KERETA KIRIMAN TUHAN
Kalau ada yang bertanya padaku, jenis kendaraan apa yang paling berkesan dalam hidupku, jawabannya adalah ‘sepur kluthuk’. Jenis kereta api unik ini seakan diciptakan Tuhan untuk memberi banyak pelajaran padaku tentang kehidupan. Terutama pada masa kecilku.
“Bapak badhe tindak pundi?” Aku bertanya menggunakan bahasa Jawa tinggi kepada seorang bapak yang duduk di bangku di depanku. Ia tertawa mendengar pertanyaanku. Bisa jadi logat bahasa Jawaku terdengar aneh, maklum aku adalah anak Jawa Timur.
”Mau ke Sukoharjo, nak. Anak aslinya dari mana?” Wah, bapak itu ganti bertanya, menggunakan Bahasa Indonesia pula. Aku menjawab ”Dari Malang pak.”
Itulah awal percakapanku dengan seorang bapak yang baik dan ramah. Mungkin dia seorang guru, jadi kita sebut saja ia pak guru. Kami berdua duduk berhadapan di atas Sepur Kluthuk dari Wonogiri menuju Solo. Pak guru yang cukup sepuh itu seakan tertawa setiap kali ia berbicara. Hal itulah yang membuat aku merasa nyaman berbincang dengannya.
Di sudut gerbong di depanku, sekelompok pemuda sedang ngobrol sambil berbicara keras-keras. Mereka menggunakan bahasa Indonesia yang aneh. Mereka sering menggunakan kata-kata, elu, gue, dong deh, deh dong deh.
Rupanya pak guru tahu apa yang ada dalam pikiranku. Ia berkata sambil tersenyum, ”Itu bahasa Betawi nak, mereka sudah sering ke Jakarta. Mungkin saja mereka berbicara keras-keras itu untuk pamer, bahwa mereka sudah menjadi orang Jakarta.”
”Orang-orang tua yang mendengar mereka itu ya banyak yang kurang senang, tetapi bagi anak-anak lain, itu baik, karena membuat banyak anak-anak lain ingin ke Jakarta juga agar bisa berbahasa Betawi.” Lanjutnya sambil tersenyum simpul.
Melihat aku terbengong, maka ia pun menambahkan. Ia menjelaskan bahwa memang Wonogiri ini tanahnya gersang, hanya bisa ditanami palawija. Belum lagi di Wonogiri sering terjadi ‘paceklik’ artinya gagal panen, kekeringan hingga kekurangan pangan.
Ia juga menjelaskan alasan mengapa banyak anak-anak yang diharapkan keluar dari Wonogiri. Biasaya saat mereka menjelang dewasa atau setelah tamat SMP. Itu semua agar mereka tidak menjadi beban bagi keluarga di desanya. Mereka menyebar ke kota-kota besar di Indonesia dan bekerja sebagai penjaga toko, pembantu rumah tangga, atau sebagai tukang baso dan sebagainya. Faktanya banyak juga diantara mereka yang hidupnya berhasil dan sukses di luar Wonogiri.
Sepur kluthuk kami memasuki stasiun Nguter. Pak guru melanjutkan ceritanya, kali ini tentang daerah Nguter ini. Penduduk dari daerah Nguter juga banyak yang menyebar ke kota-kota besar, termasuk Jakarta. Mereka berjualan ‘es puter’. Jenis es yang sangat terkenal ini disebut es puter karena proses pembuatannya. Adonan yang terbuat dari santan itu diputar-putar dalam alat pembuat es hingga mengkristal dan menjadi seperti es krim. Jadi kalau ada orang berjualan es puter dengan bunyi, “Neng, kleneng, kleneng,” hampir bisa dipastikan orang itu berasal dari daerah ini. Konon es puter dari desa Nguter ini rasanya enak sekali, sangat sulit bagi orang lain untuk menirunya.
Aku bertanya lagi kepada pak guru: ”Lalu kalau mereka meningggalkan desa mereka, kapan mereka bisa berkumpul bersama keluarga lagi pak?”
Ia menjawab, ”Ya kalau hari raya Lebaran, nak”.
Aku pun jadi mengerti, bahwa selama setahun mereka bekerja keras menghasilkan uang demi menghidupi keluarga mereka di desa. Mereka juga mengumpulkan uang agar pada hari Lebaran mereka bisa pulang kampung beramai-ramai.
Itulah sebabnya pada setiap hari raya lebaran seluruh desa menajdi sangat meriah. Mereka saling mengunjungi dan bersilaturahmi sambil membagi-bagikan uang kepada anak-anak. Mereka mengenakan pakaian terbaiknya, sebagai lambang tingkat kesuksesan mereka. Setelah liburan hari raya usai, mereka kembali pergi meninggalkan desanya untuk bekerja di kota lain. Desa yang mereka tinggalkan kembali menjadi sepi, tetap kering kerontang. Sementara anak-anak kecil mendapatkan cita-cita baru untuk kelak juga meninggalkan desa dan bekerja di kota besar.
Sepur kluthuk kembali melanjutkan perjalanan dengan lamban, seperti biasa. Sepoi angin dari jendela membuat kami mengantuk. Para pemuda ‘Jakarte’ yang tadi ribut pun telah lelap tertidur.
Obrolan dengan pak guru membuatku teringat akan Mbah kandungku di Kaligunting. Ia juga “mengusir” anak cucunya keluar dari desa yang tandus itu untuk berkelana dan mencari kehidupan yang lebih baik di luar sana.
Sepur Kluthuk memasuki stasiun Sukoharjo. Bapak yang baik hati itu bersiap-siap akan turun. Aku berkata padanya, ”Matur nuwun, pak guru,”—terima kasih pak guru. Eh…, aku keceplosan memanggilnya guru. Ia tertawa dan lalu turun.
Lagi-lagi di dalam sepur kluthuk aku belajar suatu hal yang penting. Hal yang kelak menjadi salah satu pegangan hidupku. Aku percaya Tuhan lah yang selalu “mengirim” sepur kluthuk untukku. Dan kali ini satu paket dengan “pak guru”, untuk menemani dan mengajariku siang itu. (*)
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan


