ASISTEN DUKUN
RUMAH orang tua angkatku, Pak Mojo, terletak di Jalan Brantas Mojokerto. Tepatnya di tepi sungai Brantas. Rumah tembok itu berada di tempat yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Bisa jadi jalanan di depan rumah kami itu dulunya merupakan tanggul raksasa, yang melindungi daratan di belakang rumah jika terjadi luapan air sungai yang sangat besar.
Di sisi kiri rumah ada sebuah pagar tembok yang tinggi. Di luar tembok itu ada sebuah jalan kecil. Jalan itu menurun ke bagian belakang rumah kami, menuju ke sebuah daerah perkampungan yang luas. Tetapi, perkampungan itu lebih rendah dari jalanan di bibir sungai. Rumah-rumah di perkampungan itu ada yang besar dan ada yang ukurannya lebih kecil. Ada juga beberapa rumah yang dijadikan toko atau warung.
Hubungan antar warga dan antar kampung di sini cukup akrab satu sama lain, termasuk dengan kami, keluarga Pak Mojo. Para tetangga dari kampung belakang terkadang bertamu ke rumah. Demikian juga sebaliknya. Terutama Ibu Mojo yang paling sering pergi ke tetangga belakang, apalagi kalau Pak Mojo sedang pergi mengajar. Saling berkunjung itu sering disebut “Nonggo”, artinya berkunjung ke rumah tetangga, atau ngobrol dengan tetangga berlama-lama.
Pada suatu pagi terjadi kehebohan. Rumah Pak Jali, (bukan nama sebenarnya) dibobol maling semalam. Semua perhiasan emasnya habis digondol. Berita ini cepat tersebar dan segera menjadi topik pergunjingan seluruh warga dan aparat di kampung belakang itu.
Sore harinya, aku diajak Ibu Mojo berkunjung. “Ada Pak Dukun,” katanya. Aku pun menjadi bingung. Pikirku, apa hubungannya seorang dukun denganku?. Saat sampai dan masuk ke rumah Pak Jali, aku cukup terkejut karena di dalam rumah sudah penuh dengan warga.
Mereka semua berkerumun mengelilingi sang dukun. Pak Dukun itu seorang laki-laki tua, berkulit agak gelap dan berjenggot panjang. ia mengenakan baju lurik berwarna hitam, bergaris-garis cokelat, dan menggunakan ikat kepala. Kami, para anak-anak, sudah berdiri berderet di depan Pak Dukun. Diantara anak-anak itu, hanya aku yang masih bersekolah Taman Kanak-kanak. Aku yang paling kecil.
Seperti audisi acara Idola Cilik, tiba-tiba Pak Dukun menunjuk ke arahku, “Hei kamu, ke sini Nak!” Aku sungguh tak menyangka bisa terpilih. Awalnya aku agak takut dan grogi. Tetapi sebagai mantan Wakil Pemimpin Geng Anak Tanjung, Malang, aku tak boleh gentar menghadapi apapun, sekalipun mendadak semacam ini. Apalagi peristiwa ini ditonton dan disaksikan oleh para warga. Maka, aku pun maju ke depan dengan langkah pasti. Aku terpilih menjadi asisten Pak Dukun.
Pak Dukun menyuruhku untuk duduk di pangkuannya. Lalu aku diminta mengepalkan tangan dan menunjukkan ibu jari tangan kiriku. Kemudian, dukun itu menyalakan kemenyan di sebuah tungku kecil, menyalakan lampu minyak yang semacam lilin, lalu diletakkannya di depanku.
Suasana menjadi semakin tegang dan menyeramkan. Awalnya asap kemenyan itu dikipas-kipas dengan telapak tangannya ke arah ibu jariku, tapi tak lama kemudian diarahkan ke badan dan mukaku. Kemudian ibu jariku diarahkan ke dekat nyala lampu minyak itu, sehingga mataku bisa melihat kuku jari jempolnya yang kelihatan terang kekuningan terkena sinar lampu minyak.
Pak Dukun mulai mengucapkan mantra-mantra yang aneh. Bulu kuduk mulai serempak berdiri. Setelah suasana senyap, lalu Pak Dukun meminta kepada Pak Jali, pemilik rumah yang kemalingan itu, untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku. Kata Pak Dukun, aku akan bisa menjawab pertanyaan itu berdasarkan apa yang aku lihat dari bayangan di kukuku yang disinari lampu minyak.
Pak Jali pun bertanya tentang berapa orang jumlah malingnya. Aku melihat kuku jempolku dan menjawab, “Satu orang.”
“Keluar dari mana malingnya?”
“Meloncat tembok,” jawabku.
Jika terlihat aku ragu-ragu dalam menjawab, maka dukun itu komat-kamit lebih semangat membaca mantranya, sambil asap kemenyan dikipas-kipaskan ke mukaku.
Semua pertanyaan Pak Jali dijawab olehku. Bahwa maling itu keluar meloncat tembok dan lari ke arah selatan. Maling itu bukan orang dari kampung lain, tapi orang kampung setempat.
Setelah sesi Pak Dukun selesai, aku langsung dikerumuni oleh ibu-ibu warga di situ. Mereka penasaran menanyakan, apa yang sebenarnya aku lihat di kuku jempolku itu. Aku bingung dan sedikit malas meladeni mereka, aku hanya mengangguk atau menggelengkan kepala. Lalu aku berpura-pura sangat kelelahan, pura-pura mabuk kemenyan dan minta minum. Maka, segera mereka sibuk mengambilkanku minum. Setelah acara usai, aku beranjak pulang dan tidur.
Apa yang sebenarnya aku lihat dari kuku jempolku saat itu? Sejujurnya, percaya nggak percaya, aku tidak melihat apa-apa!
Tiga hari setelah kejadian itu, ada kegegeran lagi di kampung belakang rumah kami. Malingnya tertangkap! Dan sudah digelandang ke kantor polisi. Siapakah malingnya?
Ternyata orang dari kampung itu juga, dan yang menakjubkan adalah rumahnya terletak di sebelah Selatan dari rumah Pak Jali! Lokasi tersebut persis seperti yang aku katakan saat menjadi asisten dukun, tiga hari yang lalu. Sungguh aneh tapi nyata!
Sejak peristiwa itu, aku mendadak menjadi terkenal di daerah kampung bawah di belakang rumah kami. Jika mereka melihatku sedang berjalan, selalu saja ada yang menyapaku, layaknya seorang selebritis.
Setiap kali disuruh bu Mojo untuk belanja ke warung, seringkali aku diberi hadiah oleh si pemilik warung. Dua butir permen bulat sebesar kelereng. Itu adalah permen kesukaanku. Ah, ada untungnya juga aku terpilih menjadi asisten dukun. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan




