Cari

Antonius Sutedjo

Kategori

Masa Kecil Ompa di Kota Mojokerto

Antara Nasi dan Makan

CSO nasi

ANTARA NASI DAN MAKAN

MAKAN adalah bagian terpenting di dalam kehidupan masa kecilku. Alam pikiranku selalu dipenuhi dengan hal-hal yang berhubungan dengan perkara makan. Aktivitasku sehari-hari pun selalu melibatkan perkara ini.

Pagi hari bangun tidur, fokusku adalah menunggu makan pagi. Siang hari, yang kupikirkan adalah menanti makan siang. Juga pada malam hari, aku baru bisa tidur sempurna kalau sudah makan malam. Bagiku, yang disebut makan itu berarti makan nasi.

Aku pun memiliki banyak istilah yang berhubungan dengan masalah “makan”. Dan istilah-istilah tersebut aku pegang dengan teguh. Istilah “jalan-jalan”, misalnya, aku artikan sama dengan “makan-makan”. Maksudnya, kalau kita pergi jalan-jalan, ya harus makan-makan. kalau tidak ada makan-makannya itu bukan jalan-jalan namanya.

Seringkali yang mengecewakanku, istilah versiku berbeda dengan istilah versi para orang tua. Mereka tidak mengerti bahwa makan adalah persoalan “hidup dan mati” bagiku.

Pernah pada suatu sore orang tua angkatku, Pak Mojo dan Bu Mojo, mengajakku jalan-jalan ke pusat kota Mojokerto. Kami berkunjung ke rumah teman Pak Mojo. Kunjungan itu cukup lama. Aku bersabar, sebab aku berharap nanti sewaktu pulang pasti akan akan ada acara makan-makan. Aku pun sudah membayangkan menu makanan apa yang nanti akan kupilih. Aku sabar menanti.

Tetapi tenyata yang kemudian terjadi, kami langsung pulang ke rumah. Tidak singgah ke restoran lebih dahulu! Bagiku, hal ini tidak sesuai dengan apa yang “seharusnya” terjadi. Aku lalu protes keras, dengan cara menutup pintu kamar keras-keras sambil menunjukkan kejengkelanku. Tetapi, mereka justru memandang heran ke arahku. Mereka tidak memahaminya. Aku merasa tidak diperhatikan, dicuekin. Hal yang seperti itu sering menimbulkan kekecewaan yang mendalam dan membekas lama di hati aku.

Aku juga punya istilah lain perihal makan. “Makan-makan” itu artinya “makan nasi”. Kalau bukan nasi yang dimakan, itu namanya “jajan-jajan”. Ada lagi, jika makan-makan yang dilakukan di luar rumah, menurutku itu namanya rekreasi, atau jaman sekarang istilahnya wisata kuliner.

Seringkali setelah makan-makan di luar, setelah pulang, setibanya di rumah, aku minta makan lagi. Maka terjadilah kehebohan kecil, akibat benturan persepsi tentang istilah itu. Para orang tua seringkali tidak mau mengerti, bahwa bagiku perkara ini sudah seperti masalah harga diri. Seharusnya mereka “wajib” menghargainya, termasuk penggunaan istilah-istilah yang telah kubuat sendiri.

Sebenarnya persoalan apa yang membuat “per-makan-an” ini sangat serius dan sensitif bagi diriku pada masa itu? Beginilah riwayatnya.

Peristiwa ini terjadi ketika aku tinggal di rumah Mbah Tanjung. Pada waktu masih balita, ketika mulai bisa berjalan, berdiri sambil merayap-rayap sambil berpegangan pinggir dipan, aku mulai bisa mengamati sayup-sayup segala kejadian di sekitarku. Aku melihat orang-orang yang bejalan mondar mandir. Rupanya mereka sedang membantu Mbah Putri yang sedang memasak di dapur.

Kadang-kadang ada seorang Tante yang sedang berjalan menghampiriku, dan mencubit lenganku kuat-kuat. Aku merasakan cubitannya itu sakit sekali. Kalau nyubit nggak kira-kira! Setelah itu biasanya aku berteriak sekeras-kerasnya. Teriakanku itu kadang-kadang ada hasilnya, Mbah Putri akan menyuruh Tante-tante itu agar tidak menggangguku.

Kadang-kadang ada juga seorang Om yang tiba-tiba mendekatkan mukanya hingga hampir menempel ke mukaku. Ia lalu memperlihatkan muka terjeleknya yang seperti muka setan itu ke depan hidungku. Aku hanya terdiam, tanpa reaksi apapun. Karena toh hal itu tidak menyakitiku. Yang terpenting dari semuanya itu, yang aku tunggu-tunggu, yaitu prosesi pembagian… makan! Maka, segala rasa sakit dicubit akan serta merta menghilang, terhapus oleh nikmatnya makanan. Aku kemudian mencoba mengambil kesimpulan sendiri, bahwa nikmatnya makan akan selalu menghilangkan rasa sakit.

Kembali ke kota Mojokerto. Perkara benturan persepsi antara anak kecil dan orang tua tentang istilah makan ini terus berlanjut. Tetapi, sepertinya selalu saja pihakku yang dikalahkan. Hingga pada suatu pagi menjelang siang terjadilah sebuah peristiwa penting. Rumah kami kedatangan tamu, seorang Tante tetangga kami. Di ruang tengah ia mengobrol lama sekali dengan Bu Mojo. Sewaktu aku berjalan hendak melintasi mereka, Tante itu menyapaku, Hei, kamu sudah sarapan?” Aku spontan menjawab, “Belum Tante…” Aku menjawabnya dengan keras, tegas dan sesuai kenyataan.

