Cari

Antonius Sutedjo

Penulis

srkristiawan

Asisten Dukun

ASISTEN DUKUN

 

RUMAH orang tua angkatku, Pak Mojo, terletak di Jalan Brantas Mojokerto. Tepatnya di tepi sungai Brantas. Rumah tembok itu berada di tempat yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Bisa jadi jalanan di depan rumah kami itu dulunya merupakan tanggul raksasa, yang melindungi daratan di belakang rumah jika terjadi luapan air sungai yang sangat besar.

Di sisi kiri rumah ada sebuah pagar tembok yang tinggi. Di luar tembok itu ada sebuah jalan kecil. Jalan itu menurun ke bagian belakang rumah kami, menuju ke sebuah daerah perkampungan yang luas. Tetapi, perkampungan itu lebih rendah dari jalanan di bibir sungai. Rumah-rumah di perkampungan itu ada yang besar dan ada yang ukurannya lebih kecil. Ada juga beberapa rumah yang dijadikan toko atau warung.

Hubungan antar warga dan antar kampung di sini cukup akrab satu sama lain, termasuk dengan kami, keluarga Pak Mojo. Para tetangga dari kampung belakang terkadang bertamu ke rumah. Demikian juga sebaliknya. Terutama Ibu Mojo yang paling sering pergi ke tetangga belakang, apalagi kalau Pak Mojo sedang pergi mengajar. Saling berkunjung itu sering disebut “Nonggo”, artinya berkunjung ke rumah tetangga, atau ngobrol dengan tetangga berlama-lama.

Pada suatu pagi terjadi kehebohan. Rumah Pak Jali, (bukan nama sebenarnya) dibobol maling semalam. Semua perhiasan emasnya habis digondol. Berita ini cepat tersebar dan segera menjadi topik pergunjingan seluruh warga dan aparat di kampung belakang itu.

Sore harinya, aku diajak Ibu Mojo berkunjung. “Ada Pak Dukun,” katanya. Aku pun menjadi bingung. Pikirku, apa hubungannya seorang dukun denganku?. Saat sampai dan masuk ke rumah Pak Jali, aku cukup terkejut karena di dalam rumah sudah penuh dengan warga.

Mereka semua berkerumun mengelilingi sang dukun. Pak Dukun itu seorang laki-laki tua, berkulit agak gelap dan berjenggot panjang. ia mengenakan baju lurik berwarna hitam, bergaris-garis cokelat, dan menggunakan ikat kepala. Kami, para anak-anak, sudah berdiri berderet di depan Pak Dukun. Diantara anak-anak itu, hanya aku yang masih bersekolah Taman Kanak-kanak. Aku yang paling kecil.

Seperti audisi acara Idola Cilik, tiba-tiba Pak Dukun menunjuk ke arahku, “Hei kamu, ke sini Nak!” Aku sungguh tak menyangka bisa terpilih. Awalnya aku agak takut dan grogi. Tetapi sebagai mantan Wakil Pemimpin Geng Anak Tanjung, Malang, aku tak boleh gentar menghadapi apapun, sekalipun mendadak semacam ini. Apalagi peristiwa ini ditonton dan disaksikan oleh para warga. Maka, aku pun maju ke depan dengan langkah pasti. Aku terpilih menjadi asisten Pak Dukun.

Pak Dukun menyuruhku untuk duduk di pangkuannya. Lalu aku diminta mengepalkan tangan dan menunjukkan ibu jari tangan kiriku. Kemudian, dukun itu menyalakan kemenyan di sebuah tungku kecil, menyalakan lampu minyak yang semacam lilin, lalu diletakkannya di depanku.

Suasana menjadi semakin tegang dan menyeramkan. Awalnya asap kemenyan itu dikipas-kipas dengan telapak tangannya ke arah ibu jariku, tapi tak lama kemudian diarahkan ke badan dan mukaku. Kemudian ibu jariku diarahkan ke dekat nyala lampu minyak itu, sehingga mataku bisa melihat kuku jari jempolnya yang kelihatan terang kekuningan terkena sinar lampu minyak.

Pak Dukun mulai mengucapkan mantra-mantra yang aneh. Bulu kuduk mulai serempak berdiri. Setelah suasana senyap, lalu Pak Dukun meminta kepada Pak Jali, pemilik rumah yang kemalingan itu, untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku. Kata Pak Dukun, aku akan bisa menjawab pertanyaan itu berdasarkan apa yang aku lihat dari bayangan di kukuku yang disinari lampu minyak.

Pak Jali pun bertanya tentang berapa orang jumlah malingnya. Aku melihat kuku jempolku dan menjawab, “Satu orang.”

“Keluar dari mana malingnya?”

“Meloncat tembok,” jawabku.

Jika terlihat aku ragu-ragu dalam menjawab, maka dukun itu komat-kamit lebih semangat membaca mantranya, sambil asap kemenyan dikipas-kipaskan ke mukaku.

Semua pertanyaan Pak Jali dijawab olehku. Bahwa maling itu keluar meloncat tembok dan lari ke arah selatan. Maling itu bukan orang dari kampung lain, tapi orang kampung setempat.

Setelah sesi Pak Dukun selesai, aku langsung dikerumuni oleh ibu-ibu warga di situ. Mereka penasaran menanyakan, apa yang sebenarnya aku lihat di kuku jempolku itu. Aku bingung dan sedikit malas meladeni mereka, aku hanya mengangguk atau menggelengkan kepala. Lalu aku berpura-pura sangat kelelahan, pura-pura mabuk kemenyan dan minta minum. Maka, segera mereka sibuk mengambilkanku minum. Setelah acara usai, aku beranjak pulang dan tidur.

Apa yang sebenarnya aku lihat dari kuku jempolku saat itu? Sejujurnya, percaya nggak percaya, aku tidak melihat apa-apa!

Tiga hari setelah kejadian itu, ada kegegeran lagi di kampung belakang rumah kami. Malingnya tertangkap! Dan sudah digelandang ke kantor polisi. Siapakah malingnya?

Ternyata orang dari kampung itu juga, dan yang menakjubkan adalah rumahnya terletak di sebelah Selatan dari rumah Pak Jali! Lokasi tersebut persis seperti yang aku katakan saat menjadi asisten dukun, tiga hari yang lalu. Sungguh aneh tapi nyata!

Sejak peristiwa itu, aku mendadak menjadi terkenal di daerah kampung bawah di belakang rumah kami. Jika mereka melihatku sedang berjalan, selalu saja ada yang menyapaku, layaknya seorang selebritis.

