Cari

Antonius Sutedjo

Penulis

srkristiawan

Kereta Kiriman Tuhan

KERETA KIRIMAN TUHAN

Kalau ada yang bertanya padaku, jenis kendaraan apa yang paling berkesan dalam hidupku, jawabannya adalah ‘sepur kluthuk’. Jenis kereta api unik ini seakan diciptakan Tuhan untuk memberi banyak pelajaran padaku tentang kehidupan. Terutama pada masa kecilku.

“Bapak badhe tindak pundi?” Aku bertanya menggunakan bahasa Jawa tinggi kepada seorang bapak yang duduk di bangku di depanku. Ia  tertawa mendengar pertanyaanku. Bisa jadi logat bahasa Jawaku terdengar aneh, maklum aku adalah anak Jawa Timur.

”Mau ke Sukoharjo, nak. Anak aslinya dari mana?” Wah, bapak itu ganti bertanya, menggunakan Bahasa Indonesia pula. Aku menjawab ”Dari Malang pak.”

Itulah awal percakapanku dengan seorang bapak yang baik dan ramah. Mungkin dia seorang guru, jadi kita sebut saja ia pak guru. Kami berdua duduk berhadapan di atas Sepur Kluthuk dari Wonogiri menuju Solo. Pak guru yang cukup sepuh itu seakan tertawa setiap kali ia berbicara. Hal itulah yang membuat aku merasa nyaman berbincang dengannya.

Di sudut gerbong di depanku, sekelompok pemuda sedang ngobrol sambil berbicara keras-keras. Mereka menggunakan bahasa Indonesia yang aneh. Mereka sering menggunakan kata-kata, elu, gue, dong deh, deh dong deh.

Rupanya pak guru tahu apa yang ada dalam pikiranku.      Ia berkata sambil tersenyum, ”Itu bahasa Betawi nak, mereka sudah sering ke Jakarta. Mungkin saja mereka berbicara keras-keras itu untuk pamer, bahwa mereka sudah menjadi orang Jakarta.”

”Orang-orang tua yang mendengar mereka itu ya banyak yang kurang senang, tetapi bagi anak-anak lain, itu baik, karena membuat banyak anak-anak lain ingin ke Jakarta juga agar bisa berbahasa Betawi.” Lanjutnya sambil tersenyum simpul.

Melihat aku terbengong, maka ia pun menambahkan. Ia menjelaskan bahwa memang Wonogiri ini tanahnya gersang, hanya bisa ditanami palawija. Belum lagi di Wonogiri sering terjadi ‘paceklik’ artinya gagal panen, kekeringan hingga kekurangan pangan.

Ia juga menjelaskan alasan mengapa banyak anak-anak yang diharapkan keluar dari Wonogiri. Biasaya saat mereka menjelang dewasa atau setelah tamat SMP. Itu semua agar mereka tidak menjadi beban bagi keluarga di desanya. Mereka menyebar ke kota-kota besar di Indonesia dan bekerja sebagai penjaga toko, pembantu rumah tangga, atau sebagai tukang baso dan sebagainya. Faktanya banyak juga diantara mereka yang hidupnya berhasil dan sukses di luar Wonogiri.

Sepur kluthuk kami memasuki stasiun Nguter. Pak guru melanjutkan ceritanya, kali ini tentang daerah Nguter ini. Penduduk dari daerah Nguter juga banyak yang  menyebar ke kota-kota besar, termasuk Jakarta. Mereka berjualan ‘es puter’.   Jenis es yang sangat terkenal ini disebut es puter karena proses pembuatannya. Adonan yang terbuat dari santan itu diputar-putar dalam alat pembuat es hingga mengkristal dan menjadi seperti es krim. Jadi kalau ada orang berjualan es puter dengan bunyi, “Neng, kleneng, kleneng,” hampir bisa dipastikan orang itu berasal dari daerah ini. Konon es puter dari desa Nguter ini rasanya enak sekali, sangat sulit bagi orang lain untuk menirunya.

Aku bertanya lagi kepada pak guru: ”Lalu kalau mereka meningggalkan desa mereka, kapan mereka bisa berkumpul bersama keluarga lagi pak?”

Ia menjawab, ”Ya kalau hari raya Lebaran, nak”.

Aku pun jadi mengerti, bahwa selama setahun mereka bekerja keras menghasilkan uang demi menghidupi keluarga mereka di desa. Mereka juga mengumpulkan uang agar pada hari Lebaran mereka bisa pulang kampung beramai-ramai.

Itulah sebabnya pada setiap hari raya lebaran seluruh desa menajdi sangat meriah. Mereka saling mengunjungi dan bersilaturahmi sambil membagi-bagikan uang kepada anak-anak. Mereka mengenakan pakaian terbaiknya, sebagai lambang tingkat kesuksesan mereka. Setelah liburan hari raya usai, mereka kembali pergi meninggalkan desanya untuk bekerja di kota lain. Desa yang mereka tinggalkan kembali menjadi sepi, tetap kering kerontang. Sementara anak-anak kecil mendapatkan cita-cita baru untuk kelak juga meninggalkan desa dan bekerja di kota besar.

Sepur kluthuk kembali melanjutkan perjalanan dengan lamban, seperti biasa. Sepoi angin dari jendela membuat kami mengantuk. Para pemuda ‘Jakarte’ yang tadi ribut pun telah lelap tertidur.

Obrolan dengan pak guru membuatku teringat akan Mbah kandungku di Kaligunting. Ia juga “mengusir” anak cucunya keluar dari desa yang tandus itu untuk berkelana dan mencari kehidupan yang lebih baik di luar sana.

Sepur Kluthuk memasuki stasiun Sukoharjo. Bapak yang baik hati itu bersiap-siap akan turun. Aku berkata padanya, ”Matur nuwun, pak guru,”—terima kasih pak guru. Eh…, aku keceplosan memanggilnya guru. Ia tertawa dan lalu turun.

Lagi-lagi di dalam sepur kluthuk aku belajar suatu hal yang penting. Hal yang kelak menjadi salah satu pegangan hidupku. Aku percaya Tuhan lah yang selalu “mengirim” sepur kluthuk  untukku. Dan kali ini satu paket dengan “pak guru”, untuk menemani dan mengajariku siang itu. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Mahasiswa Nyojo

MAHASISWA NYOJO

“Anak lelaki Pak Kerto diterima menjadi mahasiswa di Jogja!” Demikian berita heboh yang tersiar hari itu. Peristiwa kecil ini pun membuat aku tertarik untuk mengamatinya.

Keluarga Kerto (bukan nama sebenarnya) adalah keluarga yang sederhana, seperti keluarga kebanyakan yang tinggal di Wonogiri. Mereka bergaul seperti layaknya kebiasaan masyarakat di sini, sehari-hari saling berkunjung dan bersilahturahmi satu dengan yang lainnya. Biasa saja.

Begitu tersiar kabar bahwa anaknya diterima sebagai mahasiswa Nyojo (sebutan lain untuk kota Jogjakarta), hal itu membuat sebuah perubahan. Keluarga Kerto menjadi lebih sering dikunjungi oleh para kerabat dan tetangganya. Orang-orang banyak datang berkunjung untuk mengucapkan selamat.

Disamping itu, mereka juga menyampaikan pujian dan sanjungan kepada pak Kerto dan bu Kerto. Awalnya terlihat Pak Kerto dan isterinya berusaha tetap merendahkan dirinya, tetapi puji-pujian dan sanjungan itu datang bertubi-tubi menghujani mereka dari segala penjuru. Lama kelamaan hal ini ternyata juga membawa perubahan juga terhadap sikap Pak dan bu Kerto.

Belakangan ini cara Pak Kerto kelihatan berjalan lebih tegak dibanding sebelumnya. Kini ia pun menjadi lebih rajin menyalami siapapun yang ditemuinya. Bu Kerto juga menjadi lebih sering berkunjung ke rumah tetangga dan rajin menghadiri pertemuan ibu-ibu. Mungkin karena ia begitu menikmati puji-pujian dan sanjungan dari para tetangganya.

Aku mengamati dan berpikir, ternyata besar juga pengaruh dari arti ‘mahasiswa Nyojo’ ini bagi lingkungan kami. Aku jadi teringat pada ‘ndoro dokter’. Sebelum menjadi dokter ia pun juga harus menjadi seorang mahasiswa. Jadi menurutku mahasiswa adalah calon dokter, atau mahasiswa adalah setengah dokter. Jadi mahasiswa adalah setengah ndoro! Sedangkan status sosial seorang ‘ndoro’, di masyarakat Wonogiri adalah lebih tinggi daripada orang kebanyakan. Kalau semua ini benar, maka bisa dimengerti jika derajat keluarga Kerto sekarang jadi meningkat.

****

Pada suatu pagi, ada perubahan besar di rumah kami. Pak Mojo mendatangkan beberapa tukang untuk merombak kamar tidur tamu rumah kami. Bagian dalam kamar itu, dibersihkan dan temboknya di cat ulang. Tempat tidur, meja tulis dan kursi-kursinya semua di ganti. Wah, kamar itu menjadi lebih indah.

Pak Mojo juga memerintahkan kepada Bu Mojo untuk mengganti seluruh menu makanan di rumah.

“Mau ada apa ini pak”. Pelan-pelan aku bertanya ke pak Mojo.

Pak Mojo menjawab: “Mau ada tamu mahasiswa Nyojo!” kata pak Mojo serius. Aku jadi penasaran, macam apa sih yang namanya mahasiswa Nyojo ini.

Beberapa hari kemudian sang mahasiswa pun tiba. Orangnya memang gagah, masih muda dan kelihatan sekali ia adalah orang kota dan bisa jadi adalah anaknya orang kaya. Saat datang dan memasuki kamar tamu kami, ia agak sedikit canggung dan kurang nyaman. Padahal, menurutku, kamar itu sudah sangat bersih dan bagus karena Pak Mojo sudah habis-habisan merombak kamar itu, bahkan berikut perabotannya.

