maka aku mengajak main adik-adik kelasku, yang masih bersemangat bermain. Anak kelas enam merasa tidak pantas untuk main kasar-kasaran. Mereka lebih anggun, dan terkadang mereka berkelompok untuk belajar, di waktu istirahat sekolah.

Kelakuanku inilah yang sering menimbulkan kekhawatiran bagi para guru. Aku pernah di panggil oleh ibu guru dan mendapat peringatan. “Kamu tahu, ujian semakin dekat. Kamu jangan santai begitu ya. Kalau di luar kelas kamu harus tetap belajar, bukan bermain. Apa kamu mau tidak lulus ujian?”

Aku hanya mengangguk dan menjawab “Baik, bu guru..” Hanya itulah jawaban yang boleh aku berikan. Tidak boleh memberi alasan apalagi menentang. Karena beliau adalah GURU, singkatan dari -sing diguGU lan ditiRU- (Yang dipercaya dan diikuti).

Benar juga kata ibu guru, harus belajar di kelas dan di luar kelas. Tapi aku berbeda. Kalau anak-anak lain tempat belajarnya dibatasi oleh pagar, yaitu di dalam pagar sekolah dan pagar rumah, kalau aku tidak. Keluar dari sekolah aku tidak belajar di rumah. Tetapi belajar di alam bebas. Aku adalah pengamat dan penyelidik. Aku mengamati dan mempelajari apa pun di sekitarku. Mulai dari pasar, stasiun, kantor hingga tempat-tempat bersejarah, semuanya aku datangi.

Aku pernah mendatangi sebuah bank. Banyak hal yang kuamati di sana. Suatu hari aku melihat ada seseorang membawa satu koper uang kertas yang lusuh kemudian petugas bank itu menghitung uang lusuh itu satu persatu, sampai lebih dari satu jam.

Dan aku heran, uang sekoper itu hanya ditukar dengan selembar kertas. Tapi setelahnya, si pemilik uang itu keluar dari bank tenang-tenang saja.

Pengamatanku di tempat lain, adalah kantor pos. Awalnya aku heran. Karena di dalam kantor itu selalu ada suara “Dhok, dhok… dhok” . Seperti ada orang yang sedang memukul dinding dengan palu. Ternyata itu adalah suara stempel yang terbuat dari besi yang diberi gagang seperti palu. Stempel besi itu lalu dipukulkan keras-keras ke atas perangko yang menempel pada surat.

Dengan melihat dan mengamati itulah cara aku belajar. Pelajaran dari dalam kelas, aku cukup menguasai setengahnya saja dari setiap mata pelajaran. Sisanya aku belajar dari alam seisinya.

Hari itu, tibalah ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia. Namun terjadi sedikit kehebohan. Setelah soal ujian dibagikan, teman-temanku saling melihat satu dengan yang lain dengan muka yang terlihat kebingungan. Para pengawas ujian juga terlihat cemas saat melihat anak-anak pada kebingungan membaca isi soal tersebut. Isi soalnya hanya satu kalimat, dan berbunyi seperti ini:

“Buatlah sebuah Telegram “.

Ternyata banyak dari teman-temanku yang tidak mengerti apa artinya Telegram. Mungkin mereka lebih tahu dan mengerti gunanya kartu pos, pos wesel, perangko dan sebagainya. Tetapi apa itu Telegram, sepertinya mereka belum pernah tahu.

Aku merasa beruntung, dalam penjelajahanku ke kantor pos. Aku pernah melihat ada sebuah formulir kecil dengan judul Telegram. Saat itu aku bertanya kepada bapak petugas kantor pos tentang surat Telegram itu. Dia menjelaskan bahwa Telegram adalah pengiriman berita yang tercepat sampai ke tujuan. Jadi beritanya harus ditulis sesingkat mungkin karena biayanya dihitung per-kata. Bahkan tanda baca seperti titik atau koma juga dihitung sebagai satu kata. Maka, aku pun membuat sebuah Telegram di atas kertas jawabanku:

AYAH SAKIT KERAS TITIK SEGERA PULANG TITIK

Itulah telegram yang aku tuliskan di lembar jawabanku. Singkat, jelas dan murah. Namun ada beberapa teman yang meminta kertas tambahan lalu melanjutkan mengarang surat telegramnya.