Setiap kali disuruh bu Mojo untuk belanja ke warung, seringkali aku diberi hadiah oleh si pemilik warung. Dua butir permen bulat sebesar kelereng. Itu adalah permen kesukaanku. Ah, ada untungnya juga aku terpilih menjadi asisten dukun. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sungai Brantas, Mojokerto
Sungai Brantas, Mojokerto
Sungai Brantas, Mojokerto
Sungai Brantas, Mojokerto

Layang-layang Malam

wpid-mtf_hemtn_296.jpg.jpg

LAYANG-LAYANG MALAM

SAAT sedang asik-asiknya menikmati bersekolah di Taman Kanak-kanak, di Jalan Semeru (Semeru Straat) Malang, tiba-tiba aku harus berpindah ke kota lain, yaitu ke kota Mojokerto, Jawa Timur.

Kejadiannya sangat mendadak dan cepat. Aku hanya ingat, di Mojokerto aku sudah berada di rumah Mbah Mojo. Mbah Mojo adalah adik kandung Mbah Tanjung. Di Mojokerto ini, secara resmi aku diangkat sebagai anak oleh Mbah Mojo. Maka, panggilan “Mbah” berubah menjadi panggilan… “Bapak, Pak Mojo.”

Rumah Pak Mojo berada di Jalan Brantas. Rumahnya menghadap ke sungai Brantas yang sangat lebar. Sungai di depan rumah kami itu merupakan pertemuan dari dua sungai yang memang sudah cukup besar. Rumah-rumah di seberang sungai kelihatan sangat kecil.

Bagiku, pemandangan di depan rumah itu terlihat sangat indah. Aku sering sendirian berlama-lama duduk di teras depan, menikmati pemandangan indah itu. Ditambah lagi suasana di sekitar rumah yang sangat sepi dan tenang. Jarang sekali kendaraan yang melintasi jalanan di depan rumah. Seringkali di saat seperti itu aku jadi teringat akan kehidupanku sebelumnya di kota Malang.

Aku rindu akan hiruk pikuk suara anak-anak di Jalan Tanjung Gang Dua. Tetapi yang paling kurindukan hanyalah tiga orang, Om No dan Om Nu yang menyebalkan, serta Cacak, sang pemimpin Geng Anak Tanjung yang kukagumi. Tetapi, kenangan itu lambat-laun tertutup oleh kejadian-kejadian kecil, seperti berikut ini.

Sore itu, menjelang matahari terbenam, udara sangat cerah. Seperti biasa, aku duduk-duduk menikmati pemandangan sore di tepi sungai Brantas itu. Tiba-tiba mataku tertarik kepada banyak titik-titik kecil yang bergerak-gerak di langit di atas sungai. Ada titik yang besar dan ada titik yang kecil. Titik-titik itu adalah layang-layang yang berwarna-warni yang bergerak dinamis. Aku terpana.

Layang-layang yang besar terbang dengan lebih tenang. Sedangkan yang lebih kecil terbang lincah, gesit mondar-mandir, seperti mencari lawan untuk diajak adu kekuatan. Layang-layang dengan benang yang kuat dan berlumur bubuk gelas yang tajam akan memenangkan pertarungan. Sedang yang kalah akan terbang limbung, melayang kehilangan arah, dan jatuh ditelan air sungai. Ah, tiba-tiba saja, aku kepingin punya layang-layang.

Di rumah itu, ada seorang Om yang membantu keluarga Pak Mojo. Kamar tidurnya di belakang rumah, di samping dapur. Suatu ketika Om itu disuruh oleh Ibu Mojo untuk pergi ke toko yang terletak di gang belakang rumah, tanpa ijin, aku mengikutinya.

Dalam perjalanan menuju toko, aku melihat sebuah warung yang penuh dengan layang-layang, digantung berderet-deret dan berwarna-warni. Aku berhenti di warung itu dan mulai memilih-milih. Aku menjatuhkan pilihanku pada layang-layang yang bergambar burung Garuda. Aku pun langsung mendekap layang-layang itu, yang tentu saja, kemudian terjadilah ketegangan dengan si Om. Karena layang-layang itu jelas tidak tercantum dalam daftar belanjaannya. Tak bergeming, aku tetap memegang erat layang-layang bergambar burung Garuda itu.

Singkat cerita, aku yang menang, dan si Om membayarnya. Entah ia menggunakan uang siapa. Sambil berlari kecil kegirangan, aku tidak sabar lagi untuk menerbangkan si layang-layang.

Hari sudah mulai gelap, tetapi aku ingin menerbangkan layang-layang baru yang bergambar burung Garuda itu. Benang sudah di pasang dan layang-layang siap diterbangkan. Tetapi, Bapak melarangku bermain layang-layang. Bapak dengan tegas menyuruhku untuk menyimpan dulu layang-layang itu dan dinaikkan esok paginya karena hari sudah malam. Aku tidak setuju. Maka, kemudian terjadilah “huru-hara” di dalam rumah. Aku tetap bersikukuh. Aku ingin menerbangkannya malam itu juga.

Akhirnya, aku yang mengalah. Aku memutuskan untuk menerbangkan layang-layang itu di dalam rumah. Dengan susah payah, aku berlari mondar-mandir ke depan dan ke belakang rumah. Hasilnya bisa ditebak, tentu saja layang-layang itu tidak berhasil terbang, karena tidak ada angin. Maka, aku kembali ngotot untuk menerbangkan layang-layang ini di luar rumah, di pinggir sungai. Tetapi Bapak berkata, “Kan, di luar gelap.”

Aku menjawab, “Yo nggae sentolop ae… (Ya pakai senter saja…).” Maka, terjadilah huru-hara jilid dua di rumah itu. Tiba-tiba datang si Om membawa tangga ke dalam kamar tidurku. Si Om menggantung layang-layang itu dengan benang di sudut kamar, di bawah plafon. Lalu, ujung benang layang-layang itu diberikan kepadaku. Sungguh Cerdas!

Kini aku bisa memainkan layang-layang itu di kamar tidur. Aku berdiri dan berpindah-pindah dari satu sudut ke sudut yang lain sambil memegang dan menarik-narik benang itu. Layang-layang itu bergerak-gerak seakan terbang tinggi di langit. Aku senang dan puas. Huru-hara malam itu pun berakhir damai.

Tidak bosan-bosan, sampai larut malam aku terus memainkan layang-layang itu. Saat kelelahan, aku memegang benangnya sambil duduk di samping tempat tidur. Aku merasa sangat bahagia. Dengan benang yang masih di tangan, sambil tersenyum aku tertidur.