Kepada Pak Mojo pun ia tidak banyak bicara, hanya seperlunya saja. Setiap hari ia banyak berdiam diri di dalam kamar dan keluar hanya untuk mandi dan pada waktu makan saja. Aku sudah dua kali mencoba menyapanya, tapi ia cuek saja. Mungkin memang ia sangat sibuk atau tidak terlalu suka kepada anak kecil. Jadi sejak itu, sosoknya pun terhapus dari perhatianku.

Setelah lima hari menginap, akhirnya sang mahasiswa Nyojo ini pun pergi, meninggalkan kamar tamu yang indah itu. Dan menu makanan di rumah pun kembali seperti semula, sederhana. Aku menjadi yakin, begitu besar pengaruh seorang mahasiswa Nyojo di lingkungan dan masyarakat kami.

****

            Di bagian lain kotaku ini tinggalah seorang ndoro, Ndoro Dono (bukan nama sebenarnya). Ia termasuk salah satu orang penting dan terpandang di kota ini. Ia memiliki empat orang anak gadis, semuanya cantik-cantik. Karena kecantikannya, mereka menjadi perhatian dan sering menjadi bahan pergunjingan masyarakat di kota ini.

Sudah menjadi rahasia umum juga di masyarakat Wonogiri bahwa anak perempuan sulungnya sering berganti-ganti pacar. Pacar-pacarnya adalah lelaki lokal Wonogiri, dari kalangan biasa-biasa saja. Para ibu sering merasa khawatir akan hal ini. Mereka takut kalau-kalau si cantik ini akan salah pilih dalam mencari pasangan hidupnya.

Sampai akhirnya, tersiar sebuah berita, bahwa putri pertama dari ndoro itu akan bertunangan. Masyarakat sekitar bertanya-tanya, siapakah lelaki yang akhirnya akan mempersunting puteri cantik ini?. Tetapi kemudian seluruh masyarakat merasa lega dan bersyukur, karena calon suami sang puteri itu adalah seorang mahasiswa dari Nyojo.

Maka aku pun semakin percaya dan yakin bahwa status ‘mahasiswa nyojo’ itu memiliki peran penting dalam masyarakat di sekitarku. (*)

 

*Cerita ini kupersembahkan untuk para mahasiswa dan alumni UGM.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

 

*Cerita ini kupersembahkan untuk para mahasiswa UGM.

Goro Goro

GORO GORO

Aku benar-benar menikmati tinggal di kota yang indah dan sangat menantang ini, Wonogiri. Begitu banyak kota yang pernah aku kunjungi dan aku tinggali. Malang, Mojokerto, Jombang, Solo dan beberapa kota kecil lainnya. Setiap kota memiliki tempat untuk berpetualang. Tetapi Wonogiri adalah kota yang paling aku sukai.

Walau kota ini cenderung sepi, tetapi memiliki banyak tempat untuk dikunjungi dan juga segudang tempat bermain. Misalnya seperti Gunung Gandul, Bengawan Solo, Alas (hutan) Ketu dan masih banyak lagi. Belum lagi mengenai bahasa dan tata cara hidupnya yang berbeda dibandingkan dengan masyarakat Jawa Timur tempat aku tinggal. Untukku ini semua sangat menantang untuk diamati dan dipelajari. Rasanya hampir setiap hari aku menemukan hal yang sama sekali baru untukku. Sungguh mengasikkan.

Di kota kecil seperti Wonogiri ini, setiap kejadian sekecil apapun selalu menjadi bahan pembicaraan di masyarakat banyak. Seperti misalnya dua hari terakhir ini, hampir seluruh masyarakat kota, besar-kecil tua-muda sedang ramai membicarakan tentang akan adanya sebuah pergelaran Wayang Kulit semalam suntuk. Pertunjukan Wayang Kulit ini akan diadakan di rumah salah satu orang terkaya di kota ini, yang letaknya di lereng gunung di sebelah Utara kota Wonogiri.

Untungnya aku sudah memiliki teman-teman putra daerah, yaitu dalam bentuk geng, GAGAS, Geng Anak Gragas. Dari empat anak anggota geng ini hanya aku sendiri yang bukan anak asli Wonogiri. Aku adalah anak Jawa Timur. Tetapi, justru akulah yang mendirikan geng ini karena kami mempunyai kesamaan, yaitu nggragas, pemakan segala.

“Min, wayang kulit itu apa?” Aku bertanya kepada  Yahmin, anak yang paling senior didalam geng, anak asli Wonogiri. Konon Yahmin adalah anak penggemar wayang.

Yahmin menjawab,

“Wayang itu adalah sebuah cerita kuno yang diceritakan dalam bentuk bayang-bayang, para tokohnya digambarkan di atas potongan-potongan kulit kambing”. Sepertinya Yahmin agak sulit untuk menjelaskan padaku, dia melanjutkan, “Ah sudahlah, nanti kamu lihat dan nonton sendiri saja.”.

Ia berpikir sejenak kemudian berkata,

“Nanti teman-temanku akan membantu supaya geng kita ini bisa duduk di dekat kotak wayang di samping pak Dalang.” Wah, aku menjadi tambah tak sabar menunggu hari mainnya pertunjukan wayang kulit ini.

Maka pada malam diadakannya acara wayang kulit itu, berangkatlah kami, Geng Anak Gragas. Kami akan menonton wayang kulit, semalam suntuk.

Suara musik gamelan Jawa terdengar sayup-sayup dari hampir seluruh sudut kota Wonogiri. Ini karena pertunjukan wayang itu diadakan di lereng gunung sehingga suaranya terbawa angin ke mana-mana. Kami berjalan ke arah Utara dengan penuh semangat, apalagi aku anak Jawa Timur, yang belum pernah sekalipun nonton pertunjukan wayang kulit.

Kami berjalan dengan cepat karena sudah tidak sabar lagi ingin cepat sampai. Kalau bunyi gamelan terdengar keras bertalu-talu, katanya itu sedang adegan perang, maka kami pun berlari. Tetapi kalau suara gamelan terdengar agak lebih pelan, itu tandanya sedang ada adegan ‘Jejer’, artinya sedang berkumpul untuk berdialog, maka kami pun berjalan biasa lagi.

Setelah, menaiki dan menuruni lereng gunung, sampailah kami di lokasi pertunjukan, di rumah yang besar milik orang terkaya itu. Begitu kami memasuki halaman rumah tersebut, aku terpesona melihat suasananya. Didepan pendopo telah dipasang tenda yang sangat besar. Area di bawah tenda itulah yang dipakai sebagai tempat pertunjukan. Pandanganku tertuju kepada sebuah layar dari kain warna putih yang sangat lebar. Dibawah layar itu ada dua susun batang pohon pisang yang melintang sepanjang layar itu. Di sisi kiri dan kanan layar yang biasa disebut ‘Kelir’ itu, berjejer puluhan wayang yang terbuat dari kulit kambing yang ditancapkan diatas batang pohon pisang itu. Wayang-wayang kulit itu berjejer sangat rapat, bahkan hampir saling bertumpukan satu dengan yang lain.

Semua wayang tersebut menghadap ke tengah kelir. Bagian tengah-tengah kelir itulah yang dikosongkan, dan dibatasi dengan ‘Gunungan’, atau gambar gunung. Di atas lantai, didepan kelir dan batang pohon pisang itu duduk pak dalang yang akan memainkan wayang kulit itu.

Di belakang pak dalang terdapat perangkat gamelan beserta para penabuhnya yang memakan tempat yang cukup luas karena begitu banyaknya jenis alat musik gamelan. Di belakang gamelan itulah tempat duduk para penonton. Ada yang lesehan, duduk diatas kursi atau sambil berdiri berderet, sampai ke pagar. Bahkan sampai ada yang berdiri di tepi jalan depan rumah.

Disisi kanan pak dalang duduklah para ‘pesinden’, para penyanyi. Sedangkan di samping kiri pak dalang ada sebuah kotak kayu yang tebal dan besar dan panjang. Kotak itulah yang sering dipukul oleh pak dalang dengan sebuah pemukul dari kayu, “Dhok, dhorodhok dhok..” demikian bunyinya. Bunyi ini adalah sebagai pertanda pergantian dialog antar peran wayang tersebut.

Di bagian belakang, di atas pak dalang, tergantung sebuah ‘Blencong’, yaitu semacam lampu atau lebih tepatnya obor. Blencong ini bentuknya seperti ceret, yang diisi dengan minyak tanah dan di moncongnya dipasang sumbu, sehingga nyalanya selalu bergerak-gerak kalau tertiup angin. Blencong inilah yang dipakai untuk menerangi layar dan wayang-wayang yang dimainkan oleh pak dalang.

Dari belakang layar sana kita hanya bisa melihat bayangan hitam dari wayang kulit, tetapi bayangan itu terlihat seperti bergerak-gerak karena sinar dari blencong di belakangnya.

Di pendopo, dibelakang layar, disanalah tempat para tamu terhormat duduk. Mereka tidak duduk di atas kursi menghadap ke layar, tetapi mereka duduk lesehan, menghadap ke meja-meja pendek bundar. Mengapa? Rupanya para tamu terhormat itu menonton wayang kulit tidak dengan matanya, tapi dengan telinganya, karena mereka sambil sibuk main kartu!

Aneh, mereka pun ramai ribut sendiri, apalagi kalau ada yang menang, mereka berteriak keras-keras sambil membanting kartunya. Aku sebenarnya merasa kasihan kepada pak dalang yang sedang bercerita serius sesuai lakon wayang malam itu. Tetapi hal tersebut rupanya sudah biasa terjadi, jadi tidak ada yang tersinggung kecuali aku, mungkin.

Nah, lalu, dimanakah tempat untuk anak-anak? Tempat paling terhormat untuk anak-anak adalah di samping kotak, bersebelahan dengan pak dalang. Diatas tikar seluas dua kali dua meter itulah area yang diperebutkan oleh puluhan anak yang ingin menonton dengan jelas. Perebutan tempat duduk di samping kotak itu sangat keras dan terkadang kasar. Mereka saling gusur, dorong dengan mata melotot. Mereka yang terkuatlah yang bisa menguasai tempat itu. Disinilah peran Yahmin, senior di geng kami. Yahmin telah mengutus teman-temannya, anak-anak jagoan, untuk datang lebih dulu untuk ‘menduduki’ tempat terhormat itu.