Entah mengapa setelah itu sang Tante kelihatan merasa tidak enak kepada Bu Mojo. Ia kemudian cepat-cepat pamit pulang. Tak berapa lama, ketika aku sedang duduk-duduk di teras depan, tiba-tiba terdengar suara keras Bu Mojo memanggilku dari dapur. Ketika aku mendatanginya di dapur, aku kaget melihat wajah Bu Mojo yang merah padam. Mendadak sebuah sotil, sendok besi penggorengan, panas hampir saja menyambar kepalaku. Aku berdiri tegak di depan Bu Mojo sambil menatapnya dengan muka penuh tanda tanya.

Apakah salahku?, pikirku. Aku tidak mengerti mengapa Bu Mojo marah besar. Bu Mojo sampai berteriak-teriak, bahwa aku telah membuat malu keluarga di depan orang lain; bahwa keluarga kita adalah keluarga yang terhormat, sehingga tidak sepantasnya dipermalukan seperti ini, dan seterusnya dan seterusnya, masih panjang lagi.

Tetapi, aku masih tetap saja belum paham apa maksud Bu Mojo. Sampai akhirnya Bu Mojo bertanya, “Kenapa tadi waktu ditanya Tante, apakah kamu sudah sarapan, kamu jawab belum!”

Rupanya soal itu pokok masalah Bu Mojo marah. (Aku hanya menjawab di dalam hati, “Ya, memang belum sarapan”). Lantas, Bu Mojo melanjutkan dengan nada semakin keras, “Lalu yang kamu makan tadi pagi itu apa?”.

“Ketan,” jawabku lirih.

“Lha (ketan) itu kan juga sarapan!” kata Bu Mojo.

Nah, menjadi jelas sudah, sumber masalah besar yang dihadapi aku hadapi. “Sarapan” bagi Bu Mojo adalah makan apa saja pada pagi hari. Sedangkan dalam kamusku, “sarapan” adalah “makan nasi” pada waktu pagi. Masih terasa sambaran angin sotil pada pagi hari menjelang siang itu.

Bagaimanapun peristiwa itu ada hikmahnya bagiku. Sejak saat itu, setiap sarapan pagi selalu tersedia nasi! Mungkin itu berarti Bu Mojo telah mengakui bahwa, kamuskulah yang benar. Atau, mungkin juga Bu Mojo takut kalau tidak diberi nasi di pagi hari, aku akan berkeliling kampung, dan memberitakan kepada seluruh warga bahwa pagi itu aku belum diberi sarapan.

Namun, semua ini baru kemungkinan, dan perlu dikaji lebih lanjut. Setidaknya toh untuk sementara ‘kamus’ istilahku tentang pengertian makan yang dijadikan sebagai acuan resmi di rumah keluarga Pak Mojo. Demikian harap maklum. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Guling, Sahabat Dalam Pengungsian

GULING, SAHABAT DALAM PENGUNGSIAN

 

SIANG itu terlihat banyak orang bergerombol sambil berbisik-bisik. Yang mereka pergunjingkan adalah bahwa pasukan kita, Pasukan Republik, akan mengadakan penyerbuan besar-besaran ke kota Mojokerto. Agar tidak terjadi banyak korban, maka warga diminta mengungsi ke arah barat kota, wilayah yang sudah dikuasi tentara republik.

Pada tengah malam itu juga dengan berbisik-bisik aku dibangunkan Pak Mojo. Kami harus mengungsi. Kami harus bersiap dan segera berangkat saat itu juga. Semua dilakukan dengan terburu-buru dan diam-diam agar tidak tercium oleh mata-mata tentara Belanda.

Di tepi jalan depan rumah telah berbaris banyak orang dalam jumlah besar. Sekitar seratus orang sudah siap untuk mulai berjalan. Mereka membawa barang seadanya. Aku pun begitu, aku menyambar sebuah barang untuk dibawa. Guling!

Akhirnya, barisan pengungsi itu mulai bergerak. Berangkat berjalan kaki menuju ke Barat, ke wilayah yang tidak (belum) diduduki tentara Belanda. Kami semua harus berjalan dengan tenang. Tidak ada yang boleh mengeluarkan suara. Setiap orang berjalan sambil memikul atau menggedong barang bawaan masing-masing. Tidak mau kalah, aku pun memeluk erat guling kesayangan.

Awalnya aku berjalan dengan sangat semangat, tetapi baru beberapa langkah aku minta digendong. Maka sejak itu, di sepanjang perjalanan aku digendong di punggung beberapa orang secara bergantian. Mereka takut jika tidak digendong, aku akan menangis atau berteriak yang bisa mengusik tentara Belanda yang sedang lelap tidur.

Pernah suatu malam kami melewati sebuah desa. Suasananya sangat sepi. Mungkin karena penduduk di desa itu sudah pasti sudah pulas tidur. Tiba-tiba aku terbangun, kaget karena gulingku tidak ada. Aku panik dan berteriak-teriak, “Bantaal, bantaaalkuu!…” Tidak lama kemudian seseorang terburu-buru menyerahkan barang yang aku minta: guling.

Entah ada berapa kali siang dan berapa kali malam kami berjalan. Entah berapa puluh kali aku berpindah dari satu punggung orang ke punggung orang yang lain. Aku tidak ingat, karena toh tugas utamaku selama perjalanan mengungsi itu hanya tidur saja.

Setelah dewasa aku baru tahu, bahwa kami mengungsi ke Jombang. Jarak dari Mojokerto ke kota itu sebenarnya tidak terlalu jauh. Tetapi, bagiku yang masih kecil, perjalanan itu terasa panjang dan lama. Rasanya tidak sampai-sampai ke tempat tujuan, pikirku waktu itu. Demi keamanan, kami hanya berjalan pada malam hari dan seringkali kami mampir di sebuah desa untuk waktu yang cukup lama. Seingatku, hampir di setiap desa ada dapur umum yang dibuat ibu-ibu desa tersebut untuk membantu para pengungsi yang melewati desa mereka.

Suatu kali kami memaksa berjalan di siang hari. Supaya tidak memantulkan sinar matahari, semua sepeda yang dibawa ditutupi, termasuk sepeda Pak Mojo. Terutama pada bagian sepeda yang mengkilat, seperti setang sepeda, dibungkus kain, dan bagian atasnya ditutupi ranting-ranting pohon. Persis seperti semak-semak berjalan. Siasat ini dilakukan agar kami tidak terlihat oleh pilot pesawat tempur Belanda.

Pada perjalanan siang hari itu, tiba-tiba terdengar bunyi pesawat tempur Belanda. Gawat! Kepala rombongan segera memberi tanda, bahwa kami saat itu juga semua harus tiarap di rerumputan, di tepi jalan pinggiran sawah. Suasana sangat mencekam!

Mendengar deru pesawat tempur itu mendekat, aku langsung berusaha berdiri ingin melihat. Tetapi, tiba-tiba sebuah tangan yang besar melintas di atas kepalaku. Menarikku ke bawah, masuk ke dalam pelukan rerumputan. Aku tidak menyerah. Sambil tiduran, aku membuka sebelah mata mengintip dan menyaksikan pesawat Belanda sedang berputar-putar. Tiba-tiba pesawat itu menukik sangat rendah hingga di atas barisan rombongan kami. Suasana semakin mencekam!

Terdengar rentetan tembakan. Aku melihat peluru-peluru berjatuhan ke kanan-kiri rombongan. Untungnya, tidak lama kemudian pesawat Belanda itu kembali menanjak naik, terbang menuju ke arah timur dan tidak kembali lagi. Segera setelah itu kami serombongan pengungsi melanjutkan perjalanan. Sebuah peristiwa yang sungguh menegangkan.

Akhirnya, kami sampai di kota Jombang. Setelah memasuki kota tujuan tersebut, rombongan pengungsi mulai membubarkan diri. Mereka berjalan sendiri-sendiri, mencari tempat mengungsi. Pak Mojo, Bu Mojo dan aku, menumpang di rumah kerabat dari bu Mojo, tepatnya di samping barat stasiun kota Jombang.

Dan malam itu aku adalah anak yang paling berbahagia. Karena pada akhirnya aku bisa tidur nyenyak di atas dipan, tanpa harus terguncang-guncang seperti saat digendong. Malam itu, aku merasa ingin tidur selama seribu tahun.

Sebelum tidur aku sempat berpikir, kami semua telah berhasil meninggalkan kota Mojokerto dengan berhari-hari berjalan, manalah mungkin tentara Belanda itu bisa menyusul kami?. Dan lalu aku pun tertidur pulas, sambil peluk guling. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Tiarap di Depan Tembakan Meriam

TIARAP DI DEPAN TEMBAKAN MERIAM

 

SEPI. Demikianlah suasana di sekitar rumah di Jalan Brantas Mojokerto, rumah pak Mojo, tempatku tinggal. Sungai Brantas yang luas itu tetap setia mengalir tenang tapi indah dipandang mata. Hanya saja entah mengapa, ada perasaan aneh yang kurasakan hari itu. Tidak seperti biasanya.

Masyarakat penghuni kampung bawah, di belakang rumah kami, akhir-akhir ini memang terasa tidak seramah dan gembira seperti biasanya. Mereka terlihat berubah menjadi serius dan tegang. Mereka sering bergerombol, mengerumuni radio dan mendengarkan orang yang sedang berpidato dengan suara keras dan berapi-api. “Itu kan Bung Tomo!” kata seorang temanku yang selalu berlagak serba tahu, mungkin karena ia sudah duduk di kelas empat SD. Ia mengatakan itu kepadaku dengan sikap sedikit mengejek, seolah ia teman dekatnya Bung Tomo.

Dan benar saja, kesunyian pagi itu terkoyak oleh suara sirine yang meraung-raung dengan sangat keras. Sirine yang terletak di atas sebuah menara di seberang sungai Brantas itu bagaikan seekor Dinosaurus yang meraung marah, menyeramkan. Sirine itu dibunyikan sebagai tanda bahwa akan adanya serangan udara oleh tentara Belanda.

Bunyi sirine yang pertama berarti seluruh warga harus berlindung di bawah kolong tempat tidur. Sedangkan bagi yang sedang berada di luar rumah, diharuskan berlindung di bawah pepohonan agar tidak terlihat oleh pesawat Belanda.

Bunyi sirene yang kedua berarti pertanda bahwa situasi sudah aman. Kami sudah boleh keluar dari tempat berlindung. Masyarakat sekitar sudah sering dilatih agar cepat tanggap terhadap peringatan atau tanda bahaya ini. Karena terlalu sering, justru banyak orang menjadi tidak sigap lagi.

