ANTARA NASI DAN MAKAN
MAKAN adalah bagian terpenting di dalam kehidupan masa kecilku. Alam pikiranku selalu dipenuhi dengan hal-hal yang berhubungan dengan perkara makan. Aktivitasku sehari-hari pun selalu melibatkan perkara ini.
Pagi hari bangun tidur, fokusku adalah menunggu makan pagi. Siang hari, yang kupikirkan adalah menanti makan siang. Juga pada malam hari, aku baru bisa tidur sempurna kalau sudah makan malam. Bagiku, yang disebut makan itu berarti makan nasi.
Aku pun memiliki banyak istilah yang berhubungan dengan masalah “makan”. Dan istilah-istilah tersebut aku pegang dengan teguh. Istilah “jalan-jalan”, misalnya, aku artikan sama dengan “makan-makan”. Maksudnya, kalau kita pergi jalan-jalan, ya harus makan-makan. kalau tidak ada makan-makannya itu bukan jalan-jalan namanya.
Seringkali yang mengecewakanku, istilah versiku berbeda dengan istilah versi para orang tua. Mereka tidak mengerti bahwa makan adalah persoalan “hidup dan mati” bagiku.
Pernah pada suatu sore orang tua angkatku, Pak Mojo dan Bu Mojo, mengajakku jalan-jalan ke pusat kota Mojokerto. Kami berkunjung ke rumah teman Pak Mojo. Kunjungan itu cukup lama. Aku bersabar, sebab aku berharap nanti sewaktu pulang pasti akan akan ada acara makan-makan. Aku pun sudah membayangkan menu makanan apa yang nanti akan kupilih. Aku sabar menanti.
Tetapi tenyata yang kemudian terjadi, kami langsung pulang ke rumah. Tidak singgah ke restoran lebih dahulu! Bagiku, hal ini tidak sesuai dengan apa yang “seharusnya” terjadi. Aku lalu protes keras, dengan cara menutup pintu kamar keras-keras sambil menunjukkan kejengkelanku. Tetapi, mereka justru memandang heran ke arahku. Mereka tidak memahaminya. Aku merasa tidak diperhatikan, dicuekin. Hal yang seperti itu sering menimbulkan kekecewaan yang mendalam dan membekas lama di hati aku.
Aku juga punya istilah lain perihal makan. “Makan-makan” itu artinya “makan nasi”. Kalau bukan nasi yang dimakan, itu namanya “jajan-jajan”. Ada lagi, jika makan-makan yang dilakukan di luar rumah, menurutku itu namanya rekreasi, atau jaman sekarang istilahnya wisata kuliner.
Seringkali setelah makan-makan di luar, setelah pulang, setibanya di rumah, aku minta makan lagi. Maka terjadilah kehebohan kecil, akibat benturan persepsi tentang istilah itu. Para orang tua seringkali tidak mau mengerti, bahwa bagiku perkara ini sudah seperti masalah harga diri. Seharusnya mereka “wajib” menghargainya, termasuk penggunaan istilah-istilah yang telah kubuat sendiri.
Sebenarnya persoalan apa yang membuat “per-makan-an” ini sangat serius dan sensitif bagi diriku pada masa itu? Beginilah riwayatnya.
Peristiwa ini terjadi ketika aku tinggal di rumah Mbah Tanjung. Pada waktu masih balita, ketika mulai bisa berjalan, berdiri sambil merayap-rayap sambil berpegangan pinggir dipan, aku mulai bisa mengamati sayup-sayup segala kejadian di sekitarku. Aku melihat orang-orang yang bejalan mondar mandir. Rupanya mereka sedang membantu Mbah Putri yang sedang memasak di dapur.
Kadang-kadang ada seorang Tante yang sedang berjalan menghampiriku, dan mencubit lenganku kuat-kuat. Aku merasakan cubitannya itu sakit sekali. Kalau nyubit nggak kira-kira! Setelah itu biasanya aku berteriak sekeras-kerasnya. Teriakanku itu kadang-kadang ada hasilnya, Mbah Putri akan menyuruh Tante-tante itu agar tidak menggangguku.