Yang mulai aku amati dengan serius adalah pak dalang. Dia adalah orang yang luar biasa. Dia bisa ‘nembang’ – nyanyi dengan suara yang sangat merdu. Dia bisa menirukan suara bermacam-macam peran, puluhan mungkin ratusan peran. Setiap peran suaranya berbeda, ada yang rendah dan berat, ada yang sengau, ada yang cempreng merepet. Suara itu bisa berubah dengan sangat cepat, terutama pada saat terjadi dialog antara beberapa peran. Pak dalang konon harus menguasai lakon-lakon atau judul cerita yang jumlahnya banyak sekali. Malam itu lakonnya adalah “Petruk Dadi Ratu”— Petruk menjadi raja.

Tiba-tiba ada sebuah suara yang mengejutkan kami semua. Pak dalang memukul kotaknya dengan sekeras kerasnya dan berulang-ulang. Anak-anak yang berada di samping kotak, yang tadinya semua tertidur seperti puluhan ikan lele mati yang berserakan, serentak melompat terbangun dan langsung memusatkan perhatian ke layar. Inilah yang sudah mereka tunggu-tunggu, yaitu GORO GORO.

Goro goro, mungkin artinya adalah huru-hara yang sangat dashyat. Pak dalang melagukan suasana huru-hara ini dengan suara keras seperti ini, “Bumi gonjang ganjing, langit kelap-kelap katon…”—Bumi bergoyang-goyang dan langit bergemerlapan oleh halilintar….

Semula kukira “keributan” ini dibuat untuk menyambut kedatangan sesosok Dewa yang sangat berkuasa di langit dan bumi. Tetapi ternyata yang muncul adalah Semar dan anak-anaknya Gareng dan Bagong. Mereka adalah rakyat kecil dalam dunia pewayangan. Mereka adalah punakawan atau pelayan, yang membantu dan mendampingi sang Arjuna, seorang satria dari Amarta.

Lalu mengapa anak-anak ini sampai begitu semangat dan terbangun dari tidurnya? Rupanya karena dalam bagian Goro-goro inilah bahasa yang dipakai adalah bahasa rakyat, bukan seperti pada bagian atau adegan lain yang menggunakan bahasa Kawi yang sulit dimengerti oleh anak-anak seperti kami. Bahasa Kawi hanya dimengerti oleh mereka yang seudah biasa menonton wayang.

Dalam adegan ini terjadi dialog antara kiyai Semar dengan anak-anaknya Gareng dan Bagong. Lalu dimanakah Petruk, yang juga anaknya Semar? Dalam lakon ini, Petruk sedang minggat dan menjadi raja di sebuah kerajaan lain. Maka dalam cerita ini Semar dan kedua anaknya itu sedang mencari Petruk yang menghilang.          Pada akhirnya mereka menemukan Petruk, yang sedang duduk di singgasana kerajaannya. Ada adegan lucu yang aku ingat, yaitu Petruk, meskipun sudah menjadi ‘raja’ dan duduk di singgasana, tetapi kelakuannya ya masih seperti rakyat.

Dalam cerita itu ‘raja’ Petruk ingin mempunyai permaisuri, tetapi ia menolak semua putri-putri cantik yang ditawarkan untuknya, tak ada satupun yg membuat ia tertarik. Tiba-tiba Sang ‘raja’ Petruk melihat seorang perempuan yang melintas di ruangan itu. Lalu ‘raja’ Petruk berteriak, “Lha, itu, itu, aku mau sama yang baru lewat tadi!”.

Seluruh punggawa kerajaan mencari perempuan yang baru lewat tadi, ternyata perempuan itu adalah mbok-mbok tukang pel lantai. Adegan ini membuat semua penonton tertawa.

Di akhir lakon itu, Semar, bapaknya Petruk, berhasil mengembalikan anaknya menjadi rakyat kembali. Dan mereka kembali ke habitat semula, menjadi rakyat, abdi dari sang Arjuna, satria dari Amarta, salah satu dari lima bersaudara, Pandawa lima.

Pagi itu aku pulang menuruni gunung dengan perasaan senang dan puas. Aku telah punya pengalaman menonton Wayang Kulit, semalam suntuk. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: SR Kristiawan

Desa di Bawah Air

DESA DI BAWAH AIR

 

Seperti biasa, setiap kali masuk ke dalam suatu daerah yang baru, aku selalu tertarik untuk menyelidiki dan mengeksplorasi daerah tersebut.

Maka dengan ditemani oleh Pak Lik, aku mulai melakukan tour keliling Rumah Mbah Kaligunting ini. Rumah ini sangat luas, baik tanahnya ataupun bangunannya. Di atas halaman depan rumah, berdiri sebuah pendopo yang besar dan terbuka. Tempat itu biasa digunakan sebagai tempat pertemuan warga. Jika tidak sedang digunakan, ruangan itu ditutup dengan dinding ‘gebyok’, yaitu semacam daun pintu yang bisa di buka tutup. Di sudut depan pendopo itu ada seperangkat alat musik Gamelan Jawa.

Di belakang pendopo itu terdapat bangunan rumah utama, yang terdiri dari ruangan besar dan dikelilingi dengan kamar-kamar. Ruang tengah tersebut digunakan sebagai ruang keluarga. Di ruangan tersebut juga terdapat meja makan yang besar. Di sudut ruangan itu ada sebuah meja pendek berlubang-lubang untuk mendirikan tombak, payung besar dan lain-lain.

Di samping rumah utama tersebut, ada bangunan tersendiri yang digunakan sebagai dapur. Cukup luas untuk ukuran sebuah dapur. Di atas perapiannya, terdapat para-para untuk menyimpan padi dan persediaan makanan untuk Mbah Kakung atau jika ada tamu datang.

Yang luar biasa adalah di seluruh tempat itu tidak terdapat secuilpun bagian yang menggunakan semen. Jadi semua bangunan itu berlantai tanah dan berdinding kayu. Itulah rumah seorang kepala desa di daerah minus, desa yang kekurangan, tandus, gersang dan kering. Sungguh sangat sederhana.

Tetapi kondisi dan kesederhanaan pedesaan yang miskin itu tidak menjadi masalah bagiku yang lahir di kota. Walau bisa di katakan aku adalah “anak kota”, tetapi Tuhan sudah mempersiapkan mentalku dengan memberikan pengalaman di dalam Sepur Kluthuk selama pengungsian dulu. Di sana aku berkenalan dengan orang-orang yang sederhana dan bahkan bisa dikatakan miskin. Juga pengalaman berjalan kaki selama lebih dari lima jam, melewati tanah-tanah gersang dan kering. Itu semua yang membuatku memasuki rumah dan menghadap Mbah Kaligunting ini dengan sikap yang merunduk, hormat dan tanpa rasa gamang.

Siang itu Mbah Kakung mengajakku untuk makan siang bersama di sebuah meja makan besar, sementara Om No sudah melanjutkan perjalanan ke desanya Mbah Tanjung yang tidak jauh dari desa Kaligunting.

Tetapi aku merasa ada yang aneh. Aneh karena yang makan di meja besar itu hanya aku dan Mbah Kakung saja, sedangkan yang lain berada diluar rumah. Mereka berkumpul di dapur, termasuk Mbah Putri.

Mbah Kakung lah yang melayaniku mengambilkan nasi dan lauk nya. Tentu saja itu membuat aku menjadi merasa sedikit canggung, tapi begitulah rupanya aturan di situ. Mbah Putri hanya datang melayani kalau dipanggil saja. Setelah selesai makan dan keluar menuju ke pendopo, barulah Mbah Putri dan Pak Lik, Bu Lik makan bersama di meja makan besar itu.

Sore harinya diadakan acara kuliner ala Wonogiri. Pak Lik dan beberapa petugas desa, mengajakku pergi ke ladang luas yang terletak di depan rumah Mbah Kaligunting. Di sana mereka mencabut ketela pohon dan ubi jalar bersama-samaku. Di halaman depan rupanya sudah disiapkan api unggun yang besar. Pak Lik bertanya kepadaku, “Kamu mau ubi bakar atau ubi rebus?” Aku langsung menjawab, “Rebus, Lik.”

Tetapi setelah itu aku menjadi penasaran dan berpikir, mana mungkin kita bisa merebus ubi di atas api unggun? Apa yang dilakukan Pak Lik setelah itu sungguh menarik perhatianku. Pak Lik membungkus ubi tersebut dengan daun pisang dengan tebal. Kemudian bungkusan ubi itu dimasukkannya ke bawah bara api, bara yang sudah tertimbun dengan abu berwarna putih. Lalu mengobrol sebentar, tiba-tiba aku menciump bau wangi dari ubi rebus. Setelah daun yang hangus itu di buka, keluarlah ubi seperti habis  dikukus. Rasanya nikmat sekali, luar biasa!

“Gooo..” Tiba-tiba terdengar suara Mbah Kakung berteriak memanggil  ‘Jogo’ (penjaga). Mbah Kakung memerintahkan agar penjaga itu mengumpulkan para Niyaga (penabuh gamelan). Semua yang mendengar itu kelihatan sumringah dan gembira karena mereka tahu artinya malam ini akan ada acara ‘klenengan’, musik instrumental Jawa.

Sore itu juga aku diajak mandi di sungai yang jaraknya hanya sekitar seratus meter dari rumah.  Airnya segar dan jernih. sambil mandi aku membantu Bu Lik, mencari air bersih dengan cara membuat ‘belik’, yaitu menggali lubang di pasir di tepi sungai. Kemudian air yang ada di dalam lubang itu dikeluarkan sedikit demi sedikit, sehingga tersisalah air yang sangat jernih. Air itulah yang kemudian diambil sedikit demi sedikit untuk dibawa pulang ke rumah dengan menggunakan alat yang bernama ‘klenting’, yaitu gentong kecil yang bisa dibawa diatas pinggang. Sungguh pengalaman baru yang menarik buatku.

Malam harinya, pendopo Kepala Desa Kaligunting berubah menjadi meriah dan terang benderang oleh sinar lampu petromaks. Para penabuh gamelan pun berdatangan. Sejak saat itu pula aku mulai fokus kepada para penabuh tersebut. Dengan seksama aku memperhatikan proses mereka mempersiapkan dan membersihkan alat-alat musik gamelan yang beraneka ragam itu.