Tetapi, bunyi sirine siang hari itu meraung lebih lama dari biasanya. Di sela-sela bunyi sirene itu terdengar sayup-sayup suara mendengung di langit. Sebagai salah satu penggemar film perang, aku dengan cepat mengetahui bahwa itu adalah suara pesawat tempur Belanda. Maka, di saat orang-orang dewasa berhambur berlindung takut di bawah tempat tidur, aku yang nakal ini malah sudah nangkring di atas cabang pohon mangga yang berada di halaman depan rumah Pak Mojo.

Pohon mangga itu tinggi dan rimbun daunnya. Menurutku, pilot pesawat tempur itu tidak akan bisa melihatku. Dari sela-sela dedaunan pohon mangga, dengan jelas aku bisa melihat dua pesawat Belanda itu terbang berputar-putar di atas kota Mojokerto, juga di atas kali Brantas di depan aku berada.

Salah satu dari pesawat tersebut terbang berputar-putar di seberang sungai di sekitar menara sirine. Tiba-tiba aku melihat pesawat tempur itu terbang menukik tajam, dan pada saat pesawat mulai menanjak lagi terdengarlah bunyi ledakan yang dahsyat. Api berkobar sangat besar. Kemudian asap berwana hitam mengepul menjulang tinggi. Tubuhku gemetar.

Setelah menjatuhkan beberapa bom, pesawat itu terbang kembali ke arah Timur. Keadaan kembali sunyi, yang terlihat hanya kepulan asap hitam. Rupanya hari itu Mojokerto di bombardir, dihujani bom oleh tentara Belanda. Sirine sudah tidak berbunyi lagi. Keesokan harinya orang-orang di kampung bawah ramai bergerombol sambil membicarakan berita terbaru. Kota Mojokerto telah berhasil diduduki oleh pasukan tentara Belanda!

Aku tidak melihat apapun tentang pendudukan pasukan Belanda tersebut, karena lokasi rumah berada di sebelah Barat kota Mojokerto. Aku tidak melihat pertempuran darat seperti yang biasa dilihat di film perang. Mungkin pertempuran itu terjadi di sisi timur Mojokerto, karena pesawat Belanda datang dari arah timur. Mungkin kota Surabaya yang lebih dulu dikuasai Belanda.

Sore harinya, terdengar suara dentuman yang menggelegar lagi. Suara itu datang dari tengah kota Mojokerto. Anehnya, dentuman keras itu tidak hanya terjadi satu kali, tapi terdengar setiap lima sampai sepuluh detik. Semua itu sungguh menarik perhatianku, dan membuat rasa ingin tahu didalam diriku membara menyala-nyala.

Dengan cepat aku lalu berlari menuju ke alun-alun, ke arah Selatan kampung bawah, sambil berteriak, “Reeek, ayo ndelok, reek” (Rek, ayo nonton, rek).”

Aku terus berlari sambil berteriak-teriak. Saat aku menengok ke belakang, aku melihat ada serombongan anak-anak kecil yang mengikutiku. Aku seakan merasa seperti Cacak, sang Pemimpin Geng Anak Tanjung di kota Malang dulu.

Akhirnya, aku sampai di sisi barat alun-alun. Di sana Aku menyaksikan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Bukan main, benar-benar seperti yang ada di film-film perang. Di tengah alun-alun di sisi Timur, ada sederet meriam kecil milik tentara Belanda. Meriam itu namanya canon (baca: Kanon). Canon, adalah sebuah meriam kecil yang memiliki roda.

Di bagian depan canon ada semacam perisai dari baja bersegi empat. Dari tengah perisai baja itu menyembul moncong meriam. Aku bisa melihat ada empat buah canon yang berderet menghadap ke atas, ke arah Barat. Jadi, moncong canon-canon itu menghadap ke arahku dan teman-teman yang sedang tiarap di atas rumput.

Bagian inilah yang paling seru. Saat meriam itu ditembakkan, muncul kilatan api dari mulut canon. Terdengar suara ledakan yang dahsyat, memekakkan telinga. Peluru meriam itu berdesing di langit di atas kepalaku dan teman-temaku, lalu jatuh jauh di sebelah Barat kota Mojokerto. Untuk mengurangi suara dentuman, kami harus menutup telinga. Meskipun telinga sudah ditutup, tetapi setiap kali meriam berdentum dada serasa seperti ditimpa sansak, yakni sekarung pasir yang biasa digunakan untuk latihan tinju.

Menjelang Maghrib, serangan tentara Belanda baru berhenti. Aku berdoa agar peluru-peluru canon tadi berjatuhan di tengah sawah saja, sehingga tidak jatuh korban di pihak tentara Indonesia. Aku dan teman-temanku pun pulang sambil membawa dada yang masih terasa sesak.

Pada tengah malamnya terdengar kabar yang membuat hatiku bangga. Ada serangan balasan dari tentara kita menjawab serangan canon Belanda siang tadi. Dari arah Barat, tentara Republik Indonesia menggempur tentara Belanda di kota Mojokerto. Hujan peluru mortir itu juga berjatuhan di daerah kampung bawah dan di sekitar rumah kami. Suasana tegang dan mencekam.

Malam itu kami, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku, berlindung di bawah kolong tempat tidur, sambil berdoa.

(Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia ke 70)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

wpid-fb_img_1439780262731.jpg

Sangat Memalukan

SANGAT MEMALUKAN

 

SEJAUH pengamatanku, rumah Pak Mojo di Jalan Brantas Mojokerto adalah rumah yang cukup tenang, atau dapat juga dikatakan sepi. Apalagi buatku yang sudah terbiasa dengan keramaian di rumah Mbah Tanjung di Jalan Tanjung Gang Dua, Malang.

Bisa jadi karena yang tinggal di rumah Pak Mojo ini hanyalah kami bertiga. Pak Mojo, bu Mojo dan aku. Sedangkan si Om yang tinggal di kamar belakang dekat dapur hanya kadang-kadang saja berada di rumah. Sehingga sehari-hari suasana di rumah itu terasa sepi.

Pada suatu hari rumah kami kehadiran seorang Om yang sangat menarik perhatianku. Sebut saja namanya: Om Do. Om Do adalah anggota keluarga besar dari Pak Mojo. Ia dititipkan di rumah ini oleh orang tuanya untuk bersekolah di sebuah SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Mojokerto. Perawakan Om yang baru ini agak kurus tapi ngganteng, keren bagaikan Arjuna dalam dunia pewayangan.

Semakin hari aku semakin tertarik dengan sosok Om Do ini. Perilakunya sangat kalem, tertib, menjaga sopan santun dan disiplin. Saat berbicara dia selalu menggunakan kata-kata yang baik, positif, dan sopan. Bahkan menurutku suaranya demikian pelan, sehingga hanya bisa terdengar dari jarak satu meter darinya. Kalau berbicara lebih dari jarak satu meter dari Om Do, maka harus lebih mendekatkan kepala ke depan dan pasang telinga baik-baik.

Aku sungguh senang dengan kehadiran Om Do di rumah. Bukan hanya karena aku mendapat teman baru, tapi juga karena ia sangat sayang kepadaku. Bila aku sedang mengoceh apa saja, bercerita banyak, bahkan bicara tidak keruan, Om Do selalu bersedia mendengarkan.

Ketika si Om sedang belajar dan aku yang berada di dekatnya terus berbicara, ia tidak pernah mengusirku. Ia hanya diam sambil terus belajar. Tapi tentu saja lama kelamaan aku juga yang harus tahu diri. Pelan-pelan aku pamit dari kamar Om Do, lalu keluar bermain sendiri atau berusaha mencari pendengar lain yang saat itu tidak sedang belajar.

Seringkali saat Om Do merasa jenuh di rumah, dia mengajakku untuk pergi jalan-jalan ke alun-alun, melihat-lihat barang-barang yang digelar di lapak para PKL (Pedagang Kaki Lima). Tetapi, yang aku amati ia jarang sekali membeli sesuatu. Dalam perjalanan pulang, si Om selalu mengajakku untuk mampir minum es dawet di tempat langganan kami.

Pernah pada suatu hari libur aku diajak jalan-jalan oleh Om Do. Ternyata kali ini acaranya istimewa. Nonton bioskop. Setelah Om Do selesai antri membeli karcis, kami masuk ke tempat pertunjukan film itu. Aku girang bukan kepalang, sambil berjingkrak-jingkrak aku menuju ke tempat duduk.

Wow, ternyata kami duduk di bagian yang selalu aku idam-idamkan sebelumnya, yaitu kursi deretan paling depan. Bahkan kursi untukku berada di tengah, tepat di dekat layar yang putih dan sangat besar.

Lampu bioskop masih menyala terang, film belum dimulai. Sambil menunggu, aku terus berbicara sambil tertawa-tawa, aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku senang dan berterimakasih karena bisa duduk di tempat sangat istimewa itu. Tetapi anehnya Om Do hanya duduk diam di kursinya serta menunduk dalam-dalam. Sambil memegang perut, badannya meringkuk bagaikan udang. Hal ini membuatku agak khawatir, jangan-jangan ia sedang sakit perut yang bisa saja mengajakku pulang, dan tidak jadi menonton film. Tetapi kemudian aku kembali larut menikmati suasana itu dengan tertawa-tawa dan bernyanyi.

Karena terlalu senang, spontan aku berdiri di atas kursi di barisan paling depan itu. Aku lalu berputar, menghadap ke belakang, ke arah penonton di belakang kami. Aku tertegun melihat pemandangan yang mengagumkan. Aku melihat ada beratus-ratus orang yang duduk dan mereka semua menghadap ke arahku. Tentu saja sebenarnya mereka menghadap ke layar lebar di belakangku. Tetapi, di dalam perasaanku waktu itu, mereka menghadap ke arahku dan mau menonton aku!

Beberapa diantara mereka ada yang mengobrol dengan kiri-kanan mereka, tetapi ada juga beberapa yang melihat ke arahku. Sebagian ada yang tertawa-tawa sambil menunjuk aku. Beberapa orang yang duduk di deretan paling di depan mulai melotot dan dengan telunjuknya menyuruh agar aku segera duduk. Tetapi di bagian sebelah kiriku banyak juga yang melambaikan tangan kepadaku. Heran, sungguh aku sangat menikmati pemandangan ini.

Lampu teater dimatikan dan pertunjukan film dimulai. Aku kembali duduk bersandar, bersiap menonton. Begitu pula dengan Om Do, yang rupanya sakit perutnya mendadak sembuh. Pertunjukkan film dimulai. Film perang!

