Cari

Antonius Sutedjo

Kategori

Masa di Wonogiri

Selebriti Sekolah

SELEBRITI SEKOLAH

SAAT itu kota Wonogiri sudah mulai aman dan berangsur bebas dari suasana perang akibat pendudukan tentara Belanda. Kota Wonogiri kembali menjadi kota yang indah, aman dan nyaman. Gunung Gandul pun masih berdiri tegak dan gagah di sisi Barat kota Wonogiri.

Musim bersekolah dimulai kembali. Aku mulai masuk ke Sekolah Rakyat Negeri Tiga Wonogiri. Gedung sekolahnya tidak jauh dari rumah keluarga Pak Mojo di Jalan Jurang Gempal. Dari rumah, aku cukup berjalan kaki kurang lebih dua puluh menit untuk tiba sekolah.

Aku hanya tinggal menyusuri jalan raya di depan rumah, lalu belok ke kiri ke arah kota. Setelah mencapai ujung tanjakan, jalanan mulai agak rata. Di sisi kanan setelah tanjakan itu ada sebuah gedung penyimpanan garam, namanya Gudang Garam. Dari sana tinggal sedikit berjalan lurus, maka tibalah aku di sekolahku.

Di seberang gudang garam dan gedung sekolah tersebut terhampar luas sebuah tanah kosong yang banyak ditumbuhi pohon-pohon. Di situlah letaknya tempat pohon kenari yang biaa aku kunjungi.

Bagiku, sekolah bukan hanya sekedar tempat belajar saja, tetapi juga tempat berpetualang yang menggairahkan. Aku selalu berangkat ke sekolah dengan penuh semangat dan riang gembira, karena aku percaya bahwa setiap hari akan selalu saja terjadi banyak hal-hal yang baru.

Kedatanganku di sekolah selalu disambut dengan ramah oleh teman-teman dan juga para guru. Mengapa? Karena di sekolah itu aku memang agak berbeda dari anak-anak lain. Aku adalah seorang anak yang berasal dari Jawa Timur, setiap hari mereka tidak sabar untuk mendengarkan aku berbicara dengan dialek Jawa Timuran.

Bahasa dan dialeknya memang berbeda. Misalnya: ”Ini bagaimana sih bung”. Kalau bahasa Jawa Tengah: ”Iki piye to cah”. Sedangkan bahasa Jawa Timuran: ”Yok oopo se, rek”. Jauh berbeda kan? Disamping itu di Jawa Tengah orang-orang berbicara dengan nada suara yang halus. Sedangkan aku yang bergaya Jawa Timuran mempunyai suara yang keras dan nyaris meledak-ledak kalau berbicara.

Setiap hari seluruh anak selalu tidak sabar menunggu terdengarnya lonceng tanda waktu istirahat. Begitu jam istirahat tiba, anak-anak itu langsung berkerumun di pojok halaman sekolah. Mereka sudah siap menantikan kehadiranku, si Ompa.

Aku kadang-kadang tidak langsung juga mendatangi kerumunan itu. Biarlah mereka penasaran dulu. Saat akhirnya aku menghampiri kerumunan itu, aku selalu berjalan dengan pelan, berlagak seperti sang pengkhotbah yang datang dan mengharapkan sambutan dari para pendengarnya.

Sementara itu anak-anak perempuan hanya bergerombol dan melihat kami dari jauh. Setiap kali aku mencoba mendekati mereka, mereka selalu menghindar, sambil menutup mulut dan tertawa-tawa melihatku.

Tak lama kemudian aku pun sudah berada di tengah anak-anak tersebut dan mulai bercerita tentang pengalaman perangku. Kadang-kadang mereka terlihat kurang mengerti dengan apa yang aku katakan, karena aku memakai bahasa dialek Jawa Timuran, maka untuk memperjelas ceritaku, aku juga melakukan gerakan-gerakan tubuh dan tangan. Bukankah aku telah belajar itu dari si tukang obat, di pinggir alun-alun kota Malang, sewaktu aku masih TK dulu?

Sambil bercerita aku selalu sambil mengamati mata teman-temaku. Mata mereka melotot, terkagum-kagum padaku. Aku merasa senang dan sangat menikmati itu semua.

Pernah suatu hari, di saat jam istirahat sekolah, aku diminta datang ke kantor guru. Aku kaget dan khawatir kalau-kalau aku akan ditegur karena kebiasaanku suka berpidato di depan teman-teman. Di dalam ruangan kantor sudah berkumpul para guru. Aku diminta berdiri di depan mereka. Terus terang aku merasa tegang dan gugup.