Kemudian lagu pertama pun dimulai. Aku makin serius memperhatikan, aku belajar bahwa nada musik Jawa berbeda dengan nada musik biasanya. Aku juga mulai mencari-cari, siapa sebenarnya yang menjadi dirigen, yang mengatur cepat lambat dan berakhirnya sebuah lagu. Ternyata dirigennya adalah orang yang bermain alat musik kendang. Si tukang kendang.

Kemudian aku diam-diam dan perlahan mendekat ingin ikut memainkan alat musik itu. Tetapi akhirnya aku lebih tertarik pada alat yang bernama ‘kenong’ yaitu alat yang terbuat dari kuningan, yang bentuknya seperti kue bolu kukus yang atasnya benjol. Selanjutnya aku mengamati bagaimana cara mereka menabuhnya dan juga mempelajari letak nada-nadanya.

Setelah mulai sedikit hafal, aku tinggal mencari lagu yang mudah untuk dimainkan. Kemudian mereka mengalunkan gendhing (lagu) yang berjudul ‘Sampak’. Karena menganggap lagu tersebut agak mudah, aku meminta kepada para penabuh gamelan agar lagu Sampak di mainkan berulang-ulang. Tetapi rupanya orang-orang lain di situ mulai bosan, karena lagu tersebut terus diulang-ulang.

Setelah malam larut, maka usai pula lah acara ‘klenengan’ malam itu. Para penabuh mulai beranjak pulang, lampu petromaks telah dimatikan. Tapi di tengah kegelapan malam itu masih terdengar suara ‘kenong’ yang aku mainkan, lagunya…, Sampak.

Acara terakhirku di tengah malam itu adalah melihat bintang bersama Bu Lik. Malam itu malam yang gelap, tidak ada sinar bulan. Kami berdua berbaring tidur-tiduran di halaman depan di atas selembar tikar, memandang ke atas, ke langit. Bintang-bintang terlihat sangat jelas. Bu Lik mengajariku mencari Bintang Salib Selatan. Dengan menarik garis lurus dari puncak salib ke bawah sampai ke cakrawala, itulah titik arah Selatan. Banyak nama bintang-bintang yang diberitahukan oleh Lik Nik kepadaku malam itu.

Setelah lewat tengah malam menjelang dini hari barulah aku pergi tidur, dengan perasaan yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata.

Itulah pengalamanku di desa Kaligunting, sebuah desa yang miskin, gersang, tandus dan termasuk desa minus. Tetapi itu adalah desanya Mbah Kaligunting, Mbah Kakung kandungku. Seorang kepala desa yang disegani oleh rakyatnya, oleh desa-desa sekitarnya dan oleh keluarganya. Aku sangat kagum akan kesederhanaannya juga atas pengabdiannya sebagai kepala desa di daerah yang sangat minus itu.

Pantas saja anak cucunya seperti ‘diusir’-nya dari desa itu untuk pergi keluar, untuk bertumbuh, berkembang, bersekolah dan hidup dimana pun asal jangan di desa Kaligunting.

Sejak dulu rupanya Mbah Kaligunting punya firasat bahwa desanya itu tidak mungkin akan pernah maju. Dan firasat Mbah Kaligunting itu ternyata benar. Beberapa puluh tahun kemudian, pada tahun 1978, desa Kaligunting lenyap dalam arti kata sesungguhnya, desa itu kini berada di dalam air, di dasar Waduk Gajah Mungkur.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: SR Kristiawan

Akar Garis Darah

AKAR GARIS DARAH

BARU beberapa bulan aku tinggal di Wonogiri, ketika suatu pagi saat aku sedang asik bermain di halaman rumah, tiba-tiba datang seorang tamu. Seorang tamu yang kehadirannya membuat aku sangat terkejut, tamu itu adalah Om No!

Ya, aku masih ingat betul bahwa itu adalah Om No, anaknya Mbah Tanjung, Malang. Bukankah jarak antara kota Malang dan Wonogiri ini sangat jauh? Jadi mengapa Om No bisa tiba-tiba muncul disini?

Kami berdua berbincang dan tertawa-tawa bersama mengenang masa saat masih tinggal bersama di Jalan Tanjung Gang Dua Malang dulu, dirumah Mbah Tanjung. Di rumah itu kami hanya berbeda status saja. Aku di situ sejak masih bayi, karena ayah kandungku meninggal dunia, sedangkan Om No adalah anak kandung dari Mbah Tanjung.

Meskipun dulu terkenal bandel dan sering membuliku, tetapi aku tahu bahwa Om No sebenarnya sayang padaku Kami berdua itu memiliki ikatan batin yang kuat. Mungkin juga karena kami berdua memiliki satu persamaan, yaitu sama-sama suka berpetualang. Contohnya, Om No sering menyelundupkanku ke dalam gedung bioskop, yang filmnya untuk tujuh belas tahun keatas. Sungguh kenangan yang lucu dan seru.

“Ayo ikut yuk ke desa Kaligunting.” Ujar Om No kepadaku. Mendengar ajakan mendadak itu, aku langsung berlari ke kamar mandi dan cepat-cepat berganti baju. Aku takut kalau ajakan itu akan batal, atau dilarang oleh pak Mojo.

Dalam beberapa menit saja aku sudah siap, aku berdiri tegak di samping Om No. Aku sangat yakin bahwa perjalanan bersama Om No kali ini juga akan seru. Walaupun awalnya Pak Mojo menunjukkan sikap agak kurang senang dengan rencana mereka ini, tetapi akhirnya toh kami berangkat juga menuju desa Kaligunting.

Om No dan Ompa akan mengunjungi rumah Mbah Kaligunting, ayah kandung dari ayah kandungku. Konon, Mbah Kaligunting ini adalah seorang kepala desa yang sangat disegani oleh rakyatnya dan juga oleh masyarakat desa-desa sekitarnya. Aku sungguh sudah tidak sabar ingin bertemu dengan beliau, Mbah Kaligunting. Ini adalah pertamakalinya aku akan berjumpa dengan Mbah Kakungku sendiri, Mbah Kakung kandungku.

Dengan naik Sepur Kluthuk kami berangkat dari stasiun kereta api Wonogiri menuju ke arah Selatan. Setelah berhenti dan melewati stasiun Nguntoronadi, kereta api ini tiba di stasiun terakhir, yaitu stasiun Baturetno. Kami pun turun di stasiun ini. Di stasiun ini pula lokomotif Sepur Kluthuk dipindahkan dari depan ke gerbong paling belakang, untuk kemudian kereta api akan kembali menuju Wonogiri dan Solo.

Dari stasiun Baturetno ini Ompa dan Om No harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju desa Kaligunting. Kami ditemani oleh seorang bapak dari Baturetno yang juga merupakan anggota keluarga besar Kaligunting. Bapak ini jugalah yang akan menjadi penunjuk jalan bagi Ompa dan Om No.

Kami berjalan menuju ke arah Barat. Setelah sekitar satu jam perjalanan berjalan kaki, kami kemudian berbelok ke arah Selatan. Bapak pengantar itu mengatakan bahwa ia memilih menggunakan jalan pintas, karena kalau berjalan kaki dengan rute biasa akan sangat jauh.

Perjalanan berjalan kaki ini cukup melelahkan, karena hampir semua area yang kami lewati adalah tanah yang tandus dan gersang. Di kanan kiri kami membentang lahan yang kering dengan tanah yang merekah dengan lubang-lubang menganga yang mengerikan.

Menurut bapak pengantar, kita akan menyeberangi dua sungai. Sungai yang pertama merupakan tanda bahwa kita sudah melalui setengah perjalanan, dan di seberang sungai yang kedua itulah letaknya desa Kaligunting.

Sudah hampir tiga jam perjalanan tapi kami belum juga bertemu sungai yang pertama. Walau lelah tetapi aku tetap berjalan dengan penuh semangat. Om No juga tidak mau kalah, ia berjalan lebih tegap dan kemudian mengeluarkan harmonikanya. Ia kemudian memainkan sebuah lagu, lagu perjuangan tentara Amerika seperti di dalam film perang, yang berjudul Halls of Montezuma.

Di sungai yang pertama kami harus menyeberangi sungai tanpa jembatan. Orang sekitar mengatakan perlu berjalan kaki memutar sekitar 20 kilometer untuk bertemu sebuah jembatan penyebrangan. Wah menyeberang sungai dengan masuk ke dalam air ini merupakan pengalaman baru yang seru. Air sungai pertama ini setinggi dada orang dewasa. Aku di gendong bapak pengantar di atas lehernya, kami harus berjalan dengan hati-hati agar tidak terbawa arus sungai. Pengalaman yang menegangkan, pengalaman seperti inilah yang aku sukai.

Setelah hampir 5 jam berjalan kaki lagi akhirnya tiba juga kami di sungai yang kedua. Nah sungai inilah yang namanya sungai Kaligunting. Cukup lebar juga, sekitar lima puluh meter lebih. Sungai ini juga tidak memiliki jembatan, sehingga untuk menyeberanginya lagi-lagi kami harus berjalan kaki masuk ke dalam air. Beruntung hari itu sungai tidak sedang banjir, sehingga tinggi air hanya sepinggang orang dewasa. Kali ini aku tak lagi digendong di atas leher, cukup gendong belakang di punggung pak pengantar.

Setelah mereka tiba dengan selamat di seberang sungai, aku bisa merasakan dalam hatiku bahwa aku sudah memasuki wilayah desa Kaligunting desanya Mbah Kaligunting, mbah kandungku, akar dari garis darahku, akar dari garis darah Ompa. Hatiku berdebar-debar keras sepanjang sisa perjalanan dari sungai menuju ke rumahnya. Ini luar biasa, aku akan bertemu dengan Mbah Kakung kandungku

Saat akhirnya tiba di rumah Mbah Kaligunting, Mbah Kakung, Mbah Putri dan seluruh isi rumah itu terlihat heboh menyambut kedatangan kami.