Malam itu, aku bermimpi indah. Aku bermimpi menerbangkan layang-layangnyaku di atas Sungai Brantas. Layang-layangku yang bergambar burung Garuda itu terbang tinggi dan gagah di langit kota Mojokerto. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sebuah Rahasia

SEBUAH RAHASIA

 PADA awal bulan Desember terjadi kesibukan yang luar biasa di rumah Mbah Tanjung. Rumah yang semula sudah dipenuhi anak-anak itu semakin ramai dan heboh. Ada yang kami tunggu-tunggu saat itu, yakni SINTERKLAS.

Sinterklas adalah sosok seorang laki-laki tua berkulit putih, berkacamata, bertubuh tinggi dan selalu membawa tongkat. Sinterklas memiliki kumis dan jenggot berwarna putih yang lebat, berbaju jubah merah serta menggunakan topi tinggi yang juga berwarna merah. Cerita tentang Sinterklas ini diceritakan oleh Tante Jah. Ia adalah wanita yang berperan menjadi ibu asuh bagi kami, anak-anak di rumah itu.

Menurut Tante Jah, Sinterklas tinggal di Negeri Belanda, yang konon pada bulan Desember tahun itu, akan mengunjungi Indonesia. Jadi, ada kemungkinan Sinterklas juga akan mengunjungi kota Malang.

Sinterklas biasanya dengan kudanya melakukan perjalanan bersama seorang asisten yang bernama Pit Hitam (Zwarte Piet), seorang lelaki kurus berkulit hitam legam. Sinterklas akan berkeliling dari rumah ke rumah membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak yang berkelakuan baik. Sedangkan si Pit Hitam tugasnya menghukum anak-anak yang nakal.

Tante Jah menceritakan itu semua dengan muka serius, disertai gerakan-gerakan untuk memberi tekanan tertentu pada apa yang ia ceritakan. Anak-anak mendengarkan cerita Tante Jah dengan muka yang tegang, mata yang melotot, dan mulut yang agak melongo. Begitu pula diriku, sama ekspresinya seperti mereka. Kami semua terkagum-kagum akan kebaikan hati dan kehebatan Sinterklas.

Tante Jah meminta agar anak-anak mempersiapkan diri, karena mungkin sewaktu-waktu Sinterklas datang kemari, ke rumah Mbah Tanjung.

Sejak hari itu tingkah laku anak-anak menjadi berubah drastis. Ada yang tiba-tiba menjadi rajin menyapu rumah, membersihkan tempat tidur, dan membuka-buka buku pelajaran sekolah. Aku juga tidak ketinggalan. Aku mengambil kain lap dan mulai membersihkan meja, kursi dan lemari yang ada di ruang tengah. Tetapi dalam melakukannya aku lebih banyak beristirahat dari pada bekerjanya. Hanya kalau Tante Jah melewati ruang tamu saja, maka dengan sigap aku mulai membersihkan kursi-kursi, meja atau lemari. Tujuanku, agar nanti kalau ditanya oleh Sinterklas, Tante Jah akan melaporkan bahwa akulah yang terbaik diantara anak-anak lain.

Beberapa hari kemudian, anak-anak dikumpulkan lagi oleh Tante Jah. Katanya akan ada pengumuman penting. Dengan penuh harap, kami mengelilingi sang Tante yang berwibawa itu. “Ini serius. Sinterklas malam ini akan singgah di kota Malang,” kata Tante Jah. Anak-anakpun menjadi semakin tegang, terlebih lagi aku.

“Jadi, agar Sinterklas mau mampir ke rumah ini, kita harus memancing kudanya Sinterklas itu dengan menyediakan makanan yang disukai kuda. Kalian harus mengumpulkan rumput dan dimasukan ke dalam sepatu kalian masing-masing. Kemudian sepatu yang berisi rumput itu harus diletakkan di ruang tengah ini,” kata Tante Jah melanjutkan.

Maka berhamburanlah kami mencari rumput, dengan membawa sepatu masing-masing. Tetapi aku tidak mau mengambil rumput dari halaman rumah itu. Aku menyeberang ke halaman tetangga yang memiliki rumput lebih hijau dan lebat. Dengan rumput terbaik, maka pastilah kuda Sinterklas akan tertarik karena rumput di sepatuku lebih hijau dan panjang dari pada sepatu anak-anak lain. Dan dengan begitu, ia akan mendapatkan hadiah yang terbaik dan lebih besar.

Pada malam hari itu kami diharuskan untuk tidur lebih awal. Sehingga jika tengah malam Sinterklas singgah ke rumah kami, anak-anak sedang tidur lelap. Itulah perintah Tante Jah. Sebelum jam 9 malam, kami sudah bersiap tidur. Lampu kamar pun dimatikan.

Semua anak-anak sudah mulai “ngorok“. Hanya aku saja yang belum bisa tidur. Aku masih saja memikirkan bagaimana caranya nanti Sinterklas dan Pit Hitam masuk ke dalam rumah. Jika masuk melalui atap rumah, apakah Sinterklas tidak akan memecahkan genteng-genteng sehingga membuat bocor ketika hujan turun? Perkara ini agak mengganggu pikiranku.

Ketika Tante Jah membuka pintu kamar kami untuk memeriksa apakah kami sudah pada tidur, aku dengan cepat pura-pura sudah tidur nyenyak. Aku mengatur nafas panjang-panjang seperti orang yang sudah lelap tidur.

Dan benar saja, di tengah malam itu mulai terdengar suara-suara, “geletak-geletuk”. Aku menjadi semakin tegang. Suara itu tidak datang dari atas atap rumah, tetapi dari ruang tengah. Perlahan-lahan aku turun dari tempat tidurku dan mengintip apa yang terjadi di ruang tengah. Aku tidak berani mengintip dari pintu yang sedikit terbuka. Aku berdiri jauh dari pintu, menempel ke tembok sehingga tidak akan terlihat dari ruang tengah yang terang.

Hampir-hampir aku tidak percaya pada apa yang kulihat dari sela-sela pintu yang sedikit terbuka itu. Ada tangan-tangan yang bergerak-gerak dan menaruh kotak-kotak hadiah yang sudah dihias ke dalam sepatu-sepatu yang sebelumnya berisi rumput. Aku terkejut, tapi pada akhirnya aku mengerti, siapakah sebenarnya “Sinterklas” itu. Kemudian aku pun mengendap-endap kembali naik ke tempat tidur, lalu tidur pulas.

Pagi hari tiba, suasana menjadi meriah. Anak-anak termasuk aku mulai membuka bungkusan-bungkusan hadiah. Kami bersorak-sorak girang sambil memegang hadiah masing-masing. Tidak ketinggalan aku juga ikut berteriak-teriak senang. Kemudian kami diminta bernyanyi sebagai tanda terima kasih kepada Sinterklas. Seperti biasanya, aku bernyanyi paling keras dan paling merdu.

