Cari

Antonius Sutedjo

Kategori

Masa Kecil Ompa di Kota Malang

Tukang Obat Idola

TUKANG OBAT IDOLA

MINGGU pagi sepulang dari gereja, aku tidak langsung pulang. aku mampir dan nongkrong dulu di alun-alun kota Malang. Menunggu sang idola, seorang penjual obat.

Setelah agak siang, datang seorang lelaki kekar dengan banyak bawaan. Koper besar, ransel besar, juga kardus besar. Mengapa ia tidak naik sepeda atau pakai gerobak? Entahlah. Mungkin karena tidak praktis.

Ia hidup seperti bangsa nomaden. Hidupnya berpindah-pindah dari satu lapangan ke lapangan yang lain, dari kota yang satu ke kota lainnya. Pun di alun-alun Malang ini, ia hanya beberapa jam, atau sampai obat dagangannya habis. Itu pun stok obat yang dibawanya tidak banyak, secukupnya saja.

Setelah menemukan tempat yang teduh, di dekat jalan kecil tempat lalu lalang pejalan kaki, ia meletakkan dan menata barang-barang bawaanya. Lalu dibuatnya garis di atas tanah dengan bubuk kapur putih sebagai batas untuk para penonton. Kemudian dengan tenang ia duduk lagi di atas singgasananya, sebuah kursi lipat.

Setelah orang-orang dan lalu lintas cukup ramai, idolaku pun memulai aksinya. Ia mengeluarkan keranjang yang dikerudungi dengan kain warna hitam. Keranjang itu diletakkan di tengah, tapi agak ke kanan. Yang mengherankan, setelah itu orang-orang yang berlalu-lalang mulai berhenti. Satu persatu, makin lama makin banyak.

Melihat penontonnya semakin bertambah, ia pun mengambil sebuah kotak kayu lalu dipukulnya keras-keras sambil berteriak, “Hayo, hayo, hayoo… yang mau melihat ular menari, tidak usah jauh-jauh ke India, di sini juga ada ular menari. Hayo, hayoo…” Ia terus berteriak sambil tongkatnya diketuk-ketukkan ke atas kain penutup kotak misterius itu.

Dalam waktu singkat orang-orang pun semakin ramai, berkumpul, berdesakan di atas batas garis kapur putih itu. Di deretan paling depan adalah anak-anak kecil. Mereka menjadi penggembira yang aktif dan menguntungkan bagi sang tukang obat. Sorakannya, tepuk tangan dan celetukannya meramaikan kerumunan ini. Mereka sudah tidak sabar lagi menunggu si ular menari.

Sambil terus berbicara, sang tukang obat membuat gerakan-gerakan yang seakan-akan hendak memulai atraksinya. Apalagi kalau sudah ngomong, ia pandai memilih kata-kata lucu atau setengah jorok tapi dengan bahasa yang halus. Ia sangat lihai menarik perhatian penonton dengan berkata, “Hei, tahu nggak sekarang banyak orang cantik, orang ganteng, yang kulitnya gimana?… kadasen!”

Semua penonton tertawa, termasuk yang kulitnya kadasen. Ia pun meneruskan, “Kadas, kudis, gatal, luka, akan lenyap dengan olesan obat ajaib saya…”

Tidak lama kemudian, ia berdiri, lalu berkeliling sambil mengoleskan obat kulit ajaibnya ke tangan-tangan penonton yang telah diulurkan ke depan, termasuk anak-anak, tentu saja. Itu semua hanya perlu waktu sekitar sepuluh detik saja. Setelah itu, ia kembali ke kursi lipatnya.

Mantra “kadas-kudis-gatal-luka” itulah yang diucapkannya berulang-ulang. Setiap kali hendak memulai atraksi ular menari, selalu dibelokkannya ke produk obat jualannya. Akhirnya, stok obat pun habis dalam waktu yang tidak sampai 2 jam, dan para penonton lalu berangsur-angsur membubarkan diri. Sepertinya, mereka semua sudah lupa pada si ular menari.