Kami kemudian langsung duduk beristirahat, karena kelelahan setelah mengadakan perjalanan panjang tadi. Saat itu tiba-tiba aku mulai merasa agak kikuk dengan suasana yang ada. Aku merasa bahwa seisi rumah itu terus memandangiku, seakan ada yang aneh pada diriku.

Tiba-tiba Mbah Kakung berteriak dengan kerasnya, “Degan, degan, penekno degaan. – panjatkan kelapa muda”. Maka dalam waktu tidak lama, belasan kelapa muda disuguhkan, dan kami semua menikmati segarnya kelapa muda, asli desa Kaligunting.

Setelah melepas rasa haus dengan air kelapa muda, akhirnya aku mulai mengerti mengapa orang seisi rumah Mbah Kaligunting ini memandangiku. Hal ini rupanya karena aku adalah cucu dari anak lelaki pertama, dari sepuluh anak dari Mbah Kaligunting.

Mbah Putri berkata kepada Ompa, “Bapakmu dulu lebih ganteng daripada kamu.” Kata-kata itu langsung membuat aku menjadi penasaran ingin sekali melihat wajah almarhum bapak kandungku, tetapi seluruh keluarga di rumah itu kemudian mengatakan bahwa tak ada satupun foto dari ayah kandungku. Aku mendadak menjadi sedikit sedih dan kecewa

Tetapi hari itu sungguh hari yang luar biasa untukku, aku merasa bagaikan seorang ‘tamu kehormatan’ di rumah Mbah Kaligunting. Semua orang seakan ingin melayani aku, termasuk Pak Lik (om) atau Bu Lik (tante). Aku merasakan ‘rasa’ yang berbeda, aku merasa sepeti mendapatkan guyuran kasih sayang dari saudara-saudaraku sepertalian darah.

Hari itu aku juga melihat bahwa Mbah Kakung tidak saja sangat disegani oleh rakyat di desanya, tetapi juga oleh keluarganya sendiri. Dirumah itu Mbah Kakung terlihat “angker” dan sangat berwibawa. Apapun yang diperintahkannya, semua orang tergopoh-gopoh untuk melaksanakannya. Itulah Mbah Kaligunting, Mbah Kakung kandungnya Ompa, sosok yang sangat berwibawa. Dia lah akar dari garis darahku. Aku terkagum.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: SR Kristiawan

Demam Perang

DEMAM PERANG

Beberapa hari terakhir ini aku merasa galau dan mudah marah. Ini semua karena aku dan teman-temanku telah dilarang bermain perang-perangan lagi.

Para orang tua kami mengeluarkan larangan itu karena mereka menganggap bahwa memang perang telah selesai. Apa lagi permainan perang  antar kampung yang biasa kami lakukan itu selalu meninggalkan bekas ‘kerusakan’ yang menurut mereka cukup parah.

Banyak tanaman di pinggir jalan dan di kebun jatuh terkapar bertumbangan. Di atas jalanan, halaman bahkan atap rumah dipenuhi bubuk warna putih bagaikan salju. Keadaan ini semua terjadi karena kami bermain perang-perangan dengan cara saling melempar ‘granat lontong’ yaitu kantong kertas yang bentuknya seperti lontong dan diisi dengan bubuk kapur, atau gamping.

Para orangtua di seluruh kota dengan tegas menganggap bahwa kota Wonogiri telah aman. Tetapi aku sungguh tidak setuju. Menurutku perang belum sepenuhnya selesai, karena aku masih merasakan adanya ‘demam perang’ yang melanda, baik bagi anggota Geng Anak Gragas dan juga bagi semua anak-anak di Wonogiri. Aku pun jujur mengakui bahwa level ‘demam’-ku lah yang paling tinggi dan parah. Karena itu aku tegas tidak setuju dengan adanya larangan permainan perang-perangan itu.

Kemudian aku kumpulkan semua anggota GAGAS, Geng Anak Gragas, di basecamp kami, di dekat kuburan di tepi sungai Bengawan Solo. Aku sampaikan gagasanku kepada mereka.

“Wahai teman-teman seperjuangan, sadarlah, kita tidak bisa tinggal diam saja menghadapi pelarangan atas kegiatan main perang-perangan ini!” Para anggota GAGAS duduk rapih menyimak pidatoku yang kali ini berapi-api. Aku lihat mereka menyetujui akan pandanganku ini, mereka mendengar sambil mengangguk-anggukan kepala.

“Teman-temanku, inilah saatnya, sudah tiba waktunya kita semua harus bergerak dan melakukan sebuah aksi. Ayo, sesegera mungkin kita akan mengadakan sebuah….. Sandiwara Perang!.

Kemudian kusampaikan garis besar dari rencana tersebut dan menyatakan bahwa Sandiwara Perang ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, pekan depan.

Yang akan menjadi tim inti dari pertunjukan ini adalah seluruh anggota GAGAS. Mendengar ini posisi duduk mereka semakin tegak, mengambil sikap sempurna, sambil mata mereka menatap ke arahku dan seakan berkata, “Siap, komandan!”.

Aku pun bergerak cepat. Tempat pertunjukan pun sudah kutetapkan, yaitu di teras depan rumah Pak Mojo, di Jalan Jurang Gempal. Teras depan rumah itu cukup luas, dan terbuka, hanya dibatasi dengan pagar tembok setinggi pinggang yang berlubang-lubang, sehingga bisa kelihatan juga dari luar. Sebagai panggung kami akan menggunakan kamar tamu depan yang pintunya cukup lebar.

Aku pun langsung menghadap ke pak Mojo, ayah angkatku, dan menyampaikan rencana besar tersebut yang akan menggunakan teras depan dan ruang tamu miliknya. Seperti biasanya, Pak Mojo, jika sudah melihat sikapku yang menggebu-gebu seperti itu, beliau hanya diam, itu tandanya ia tidak setuju dan tidak menolak. Dan aku pun dengan cepat langsung menganggap bahwa pak Mojo telah setuju.

Langkah berikutnya adalah mencari pemain. Aku akan melibatkan teman-teman SD-ku, termasuk kakak-kakak kelasku, yaitu kelas empat sampai kelas enam. Aku kemudian mulai menyebarkan berita, dari mulut ke mulut, bahwa aku akan mengadakan sebuah Sandiwara Perang.

Berita tersebut dengan cepat menyebar. Aku bisa merasakan hal itu, karena kemanapun aku berjalan, anak-anak memandang diriku dengan penuh kekaguman. Beberapa anak bahkan sengaja mendekatiku, bertanya tentang rencana sandiwara ini. Tentu saja aku tahu, bahwa mereka mendekatiku karena berharap akan terpilih menjadi salah satu pemain sandiwara ini.

Kemudian aku menunjuk empat orang anak yang akan memerankan tentara Belanda. Caraku memilih keempat orang anak ini cukup mudah. Asalkan mukanya cukup tampan, kulitnya tidak terlalu gelap, dan hidungnya tidak pesek.  Mereka semua aku kumpulkan di Posko, yaitu di kebon kosong di seberang sekolah, di bawah pohon kenari. Aku katakan kepada para calon ‘tentara belanda’ itu.

“Kalian semua harus bangga karena terpilih, ini bukti bahwa kalian itu cukup tampan.” Mereka kelihatan sangat senang dengan pujian dariku ini. “Kalian harus beritahukan kepada orang tua kalian akan rencana ini, ingat, beri tahu bukan minta ijin.” ujarku.

“Dan jika ada orang tua kalian yang tidak setuju, kalian akan aku ganti dengan anak lainnya. Rupanya caraku ini berhasil. Keesokan harinya mereka semua membawa kabar bahwa orang tua mereka mendukung, bahkan ada seorang ibu yang akan membuatkan seragam tentara Belanda untuk keempat anak itu. Mendengar itu aku hanya senyum-senyum kecil sambil mengangguk-angguk. Padahal di dalam hati aku bersorak keras kegirangan.

Dengan cara yang sama aku pun menunjuk pemeran-pemeran lainnya: tentara kita, juru rawat, rakyat, dan lain-lainnya. Bantuan dari para orang tua pun mulai banyak mengalir. Mungkin para orang tua itu juga sudah tertular penyakit “demam perang”, terkena demam perjuangan para pahlawan kita. Atau mungkin kalau tidak mendukung mereka takut nanti dikira pro Belanda.

Begitulah caraku mempersiapkan sandiwara perang ini. Semua hal aku urus dan aku atur sendiri. Aku hanya mempercayakan kesuksesan proyek besar tersebut kepada anggota gengku, geng GAGAS.

Dengan rutin aku sering mengumpulkan mereka di posko, dibawah pohon kenari. Karena mereka inilah yang nantinya akan mempersiapkan panggung dan latar belakangnya.

Latar belakang panggung kami akan berupa hutan yang rimbun dan ada sedikit atap rumah dan sebuah bangku panjang di tengahnya. Untuk mempersiapkan itu semua, bagi anak GAGAS, bukanlah menjadi masalah.

“Darah!” kataku tiba-tiba. Mendadak aku baru teringat, bahwa darah sangat diperlukan untuk nanti dioleskan pada pemeran tentara kita yang luka-luka. Aku kemudian berpikir bahwa kita harus segera menghubungi rumah sakit.

Tetapi tiba-tiba Yahmin berkata, “Kalau perkara darah, biar aku yang urus.” Aku terbengong dan membatin, bagaimana caranya Yahmin akan mendapatkan darah?. Tetapi, seperti biasa, Yahmin berdiri sambil tersenyum dan lalu pergi memetik daun jati yang lebar dan kasar seperti amplas itu. Kemudian daun jati tersebut di remas-remasnya, dan ajaib, daun jati itu berubah menjadi berwarna merah seperti darah. Hebat kau Yahmin!

Maka, hari H yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sandiwara Perang sore ini akan dipentaskan. Aku mengambil keputusan bahwa tidak perlu gladi resik, aku berkata, “Ini adalah sandiwara perang, sandiwara ini minim dialog.”

Untuk setiap adegan, aku hanya memberikan garis besarnya saja kepada para pemain. Kuberikan arahan bahwa yang utama adalah adegan perang, saling menyerang. Tentara Belanda menyerang tentara kita, lalu kita balas dengan serangan gerilya. Lalu ada adegan seorang tentara kita yang luka dan ditolong oleh seorang suster cantik, berlanjut dengan adegan perpisahan antara suster cantik itu dengan tentara yang akan maju berperang.

Adegan terakhir adalah tentara Belanda diusir pergi oleh tentara kita. Jadi kebanyakan adalah suara tembakan dan bom, suara-suara ini akan dibuat menggunakan mesiu dari peluru sungguhan yang kami temukan dari sisa bekas perang yang lalu.

***

Sore itu para penonton mulai memenuhi teras depan rumah Pak Mojo. Pementasan Sandiwara Perang pun dimulai. Suara-suara ledakan mulai berdentuman. Bau mesiu menyengat tajam tercium hingga ke jalan raya. Orang-orang yang sedang lewat berbondong-bondong masuk ke halaman rumah Pak Mojo, mereka ingin menonton apa yang sedang terjadi.

Suasana tiba-tiba menjadi sunyi sewaktu adegan perpisahan antara suster cantik yang akan ditinggal kekasihnya ke medan perang. Terjadi dialog yang memilukan antara keduanya.            Aku pun sempat bingung, entah dari mana mereka dapatkan dialog yang panjang dan mengharukan itu. Mungkin mereka dilatih oleh orang tuanya. Aku sendiri sempat terkesima sampai-sampai aku tak sadar bahwa adegan itu sudah melewati batas waktunya.

Aku baru saja hendak berdiri untuk memotong adegan itu, ketika aku mengintip ke arah penonton. Aku melihat banyak penonton yang terharu, bahkan banyak ibu-ibu yang mengusap air matanya. Apalagi sewaktu suster cantik itu menyerahkan sapu tangannya kepada kekasihnya sebagai kenang-kenangan dan disimpan sewaktu dirinya berada medan perang.

Adegan terakhir sebagai klimaks adalah adegan sewaktu tentara Republik berhasil mengusir tentara Belanda penjajah dari kota Wonogiri. Semua penonton bersorak dan bertepuk tangan.

Sebagai penutup, semua pemain berdiri di depan panggung, untuk menyambut tepuk tangan penonton yang panjang itu. Aku pun kemudian maju ke depan, untuk memberikan pidato penutup.

Dengan lantang aku berkata kepada para penonton. “Bapak Ibu dan saudar-saudara sekalian, ayo kita semua menghormati para pejuang yang sudah membebaskan kita dari penjajahan. Para orang tua juga diharapkan menghargai anak-anak, merekalah kelak yang akan menggantikan para pejuang kemerdekaan kita itu.”

Sebagai akhir kata, Aku mengajak para penonton untuk mengucapkan tekad kita.

“Sekali merdeka……..”

Semua penonton menjawab serempak

“Tetap merdekaaa!!!…….”.

Demikianlah Sandiwara Perang pun berakhir dengan sukses. Aku sangat puas dan tidak galau lagi. ‘Demam’-ku sudah hilang. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Gunung Gandul

GUNUNG GANDUL

HARI ini, cita-citaku untuk mendaki Gunung Gandul akan segera tercapai. Bukit ini menjulang tinggi di sisi barat kota Wonogiri. Aku bersama empat orang temanku di SDN 3 Wonogiri sudah berkumpul di stasiun kereta api kota Wonogiri.

Stasiun ini letaknya tepat di kaki Gunung Gandul. Kami sudah siap, hanya tinggal menunggu kedatangan dua anak perempuan lagi yang sudah berjanji akan ikut mendaki bersama.

Sambil menunggu, iseng-iseng aku bertanya kepada teman-temanku, “Siapa yang pernah melihat Gunung Gandul ini dari seberang bukit, dari sisi barat?”. Mereka hanya melongo mendengar pertanyaanku itu, mungkin mereka tidak menduga ada pertanyaan semacam itu. Maka aku menjadi paham, bahwa mereka memang belum pernah melihat bukit ini dari sisi sebaliknya. Maklum, mereka semua dilahirkan di kota ini, yang terletak di sisi timur dari Gunung Gandul, sejak lahir mereka hanya melihat bukit ini dari sisi timur,

Sangat berbeda dengan diriku, justru pertama kali aku melihat Gunung Gandul ini adalah dari sisi sebelah barat. Begini ceritanya.

***

Akibat dari perang yang terjadi, beberapa tahun lalu aku dan keluargaku mengungsi dari kota Solo ke kota Wonogiri ini dengan menggunakan kendaraan truk besar. Sepanjang perjalanan itu aku  berdiri di pinggir bak truk bagian depan yang membuatku bisa dengan jelas menikmati pemandangan selama perjalanan.

Dengan truk besar ini, dari kota Solo kami menuju ke arah selatan, melewati jalanan yang datar dengan pemandangan yang indah. Kami melewati banyak persawahan, desa-desa. Semakin ke selatan aku bisa melihat dengan jelas bahwa kondisi tanahnya terlihat semakin gersang dan kering.

Setelah truk kami berbelok menuju ke arah timur, aku dikejutkan oleh pemandangan yang menarik. Jauh di hadapanku terlihat sebuah perbukitan yang tinggi, yang membujur dari utara ke selatan. Bukit-bukit ini bagaikan sebuah barisan, ada yang rendah dan ada yang tinggi. Deretan perbukitan ini semakin lama semakin dekat, membuat diriku semakin bersemangat dan bergairah.

Ketika aku menoleh ke kanan aku melihat, di atas salah satu puncak bukit yang tertinggi, ada  bukit lagi berwana kehitaman. Ini sangat berbeda dengan deretan bukit lainnya yang berwarna coklat tanah. Pemandangan ini sangat menarik perhatianku.

“Pak, itu batu atau bukit?” tanyaku pada seorang bapak yang duduk dibelakangku. Bapak itu menjawab sambil matanya hampir terpejam menahan kantuk, “Itu bukit batu,” katanya lirih. Wah ini luar biasa, pikirku, mungkin ini adalah keajaiban dunia! Ada sebuah batu raksasa yang tumbuh di puncak bukit! Aku kemudian berpikir keras tentang hal ini, sambil tetap menatap kagum kepada bukit batu ajaib itu.

“Itu namanya Gunung Gandul nak, ” kata si bapak itu kemudian tanpa aku harus bertanya. Rupanya dia tahu bahwa aku sedang memperhatikan bukit batu tersebut, Gunung Gandul.    Mendengar nama itu spontan aku melihat ke arah langit diatas batu itu. Batu sebesar itu nggandul  (menggantung) kemana? Aku sudah berusaha mencari-cari tetapi tidak kutemukan seutas talipun yang menggantung batu itu.

Kemudian aku memberanikan diri untuk bertanya lagi ke bapak tadi, “Pak, mengapa namanya Gunung Gandul?”. Dijawabnya singkat, “Yo embuh! – Entah ya!” Mendengar jawaban itu, aku menjadi paham, artinya titik. No more question, ia tidak mau aku bertanya lagi. Tapi bukankah aku tidak boleh mudah menyerah? Aku harus mencari akal. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya aku menemukan pertanyaan lain, yang bukan tentang Gunung Gandul.

Aku bertanya, “Pak, Wonogiri masih jauh ya?”. Eh, bapak itu menjawab juga, “Nggak jauh lagi, setelah kita melewati bukit di depan ini, belok kanan, di situlah Wonogiri, dibawah Gandul.”

Wah, kota Wonogiri letaknya ada di bawah Gunung Gandul?  Jawaban itu membuatku semakin bersemangat dan penasaran tentang kota Wonogiri beserta Gunung Gandulnya ini.

Tiba-tiba truk kami berhenti di pinggir jalan, hanya sebentar, rupanya ada beberapa orang  yang akan turun di sini. Sewaktu aku melihat ke keatas tebing di sisi kanan jalan di lereng perbukitan itu, aku dikejutkan lagi oleh sebuah pemandangan yang  juga sangat menarik. Aku melihat ada sebuah batu yang sangat besar, sebesar gedung bertingkat tiga.

Batu yang bentuknya lonjong seperti telur itu bertengger di pinggir tebing curam tersebut. Yang aneh dan menarik adalah, batu besar itu di bersandar pada sebuah pohon.

Pohon itu terlihat sudah sangat tua umurnya. Kulitnya terkelupas, mungkin karena kelelahan memangku batu raksasa itu. Bagiku, terus terang ini agak mengerikan. Kalau tebing curam itu longsor atau pohon itu tumbang karena tidak kuat lagi menahan batu, maka batu sebesar itu akan jatuh dan menutupi seluruh jalan raya. Aku tak berani membayangkannya.

“Batu itu namanya Plintheng Semar, sudah seperti itu sejak ratusan atau mungkin malah ribuan tahun yang lalu,” kata bapak yang tadi duduk di belakangku sambil bangkit berdiri. Plintheng Semar?

Lagi-lagi aku mulai berpikir keras, sambil membayangkan. Kalau batunya saja sebesar itu, lalu sebesar apa plintheng (ketapel) nya? Dan sebesar apa pula pak Semar nya? (Semar adalah nama seorang tokoh dalam dunia pewayangan).

Belum selesai aku mencoba mengkalkulasinya, truk kami sudah mulai bergerak lagi menuruni jalan memasuki kota Wonogiri. Kini di hadapanku terhamparlah pemandangan kota Wonogiri yang mempesona.

Tetapi kemudian kepalaku kembali dipenuhi dengan berbagai pertanyaan menarik yang belum juga terjawab. Gunung Gandul, menggantung dimana? Plintheng Semar, sebesar apa plinthengnya dan sebesar apa Semarnya? Semua pertanyaan itu harus kutemukan jawabannya. Menurutku ini sungguh menantang.

***

            Akhirnya, kedua anak perempuan yang kami tunggu-tunggu, yang mau ikut mendaki, tiba juga di stasiun tempat mereka berkumpul. Kedua anak perempuan ini terlambat cukup lama.

Hal ini membuat aku agak jengkel sambil kemudian berpikir, maklum, salah satu dari mereka adalah si Vinny. Seorang anak perempuan yang merasa, paling cantik di kelasku. Tetapi kenyataan sebenarnya Vinny memang cantik, berbeda dengan anak-anak perempuan lainnya. Kulitnya kuning langsat, seperti anak orang Belanda, mungkin karena alasan itu dia suka sok merasa paling cantik. Dan mungkin karena alasan itu juga lah, dia suka bergaya acuh tak acuh terhadapku.