Akhirnya masa ujian pun telah lewat. Dan setelah membaca pengumuman kelulusanku, aku sangat senang dan puas. Aku bisa lulus ujian dengan nilai delapan pada setiap mata pelajaran yang di ujikan. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K

Om Nu

Om Nu dan LLM

Om Nu

Jakarta, 1962.

Tahun ini ada kesibukan yang luar biasa di Indonesia. Ada perubahan yang penting dan cepat, terutama di Jakarta. Jakarta sibuk bersolek.

Semua daya dan dana di kerahkan untuk menyambut berlangsungnya pesta olahraga antar bangsa Asian Games. Asian Games yang ke 4 ini akan diselenggarakan di Jakarta. Seluruh perhatian pemerintah dan masyarakat terpusat kepada Asian Games ini yang diselenggarakan nanti di bulan Agustus.

Semua oran terkena demam Asian Games. Begitu pula aku. Aku ikut serta dalam acara pembukaan Asian Games, sebagai anggota paduan suara. Aku adalah anggota paduan suara St. Caecelia di gereja Kathedral Jakarta, di bawah pimpinan RAJ Sudjasmin, yang juga adalah tokoh musik di Indonesia pada saat itu.

Kurang dari empat hari lagi acara pembukaan Asian Games. Susunan acara yang luar biasa dan gladi resik, membuat demam pembukaan Asian Games semakin meningkat mendekati titik didihnya.

“Coba usahakan tiket, ya.. Aku dan teman-teman ini kan juga ingin nonton acara pembukaan”. Kata Om Nu kepadaku di ruang tamu di mes kantor, di Jalan Proklamasi no 45 Jakarta. Om Nu dan enam teman sekantornya tinggal di mes tersebut. Om Nu bekerja satu kantor dengan Om No, kakaknya, yang lebih dulu bekerja pada instansi yang sama. Kemudian aku juga diajak oleh Om No untuk bekerja di sana. Sehingga Om No, Om Nu dan aku bertiga semua bekerja pada instansi itu di Jakarta.

“Ya, Om..” jawabku spontan atas permintaan Om Nu untuk ikut menonton pembukaan Asian Games. Aku langsung menyanggupi permintaan tersebut karena ia adalah Om Nu, om ku. Om Nu adalah bagian dari hidupku. Sejak aku masih kecil, di rumah Mbah Tanjung, di jalan Tanjung Gang Dua Malang, aku sudah lekat dengan sosok Om Nu. Om Nu adalah adik kandung dari Om No. Mereka adalah anak dari Mbah Tanjung.

***

Saat aku masih balita, Om Nu juga senang membuli aku walau tidak sesering kakaknya. Om Nu membuli aku dengan cara yang lebih ‘sopan’ di banding Om No.

Suatu pagi saat aku sedang serius bermain dengan teman-teman kecilku, tiba-tiba ada suara keras dari ruang dalam,”Geet..”(panggilan nama kecilku). Aku tahu itu adalah suara Om Nu. Dengan kesal aku menghentikan permainanku, dan dengan muka kesal pula aku menghadap ke Om Nu. Melihat aku sudah berdiri di hadapannya, Om Nu berkata, ”Lho, lahoopo? Gak ono opo-opo kok..—lho, ngapain? gak ada apa-apa kok..”. Aku berbalik kembali ketempat aku bermain. Aku tidak merasa kesal lagi, karena aku tahu, bahwa bulian tadi adalah merupakan ungkapan rasa sayang Om Nu kepadaku.

Aku ingat bahwa Om Nu sejak kecil badannya sangat kurus. Ia susah makan dan sering sakit-sakitan. Setelah agak besar dia kelihatan lebih sehat meskipun tetap kurus. Yang mengherankan, setelah sehat Om Nu punya hobi baru, yaitu berkelahi. Di rumah Mbah Tanjung pun kadang -kadang menjadi heboh setiap kali Om Nu pulang berkelahi. Belakangan aku tahu ternyata Om Nu adalah “jagoan” yang cukup disegani di Jalan Tanjung dan sekitarnya. Pantas saja sejak aku TK dan suka berjalan kaki sendirian, tidak pernah ada orang yang berani menggangguku.