Dalam perjalanan pulang dari bioskop ada kejadian yang membuat hatiku sedikit tegang. Entah mengapa Om Do sikapnya berubah. Ia berjalan dengan sikap yang sangat tidak biasa. Berjalan lebih cepat, diam seribu-bahasa dan mukanya terlihat keras, seperti marah. Aku sungguh bingung dan tidak mengerti apa yang membuatnya marah. Es dawet langganan kami-pun dia lewati saja.

“Sangat memalukan,” katanya sambil terus bergegas. Hanya dua kata itu yang ia katakan hingga kami tiba di rumah. Waktu itu aku masih kecil dan tidak paham apa arti kata-kata itu. Yang lebih membuat aku heran lagi adalah sejak saat itu Om Do tidak lagi bersikap ramah terhadapku. Sedangkan aku masih tetap tidak mengerti arti dan makna kedua kata itu: sangat memalukan. Yang aku ingat, beberapa bulan setelah kejadian itu Om Do tidak tinggal di rumah kami lagi. Entah ke mana.

Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, setelah beranjak dewasa, aku baru mengerti maksud dua kata yang Om Do ucapkan: sangat memalukan.

Rupanya begini, masa itu, tempat duduk di bioskop terbagi dalam beberapa kelas. Kelas yang paling mahal dan bergengsi bernama Kelas Balkon dan Kelas Loge (baca: lose), letaknya di paling belakang. Kelas yang lebih murah, kelas menengah dinamakan: Kelas Stales. Sedangkan kelas yang ekonomis alias paling murah namanya Kelas Satu, yang berada di barisan paling depan, yang paling dekat dengan layar. Waktu itu kantong Om Do sangat cekak, apalagi untuk dua tiket, dirinya dan diriku. Ia hanya mampu beli karcis Kelas Satu yang di dekat layar.

Sewaktu lampu gedung masih menyala Om Do menundukkan kepala dan badannya meringkuk seperti sedang sakit perut, itu karena ia takut kepergok teman-temannya. Ia malu jika ketahuan membeli tiket Kelas Satu yang juga sering dijuluki Kelas Kambing. Rupanya saat itu Om Do merasa sangat malu. Dan celakanya, aku, keponakannya yang belum mengerti apa-apa ini justru berdiri berlama-lama di depan menghadap ke seluruh penonton. Itulah yang membuat beberapa temannya tahu bahwa Om Do duduk di Kelas Kambing.

Ternyata, deretan kursi bioskop yang selama ini sangat kuidam-idamkan itu adalah Kelas Kambing, kelas yang paling murah! Maka, terungkaplah makna dua kata yang diucapkan Om Do waktu itu: sangat memalukan!

Buat Om Do yang baik, dimanapun kini berada, aku mohon maaf. Aku dulu belum mengerti, saat itu aku masih anak TK. Tetapi kuucapkan banyak terimakasih karena sudah ditraktir nonton film di Kelas Kambing. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Asisten Dukun

ASISTEN DUKUN

 

RUMAH orang tua angkatku, Pak Mojo, terletak di Jalan Brantas Mojokerto. Tepatnya di tepi sungai Brantas. Rumah tembok itu berada di tempat yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Bisa jadi jalanan di depan rumah kami itu dulunya merupakan tanggul raksasa, yang melindungi daratan di belakang rumah jika terjadi luapan air sungai yang sangat besar.

Di sisi kiri rumah ada sebuah pagar tembok yang tinggi. Di luar tembok itu ada sebuah jalan kecil. Jalan itu menurun ke bagian belakang rumah kami, menuju ke sebuah daerah perkampungan yang luas. Tetapi, perkampungan itu lebih rendah dari jalanan di bibir sungai. Rumah-rumah di perkampungan itu ada yang besar dan ada yang ukurannya lebih kecil. Ada juga beberapa rumah yang dijadikan toko atau warung.

Hubungan antar warga dan antar kampung di sini cukup akrab satu sama lain, termasuk dengan kami, keluarga Pak Mojo. Para tetangga dari kampung belakang terkadang bertamu ke rumah. Demikian juga sebaliknya. Terutama Ibu Mojo yang paling sering pergi ke tetangga belakang, apalagi kalau Pak Mojo sedang pergi mengajar. Saling berkunjung itu sering disebut “Nonggo”, artinya berkunjung ke rumah tetangga, atau ngobrol dengan tetangga berlama-lama.

Pada suatu pagi terjadi kehebohan. Rumah Pak Jali, (bukan nama sebenarnya) dibobol maling semalam. Semua perhiasan emasnya habis digondol. Berita ini cepat tersebar dan segera menjadi topik pergunjingan seluruh warga dan aparat di kampung belakang itu.

Sore harinya, aku diajak Ibu Mojo berkunjung. “Ada Pak Dukun,” katanya. Aku pun menjadi bingung. Pikirku, apa hubungannya seorang dukun denganku?. Saat sampai dan masuk ke rumah Pak Jali, aku cukup terkejut karena di dalam rumah sudah penuh dengan warga.

Mereka semua berkerumun mengelilingi sang dukun. Pak Dukun itu seorang laki-laki tua, berkulit agak gelap dan berjenggot panjang. ia mengenakan baju lurik berwarna hitam, bergaris-garis cokelat, dan menggunakan ikat kepala. Kami, para anak-anak, sudah berdiri berderet di depan Pak Dukun. Diantara anak-anak itu, hanya aku yang masih bersekolah Taman Kanak-kanak. Aku yang paling kecil.