Tentu saja aku masih ingat apa yang kusaksikan semalam. Tetapi, di depan anak-anak-anak lain aku bersikap seakan-akan aku tidak tahu apa-apa. Aku melakukan semacam gerakan “tutup mulut”. Aku tidak mau membuat tante Jah kecewa. Ia yang sudah bekerja keras mempersiapkan kedatangan Sinterklas ke kota Malang setiap tahun. Aku berjanji tidak pernah membuka “rahasia” malam itu kepada anak-anak yang lain.

Biarlah suatu saat nanti, mereka akan tahu sendiri rahasia Sinterklas, mungkin kalau sudah dewasa, tetapi bukan dari aku. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

 

Dikejar Celurit

DIKEJAR CELURIT

 SIANG itu Geng Anak Tanjung sedang berkumpul di bawah sebuah pohon besar di Lambou (berasal dari kata bahasa Belanda, Land Bouw, yang artinya pertanian). Lambou adalah sebuah lahan yang sangat luas. Letaknya berbatasan dengan gang-gang di Jalan Tanjung. Batas Lambou itu tepat berada beberapa puluh meter di belakang rumah kami, rumah Mbah Tanjung.

Cacak duduk di tanggul sambil memegang tongkatnya. Kami, para anak buah, duduk melingkar di depannya. Gayanya masih saja seperti Nabi Musa yang sedang berkhotbah di depan umatnya. Titahnya hari itu adalah agar kami pergi ke kebun tebu. Maksudnya, mencuri tebu! Memang kebun tebu yang sangat luas itu sudah siap panen. Maklum tebu-tebu saat itu sudah cukup besar dan sangat tinggi, yang menggoda untuk di…curi. Dan biasanya, pada musim seperti ini, pengamanan kebun tebu pun ditingkatkan. Pemilik kebun menyebar “centeng”. Centeng adalah orang-orang yang berbadan besar dan menyeramkan, terutama bagi anak-anak kecil. Kami biasa memanggil mereka: Pak Celurit!

Pak Celurit berwajah sangar dengan kumis panjang lebat nan melintang. Lengannya berhias gelang akar bahar. Seluruh jemarinya dilengkapi cincin batu akik yang besar-besar. Dan tentu saja, sesuai julukannya, ke mana pun ia pergi selalu menenteng celurit. Celurit, anda sudah tahu, adalah sebuah senjata tajam khas suku Madura.

Walaupun sejenis senjata tajam, celurit sebenarnya memiliki bentuk yang indah, melengkung, bagaikan bulan tanggal muda yang diberi gagang. Tetapi, aku sangat takut pada pada bagian ujung celurit dan lengkungan bagian dalamnya. Konon, ketajamannya luar biasa, bahkan bisa dipakai untuk mencukur jenggot dalam sekedipan mata.

Singkat cerita, kami para anggota geng sudah siap melaksanakan titah Cacak. Masing-masing dari kami sudah mempersenjatai diri dengan pisau. Kami berkumpul di pinggir batas kebun tebu. Tim pengawas” pun sudah disebar untuk mengkondisikan, kalau-kalau Pak Celurit muncul dari arah kanan atau kiri. Kalau Pak Celurit muncul, maka yang bertugas sebagai pengawas akan memberi kode kepada kami, lalu kami semua berlari ke kampung dan menyebar. Begitu strategi dari Cacak, sang pemimpin yang jenius.

Tetapi, strategi canggih ini pun kemudian menjadi buyar berantakan. Pada saat kami sedang asik-asiknya membabat tebu, tiba-tiba tanpa diduga dan luput dari intaian Tim Pengawas. Pak Celurit muncul dari dalam kebun yang sangat dekat dengan kami.

Kami semua terperanjat, termasuk Cacak, sang pemimpin. Dengan sigap Cacak langsung mengubah strateginya. Bukan lari ke kampung, tapi langsung masuk ke dalam kebun tebu yang lebat dan tinggi. Suatu langkah yang tepat. Spontan kami pun mengikuti jejaknya, berhamburan ke dalam kebun.

Celakanya, tidak kalah pintar, Pak Celurit berbalik masuk ke kebun mengejar kami. Maka, terjadilah sebuah adegan kejar-kejaran yang seru, bagaikan dalam film perang yang pernah aku tonton bersama Om No di bioskop. Terkadang untuk beberapa saat kami harus berhenti lalu harus diam, senyap. Cacak memasang telinganya. Dari suara gemerisiknya daun-daun tebu, akan ketahuan di mana posisi Pak Celurit.

Di tengah kesunyian yang mendebarkan itu tiba-tiba terdengar suara teriakan keras Pak Celurit. Tampaknya ia berhasil mengetahui posisi kami. Meski tidak menatap wajahnya, kami tahu ia marah-marah dan mengancam kami. Bergidik, Cacak yang diikuti anak-anak lain lari terbirit-birit dan sekencang-kencangnya menerobos lebatnya kebun tebu.

Kalian tidak boleh lupa bahwa aku ini adalah anggota geng yang paling kecil, begitu pula dengan ukuran langkah kakiku. Bisa ditebak, dalam pelarian itu aku terpisah dari rombongan. Dan aku pun tertinggal sendirian di dalam kebun tebu yang luas itu.

Aku duduk bersembunyi di balik rerumpunan tebu yang paling lebat. Suasananya sepi mencekam. Mendadak terdengar suara gemerisik, mendekat dan semakin dekat. Pada saat itulah aku merasakan sesuatu yang dinamakan “takut”, rasa takut yang hebat lagi sangat.

Dalam benakku terbayang ketajaman celurit yang mengkilat nan mengerikan. Tetapi, suara gemerisik itu terdengar semakin lama semakin menjauh. Meski masih ketakutan, aku berusaha lebih tenang. Aku memilih tetap berdiam diri.

Hingga akhirnya menjelang maghrib yang menegangkan, setelah beberapa jam bersembunyi, aku baru berhasil keluar dari kebun tebu dan berjalan menuju kampung dengan penuh rasa lega bercampur kemenangan.

Di pinggir kampung, Cacak dan seluruh anggota Geng Anak Tanjung telah menunggu kedatanganku. Mungkin saja mereka juga ketakutan dan khawatir akan nasibku anggota mereka yang paling kecil.