Juga ketika aku berhari-hari menguntit Gatan, Geng Anak Tanjung pimpinan si Cacak, tidak ada yang berani mengusirku. Bahkan oleh Cacak, aku diangkat menjadi anggota penuh Gatan, meskipun aku saat itu masih di Taman Kanak-kanak. Semua itu mungkin karena pengaruh Om Nu.

Ketenaran Om Nu yang pemberani itu pula menjadikan aku merasa aman dan percaya diri, PD. Rupanya Tuhan telah menurunkan dua malaikatnya ke bumi untuk menjaga aku. Om No adalah “malaikat” pembimbingku, sedangkan Om Nu merupakan “malaikat” pelindungku.

Ketika aku dan kedua malaikatku akhirnya kembali berkumpul di Jakarta, dan bekerja di kantor yang sama, maka berlanjutlah cerita tentang kami bertiga. Om Nu tinggal di mes kantor di Pegangsaan Timur bersama enam orang temannya, semuanya bujangan, sedangkan aku bergabung belakangan. Kebiasaan Om Nu tetap sama. Di mana ada kerusuhan atau tawuran, di situ selalu ada Om Nu. Dia datang tidak untuk ikut berkelahi tetapi untuk memisahkan mereka yang sedang tawuran.

Sering tanpa sepengetahuanku Om Nu melindungi aku. Kalau sedang tidur di mes, dan kemudian ada orang yang mau bertemu denganku, teman-teman tidak membangunkaku tanpa persetujuan Om Nu. Ia yang “menyaring” dulu, apakah orang tersebut pantas untuk bertemu dengan aku atau tidak. Luar biasa malaikat pelindungku ini.

***

Pembukaan Asian Games tinggal dua hari lagi. Keadaan sudah “kritis”. Tiket untuk Om Nu, dan enam orang temannya, belum juga aku dapatkan. Aku sibuk berlatih paduan suara dan gladi resik acara pembukaan Asian Games

Akhirnya suatu sore aku mengumpulkan para penghuni mess, Om Nu dan enam temannya. Aku berkata kepada mereka, “Siapa yang ingin ikut menonton pembukaan Asian Games? Lusa pagi berkumpul disini memakai kemeja lengan panjang warna putih dan celana panjang warna hitam.”

Mendengar pengumuman singkatku itu, mereka yang tadinya sudah hampir patah semangat, menjadi lebih tegak. Muka mereka menjadi cerah, penuh harapan.

Pada hari H, aku terpesona melihat mereka, Om Nu dan keenam temannya sudah siap. Mereka terlihat keren-keren dengan pakaian yang sangat rapi, warna putih hitam. Aku belum pernah melihat mereka berpakaian serapi ini. Kami pun berangkat ke Stadion Utama Senayan (Gelora Bung Karno).

Di dalam perjalanan, aku mengingatkan mereka untuk nanti selalu berkumpul di belakang ku sambil melihat aba-aba yang akan kuberikan. Suasana menjadi sangat tegang saat kami sudah mulai berdiri di dalam antrian panjang di depan Stadion Utama Senayan. Kulihat wajah mereka sangat kaku dan cemas, mereka tahu bahwa mereka sama sekali tidak tidak memiliki karcis.

Aku sendiri memasang muka yang tenang tapi penuh keyakinan. Seperti muka Om No dulu sewaktu menyelundupkanku ke gedung bioskop, yang film nya untuk 17 tahun ke atas.

Aku memperhatikan para petugas penjaga karcis yang di kawal oleh polisi dan TNI. Aku lalu mengambil manufer yang mendadak. Aku keluar dari antrian dan berjalan dengan cepat menuju ke depan. Kulihat teman-temanku mengikuti dari belakang.

Aku bergaya seperti pemimpin seluruh Paduan Suara Asian Games, mendekati petugas pemeriksa tiket sambil berteriak kepadanya, “Pak, ini rombongan Paduan Suara!” sambil aku membuka jalan dan dengan tanganku aku memberi tanda ke teman-temanku untuk segera masuk.        Sementara petugas itu masih tertegun, aku sudah berhasil memasukkan rombonganku, Om Nu dan enam orang temannya. Kami pun cepat-cepat berjalan dan menaiki tangga di tribun selatan bagian bawah.