Seperti audisi acara Idola Cilik, tiba-tiba Pak Dukun menunjuk ke arahku, “Hei kamu, ke sini Nak!” Aku sungguh tak menyangka bisa terpilih. Awalnya aku agak takut dan grogi. Tetapi sebagai mantan Wakil Pemimpin Geng Anak Tanjung, Malang, aku tak boleh gentar menghadapi apapun, sekalipun mendadak semacam ini. Apalagi peristiwa ini ditonton dan disaksikan oleh para warga. Maka, aku pun maju ke depan dengan langkah pasti. Aku terpilih menjadi asisten Pak Dukun.

Pak Dukun menyuruhku untuk duduk di pangkuannya. Lalu aku diminta mengepalkan tangan dan menunjukkan ibu jari tangan kiriku. Kemudian, dukun itu menyalakan kemenyan di sebuah tungku kecil, menyalakan lampu minyak yang semacam lilin, lalu diletakkannya di depanku.

Suasana menjadi semakin tegang dan menyeramkan. Awalnya asap kemenyan itu dikipas-kipas dengan telapak tangannya ke arah ibu jariku, tapi tak lama kemudian diarahkan ke badan dan mukaku. Kemudian ibu jariku diarahkan ke dekat nyala lampu minyak itu, sehingga mataku bisa melihat kuku jari jempolnya yang kelihatan terang kekuningan terkena sinar lampu minyak.

Pak Dukun mulai mengucapkan mantra-mantra yang aneh. Bulu kuduk mulai serempak berdiri. Setelah suasana senyap, lalu Pak Dukun meminta kepada Pak Jali, pemilik rumah yang kemalingan itu, untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku. Kata Pak Dukun, aku akan bisa menjawab pertanyaan itu berdasarkan apa yang aku lihat dari bayangan di kukuku yang disinari lampu minyak.

Pak Jali pun bertanya tentang berapa orang jumlah malingnya. Aku melihat kuku jempolku dan menjawab, “Satu orang.”

“Keluar dari mana malingnya?”

“Meloncat tembok,” jawabku.

Jika terlihat aku ragu-ragu dalam menjawab, maka dukun itu komat-kamit lebih semangat membaca mantranya, sambil asap kemenyan dikipas-kipaskan ke mukaku.

Semua pertanyaan Pak Jali dijawab olehku. Bahwa maling itu keluar meloncat tembok dan lari ke arah selatan. Maling itu bukan orang dari kampung lain, tapi orang kampung setempat.

Setelah sesi Pak Dukun selesai, aku langsung dikerumuni oleh ibu-ibu warga di situ. Mereka penasaran menanyakan, apa yang sebenarnya aku lihat di kuku jempolku itu. Aku bingung dan sedikit malas meladeni mereka, aku hanya mengangguk atau menggelengkan kepala. Lalu aku berpura-pura sangat kelelahan, pura-pura mabuk kemenyan dan minta minum. Maka, segera mereka sibuk mengambilkanku minum. Setelah acara usai, aku beranjak pulang dan tidur.

Apa yang sebenarnya aku lihat dari kuku jempolku saat itu? Sejujurnya, percaya nggak percaya, aku tidak melihat apa-apa!

Tiga hari setelah kejadian itu, ada kegegeran lagi di kampung belakang rumah kami. Malingnya tertangkap! Dan sudah digelandang ke kantor polisi. Siapakah malingnya?

Ternyata orang dari kampung itu juga, dan yang menakjubkan adalah rumahnya terletak di sebelah Selatan dari rumah Pak Jali! Lokasi tersebut persis seperti yang aku katakan saat menjadi asisten dukun, tiga hari yang lalu. Sungguh aneh tapi nyata!

Sejak peristiwa itu, aku mendadak menjadi terkenal di daerah kampung bawah di belakang rumah kami. Jika mereka melihatku sedang berjalan, selalu saja ada yang menyapaku, layaknya seorang selebritis.

Setiap kali disuruh bu Mojo untuk belanja ke warung, seringkali aku diberi hadiah oleh si pemilik warung. Dua butir permen bulat sebesar kelereng. Itu adalah permen kesukaanku. Ah, ada untungnya juga aku terpilih menjadi asisten dukun. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sungai Brantas, Mojokerto
Sungai Brantas, Mojokerto
Sungai Brantas, Mojokerto
Sungai Brantas, Mojokerto

Layang-layang Malam

wpid-mtf_hemtn_296.jpg.jpg

LAYANG-LAYANG MALAM

SAAT sedang asik-asiknya menikmati bersekolah di Taman Kanak-kanak, di Jalan Semeru (Semeru Straat) Malang, tiba-tiba aku harus berpindah ke kota lain, yaitu ke kota Mojokerto, Jawa Timur.

Kejadiannya sangat mendadak dan cepat. Aku hanya ingat, di Mojokerto aku sudah berada di rumah Mbah Mojo. Mbah Mojo adalah adik kandung Mbah Tanjung. Di Mojokerto ini, secara resmi aku diangkat sebagai anak oleh Mbah Mojo. Maka, panggilan “Mbah” berubah menjadi panggilan… “Bapak, Pak Mojo.”

Rumah Pak Mojo berada di Jalan Brantas. Rumahnya menghadap ke sungai Brantas yang sangat lebar. Sungai di depan rumah kami itu merupakan pertemuan dari dua sungai yang memang sudah cukup besar. Rumah-rumah di seberang sungai kelihatan sangat kecil.