Lalu para guru itu satu persatu mulai mewawancaraiku secara bergantian. Mereka memintaku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Persis seperti orang yang sedang diaudisi. Tetapi sesaat kemudan mereka mulai tertawa terbahak-bahak mendengarkan caraku menjawab dan bercerita.

Makin hari aku semakin merasa bagaikan seorang selebriti di sekolah itu. Setiap kali ada ibu atau bapak guru berpapasan jalan denganku, mereka tersenyum dan kemudian menepuk-nepuk bahuku. Aku merasa sangat bahagia.

Aku juga terkenal di sekolah karena aku suka menyanyi. Saat pelajaran menyanyi, anak-anak harus maju satu persatu. Seringkali aku sengaja dilewatkan dan tidak dipanggil. Setelah semua anak sudah mendapat giliran dan bernyanyi di depan kelas, baru kemdian aku diminta maju untuk menyanyi. Aku selalu menyanyi dengan lantang dan keras. Tak heran suaraku terdengar sampai ke seluruh sudut sekolah.

Siang hari, di saat bubaran sekolah, hanya teman-teman laki-laki yang pemberani lah yang mau berjalan bersamaku. Yang lain berjalan menjauh, apalagi anak-anak perempuan, mereka hanya tersenyum ke arahku dengan matanya, tetapi mulutnya ditutupi dengan tangannya. Mengapa? Karena mereka tahu di dalam ranselku seringkali ada seekor ular hidup melingkar. Aku memang sering membawa ular peliharaanku ke sekolah, untuk aksi-aksian saja, biar kelihatan keren.

Maka siang itu semua anak-anak pun bergegas pulang ke rumah masing-masing. Tetapi tidak denganku, aku masih akan ada pertemuan penting dengan para anggota GAGAS, Geng Anak Gragas, di kebon kosong di seberang sekolahan, di bawah pohon kenari. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Pertempuran Darat

KNIL
KNIL

PERTEMPURAN DARAT

 

SEPERTI yang pernah aku ceritakan sebelumnya, sejak tinggal di kota Mojokerto aku sudah berkenalan dengan suasana perang. Aku pernah menyaksikan serangan udara, penembakan canon Belanda ke wilayah tentara Republik, dan gempuran mortir tentara Indonesia ke kota yang sudah diduduki Belanda. Tetapi satu hal yang belum pernah aku lihat, yakni pertempuran darat langsung, seperti dalam film-film perang.

Perang membuat aku terpaksa mengungsi. Mulai dari Mojokerto, Jombang, Solo, lalu ke Wonogiri. Di kota terakhir ini Pak Mojo memutuskan untuk tidak akan mengungsi lagi. Semula aku juga berpikir begitu, karena mana mungkin tentara Belanda tertarik untuk menduduki kota ini. Toh Wonogiri hanya sebuah kota kecil.

Tetapi, kenyataan berkata lain. Sejak kemarin malam, aku sudah mendengar suara dentuman-dentuman, semakin lama semakin dekat. Tetapi saat siang hari suara dentuman sudah tidak terdengar lagi. Jadi aku mengira bahwa tentara Belanda hanya ingin menakut-nakuti saja.

Namun, suara dentuman tadi malam terdengar semakin lebih mendekat. Apalagi suara itu terdengar seperti hujan peluru canon yang jatuh di kota Wonogiri. Aku lantas berpikir, sepertinya keadaan akan semakin serius.

Benar saja, tidak lama kemudian aku mendengar ada dua jenis suara tembakan. Yang satu suara rentetan tembakan dengan dentuman besar, sedangkan yang satunya terdengar lebih ringan dan letusannya hanya satu-dua kali, jarang-jarang. Aku langsung berpikir, mengacu pada sebuah film yang pernah aku tonton, bahwa ini seperti pertempuran darat.

Dua jenis suara tembakan itu semakin lama semakin mendekat. Sepertinya dari arah kota melalui Jalan Jurang Gempal di depan rumah kami. Aku pun semakin bersemangat menempelkan mataku ke dekat kaca jendela, mengintip. Sedangkan Pak Mojo dan Bu Mojo duduk di lantai pojok ruangan. Pak Mojo menyuruhku untuk segera turun dari jendela, agar tidak kelihatan dari luar. Tetapi aku tetap bandel, mengintip ke luar sambil berdiri di atas kursi dekat kaca jendela.