Demikianlah kisah tentang si tukang obat di alun-alun kota Malang yang banyak menginspirasi diriku. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting : Veronica K & SR Kristiawan

Alun-alun kota Malang tahun 1930
Alun-alun kota Malang tahun 1930
Menantu Ompa di Alun Alun Kota Malang 2015
Menantu Ompa di Alun Alun Kota Malang 2015

Mandrake

MANDRAKE

MANDRAKE adalah sebuah judul komik tentang super hero. Tokoh Mandrake sendiri adalah seorang tukang sihir yang sekaligus ahli hipnotis. Pada masa aku kecil, setiap hari koran Malang Post memuat serial komik Mandrake.

Aku yang saat itu berusia 5-6 tahun beserta anak-anak lain yang serumah di Jalan Tanjung Gang 2 Malang selalu menunggu tukang koran datang. Setiap pagi kami berebutan hendak membaca serial Mandrake. Ceritanya selalu seru, tokohnya bisa menjungkir-balikkan apa saja.

Suatu pagi Mbah Kakung marah besar, karena melihat koran miliknya dibaca oleh anak-anak sebelum ia membacanya. Sejak saat itu setiap pagi koran langsung dibawanya masuk kamar dan tidak pernah keluar lagi selamanya. Semua anak-anak kelimpungan karena kehilangan Mandrake, kecuali aku.

Aku tenang-tenang saja. Karena aku bisa membaca Mandrake ke rumah tetangga yang berlangganan koran Malang Post. Tetapi, tentu saja kepada anak-anak serumah aku tidak menceritakannya. Aku takut nanti mereka ikut-ikutan. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

.

CSO Mandrake1 CSO Mandrake2

* Semua cerita ini ditulis sendiri oleh Ompa menggunakan smartphone dan notebooknya, saya hanya melakukan minor edit seperlunya*

Pastor Belanda

PASTOR BELANDA

SEMASA kanak-kanak di Malang, aku bergereja di Gereja Katolik Kayutangan. Letaknya tepat di hook, di pojokan antara Jalan Raya Kayutangan dan Jalan Mgr Sugiyopranoto. Di seberang Jalan Kayutangan ada sebuah restoran terkenal, namanya Toko Oen. Sedangkan di seberang Jalan Sugiyopranoto, ada sebuah gedung pertemuan yang tidak terlalu besar.

Pada suatu hari Minggu kami pergi ke gereja untuk misa pagi. Sebelum masuk gereja, aku melihat TOA yang besar di pintu depan gedung pertemuan itu. Aku mulai khawatir. Dugaanku benar. Di tengah misa yang dipimpin oleh seorang pastor Belanda itu, terdengar suara orang berpidato, cukup lama dan keras sekali suaranya menggema masuk ke dalam gereja.

Tiba-tiba pastor Belanda itu turun dari altar, masih menggunakan jubahnya yang berwarna krem mengkilat dan komplit dengan aksesoris-aksesorisnya. Ia berjalan dengan langkah cepat, keluar dari pintu depan gereja. Para jemaat pun menjadi tegang dan berdebar-debar.

Aku membayangkan bagaimana orang-orang di jalan akan terkejut melihat ada bule berjubah yang berkibar-kibar ala superhero berjalan menuju ke gedung pertemuan itu.

Kami semua terdiam menunggu. Ajaib, tak berapa lama kemudian suara keras itu lenyap. Dan sang pastor Belanda pun kembali memasuki gereja dengan langkah lebih tegap dibanding sebelumnya. Ditambah lagi, kali ini di wajahnya tersungging senyuman lebar, senyum kemenangan.

Upacara misa pun berjalan kembali dengan tenang dan tentu saja lebih khusuk karena terbebas dari gangguan berisik tadi.

Terimakasih Pastor Belanda… (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

CSO Gereja Kayu Tangan
Dua cucu Ompa mengunjungi Gereja Katedral Kayutangan Malang 2015

Padvindery

PADVINDERY

SEWAKTU masih bersekolah di Taman kanak-kanak, aku pernah diajak ikutan yang namanya Padvindery. Sekarang bernama Kepanduan alias Pramuka. Lokasinya di halaman belakang susteran di kota Malang, di tepian Kali Brantas.