Kadang-kadang ada juga seorang Om yang tiba-tiba mendekatkan mukanya hingga hampir menempel ke mukaku. Ia lalu memperlihatkan muka terjeleknya yang seperti muka setan itu ke depan hidungku. Aku hanya terdiam, tanpa reaksi apapun. Karena toh hal itu tidak menyakitiku. Yang terpenting dari semuanya itu, yang aku tunggu-tunggu, yaitu prosesi pembagian… makan! Maka, segala rasa sakit dicubit akan serta merta menghilang, terhapus oleh nikmatnya makanan. Aku kemudian mencoba mengambil kesimpulan sendiri, bahwa nikmatnya makan akan selalu menghilangkan rasa sakit.
Kembali ke kota Mojokerto. Perkara benturan persepsi antara anak kecil dan orang tua tentang istilah makan ini terus berlanjut. Tetapi, sepertinya selalu saja pihakku yang dikalahkan. Hingga pada suatu pagi menjelang siang terjadilah sebuah peristiwa penting. Rumah kami kedatangan tamu, seorang Tante tetangga kami. Di ruang tengah ia mengobrol lama sekali dengan Bu Mojo. Sewaktu aku berjalan hendak melintasi mereka, Tante itu menyapaku, “Hei, kamu sudah sarapan?” Aku spontan menjawab, “Belum Tante…” Aku menjawabnya dengan keras, tegas dan sesuai kenyataan.
Entah mengapa setelah itu sang Tante kelihatan merasa tidak enak kepada Bu Mojo. Ia kemudian cepat-cepat pamit pulang. Tak berapa lama, ketika aku sedang duduk-duduk di teras depan, tiba-tiba terdengar suara keras Bu Mojo memanggilku dari dapur. Ketika aku mendatanginya di dapur, aku kaget melihat wajah Bu Mojo yang merah padam. Mendadak sebuah sotil, sendok besi penggorengan, panas hampir saja menyambar kepalaku. Aku berdiri tegak di depan Bu Mojo sambil menatapnya dengan muka penuh tanda tanya.
Apakah salahku?, pikirku. Aku tidak mengerti mengapa Bu Mojo marah besar. Bu Mojo sampai berteriak-teriak, bahwa aku telah membuat malu keluarga di depan orang lain; bahwa keluarga kita adalah keluarga yang terhormat, sehingga tidak sepantasnya dipermalukan seperti ini, dan seterusnya dan seterusnya, masih panjang lagi.
Tetapi, aku masih tetap saja belum paham apa maksud Bu Mojo. Sampai akhirnya Bu Mojo bertanya, “Kenapa tadi waktu ditanya Tante, apakah kamu sudah sarapan, kamu jawab belum!”
Rupanya soal itu pokok masalah Bu Mojo marah. (Aku hanya menjawab di dalam hati, “Ya, memang belum sarapan”). Lantas, Bu Mojo melanjutkan dengan nada semakin keras, “Lalu yang kamu makan tadi pagi itu apa?”.
“Ketan,” jawabku lirih.
“Lha (ketan) itu kan juga sarapan!” kata Bu Mojo.
Nah, menjadi jelas sudah, sumber masalah besar yang dihadapi aku hadapi. “Sarapan” bagi Bu Mojo adalah makan apa saja pada pagi hari. Sedangkan dalam kamusku, “sarapan” adalah “makan nasi” pada waktu pagi. Masih terasa sambaran angin sotil pada pagi hari menjelang siang itu.
Bagaimanapun peristiwa itu ada hikmahnya bagiku. Sejak saat itu, setiap sarapan pagi selalu tersedia nasi! Mungkin itu berarti Bu Mojo telah mengakui bahwa, kamuskulah yang benar. Atau, mungkin juga Bu Mojo takut kalau tidak diberi nasi di pagi hari, aku akan berkeliling kampung, dan memberitakan kepada seluruh warga bahwa pagi itu aku belum diberi sarapan.
Namun, semua ini baru kemungkinan, dan perlu dikaji lebih lanjut. Setidaknya toh untuk sementara ‘kamus’ istilahku tentang pengertian makan yang dijadikan sebagai acuan resmi di rumah keluarga Pak Mojo. Demikian harap maklum. (*)
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan
Ilustrasi: Mbah Google