Tidak lama kemudian, terlihat beberapa tentara yang lewat sambil melepaskan tembakan, bergerak mundur ke arah Timur, ke arah jembatan sungai Bengawan Solo. Sedangkan dari arah kota, terdengar rentetan suara letusan senjata berat.

Lama kelamaan suara-suara itu seperti semakin mendekati jalan depan rumah. Dari dalam rumah terdengar derap sepatu tentara yang semakin lama semakin mendekat. Aku mendadak menjadi tegang dan takut, tetapi aku sungguh ingin melihatnya langsung. Benarkah itu suara derap sepatu tentara Belanda. Belum lama aku berpikir, muncul barisan tentara berbaju loreng yang masing-masing memegang senjata laras panjang. Aku sungguh terkejut dengan apa yang kulihat. Ternyata mereka bukan tentara yang berkulit putih, tapi berkulit gelap!

Aku jadi ingat, rupanya merekalah yang disebut tentara KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger). KNIL adalah pasukan yang biasa dipakai oleh Belanda untuk lebih dulu menyerbu ke daerah yang akan didudukinya. Anggota tentara KNIL kebanyakan adalah orang pribumi

Di jalanan depan rumahku, para tentara yang berbaju loreng itu berteriak-teriak sambil sesekali melepaskan tembakan. Mereka memerintahkan semua laki-laki dewasa agar segera keluar dari dalam rumah sambil mengangkat tangan.

Aku kemudian menyaksikan rumah tetangga di seberang jalan didobrak. Dengan sepatunya yang kuat, tentara itu menendang pintu rumahnya, karena terlalu lama tidak dibuka dari dalam. Aku menjadi semakin ketakutan.

Dan tiba-tiba saja aku melihat sudah ada seorang tentara di halaman rumah kami. Tanpa berpikir panjang aku langsung membuka pintu depan dan keluar. Aku tidak mau pintu rumahku dirusak. Baik digedor atau didobrak seperti rumah tetangga itu.

Tentara itu bertanya sambil berteriak, apakah ada laki-laki dewasa di rumah kami. Sambil gemetar hebat tidak mampu bicara, aku hanya mengacungkan jari telunjukku. Yang ingin aku katakan adalah bahwa di rumah kami hanya ada satu lelaki dewasa.

Kemudian aku menjerit memanggil Pak Mojo agar segera keluar. Dengan ketakutan Pak Mojo keluar sambil mengangkat kedua tangannya. Tentara itu masih tidak percaya, bahwa memang hanya ada satu orang laki-laki di dalam rumah kami. Ia lalu memeriksa masuk ke dalam rumah. Setelah yakin tidak ada orang yang dicarinya, tentara itu menggelandang Pak Mojo keluar, ke tepi jalan.

Semua laki-laki itu diperintahkan untuk duduk berjejer di tepi jalan, sambil meletakkan kedua tangan mereka di belakang kepala masing-masing. Aku melihat, beberapa pemuda mendapat tendangan sepatu lars tentara. Aku melihat Pak Mojo tidak dipukul, hanya kepalanya saja yang digoyang-goyang.

Akhirnya, semua laki-laki itu digiring menuju ke arah kota dengan todongan senjata laras panjang. Saat hari telah menjelang sore, akhirnya Pak Mojo pulang kembali ke rumah dengan tidak kurang suatu apapun. Syukurlah…

Setelah kota Wonogiri mereka anggap aman, saat hari menjelang gelap baru tampak iring-iringan kendaraan militer berwarna loreng yang membawa tentara Belanda, berkulit putih, memasuki kota Wonogiri. Suasana malam itu sungguh mencekam. Kami tidak bisa tidur karena harus selalu waspada. Suara dentuman dan letusan senjata sesekali terdengar di kejauhan, di seberang Sungai Bengawan solo. Akhirnya kota Wonogiri juga diduduki oleh tentara Belanda, batinku.

Sepanjang malam kami berdoa agar tidak terjadi apa-apa malam itu, juga esok harinya dan hari-hari setelahnya. Aku juga berdoa agar kami tidak harus pergi mengungsi lagi. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Pemakan Serangga

 cso Belalang kayu

PEMAKAN SERANGGA

KETIKA suasana perang masih berkecamuk, semua daerah termasuk Wonogiri mengalami masa-masa yang sulit. Harga bahan-bahan pokok melambung, sangat tinggi, bahkan juga sangat sulit untuk mendapatkannya. Beras menghilang dari peredaran. Entah ke mana perginya. Maka, makanan kami sehari-hari adalah Tiwul, yaitu singkong yang dijemur di bawah matahari agar menjadi Gaplek, lalu ditumbuk halus dan ditanak seperti nasi. Jadilah… Sego Tiwul.