Akhirnya kami siap memulai pendakian ke puncak Gunung Gandul. Kami menyeberangi rel kereta api dan jalanan langsung menanjak. Awalnya kami melewati perkampungan, setelah itu melewati jalan setapak yang menanjak curam. Baru setengah perjalanan teman-temanku sudah tampak kelelahan, mereka minta beristirahat dibawah pohon.

Aku merasa sedikit jengkel berjalan bersama mereka. Sudah jalannya lambat, sering beristirahat pula. Sambil tertawa dalam hati aku berpikir, Mungkin di situlah bedanya, mereka itu kan anak rumahan yang “kurang gizi”, sedangkan Ompa anak berandalan, pemakan serangga, tapi “kelebihan gizi”.

Setelah beberapa jam berjalan akhirnya kami mencapai puncak, yaitu di kaki bukit batu itu. Pemandangan dari tempat itu sungguh indah. Kami bisa melihat kota Wonogiri dan sungai bengawan Solo dengan jelas. Tetapi aku berpikir dan mengamati sekitar, lokasi ini bukanlah puncak yang sebenarnya. Menurutku yang dinamakan puncak sebenarnya adalah puncak di atas Gunung Gandul, di atas bukit batu itu.

Kebanyakan orang kalau sudah tiba di bawah bukit batu, mereka anggap mereka telah mencapai puncak Gunung Gandul. Menurutku pendapat itu salah kaprah. Karena dari sisi timur, untuk mencapai puncak bukit batu itu harus memanjat sebuah tebing tegak lurus keatas.

Kemudian aku berkata kepada semua teman-temannya, “Ayo, siapa yang mau ikut saya ke puncak batu di atas sana?”. Mereka semua kaget. Ada yang memandangku dengan pandangan memelas yang seolah mengatakan, “Ampun…” Ada yang tiba-tiba lari ke belakang semak-semak, entah mau apa ke sana.

Karena tidak ada diantara mereka yang berani ikut, maka aku pun berjalan sendirian menuju ke bukit batu itu.

Aku tidak mendaki dari sisi timur, tetapi aku merayap dulu menuju ke sisi barat. Tentu saja aku berani melakukan ini karena aku pernah melihat batu ini dari sisi barat.

Aha… , ternyata perkiraanku benar. Seperti yang pernah kulihat dari sisi barat dulu, di sisi ini  ternyata tanahnya lebih tinggi, sehingga menjadi lebih mudah untuk mencapai puncak batu itu. Apalagi aku tinggal mengikuti bekas jejak-jejak kaki pendaki sebelumnya saja yang ada di bebatuan itu.

Namun mendekati puncak, ada kesulitan menghadang: batunya terbelah dua! Oh, oh, apa yang harus  kulakukan? Aku berpikir sejenak… Ya, ya, aku akan merayap naik melewati terowongan belahan batu itu. Keluar dari terowongan itu, aku tinggal memanjat dinding batu sekitar sepuluh meter lagi.

Setelah berjuang keras memanjat, sampailah aku di puncak sebenarnya dari Gunung Gandul ini. Aku juga menemukan ada dataran di puncak, tapi hanya sekitar lima meter saja lebarnya dan miring. Membuat aku harus ekstra hatihati.

Aku puas dan bangga. Dari puncak itu aku bisa melihat dengan jelas ke seluruh arah. Timur, barat dan seluruh perbukitan yang membujur dari utara ke selatan.

Selama perjalanan turun, Vinny, temanku anak perempuan yang (sok) Belanda itu, selalu berjalan di sampingku. Ia menyimak mendengarkan cerita ‘kepahlawanan’ku, kisah perjuanganku memanjat tebing tadi.

Tentu saja cerita itu telah kutambahkan dengan bumbu-bumbu, agar terlihat bahwa diriku lebih hebat dibanding teman-temannya yang lain. Sementara aku berjalan dan mengobrol berdua bersama Vinny, anak-anak lainnya mengikuti kami dari belakang, mereka diam saja. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Pak Bende

Sketsa ilustrasi oleh Tjatri Devi

PAK BENDE

Setelah perjalanan yang panjang, mulai dari Mojokerto, Jombang dan Solo, akhirnya pengungsian Ompa dan keluarga berakhir di Wonogiri. Di sanalah mereka akhirnya menetap, dan perlahan-lahan Ompa pun mulai berkenalan dengan kota yang indah ini, juga belajar bergaul dengan orang-orangnya.

Belum lama tinggal di Wonogiri, suatu hari Ompa melihat seorang lelaki yang sangat menarik. Setiap kali melihat laki-laki itu, Ompa selalu dibuat penasaran. Betapa tidak! Laki-laki itu sangat terkenal dan selalu hadir di tengah masyarakat kota Wonogiri. Ia bertubuh kurus, usianya sekitar lima puluh tahunan. Ia selalu mengenakan blangkon dan baju lurik lengan panjang. Tangan kirinya selalu memegang sebuah bende, gong kecil, yang tergantung pada seutas tali. Sedangkan tangan kanannya memegang tongkat pendek yang digunakan memukul bende.

Tak seorang pun tahu nama laki-laki itu. Ia hanya dikenal dengan nama Pak Bende, karena ke mana-mana selalu membawa bende.

Siapa sih Pak Bende ini sebenarnya? Mengapa ia selalu blusukan ke sudut-sudut kampung di seluruh Wonogiri? batin Ompa setiap kali melihat laki-laki kurus itu. Makin hari Ompa makin penasaran, tak lelah-lelah ia mencari tahu tentang jati diri Pak Bende. Semua orang ditanyainya. Tapi semua orang hanya dapat menggeleng. Mereka tahu siapa Pak Bende, tapi… siapa persisnya nama sesungguhnya, juga apa persisnya pekerjaan laki-laki itu, tidak seorang pun yang tahu.

Lalu pada suatu hari seseorang berkata pada Ompa, “Pak Bende? Oh… dia itu Juru Penerang.” Ompa kagum bukan buatan mendengar istilah itu. Juru Penerang? Apa itu?
“Juru Penerang tugasnya memberi penerangan dan informasi kepada seluruh rakyat kota Wonogiri, agar warga tahu apa yang akan terjadi pada hari itu.” Mendengar itu Ompa hanya bisa mengangguk-angguk. “Nah, sekarang, apakah kamu tahu apa itu Bende?” orang itu ganti bertanya. Ompa berpikir sebentar. Ia tahu, bende itu gong. Tapi apa persisnya, ia tidak tahu. Maka dengan enggan ia pun menggeleng. “Yah, aku sendiri juga tidak tahu jawabnya. Itu sebabnya aku tanya,” orang itu berkata lalu tertawa.

Tapi bukan Ompa jika ia tidak mencari jawabannya hingga jelas sejelas-jelasnya. Maka ia pun segera bertanya sana-sini dan mengumpulkan berbagai informasi. Dan sebelum hari itu berakhir, Ompa sudah tahu bende adalah gong kecil dalam perangkat gamelan Jawa, dan termasuk dalam kelompok gong.

Kelompok gong ini semua tergantung pada tali dan dikaitkan pada kayu panjang yang diukir dengan indah. Gong paling besar biasanya hanya dipukul sekali saja sebagai tanda penutup pada akhir lagu. Gong itu suaranya rendah, berat, dan gemanya berdengung sangat panjang. Namun jangkauan suara gong tidak terlalu jauh.“Guunngggg…,,” demikian bunyinya, mantap dan agung.

Tapi bende si gong kecil, suaranya lebih kecil dan nyaring: “ Dung, dung, dung…” Dan walaupun kecil, jangkauan suaranya bisa mencapai satu kilometer bahkan lebih, tergantung medannya, apakah tertutup atau terbuka. Itulah sebabnya Pak Bende selalu menggunakan bende.

Setiap hari Pak Bende menyusuri jalanan di seluruh kota. Pada setiap perempatan, Pak Bende berhenti dan memukul bende-nya beberapa kali: “Dung, dung, dung…” Kemudian ia akan berbicara dengan suara sangat nyaring, bagaikan menggunakan pengeras suara. Ucapannya pun sangat jelas. Mungkin karena itulah ia diangkat sebagai juru penerang. Pak Bende berbicara cukup panjang dan menggunakan bahasa Jawa Tinggi.

Ia berkata, “Woro woro, poro piyantun kakung miwah putri—pengumuman bagi para priyayi pria maupun wanita. Lanjutnya, “Ing dalu meniko bade wonten pagelaran ringgit wacucal—pada malam ini akan diadakan pertunjukan wayang kulit…”

Demikian seterusnya dan seterusnya. Semua orang di sekitarnya akan mendengarkan apa yang disampaikan Pak Bende dengan saksama. Mereka yang merasa kurang pendengarannya mulai mendekat supaya bisa menyimak lebih jelas apa yang dikatakan Pak Bende.

“Wah, informasi yang disampaikan Pak Bende selalu cukup banyak,” Ompa memperhatikan dengan penuh kekaguman. Misalnya tentang wayang kulit, tempat pertunjukan, mulainya jam berapa, siapa dalangnya, dan apa lakon yang akan dimainkan. Tetapi bukan itu yang membuat Ompa paling terkesan, melainkan karena Pak Bende selalu dapat menyampaikan semua itu tanpa menggunakan catatan.

“Hmmm… mungkinkah karena Pak Bende tidak bisa baca-tulis, maka ia hanya menggunakan ingatannya?” Dan bersama dengan setiap pertanyaannya yang tak terjawab itu, Ompa kecil pun semakin penasaran tentang kemampuan ingatan Pak Bende ini.

Maka suatu hari Ompa diam-diam sengaja mengikuti Pak Bende. Nah, benar juga, pada setiap pemberhentian selalu ada saja informasi yang terlewat untuk disampaikan. Kadang-kadang Pak Bende lupa menyebut nama dalangnya, tempat pertunjukan, atau yang lainnya. Pantas saja setiap selesai satu pengumuman, selalu ada saja orang yang mendekatinya untuk menanyakan tentang apa yang lupa diinformasikannya tadi. Dan Pak Bende dengan sabar dan bangga selalu melayani pertanyaan orang-orang itu.