Sambil memegang tongkat, aku berjalan dengan tenang, gagah dan bangga mendekati mereka. Kemudian aku pun bercerita tentang keberanianku berkejar-kejaran dengan Pak Celurit. Tentu saja itu cerita yang aku buat-buat, kuberi banyak bumbu lalu kuaduk, supaya mereka lebih kagum mendengar kisah keberanianku.

Pada saat itulah aku merasa bahwa aku ini sudah selayaknya diangkat menjadi wakilnya Cacak. Wakil Pemimpin Geng Anak Tanjung, Gatan. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Gerobak Si Ja’im

cso gerobak

GEROBAK SI JA’IM

SEWAKTU kecil, aku sudah sering berdoa. Itu karena aku tinggal di dalam keluarga yang rajin berdoa, keluarga Mbah Tanjung. Di rumah besar di Jalan Tanjung Gang Dua, setiap hari ada acara doa bersama. Biasanya doa malam hari sebelum tidur. Doa sebelum makan dilakukan sendiri-sendiri, tetapi anak-anak selalu diingatkan oleh yang lebih dewasa. “Hayoo… Sudah berdoa belum?”. Aku paling sering mendapat teguran itu.

Bagiku, ada sebuah doa yang paling menyenangkan, yaitu doa yang dikabulkan. Meski bagaimana sebuah doa yang bisa sampai terkabul, itu masih menjadi misteri buat diriku.

Pada suatu siang setelah sekolah, badan aku sudah terasa lelah. Padahal hari itu aku masih harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah. Sekolahku di Taman Kanak Kanak di Jalan Semeru (Semeru Straat) Malang. Jarak dari sekolahku ke rumah Mbah Tanjung yang baru di Jalan Lowok Waru sekitar 4 kilometer. Parahnya lagi, siang itu matahari kota Malang tersenyum sumringah dengan teriknya. Detik itu juga aku berdoa, “Tuhan, aku capek. Tolong aku Tuhan.” Hanya itu saja yang kukatakan dalam hati sembari berjalan pulang agak sempoyongan.

Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar sayup-sayup suara kloneng-kloneng. Terimakasih Tuhan, bisikku dalam hati. Aku hafal luar kepala suara itu. Bunyi “kloneng-kloneng” itu adalah suara kalung pada leher sapi yang menarik gerobak beroda ban karet milik si Ja’im. Suaranya semakin dekat, dan benar munculah gerobak sapi. Ja’im. Kusir gerobak itu adalah sahabatku.

Ja’im memandangku sambil tersenyum lebar, senyuman seorang sahabat. “Melok? (Ikut?),” tanyanya. Secepat kilat aku melompat ke atas gerobak dan duduk di samping Ja’im. Sahabatku itu kemudian mengayun-ayunkan cambuknya untuk melarang anak-anak lain yang ingin ikut naik ke gerobaknya.

Ja’im adalah seorang laki-laki kurus berumur sekitar tiga puluhan tahun. Ia termasuk tipe orang yang tenang, sabar dan pendiam. Ja’im hanya kelihatan marah kalau ada anak-anak yang mau menumpang gerobaknya. Tetapi, mengapa aku dibolehkan naik bahkan diajaknya?

Begini riwayatnya. Beberapa minggu sebelumnya, saat aku dan teman-teman sekolahku beramai-ramai hendak menaiki gerobak itu, Ja’im berusaha menghalau kami semua agar tidak naik gerobaknya. Tetapi terlambat, aku sudah terlanjur berhasil naik dan nangkring di atas gerobak itu.

Saat mata sang kusir menatapku tajam, apa yang aku lakukan? Aku hanya tersenyum lebar yang cenderung nyengir kepada kusir kurus itu. Ajaib, aku tidak diusirnya. Ia hanya melengos sebal, lalu kembali memandang ke depan sambil mencambuk sapinya agar berjalan lebih cepat. Itulah cerita perkenalan pertamaku dengan Ja’im.

Sejak saat itu, setiap kali menumpang gerobak itu, aku selalu terus mengoceh, dan rupanya Ja’im senang dengan cerita-cerita yang aku ceritakan. Aku bercerita tentang berbagai hal. Tentang kejadian di sekolah, di rumah, atau kejadian-kejadian lucu lainnya. Mendengar aku bercerita, terkadang ia tertawa atau tersenyum senang, tapi tanpa komentar apapun. Mungkin, itulah persahabatan yang ideal. Yang satu menjadi pembicara yang baik, yang lain menjadi pendengar yang baik.

Pada saat duduk atas gerobak sapi di siang terik itu, aku sempat merenung dan berpikir tentang kejadian yang baru saja terjadi. Doa yang terkabul. Bagaimana prosesnya? Kok, Tuhan bisa secepat itu menolongku dengan menyediakan gerobak si Ja’im. Tetapi, pikiran itu terpotong oleh kerasnya suara cambuk ke pantat sapi, jalanan agak menanjak setelah melewati jembatan kali Brantas.

Aku selalu menikmati perjalanan menumpang gerobak Ja’im. Apalagi sambil ditemani suasana teduh dan sejuk oleh semilirnya angin Malang yang dingin. Goyangan gerobak beroda ban karet yang lembut itu, berpadu dengan bunyi “klonengan” kalung di leher sapi yang ritmis. Ah, itu semua membuat mataku semakin berat, makin redup. Tetapi sebelum aku tertidur, aku masih sempat melirik si Ja’im. Ia masih tetap duduk tenang, memandang ke depan sambil mengendalikan sapinya.

Wis rek, muduno! (sudah rek, turunlah!)”.

Hampir saja aku terpental kaget dibangunkan si Ja’im. Rupanya kami sudah tiba di mulut gang rumah Mbah Tanjung. Aku pun meloncat turun sambil melambaikan tangan ke arah Ja’im. Ia membalas lambaian tanganku dengan nyengir sambil mengangkat tinggi-tinggi cambuknya lalu dialamatkan ke sapinya.

Sambil berjalan memasuki gang menuju ke rumah, aku memikirkan lagi bagaimana cara Tuhan mengirimkan gerobak si Ja’im. Tetapi, lagi-lagi pikiran itu terhapus karena aku sudah tiba di rumah. Seperti biasanya, aku harus segera berganti pakaian, mencuci kaki dan tangan, sambil semangat menunggu panggilan untuk… makan! (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Pemimpin Hebat dan Kotoran Luwak

PEMIMPIN HEBAT DAN KOTORAN LUWAK

 

AKHIRNYA, setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, aku diterima sebagai anggota geng, Geng Anak Tanjung, Gatan. Status menjadi anggota Geng pimpinan CACAK yang sangat disegani oleh anak-anak sekitar Jalan Tanjung, Malang, tentu membuat diriku sangat bangga. Apalagi kalau kami sedang berjalan berombongan, bagaikan tentara sedang berpatroli atau pawai. Aku merasa sangat keren, meskipun aku selalu berada di posisi paling belakang.