Ketika sedang asik latihan sambil bernyanyi-nyanyi, tiba-tiba kami disuruh duduk bersila di rerumputan. Kemudian datang beberapa anak-anak bule Belanda berseragam resmi Pandu rapi mentereng. Mereka membawa kantong berisi permen dan kue yang kemudian dibagikan kepada anak-anak yang sedang duduk, termasuk aku.

Mereka memberi permen sambil mencibir angkuh, ketawa-ketiwi seperti merasa jijik kepada kami semua. Kemudian kami diharuskan menonton anak-anak Belanda itu bernyanyi dan kami harus bertepuk tangan untuk mereka. Aku merasa sangat terhina. Itulah latihan kepanduan yang pertama dan yang terakhir aku ikuti. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Naik Becak

NAIK BECAK

SETELAH ayahku meninggal dunia saat aku masih bayi, aku dititipkan dan dibesarkan oleh sebuah keluarga yang tinggal di Jalan Tanjung Gang 2 di kota Malang, Jawa Timur. Di jalan itu terdapat sebuah rumah milik seseorang yang kita sebut saja sebagai Mbah Tanjung.

Mbah Tanjung merupakan pahlawan bagi keluarga besar kami karena beliau bersedia menampung anak-anak yang dititipkan oleh orang tua mereka. Meski berada di sebuah gang, tetapi rumah Mbah Tanjung cukup besar serta memiliki halaman depan yang luas. Suasana rumah itu selalu meriah dengan suara anak-anak, ramai hilir mudik anak-anak, berlarian, sradak-sruduk, bagaikan panti asuhan yatim piatu. Diantara anak-anak yang tinggal di sana, akulah yang paling kecil. Mungkin karena itu aku sering jadi “pusat perhatian”, entah mereka ganggu atau mereka bully.

Sejauh ingatanku, rutinitasku sebagai anak kecil adalah bermain, berkelahi, menangis, dan makan. Dari siklus tersebut, fokusku yang paling utama adalah pada.., MAKAN.

Aku selalu disiplin saat waktu makan tiba. Siap datang paling awal. Tetapi entah mengapa, selalu saja timbul masalah ketika “proses makan”.

Begini ceritanya…

Mbah Tanjung memiliki dua anak laki-laki yang jauh lebih besar daripada anak-anak yang lain, sebab itulah mereka dipanggil om. Mereka bandel bukan kepalang. Ada-ada saja kelakuan mereka, apalagi dalam mengganggu anak-anak yang lebih kecil. Dan selalu saja aku yang mereka jadikan bulan-bulanan, mungkin karena aku adalah anak yang paling kecil, yang nggemesin, dan tidak mungkin melawan.

Saat pembagian makanan, saat anak-anak lain sudah mendapat jatahnya dan mulai makan, aku belum mendapatkan jatah makan. Entah siapa diantara mereka yang menyembunyikan jatah makanku. Faktanya, makin hari mereka makin kompak menggangguku. Maka lambat tapi pasti, aku merasa tidak nyaman baik secara fisik karena lapar maupun secara mental sebab harga diri. Dan untuk melawan itu semua, aku mengeluarkan sebuah jurus jitu: menangis! Awalnya aku hanya merengek-rengek agar dikasihani. Karena tidak ada respon, akhirnya aku menangis lebih keras lagi. Jika masih tetap tidak ada perhatian, akupun tancap gas, menangis sekeras-kerasnya, dan selama-lamanya. Dan hasilnya? Jatah makanku tetap saja tidak dikeluarkan!

Saat hampir menyerah, aku yang masih tersengal-sengal menangis, melangkah menuju ke pojok ruangan dan duduk di lantai. Sembari berusaha menenangkan diri, aku menggores-gores lantai sekenanya seperti ingin menggambar sesuatu yang belum jelas bentuknya. Dan akupun mulai bernyanyi. Maka terjadilah sebuah keajaiban!

Kedua Om bandel itu mendatangiku, sambil senyum-senyum menyodorkan jatah makanku. Detik itu juga aku mendapat pencerahan, bahwa menangis ternyata sudah tidak lagi menjadi senjata yang memadai. Kini aku menemukan senjata yang lebih modern… menyanyi!