Akhirnya aku dan mereka berhasil duduk di deretan paling belakang karena aku termasuk kelompok suara ‘bas’. Tadi, sebelum berangkat aku sudah mengajarkan pada mereka agar jika nanti sedang bernyanyi, mereka harus hanya membuka mulut tanpa mengeluarkan suara. Tentu saja kalau mereka sampai mengeluarkan suara, semua akan kacau. Di samping mereka tidak tahu lagunya, bisa-bisa mereka mengeluarkan suara ‘tenor’ padahal kita termasuk kelompok suara ‘bas’.

Lagu-lagu pun mulai berkumandang di seluruh sudut Stadion Utama yang maha luas itu. Suara merdu itu adalah suara kami yang mengawali upacara Pembukaan Asian Games 1962. Suara kami membuat seratus ribu penonton yang memadati Stadion Utama Senayan tersebut terpana. Aku melihat ke deretan Om Nu dan teman-temanya yang berdisiplin membuka-tutup mulutnya tanpa suara.

Acara demi acara disajikan dengan cara yang spektakuler. Tarian masal yang mengagumkan. Pidato Pembukaan Pesta Olah Raga Asian Games oleh Presiden Soekarno. Defile peserta olah raga dari negara-negara se-Asia, terutama kontingen Indonesia dan munculnya pahlawan bulu tangkis Indonesia Ferry Sonneville, membuat seluruh Stadion gegap gempita. Lambang Asian Games berupa Garuda dengan slogan “EVER ONWARD”—Maju Terus, membuat kita semua bangga sebagai warga negara Indonesia. Sebuah pengalaman yang luar biasa.

Sepulang dari acara pembukaan Asian Games malam itu, aku, Om Nu dan enam temannya masih terkagum-kagum akan apa yang baru saja kami lihat. Aku sendiri merasa lega dan puas karena telah berhasil menyelundupkan Om Nu berikut enam temannya ke Stadion Utama Senayan. Mungkin, ini balas budiku untuk Om No karena dulu ia sering menyelundupkan aku ke gedung bioskop. Balas budinya bukan ke Om No, tetapi kepada adiknya, Om Nu. Bukan ke bioskop, tapi ke Stadion Utama Senayan (sekarang Stadion Utama Gelora Bung Karno).

Malam itu sebelum tidur, aku menaikkan doa syukur atas pengalamanku hari ini. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K & SR Kristiawan

Om No

CSO Om No

OM NO

Jakarta tahun 1962

Setelah lulus SMA di kota Surakarta, aku tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil pada sebuah instansi pemerintah tempat Om No bekerja. Om No lah yang mengajakku untuk bekerja di sana dan ini membuat kami berdua mejadi lebih sering bertemu dan hidup bersama di Jakarta.

Suatu hari hujan turun dengan lebatnya di Jakarta. Cukup lama juga, sekitar dua jam terus menerus. Seperti biasa, banyak genangan air di jalanan. Setelah hujan reda, hanya mendung masih menggelanyut di atas langit Jakarta. Aku mengendarai sepeda motor kebanggaanku, BSA 250 cc berwarna merah, menyusuri jalan melintasi genangan-genangan air. Om No membonceng di belakangku.

Sewaktu kami berada diantara Jalan Tanah Abang dan Petamburan, terjadi kemacetan panjang. Benar juga, ternyata ada banjir yang menggenangi jalan itu. Genangan banjir tersebut cukup lebar, sekitar lima puluh meter dan cukup dalam, sehingga hanya kendaraan berbadan tinggi yang berani melintasi banjir itu.

Aku berada di batas banjir itu, berhenti tanpa mematikan mesin motorku. Aku menghadapi dilema, terus menerjang banjir, berputar balik atau diam mematikan mesin.