Pernah suatu kali Ompa mengingatkan Pak Bende bahwa ada lagi yang kelupaan untuk disampaikan. Pak Bende kaget, memandang ke arah Ompa, dan menarik napas panjang. Lalu ia berjalan meninggalkan Ompa sambil berkata, ”Yo, wis ben wae—Ya, sudahlah, biarkan saja.” Setelah itu tanpa merasa bersalah ia pun melanjutkan perjalanannya sebagai juru penerang.

Kedatangan Pak Bende selalu dirindukan segenap warga kota Wonogiri. Satu minggu saja Pak Bende absen, seluruh lapisan warga pun langsung gelisah bertanya-tanya. Tak peduli tua, muda, anak-anak, apalagi ibu-ibu. Mungkin itu karena Pak Bende orangnya ramah dan terkadang senang menggoda ibu-ibu.

Setiap kali terdengar suara bende sayup-sayup di kejauhan, semua warga kota langsung penasaran dan bersiap mendengarkan berita yang ia sampaikan. Tapi kadang-kadang tiba-tiba suara bende menghilang, padahal orangnya belum lewat di tempat kami. Jika itu terjadi, orang-orang pun ribut, bertanya-tanya ke manakah laki-laki kurus itu. Ternyata Pak Bende sedang beristirahat sambil makan di warung.

Pak Bende selalu menjalankan tugasnya dengan setia dan tak kenal lelah. Ia menyusuri jalanan kota Wonogiri dari pagi hingga petang. Dengan hanya menggunakan bende dan suara nyaringnya, ia mampu mewartakan berbagai berita yang ditunggu-tunggu seluruh masyarakat kota Wonogiri.

Setiap kali matahari telah bersembunyi di balik Gunung Gandul, Pak Bende pun pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya. Ia merasa senang dan puas, tahu seluruh rakyat Wonogiri saat itu merasa senang setelah mendengar kabar malam itu akan ada pergelaran wayang kulit semalam suntuk di Pendopo Kabupaten, Wonogiri. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Rosi L Simamora

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Renang Gaya Batu

Sketsa Ilustrasi karya: Tjatri Devi

RENANG GAYA BATU

SEMAKIN hari aku merasa semakin bangga menjadi anggota GAGAS, Geng Anak Gragas. Mengapa? Salah satunya adalah karena aku merasa beruntung bahwa tiga temanku anggota lainnya adalah putra daerah, Wonogiri. Mereka telah mengenal wilayah ini sejak lahir. Mereka mengetahui semua, sampai hal yang sekecil-kecilnya.

Apalagi yang namanya Yahmin, dia adalah anak yang paling tahu segala hal. Disamping itu Yahmin juga rajin mengajari aku, anak Malang ini. Sering kuceritakan pada Yahmin bahwa sewaktu aku masih tinggal di Malang, aku pernah menjadi anggota GATAN, Geng Anak Tanjung, Malang.

Kepada Yahmin aku ceritakan pula tentang kehebatan si Cacak, pemimpin GATAN di Malang, tentang penjelajahan kami dari kampung ke kampung, tentang Cacak yang selalu memimpin barisannya dengan tongkatnya, dan sebagainya. Yahmin mendengarkan semua itu hanya dengan senyum-senyum sambil diam saja.

Siang itu, setelah kami selesai menikmati pesta belalang dan burung bakar, Geng Anak Gragas melanjutkan perjalanan. Kali ini kami bergerak menuju ke sungai. Tiba-tiba Yahmin berteriak, “Le, ayo nglangi, leee.. – Ayo kita berenang”. Kemudian kami berlari kencang menuju ke tepi sungai Bengawan Solo yang besar itu. Dari atas tebing yang cukup tinggi di tepi sungai itu, anak-anak melepaskan baju dan celana, lalu mereka menceburkan diri ke sungai.

Demi solidaritas, aku pun melakukan hal yang sama. Tanpa pikir panjang aku cepat-cepat melepaskan baju, celana dan kemudian byuurr….., aku sudah terjun ke dalam sungai. Dan apa yang tidak aku duga-duga pun terjadi. Aku lupa bahwa sebenarnya aku tidak bisa berenang!

Yang terjadi berikutnya adalah peristiwa yang pasti sulit untuk kulupakan seumur hidupku. Tubuhku sudah berada di dalam air. Tadinya aku bermaksud ingin mencabut keputusanku untuk terjun ke air, tetapi itu tidak mungkin lagi karena aku merasa bahwa tubuhku sedang merosot terus ke bawah, di dalam air itu, semakin lama dalam. Kemudian aku sempat beharap agar kakiku akan segera sampai ke dasar sungai untuk kemudian aku akan mencoba melompat kembali ke atas, ke permukaan.

Tetapi yang terjadi adalah kakiku tidak juga menginjak sesuatu. Aku mendadak menjadi panik. Ini tidak boleh terjadi. Aku merasa badanku terus merosot ke bawah. Aku juga merasa sudah tidak tahan lagi menahan napas, air pun mulai masuk ke dalam mulutku. Tetapi kakiku belum mencapai ke tanah juga. Aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya pasrah membiarkan tubuhku tenggelam. Yang terakhir terlintas di pikiranku, sewaktu aku berada di dalam air sungai yang tanpa dasar itu, adalah muka si … Cacak.

Tiba-tiba aku sudah tergeletak di atas rerumputan di pinggir sungai. Aku merasa kepalaku sudah berada di atas tanah, sedangkan kakiku ada yang mengangkat ke atas. Lalu keluarlah banyak air dari dalam mulutku. Kemudian aku terduduk sendirian sambil masih terbatuk-batuk. Sedangkan teman-temanku anak-anak geng sudah kembali berenang.

Dalam kesendirianku itu, aku berpikir lagi mengenai Cacak. Mengapa dulu dia tidak mengajariku berenang? Apakah dia, sang pemimpin Geng Anak Tanjung, Malang, yang legendaris itu juga tidak bisa berenang? Padahal aku telah menyanjung-nyanjung dirinnya di depan si Yahmin. Aku jadi merasa malu pada Yahmin, yang telah mendengarkan tentang kehebatan Cacak sebagai pemimpin. Pantas saja Yahmin saat itu hanya diam sambil senyum-senyum saja. Mungkin begitulah gaya kearifan orang Wonogiri.

Tiba-tiba Yahmin keluar dari sungai lalu mendekatiku. Melihat bahwa aku telah sadarkan diri, ia pun duduk di sampingku.

Ia menasihatiku, “Kalau kamu belum bisa menyelam jangan berenang, itu berbahaya” katanya.

Yahmin lanjut menjelaskan mengenai sungai Bengawan Solo, bahwa kalau permukaan air sungai beriak, itu tandanya tidak dalam. Kalau permukaan air tenang, tidak bergelombang, itu tandanya sangat dalam.   Bagian sungai yang dalam itu namanya, ‘kedung’. Kalau permukaan airnya berputar, itu harus dihindari. Karena bisa-bisa kita terhisap ke dalam. Pantas, rupanya tadi aku bersama anak-anak itu terjun di ‘kedung’.

Yahmin ini rupanya tidak suka banyak berteori. Aku langsung diajaknya ke sungai yang dangkal, yang airnya hanya setinggi lutut. Kemudian aku disuruhnya membenamkan kepala ke dalam air sambil menghitung sendiri, dalam berapa hitungan kepalaku dapat bertahan di dalam air. Lalu Yahmin meninggalkanku dan kembali berenang bersama teman-temannya.

Aku kemudian berlatih sendiri dengan serius. Semula diriku hanya bertahan di dalam air dalam lima hitungan saja, lama kelamaan meningkat terus.

Sewaktu Yahmin datang kembali, aku sudah mampu menyelam selama lima belas hitungan. Yahmin lalu membawaku ke atas tebing, dan tanpa ijinku aku kemudian didorongnya terjun ke kedung yang dalam itu.

Akupun terjun ke dalam air seperti tadi, tetapi kali ini aku tetap tenang sambil menahan napas. Aku lalu mencoba menggerak-gerakkan tangan dan kakiku seperti katak. Gerakan itu teratur dan tidak terburu-buru. Aku melihat warna air diatasku kelihatan semakin lama semakin terang, kemudian kepalaku pun muncul di atas permukaan air. Sambil menghisap udara cepat-cepat dan kemudian masuk kembali ke dalam air, aku mendengar jelas teman-temanku bertepuk tangan keras-keras dari atas tebing.

Aku kemudian berenang ke tepi sungai dan merasa sedikit haru. Hari ini aku sudah bisa berenang. Aku tersenyum kepada Yahmin dan kedua temannya. Mereka membalas dengan tertawa terbahak-bahak sambil terjun lagi ke kedung, bagian terdalam dari sungai Bengawan Solo.

Tak mau kalah aku pun ikut terjun lagi, kali ini dengan gaya “gado-gado”. Mungkin jika di dalam dunia olah raga renang, gaya ini disebut dengan “Gaya Punggung Katak Kupu Kupu Bebas”.

***

Seperempat abad setelah kejadian tesebut, 25 tahun kemudian, aku, si Ompa ini sudah menikah. Pernah suatu kali di kantor Utie, istriku, ada acara pekan olahraga. Salah satu perlombaan yang di lombakan adalah lomba renang. Aku baru semangat ingin mendaftar setelah mengetahui dalam lomba renang itu ada cabang: “Renang Gaya Batu” yaitu menyelam.

Pada akhir perlombaan, semua peserta sudah keluar dan sudah lama berada di atas air, mereka menungguku di tepi kolam. Tetapi aku masih tenang-tenang saja berada di dasar kolam, sambil merayap-rayap menghitung ubin lantai kolam renang itu. Beberapa peserta mulai terlihat panik saat menyadari aku belum juga keluar dari dalam air.

Hari itu aku mendapat piala, juara “Renang Gaya Batu”. Piala itu kuangkat tinggi-tinggi dan dalam imajinasiku aku membayangkan, aku, si Ompa, sedang menyerahkan piala itu kepada Yahmin. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