Sejak saat itu, jika tiba waktunya pembagian makan, tanpa dikomando aku langsung menyanyi. Tetapi, setiap kali keinginan mereka berubah, persyaratan menyanyi pun mereka ganti, seperti kurang keras, kurang bagus, ganti lagu atau tambah lagu. Aku menurut saja. Oke, oke, enggak apa, yang penting makan, pikirku. Maka dalam waktu relatif singkat, statusku di rumah itu berganti, menjadi penyanyi.

Hampir setiap malam aku “ditanggap” untuk menghibur seluruh isi rumah Jalan Tanjung Gang Dua itu. Bahkan Mbah Putri pun kadang ikut-ikutan request lagu. Sebab konon katanya, suaraku tidak fals

Makin hari karier dan popularitasku semakin melejit. Sebelum masuk sekolah TK (Taman Kanak-kanak) saja aku sudah mendapat job serius!

Waktu itu ada perayaan besar di instansi tempat Mbah Tanjung bekerja. Ada sekitar 200 karyawan dan keluarganya memenuhi aula gedung megah itu. Di sana sudah siap sebuah panggung besar dan aku harus menyanyi dengan diiringi oleh sebuah orkes yang terdiri dari gitar, biola, drum dan bas betot. Aku diminta menyanyikan lagu “Naik Becak” ciptaan Ibu Soed.

Sebelum aku naik ke panggung untuk menyanyi, aku melihat sebuah kursi di tengah panggung menghadap ke penonton. Kursi itu bakal menjadi “becak”, pikirku. Begitu orkes bas betot memulai intro lagu, aku naik ke atas panggung, menyanyi dan bergaya sesuai kata-kata dalam lagu Naik Becak.

Aku tidak hanya bernyanyi berdiri diam, tapi sambil berjalan-jalan, kadang aku melambaikan tangan yang seolah-olah memanggil becak, atau duduk di kursi sambil mengangkat kaki seperti sedang naik becak, dan seterusnya mengikuti lagu yang dinyanyikannya.

Saya mau tamasya

berkeliling keliling kota

hendak melihat-lihat keramaian yang ada

saya panggilkan becak

kereta tak berkuda

becak, becak, tolong bawa saya

 

Saya duduk sendiri

sambil mengangkat kaki

melihat dengan aksi

ke kanan dan ke kiri

lihat becakku lari

bagai takkan berhenti

becak, becak, jalan hati-hati

Selesai bernyanyi, sesuai arahan dari panitia, aku membungkukkan badan ke arah penonton. Apa yang terjadi setelah itu?

Aku shock bukan main. Seluruh penonton di aula itu bertepuk-tangan. Bahkan sebagian dari mereka bertepuk tangan sambil berdiri. Mereka bertepuk tangan sangat lama, sangat lama. Aku tahu, mereka bertepuk tangan untukku. Peristiwa itu membuat diriku terpana. Ada suatu perasaan aneh di dalam dadaku, seperti ada kupu-kupu yang menari-nari di dalam perutku. Peristiwa itu sangat membekas dalam diriku.

***

   Berpuluh-tahun kemudian, pada awal tahun 90an, aku yang sudah bekerja dan menikah, berkesempatan mengikuti sebuah kursus yang diselenggarakan oleh The Dale Carnegie Course. Pada akhir sesi kursus, diadakan semacam adu keterampilan berbicara di depan orang banyak untuk menentukan siapa yang terbaik di dalam angkatan tersebut. Setiap peserta harus maju satu persatu untuk berbicara mengenai topik tertentu. Topik yang ditentukan adalah topik tentang hal-hal atau kejadian yang paling berkesan sewaktu kanak-kanak.

Satu persatu para peserta maju untuk menceritakan pengalamannya, dan bagus-bagus ceritanya. Ada yang mengharukan, mendebarkan, dan sebagainya. Begitu mendapat giliran, aku maju ke depan, tidak untuk bicara, tetapi kusambar sebuah kursi, kutaruh di depan kelas, lalu kunyanyikan lagu Naik Becak sembari bergaya.

Aku bergaya seperti di atas panggung persis semasa aku kecil dulu yang masih berumur lima tahun. Akhirnya, tentu seperti yang sudah diduga, aku dinobatkan menjadi peserta terbaik, dan memperoleh plakat emas dari The Dale Carnegie Course yang berpusat di Amerika.(*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Blog di WordPress.com.

Atas ↑