Tapi, aku ini seorang petualang, aku harus tepat mengambil keputusan. Apalagi dibelakangku duduk Om No, seorang petualang sejati. Ia hanya duduk diam diatas boncengan motorku. Dia tidak akan pernah mempengaruhiku sedikitpun, akulah yang memutuskan. Mesin motorku tetap menyala.

Seorang petualang adalah orang yang berani tampil beda. Dia bertindak berdasarkan suara hatinya. Kalau aku memutuskan untuk berputar balik, aku merasa menjadi seorang pengecut. Jika aku mematikan mesin, berarti aku menjadi orang rata-rata, sama seperti mereka. Normal dan pasti aman. Kalau mau menerjang banjir, pasti ada risiko, yaitu celana basah dan motor mogok ditengah banjir.

“Rrremm, rrremm…rrremm…” Aku meng-geber-geber mesin motorku untuk menguji keadaan mesin. Orang-orang menengok kearah kami dengan muka keheranan. Aku fokus pada titik diseberang sana dan pada pegangan gas di tangan kananku. Aku tancap gas dan… menerjang genangan banjir! Aku tinggal mengatur agar air jangan sampai masuk kedalam knalpot. Akhirnya kami, aku dan Om No, sendirian meluncur menyeberangi banjir itu seperti naik kano yang didayung. Di tengah genang air, Om No mengeluarkan harmonika kecil yang selalu ada di kantong celananya. Maka berkumandanglah lagu favoritnya yang berjudul “Halls of Montezuma”. Lagu itu yang selalu kami nyanyikan setelah nonton film perang Amerika.

Akhirnya kami berhasi menyeberangi banjir tersebut. Aku terus menjalankan motorku sambil mengeringkan plat rem, ketika aku merasakan sebuah tepukan tangan Om No di pundakku. Tepukan tangan itu berarti sebuah pujian untukku, “Good job..!”. Tetapi lebih dari itu, tepukan itu merupakan penghargaan tak ternilai dari seorang Petualang Sejati, idolaku, Om No.

Saat aku kecil di Jalan Tanjung Gang 2 Malang, di rumah Mbah Tanjung, muka yang aku kenali pertama kali adalah mukanya Om No, anaknya Mbah Tanjung. Mungkin karena dialah yang paling sering muncul di depanku, untuk membuli aku. Ada saja yang dia lakukan setiap kali lewat di depanku.

Sering Om No memperlihatkan muka jeleknya didepan hidungku, sampai menempel. Terkadang dia ambil makanan dari tanganku, lalu dia berdiri saja di depanku sambil menunggu apa reaksiku. Kalau aku sudah siap-siap untuk berteriak sekeras-kerasnya, barulah makananku itu cepat-cepat dikembalikan.

Karena begitu seringnya pembulian itu, maka aku tidak merasa tersiksa lagi, tapi hal itu menjadi semacam “permainan” sikuat dan silemah. Aku merasa bahwa sebenarnya Om No sayang padaku.

Sewaktu aku TK, akulah yang paling sering diajak jalan, makan-makan atau diselundupkan ke gedung bioskop nonton film 17 tahun keatas.

Ketika aku dibawa ke Mojokerto untuk diangkat anak oleh Mbah Mojo, hanya Om No yang sering mengunjungiku untuk sekedar melihat keadaanku. Juga setelah keluarga kami tinggal di Wonogiri, Om No pula yang pertama kali mengajakku mengunjungi Mbah Kaligunting akar dari garis sedarahku. Dia bagaikan “malaikat” ku yang mendekatkan ke keluarga kandungku.

Setelah lulus SMA, aku ikut Om No di Jakarta dan juga diajak bekerja di kantor yang sama. Kami memang sehati. Kami mempunyai kesamaan. Sama-sama menyukai film perang dan bertualang.

Sayangnya, Om No tidak bisa melepaskan kebiasaan merokoknya. Selalu ada sebatang rokok yang terselip diantara jari tengah dan telunjuk tangan kananmya. Om No meninggal karena kangker paru-paru. Om No tidak pernah mengeluh dalam sakitnya. Beberapa hari sebelum meninggal, Om No masih dengan semangat mengatakan kepadaku: “War againts cancer..!”

Rest In Peace, Om No….(*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K & SR Kristiawan

Blog di WordPress.com.

Atas ↑