Pada mulanya makan Sego Tiwul setiap hari rasanya enak. Tetapi, kalau harus makan Sego Tiwul selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, ya repot juga… rasanya!

Ketika masa seperti itu, aku sering merindukan nasi putih. Saking rindunya, aku sering bermimpi sedang makan nasi putih dengan lauk ayam goreng. Jika tiba-tiba aku terbangun, aku menyesal. Kenapa harus terbangun tepat ketika enak-enaknya menikmati makan. Pernah juga aku bernazar, bahwa kelak kalau masa sulit ini telah lewat, aku akan makan sepiring nasi putih saja, tanpa lauk, tanpa sayur.

Sering sekali di meja makan hanya tersedia satu porsi. Satu piring nasi putih dan sepotong daging ayam goreng yang baru matang. Baunya harum sekali. Namun, nasi putih dan ayam goreng itu hanya untuk satu orang, yaitu Pak Mojo, ayah angkatku. Aku hanya berani berkeliling-keliling meja makan itu dan memandangi ayam goreng dan nasi putih itu sambil mengarahkankan hidungku ke arah sumber aromanya di atas meja itu. Aromanya, hemmm… seketika itu juga aku menelan ludah. Peristiwa seperti itu yang awalnya mendorong aku untuk bernazar.

Aku adalah makhluk “pemakan daging”, bukan manusia pemakan sayur atau buah-buahan. Rasa keinginan yang kuat untuk makan daging itu yang membuat aku mendirikan Geng Anak Gragas. Gragas berarti “suka memakan segala macam makanan, apa saja dimakan”. Maka, terbentuklah geng itu yang terdiri dari aku dan tiga orang temanku. Kami selalu berkumpul, merundingkan rencana dan operasi yang akan dilakukan.

Tujuan terbentuknya geng sudah jelas, adalah untuk berkelana sambil mencari makan, makanan apa saja yang dijumpai dan dimakan. Masing-masing dari setiap kami memperlengkapi persenjataan dengan sebuah pisau, tongkat panjang yang bercabang ujungnya, ketapel, jaring, dan korek api. Sedangkan di sakuku selalu siap sekantong garam, sekantong cabe rawit tumbuk, dan tembakau.

Operasi yang sering geng ini lakukan adalah, menuju lapangan di sekitar rumah kami. Di lapangan itu terdapat empat pohon kenari dan pohon mangga. Pohon kenari yang tinggi itu sedang berbuah rimbun. Kami menggunakan ketapel untuk meruntuhkan buah-buah kenari itu. Setelah buahnya berjatuhan di tanah, buah kenari itu kami tumbuk dengan batu besar agar kulit kerasnya pecah, dan terbelah.

Di dalam kulit keras itu terdapat biji kenari berwarna putih. Itulah sebenarnya yang kucari. Rasanya gurih. Tapi kadang-kadang biji kenari putih itu terburai akibat tumbukan kami dan tidak bisa diambil. Jika sudah begitu, maka aku korek memakai ujung peniti, hasilnya dimakan sedikit demi sedikit. Nikmat sekali!

Operasi geng Gragas berlanjut. Kami berjalan menyusuri kampung-kampung. Kalau ada pohon mangga yang sudah berbuah, maka salah satu anggota geng memanjat pohon itu tanpa suara. Kemudian memetik beberapa buah mangga, kemudian kami semua berlari menuju ke tanah kuburan di pinggir Sungai Bengawan Solo. Itulah letak basecamp atau kantor pusat geng kami.

Di sana kami duduk di rerumputan sambil memakan mangga muda disertai garam dan cabe rawit tumbuk yang sudah kami siapkan. Rasanya enak luar biasa!

Yang aku paling suka adalah jika menemukan mangga yang sudah menguning, alias matang di pohon. Aku lalu pelan-pelan memukul-mukulkan mangga itu ke tembok, ke pohon atau ke bebatuan. Perlahan dan terus-menerus hingga jika ditekan dengan tangan isi di dalam buah itu akan keluar kadang meleleh atau meleset kesana-kemari. Seperti jus mangga. Lalu aku mengigit dan menghisapnya sampai sesap habis. Jus manggaku ini adalah jus buah yang fresh, organik dan tanpa pengawet.