Bagiku, pemandangan di depan rumah itu terlihat sangat indah. Aku sering sendirian berlama-lama duduk di teras depan, menikmati pemandangan indah itu. Ditambah lagi suasana di sekitar rumah yang sangat sepi dan tenang. Jarang sekali kendaraan yang melintasi jalanan di depan rumah. Seringkali di saat seperti itu aku jadi teringat akan kehidupanku sebelumnya di kota Malang.

Aku rindu akan hiruk pikuk suara anak-anak di Jalan Tanjung Gang Dua. Tetapi yang paling kurindukan hanyalah tiga orang, Om No dan Om Nu yang menyebalkan, serta Cacak, sang pemimpin Geng Anak Tanjung yang kukagumi. Tetapi, kenangan itu lambat-laun tertutup oleh kejadian-kejadian kecil, seperti berikut ini.

Sore itu, menjelang matahari terbenam, udara sangat cerah. Seperti biasa, aku duduk-duduk menikmati pemandangan sore di tepi sungai Brantas itu. Tiba-tiba mataku tertarik kepada banyak titik-titik kecil yang bergerak-gerak di langit di atas sungai. Ada titik yang besar dan ada titik yang kecil. Titik-titik itu adalah layang-layang yang berwarna-warni yang bergerak dinamis. Aku terpana.

Layang-layang yang besar terbang dengan lebih tenang. Sedangkan yang lebih kecil terbang lincah, gesit mondar-mandir, seperti mencari lawan untuk diajak adu kekuatan. Layang-layang dengan benang yang kuat dan berlumur bubuk gelas yang tajam akan memenangkan pertarungan. Sedang yang kalah akan terbang limbung, melayang kehilangan arah, dan jatuh ditelan air sungai. Ah, tiba-tiba saja, aku kepingin punya layang-layang.

Di rumah itu, ada seorang Om yang membantu keluarga Pak Mojo. Kamar tidurnya di belakang rumah, di samping dapur. Suatu ketika Om itu disuruh oleh Ibu Mojo untuk pergi ke toko yang terletak di gang belakang rumah, tanpa ijin, aku mengikutinya.

Dalam perjalanan menuju toko, aku melihat sebuah warung yang penuh dengan layang-layang, digantung berderet-deret dan berwarna-warni. Aku berhenti di warung itu dan mulai memilih-milih. Aku menjatuhkan pilihanku pada layang-layang yang bergambar burung Garuda. Aku pun langsung mendekap layang-layang itu, yang tentu saja, kemudian terjadilah ketegangan dengan si Om. Karena layang-layang itu jelas tidak tercantum dalam daftar belanjaannya. Tak bergeming, aku tetap memegang erat layang-layang bergambar burung Garuda itu.

Singkat cerita, aku yang menang, dan si Om membayarnya. Entah ia menggunakan uang siapa. Sambil berlari kecil kegirangan, aku tidak sabar lagi untuk menerbangkan si layang-layang.

Hari sudah mulai gelap, tetapi aku ingin menerbangkan layang-layang baru yang bergambar burung Garuda itu. Benang sudah di pasang dan layang-layang siap diterbangkan. Tetapi, Bapak melarangku bermain layang-layang. Bapak dengan tegas menyuruhku untuk menyimpan dulu layang-layang itu dan dinaikkan esok paginya karena hari sudah malam. Aku tidak setuju. Maka, kemudian terjadilah “huru-hara” di dalam rumah. Aku tetap bersikukuh. Aku ingin menerbangkannya malam itu juga.

Akhirnya, aku yang mengalah. Aku memutuskan untuk menerbangkan layang-layang itu di dalam rumah. Dengan susah payah, aku berlari mondar-mandir ke depan dan ke belakang rumah. Hasilnya bisa ditebak, tentu saja layang-layang itu tidak berhasil terbang, karena tidak ada angin. Maka, aku kembali ngotot untuk menerbangkan layang-layang ini di luar rumah, di pinggir sungai. Tetapi Bapak berkata, “Kan, di luar gelap.”

Aku menjawab, “Yo nggae sentolop ae… (Ya pakai senter saja…).” Maka, terjadilah huru-hara jilid dua di rumah itu. Tiba-tiba datang si Om membawa tangga ke dalam kamar tidurku. Si Om menggantung layang-layang itu dengan benang di sudut kamar, di bawah plafon. Lalu, ujung benang layang-layang itu diberikan kepadaku. Sungguh Cerdas!

Kini aku bisa memainkan layang-layang itu di kamar tidur. Aku berdiri dan berpindah-pindah dari satu sudut ke sudut yang lain sambil memegang dan menarik-narik benang itu. Layang-layang itu bergerak-gerak seakan terbang tinggi di langit. Aku senang dan puas. Huru-hara malam itu pun berakhir damai.

Tidak bosan-bosan, sampai larut malam aku terus memainkan layang-layang itu. Saat kelelahan, aku memegang benangnya sambil duduk di samping tempat tidur. Aku merasa sangat bahagia. Dengan benang yang masih di tangan, sambil tersenyum aku tertidur.

Malam itu, aku bermimpi indah. Aku bermimpi menerbangkan layang-layangnyaku di atas Sungai Brantas. Layang-layangku yang bergambar burung Garuda itu terbang tinggi dan gagah di langit kota Mojokerto. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