Saat pawai, aku selalu berjalan dengan tegap, sedikit digagah-gagahin, apalagi kalau kami berjalan melewati anak-anak lain yang menonton di pinggir jalan atau dari dalam pagar rumah mereka. Aku ingin memperlihatkan kepada anak-anak rumahan itu, bahwa aku adalah anak yang tidak bisa dianggap cengeng. Meski toh kenyataannya, aku selalu berjalan di barisan paling belakang.

Karena aku masih sekolah TK sedang anak yang lain semua sudah SD, aku berjalan selalu berjarak dengan barisan utama. Kadang kala anak buah Cacak yang lain merasa kurang nyaman dekat-dekat denganku, dari kasta yang lebih rendah. Bahkan bila Cacak tidak melihat, mereka mencoba mengusirku. Tetapi, hal itu tidak aku hiraukan. Bukankah aku sudah menjadi anggota resmi yang diangkat sendiri oleh Cacak, sang pemimpin Gatan?

Kegiatan rutin Geng Anak Tanjung adalah berjalan menyusuri kampung-kampung di daerah Tanjung. Tetapi terkadang kami juga berani keluar dari daerah Tanjung, misalnya ke daerah Bareng. Bareng merupakan daerah yang ideal untuk berpatroli, karena jalanannya yang sempit dan berbatu-batu, apalagi ada sungai kecil yang melintas di situ. Tempat ideal untuk lokasi semacam outbound di masa sekarang.

Pernah suatu kali, di daerah Bareng itu kami berpapasan dengan geng lain. Selayaknya geng, mereka juga memiliki pemimpin dan anak buah. Geng mereka lebih besar daripada geng Gatan. Hal ini membuat jantungku berdebar-debar. Aku sudah bersiap-siap, kalau sampai nanti terjadi tawuran, aku akan menjadi orang pertama yang lari, pulang ke rumah. Aku bukannya takut, (baca: memang takut), tetapi aku akan melapor ke Om-Om dan kakak-kakak yang lebih besar di Tanjung, bahwa sedang terjadi tawuran. Tetapi kata orang bijak, apa yang kita takutkan, biasanya tidak terjadi.

Ketika kedua geng ini berpapasan lebih dekat, Cacak sang pemimpin yang kukagumi itu melakukan tindakan yang tidak diduga-duga. Kepada pemimpin geng lawan, Cacak mengangkat tongkat saktinya tinggi-tinggi sambil berteriak keras, “Hooo…!” Seketika itu juga, pemimpin geng lawan juga melakukan hal yang sama. “Hooo…!” Setelah itu, kedua geng itu pun melanjutkan perjalanannya masing-masing. Beruntung aku belum sempat lari. Sejak saat itu, aku mengerti bahwa hal itu adalah semacam “salam damai antar geng”.

Selain pemberani, Cacak juga seorang pemimpin hebat yang brilian, cerdas dan punya wawasan jauh ke depan, bahkan sampai lima puluh tahun ke depan. Ia juga menjalankan prinsip-prinsip dan fungsi-fungsi “Manajemen Modern”. Dia tahu bahwa seorang manajer adalah orang yang mendapatkan hasil dari pekerjaan orang lain. Hal itu terlihat sewaktu Cacak membawa gengnya ke kebun kopi yang luas, di belakang Jalan Tanjung Gang Dua. Seperti seorang manajer, Cacak duduk santai di bawah pohon kopi sambil memain-mainkan tongkat kebesarannya itu. Sedangkan aku dan anak buahnya yang lain disuruh menyebar ke seluruh penjuru kebun. Kami diberi tugas mengumpulkan biji-biji kopi yang jatuh di tanah, terutama biji kopi yang terbungkus oleh… kotoran luwak!

Semua anggota geng termasuk aku diharuskan melakukan tindakan yang paling menjijikan dan tidak senonoh! Kami harus mengkorek-korek kotoran binatang luwak itu, baik kotoran yang sudah kering, setengah basah, seperempat basah bahkan yang masih 100% basah dan bau. Semua hasil pekerjaan itu harus disetorkan ke Cacak.

Belakangan aku baru tahu, bahwa oleh Cacak biji-biji kopi itu dijual ke seorang penadah di kampung sebelah. Sungguh luar biasa cerdas! Ia seakan tahu bahwa kelak berpuluh-puluh tahun kemudian, kopi kotoran luwak itu akan menjadi kopi terkenal dan termahal di dunia. Aku semakin kagum kepada si Cacak.

Mengingat peristiwa itu, duh mendadak aku kepingin minum Kopi Luwak. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Cacak

CACAK

CACAK adalah kata lain dari kakak. Cacak adalah nama panggilan seorang pemimpin yang sangat kukagumi saat diriku mulai sekolah di Taman Kanak-kanak. Waktu itu, Cacak dan gengnya sangat disegani oleh anak-anak di daerah Jalan Tanjung, Malang, Jawa Timur.

Walaupun Cacak masih kelas tiga Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar), tetapi badannya lebih besar untuk ukuran seorang anak laki-laki kelas tiga. Mungkin ia pernah tidak naik kelas karena kenakalannya. Bisa jadi.

Anak buah Cacak jumlahnya tidak pernah tetap, berubah-ubah terus, tetapi yang jelas tidak pernah lebih dari sepuluh anak. Tentu saja mereka semua berbadan lebih kecil daripada sang pemimpin. Baiklah, biar lebih keren, geng ini kuberi nama GATAN, singkatan dari Geng Anak Tanjung.

Pada suatu siang melintaslah gerombolan Gatan di depan rumah kami. Dari kejauhan sudah terdengar suara gaduh mereka. Mendengar itu, aku pun bersiap, menanti mereka di pagar depan rumah, sekedar untuk melihat mereka. Kali ini gerombolan Gatan yang melintas hanya sang pemimpin Cacak yang diikuti oleh lima anak, mereka ini adalah anggota inti geng. Sebagai anggota inti, mereka adalah yang paling setia dan tidak boleh absen dari semua kegiatan geng. Lalu, ke mana anggota yang lain? Mungkin sedang cuti, ada tugas lain, atau keluar dari keanggotaan geng karena dilarang oleh orang tuanya.

Gerombolan ini berjalan dan bergerak cepat sambil bercanda dengan suara yang lantang, bernyanyi-nyanyi, dan berteriak-teriak dengan kata-kata yang tidak jelas. Anak-anak Gang Dua yang sedang bermain di jalan gang bergegas menyingkir, menghindari pasukan anak bandel itu. Ada juga yang hanya menonton dari dalam pagar rumah mereka. Maklum, mereka adalah anak baik-baik, anak rumahan atau biasa disebut dengan “anak mama”.