Operasi kami beralih ke semak-semak di sekitar tanah kuburan, lokasi basecamp geng kami. Di sana aku menemukan ular melata yang keluar dari semak-semak. Kami menangkap ular itu dengan menggunakan tongkat bercabang kami. Dari belakang, kupegang bagian kepala ular, lalu kuarahkan mulut ular itu ke belahan bambu sehingga ular itu menggigit bambu. Maka keluarlah cairan dari taring ular itu. Itulah racun ular.

Kemudian, giliran seorang temanku yang ahli menyembelih, menguliti dan memotong-motong ular itu. Setelah dipotong kecil-kecil, dagingnya ditusuk seperti sate. Tugasku selanjutnya adalah membuat api.

Setelah api membara, bersama-sama kami bakar sate daging ular itu hingga tercium aroma yang sangat sedap. Maka, pesta sate ular pun dimulai.

Geng Gragas juga sering beroperasi di dalam kampung-kampung. Jika kami menemukan ada gundukan-gundukan kecil di atas tanah. Itu pertanda di dalamnya ada makanan. Setelah gundukan itu aku singkirkan, maka akan tampak sebuah lubang kecil. Kemudian kumasukan sedikit tembakau ke dalam lubang itu dan mengisinya dengan air.

Dalam beberapa detik, maka akan keluar jangkrik berwarna putih yang penuh lemak. Jenis jangkrik putih itu namanya Gangsir. Gangsir-gangsir yang kami tangkap itu kami simpan di dalam kantong kain yang kami kalungkan di leher. Sambil berjalan sedikit tegap, kami melanjutkan operasi berikutnya.

Seperti operasi yang sudah-sudah, kami menuju ke semak-semak. Makanan yang paling banyak kami temukan di situ adalah belalang. Jika melihatnya, kami segera mengeluarkan jaring. Kami ikat jaring itu pada ujung tongkat yang kami bawa. Lalu dimulailah perburuan belalang. Biasanya kami mendapatkan belalang yang banyak sekali. Belalang-belalang hasil tangkapan, kami simpan di dalam kantung kami.

Selesai perburuan, kami kembali berkumpul di basecamp. Seperti biasa, tugasku adalah membuat api bebakaran. Geng Gragas siap berpesta serangga. Ada belalang, jangkrik, dan juga serangga lainnya termasuk entung (semacam kepompong) yang juga kami temukan di dalam semak-semak. Serangga-serangga bakar itu rasanya gurih dan lezat sekali.

Selain itu, menu favorit kami adalah burung bakar. Jika operasi perburuan burung dimulai, kami semua anggota geng menyebar. Senjata utamanya adalah katapel. Di daerah tempat tinggal kami banyak sekali burung yang hinggap di atas pohon dan juga di semak-semak. Burung yang terbanyak adalah Burung Tekukur. Dalam setiap perburuan, kami bisa mendapatkan tiga sampai lima ekor burung.

Petualangan Geng Gragas dilakukan hampir setiap hari. Kami selalu mendapatkan pengalaman-pengalaman yang seru, seperti ketika geng kami dikejar-kejar oleh pemilik pohon mangga. Dengan setiap hari berpetualangan, hidup kami selalu bergairah dan penuh tantangan. Hanya saja, Geng Anak Gragas itu dibenci oleh para orang tua yang menginginkan anak mereka bermain di dalam rumah. Anak-anak semacam itu kami namakan sebagai “anak rumahan”.

Dibandingkan dengan kami, anak-anak rumahan kulitnya lebih bersih dan halus. Maklumlah, memang mereka lebih banyak di dalam rumah, atau rajin cuci kaki dan cuci tangan, apalagi sebelum makan. Sedangkan kami, Geng Anak Gragas adalah brandalan yang hangus kulitnya karena sering terbakar matahari, terlebih lagi tangan kami yang baret-baret tidak karuan akibat perburuan di semak belukar.

Tetapi, kami merasa senang dan bahagia. Kami bebas berpetualang sambil mencari makanan kesukaan kami. Daging ular, daging burung, dan segala jenis serangga bisa menjadi santapan kami sehari-hari.

Kami juga sangat bersyukur bisa terbebas dari penyakit yang sering terjadi kepada anak-anak pada masa itu. Banyak anak yang terkena penyakit “kurang gizi”. Kami Geng Anak Gragas, justru mengalami “kelebihan gizi”. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Blog di WordPress.com.

Atas ↑