Lain lagi dengan ibu-ibu, mereka melihat gerombolan itu dengan sebal dan marah. Mungkin mereka khawatir kalau-kalau anaknya nanti ikut bergaul dengan berandal-berandal kecil itu. Beruntung kali ini mereka hanya melintas saja, dan memang selalu begitu. Setelah itu, situasi menjadi normal kembali. Tenang dan sepi.

Tetapi, sejak itu, tiba-tiba aku punya perasaan yang aneh. Ada yang bergelora di dadaku. aku menemukan impian baru. Aku ingin bergabung dengan gengnya Cacak! Aku mulai membayangkan, bahwa kalau saja aku bisa bergabung Gatan, bakal bisa banyak melakukan petualangan-petualangan seru, hebat, dan mendebarkan atau nyerempet-nyerempet bahaya. Yang pastinya wow…

Perlu kalian ketahui, aku ini bukan jenis anak mama atau anak rumahan. Di rumah Mbah Tanjung, aku diberi kebebasan. Yang penting, pulang pada jam-jam absensi, yaitu sebelum maghrib dan waktu… makan!

Tidak perlu berpikir lama aku sudah berada di luar pagar, dan langsung berlari menyusul Cacak dan gengnya. Meski aku berhasil menyusul mereka, tetapi aku hanya berani menguntit dari jarak sekitar lima belas meter. Lumayan, pikirku, aku bisa mengamati Cacak, sang pemimpin, dan tanpa mengganggu mereka.

Acara penguntitan dan pengamatan ini kulakukan selama berhari-hari, dengan jarak pengamatan yang semakin lama semakin dekat. Yang membuat aku heran adalah mereka tidak tidak pernah mengusirku. Mungkin, karena aku masih terlalu kecil dan dianggap tidak mengganggu. Dan aku juga tahu diri, mereka anak-anak SD, sedangkan aku cuma anak TK, seakan beda kasta.

Hasil dari pengamatanku adalah: bahwa Cacak memang seorang pemimpin sejati. Dia selalu berjalan paling depan, gagah dan selalu membawa tongkat yang diambil sekenanya, entah dari mana asalnya. Yang membuat aku bingung ialah kenapa para pemimpin atau komandan suka bawa tongkat. Apa mungkin mereka meniru kewibawaan Nabi Musa. Sambil berjalan Cacak mengayun-ayunkan tongkatnya. Kadang dengan tongkat itu, ia menunjuk ke satu arah kepada anak buahnya.

Pernah suatu kali ia marah-marah kepada salah satu pengikutnya, entah sebab apa, mungkin saja waktu itu ada pengikutnya yang kurang loyal. ia memukulkan tongkatnya ke sebuah pematang sawah di belakang Jalan Tanjung Gang Dua. Begitu kerasnya hingga tongkatnya patah. Para pengikutnya terdiam, takut seakan-akan pukulan tongkat itu menghantam punggung mereka.

Cacak sangat sensitif untuk perkara loyalitas anggota gengnya. Ia sangat takut kalau ditinggalkan pengikutnya. Bisa jadi Cacak bersedia mati demi menjaga kepemimpinannya. Ini karena ia paham benar soal PDK (Prinsip Dasar Kepemimpinan). Seseorang baru bisa dinamakan pemimpin kalau ia punya pengikut. Tanpa adanya pengikut, maka ya seperti orang yang JJSSS (Jalan Jalan Sore Sore Sendirian). Dan makin hari aku semakin kagum saja kepada sosok Cacak.

Siang itu panas sangat terik, sang pemimpin dikelilingi anggota gengnya sedang duduk-duduk di pematang sawah. Sedangkan aku sudah berani mendekati mereka dalam jarak hanya tiga meter saja. Tiba-tiba Cacak mengarahkan tongkat saktinya kepadaku, sambil berkata, “Hei, kamu, bisa ndak cari pisau yang gede?” Aku sangat terkejut, dan langsung menengok ke belakang, mengira ada anak lain di belakangku, ternyata tidak ada. Maka, yakinlah aku bahwa perintah itu ditujukan kepada diriku. Saking kagetnya, aku hanya bisa mengangguk, lalu lari secepat kilat.

Sampai di rumah, aku langsung ke dapur mengambil sebuah pisau, yang tanpa ijin tentunya. Aku lalu lari terbirit-birit, kembali ke pematang sawah, dan menyerahkannya kepada sang baginda pemimpin Gatan. Cacak menerima pisau itu sambil tersenyum sumringah, sembari berkata kepadaku, “Kon ate melok tah? Ayo! (Kamu ingin ikut-kah? Ayo!).”

Tidak lama kemudian, iring-iringan pasukan pimpinan Cacak mulai bergerak. Cacak berjalan paling depan, dan aku paling belakang. Hari itu aku resmi menjadi anggota geng, Gatan. Sungguh aku bangga bukan kepalang.(*)

***

Intermezzo: Dua puluh tahun kemudian, aku yang kini dipanggil Ompa, anggota “Geng Anak Tanjung (Malang)” bertemu dengan Utie, anggota “Geng Anak Menteng (Jakarta)”. Akhirnya kami berdua menikah, sama persis seperti cerita dalam dongeng Cinderella…and they live together happily everafter

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Kera Ngalam

KERA NGALAM

 

JIKA suatu hari tiba-tiba ada orang yang menghampiri, menunjukmu dan berkata: “Hei, kamu KERA NGALAM, ya..?” Hendaknya engkau jangan tersinggung atau gusar karena dianggap sejenis kera, monyet, gorila atau sejenis orang utan. Tenang saja, jangan salah paham. Ia sebenarnya hanya menyapa, sebab dikira kamu teman sekampungnya. KERA NGALAM berarti AREK MALANG, dibaca terbalik. Justru orang yang menyapamu itu bisa jadi adalah KERA NGALAM.

Salah satu yang khas dari kota Malang adalah Bahasa Walikan, atau Boso Walikan. Artinya berbicara atau mengatakan sesuatu dengan kata-kata yang dibaca terbalik. Setiap kata dibaca dari huruf belakang ke depan. Kalau yang dibalik hanya satu atau dua kata mungkin kelihatannya mudah, tapi kalau sudah banyak kata…?

Aku sendiri tidak menguasai Boso Walikan ini, maklum saat itu aku belum bisa baca tulis. Apalagi, aku sudah harus meninggalkan kota NGALAM sebelum tamat dari Sekolah TK (Taman Kanak Kanak).

Yang jago Boso Walikan di rumah Jalan Tanjung Gang Dua hanya Om No dan Om Nu. Biasanya jika mengobrol berdua, mereka menggunakan bahasa biasa. Tetapi kalau aku mendekat, mereka langsung berganti menggunakan bahasa rahasia, Boso Walikan. Tentu saja agar aku tidak mengerti yang mereka bicarakan. Apalagi mereka melakukannya sambil melirik-lirik ke arahku. Sangat menyebalkan!

Bagiku, itu termasuk bagian dari per-buli-an. Kalau mereka sudah menggunakan Boso Walikan, biasanya aku bertahan di dekat mereka sambil menguping dan berpura-pura melakukan sesuatu. Seringkali aku bisa menangkap beberapa kata, dan yang paling aku tangkap dengan cepat adalah kata… NAKAM!

Konon, Boso Walikan dahulu dipakai untuk mengelabui tentara atau mata-mata Belanda. Kalau mendengar orang yang sudah sangat ahli dan lancar bicaranya, akan sulit sekali untuk diikuti apalagi dimengerti. Rupanya, ada semacam tingkatan-tingkatan dalam keahlian menggunakan boso walikan ini, terutama dalam kecepatan bicara.

Begitulah tentang Boso Walikan gaya Ngalam. Bagi yang mau belajar Boso Walikan, perlu kuingatkan agar belajar nya dengan sabar. Sebab, jika belajarnya sambil emosi, nanti justru akan stres dan mandek. Jadi, santai saja…

Ada cerita yang lebih seru tentang Boso Walikan ini, sebab rupanya bukan hanya kata-kata saja yang dibolak-balik model Malang ini. Begini ceritanya:

Suatu pagi, Mbah Tanjung yang berwibawa dan disegani itu sedang duduk di ruang tamu sebelah depan sambil membaca koran pagi, NGALAM SOP. Kemudian datanglah serombongan anak muda. Mereka bergerombol, berdiri di luar pagar, di depan rumah, sambil berteriak memanggil-manggil: “Juung Tanjuuung, Juung Tanjuung”. Yang mengherankan, yang punya nama itu, Mbah Tanjung, tenang-tenang saja, tetap baca koran. Tetapi, anak-anak itu terus memanggil-manggil.

Akhirnya Mbah Tanjung terganggu juga. Ia berdiri, tapi tidak keluar untuk menghampiri anak-anak itu. Ia justru melongok ke dalam rumah. Dan dari dalam rumah keluarlah seorang anak muda, yang dengan tergopoh-gopoh berlari, menghampiri anak-anak itu sambil berkata, “Eeh, jok banter baanter, rek!” (Eh, jangan keras-keras, rek). Siapakah anak muda itu? Ia adalah Om No, anak Mbah Tanjung.

Mungkin itu juga termasuk “walikan”. Terbolak-balik. Memanggil seorang anak bukan dengan nama anak itu sendiri, melainkan menggunakan nama ayahnya!

Aku rasa, “walikan” jenis ini susah ditiru di daerah lain, bisa berbahaya mungkin. Atau, mungkin saja ini semua hanya terjadi di… NGALAM. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Setiwel

SETIWEL

 

AKHIR-akhir ini kita sering melupakan kata “anugerah”. Menurutku, arti anugerah adalah pemberian Tuhan kepada kita. Anugerah diberikan kepada manusia baik diminta atau tanpa diminta. Anugerah bisa berupa harta, pangkat, kesehatan, penyakit, otak yang encer, bakat, dan sebagainya. Selanjutnya, terserah kita yang mendapatkan anugerah itu. Apakah dengan anugerah itu kita menjadi gembira, bahagia, marah, menyesal atau bersyukur. Terserah, kita pilih yang mana?

Kembali ke Jalan Tanjung Gang Dua Malang, rumah yang legendaris itu. Aku tinggal di rumah itu sejak bayi tergeletak, duduk, merangkak, berdiri, berjalan dan seterusnya. Anak sekecilku, waktu itu, sudah diberi anugerah oleh Tuhan berupa… penyakit korengan!

Koreng yang bahasa kerennya “eksim” itu, menghiasi kedua kakiku. Pada kaki sebelah kiri, mulai dari betis ke bawah. Sedangkan pada kaki sebelah kanan lebih parah, dari lutut sampai mata kaki.

Jadi, sejak mulai merangkak, aku sudah harus menggunakan perban di kedua belah kaki. Orang-orang sering meledek diriku: Hei, kok kamu setiwelan. “Setiwel” itu kain yang dipakai sebagai bagian dari seragam tentara Jepang, yang berupa kain berwarna hijau selebar kurang lebih 5-7 sentimeter yang dililitkan mulai dari lutut sampai sepatu. Yang suka menonton film perang pasti tahu. Hanya saja, setiwel ku berwarna putih, namanya perban. Perban itu setiap pagi harus dibuka, karena kakiku harus dijemur.

Aku sebagai penerima anugerah itu tampak sih tenang-tenang saja (baca: tidak berdaya), tetapi orang lain banyak yang ribut dan sibuk membahas kedua kakiku ini. Pembahasan soal itu seakan tidak ada habisnya. Satu luka sudah hampir sembuh, tapi ‘kawah-kawah’ kecil seperti kawah gunung Bromo itu menyembul lagi di tempat lain.

Segala macam ramuan obat sudah dicoba. Ada yang diminum, dioleskan atau ditaburkan ke atas kawah- kawah kecil itu. Tergantung jenis obatnya. Jika ada informasi terbaru yang diterima, pasti langsung ditindak lanjuti oleh Mbah Putri beserta timnya, Tim Penanggulangan Kaki Korengan (TPKK). Di antara informasi jenis obat itu, termasuk obat tradisional yang unik, seperti belerang, minyak bekas gorengan, cicak, tokek dan binatang melata lainnya.

Cukuplah kita bicara tentang kedua kaki legendarisku. Singkat cerita, entah sejak sekolah TK atau SD, eksim itu berangsur-angsur sembuh dan lenyap! Aku sudah lupa, kapan tepatnya aku mengucapkan selamat tinggal kepada setiwel.

Yang jelas saat dewasa, kakiku sudah mulus, dan bebas dari setiwel. Bahkan dulu isteriku, yang sering dipanggil dengan “Utie”, naksir aku karena kakiku yang mulus dan indah. Serius! Pun, sampai sekarang, Utie masih sering mengelus-elus kaki-kakiku. Sekali lagi, ini serius!

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Blog di WordPress.com.

Atas ↑